Chapter 09

1138 Kata
Tengah malam, Agatha tidak bisa tidur dengan tenang. Gadis itu bergerak gelisah ke kanan dan kiri mencari posisi ternyaman agar kembali terlelap, namun pada akhirnya kedua mata Agatha terbuka lebar tepat di pukul 00.00 malam. Agatha berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar. "Apa aku gak bisa tidur karena kamu?" "Karena kamu mikirin aku," Agatha terkejut dan langsung menoleh. Andriel berdiri di sebrang tempat tidur entah sejak kapan Agatha tidak tahu. Karena sudah biasa rasa terkejut Agatha hilang seketika. "Ngapain kamu dateng?" "Kamu manggil aku," "Gak ada," Agatha menggeleng. "Barusan kamu nanya ke aku," "Nanya pun kamu bisa dateng?" "Buktinya?" Kepala Agatha yang sedikit terangkat perlahan turun dan jatuh di atas bantal. "Aku gak bisa tidur," "Jangan mikirin aku," "Gimana gak mikirin orang aku penasaran terus sama kamu," Andriel duduk di sofa panjang yang ada di dekat dinding. "Aku beneran gak bisa tidur lho," "Tidur aja," Agatha berdecak, "udah dibilang gak bisa." "Aku mau pindah ke kamar Mami Papi aku aja deh," Agatha mengambil bantal kesayangannya lalu beranjak dari tempat tidur. Saat tangan Agatha sudah menyentuh kenop pintu dirinya berbalik menatap Andriel yang masih duduk di sofa sambil memperhatikannya. Melihat tatapan Andriel entah mengapa Agatha langsung mengurungkan niat untuk keluar dari kamar. Agatha duduk di sebelah Andriel sambil memeluk bantal nya. "Kamu punya kekuatan super gak?" Alis Andriel terangkat. "Bikin aku bisa tidur dong," Andriel menggesekkan jari tengah dan jempol di depan wajah Agatha seolah cara itulah yang dapat membuat Agatha langsung tertidur. Agatha diam sesaat. "Gak ngantuk sama sekali," "Berarti gak punya kekuatan," "Bohong," Andriel diam sehingga menciptakan keheningan. Agatha menyandarkan tubuh kemudian menarik jaket Andriel. "Ngantuk," katanya saat Andriel menoleh. "Biar bisa tidur ngapain biasanya?" "Dielus-elus sama Papi aku, kepalanya." "Elus-elus sendiri aja," "Gimana ceritanya dielus-elus sendirian," Agatha menarik-narik jaket Andriel. "Ya udah," "Apa? Ya udah apa?" "Biar aku," Agatha berhenti menarik-narik jaket Andriel. "Maksudnya?" "Yang ngelus kepala kamu," Andriel berdiri terlebih dahulu menatap Agatha yang masih duduk. Dagu Andriel bergerak ke arah tempat tidur menyuruh Agatha untuk berbaring. Agatha naik ke atas tempat tidur dan berbaring secara perlahan. Andriel mengambil kursi meja rias Agatha dan menaruhnya di dekat Agatha. Agatha berbaring menyamping menghadap Andriel sambil memeluk guling. Mata Agatha terpejam sesaat ketika merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. "Kamu gak tidur?" Tanya Agatha dengan pelan nyaris berbisik. Andriel menggeleng. "Kenapa?" "Nemenin kamu," Agatha tersenyum. "Jaga aku ya, aku gak mau kebangun lagi." Andriel mengangguk. "Hantu yang baik." Agatha tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Andriel. ☁️ "PAGI PAPI!" Rafa yang sedang minum tersedak mendengar sapaan pagi Agatha yang terdengar begitu nyaring di telinga. Melihat Rafa tersedak Agatha tertawa geli. "Pelan-pelan Papi," Agatha mengusap-usap punggung Rafa dan sesekali memukulnya dengan pelan. "Pagi Mami," "Pagi sayang, sleep well?" Tanya Aya sambil mencium pipi Agatha. "Hu'um." Agatha mengangguk seraya menarik kursi siap untuk sarapan. Agatha menatap Rafa yang sedang memperhatikannya. "Atha kok diliatin terus sih?" "Cerah banget muka nya," Agatha tertawa dengan kedua tangan menyentuh-nyentuh wajahnya. "Iya dong." Balas Agatha dengan bangga. ☁️ Agatha duduk di kursi penonton sambil memperhatikan teman-teman sekelas khususnya murid laki-laki yang sedang bermain basket. Tadi dirinya dan murid perempuan lainnya sudah main dan sekarang giliran murid laki-laki. "Andriel kok gak keringetan ya?" Mata Agatha langsung mencari-cari keberadaan Andriel, saat sudah menemukan sosok laki-laki itu mata Agatha menyipit. "Mungkin emang orangnya susah keluar keringet," kata Agatha membalas pertanyaan Putri. "Berarti dia orangnya gak sehat dong, keluar keringet kan sehat sedangkan dia enggak. Pantes sih muka nya pucet terus," "Masa sih pucet, menurut gue enggak." Putri menatap Agatha, "mentang-mentang udah mulai deket bela teros." "Deket apa? Ngawur," "Gue duduk di belakang lo berdua ya Tha, makin hari makin sering ngobrol tuh lo berdua." "Berdua?" "Ralat, lo sendiri maksudnya." "Gak enak juga diem-dieman, apalagi satu meja." Putri mencibir ucapan Agatha. Priiittt! Peluit panjang berbunyi tanda permainan telah usai. Saat murid laki-laki berlomba meminta minum pada murid perempuan Andriel justru pergi keluar dari lapangan basket. Melihat Andriel pergi Agatha langsung mengikutinya. "Andriel!" Panggil Agatha. Agatha berjalan beriringan dengan Andriel sambil menyodorkan botol minumnya. Andriel menggeleng. "Diliatin dikit kek manusia nya," bisik Agatha. "Nanti cari minum sendiri," "Gak mau minum dari aku?" "Banyak yang mulai curiga," Agatha berhenti melangkah, mata Agatha mulai menoleh ke kanan dan kiri dimana dirinya sedang diperhatikan oleh siswi-siswi yang kebetulan berada di koridor. ☁️ "Apa kalo mikirin dia emang beneran dateng ya?" Karena penasaran, Agatha langsung mencoba untuk memikirkan Andriel. Yang ia pikirkan adalah wajah laki-laki itu. Selesai memikirkan Andriel Agatha menoleh ke belakang. "Kok gak ada," ternyata Andriel tidak muncul. "Apa karena ini belum tengah malem?" Agatha berbaring karena jam juga sudah menunjukkan pukul 21.45 malam. Mata Agatha bergerak ke kanan dan kiri menunggu kehadiran Andriel. "Andriel," panggil Agatha dengan pelan. "Where are you?" "Ada apa?" "Nah! Akhirnya dateng!" Agatha langsung duduk di tempat tidur seraya tersenyum lebar. "Mau apa?" Agatha menggeleng. "Jadi kenapa manggil?" "Cuma mau ngetes kamu aja," Andriel balik badan siap untuk pergi. "Ih jangan pergi," "Gak ada yang penting kan?" "Temenin aku lagi, siapa tau aku gak bisa tidur lagi." Andriel berbalik menghadap Agatha. "Kamu sengaja kan?" "Sengaja apa?" "Sengaja manggil," "Emang gak boleh ya?" Andriel menggeleng. Agatha beranjak dari tempat tidur berjalan ke arah balkon kamar. Sesampainya di balkon Agatha menyandarkan tubuh di pembatas balkon sambil menatap Andriel. "Bentar lagi aku ulang tahun, kasih tau aku siapa kamu." Andriel mengangguk. "Ceritain semuanya sampe rasa penasaran aku hilang," Agatha tersenyum melihat Andriel mengangguk. "Selain aku siapa lagi yang kamu deketin terus kamu ganggu?" Agatha berjalan mendekati Andriel berdiri hingga ujung kaki mereka hampir bersentuhan. "Gak ada," Andriel menggeleng. "Cuma aku?" Andriel mengangguk. "Kenapa cuma aku?" "Karena kamu spesial," Agatha mengigit bagian dalam bibirnya. "Aku gak percaya," "Gak papa," "Boleh aku ngajuin satu permintaan?" "Apa?" Agatha diam sejenak. "Senyum," Andriel langsung memutuskan kontak mata mereka. "Kamu bisa senyum gak?" "Gak tau," Agatha tertawa, "masa gak tau? Gak mungkin gak bisa. Emang kamu gak pernah senyum?" "Pernah," "Berarti bisa senyum dong," "Udah lama," Agatha kembali tertawa. Tangan Agatha menyentuh pipi Andriel mengarahkan wajah tampan Andriel pada nya. "Kalo aku emang spesial kamu senyum untuk aku," "Harus?" Agatha langsung mengangguk. "Smile," Agatha menaruh kedua telunjuknya secara menyilang di sudut bibir sambil tersenyum lebar. "Aku udah senyum, sekarang giliran kamu." "Senyum," lanjut Agatha. Andriel menatap lama Agatha tanpa memberikan ekspresi apa-apa, Andriel tidak yakin dengan senyumnya. "Ayo dong, tinggal senyum doang. Senyum kayak aku tadi," Andriel belum juga menunjukkan senyumannya. "Beneran, aku udah gak takut lagi sama kamu jadi aku berani deket-deket sama kamu. Tapi kalo kamu gak mau senyum aku bakal jauhin kamu dan kita gak akan temenan sampe kapanpun," Andriel menggeleng, "jangan gitu." "Makanya senyum, senyum Andriel." Bibir Agatha tersenyum terlebih dahulu saat melihat sudut bibir Andriel sedikit tertarik, deretan gigi Agatha terlihat saat bibir Andriel melengkung menunjukkan senyumannya. Senyum Andriel hanya terbit sekitar tiga detik dan setelah itu menghilang berganti dengan wajah seriusnya. Agatha tertawa, "manis senyumnya." "Masa?" "Saranghae."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN