Sambil memeluk bantal dengan karakter hello Kitty Agatha berjalan menuju kamar abangnya. Dan saat membuka pintu matanya langsung disuguhkan pemandangan yang belum pantas untuk ia lihat.
Blam!
Agatha menutupi kuat pintu kamar abangnya dengan mata yang membulat lebar.
"Kebiasaan kan, ganggu mulu kerjaannya."
Agatha hanya melirik karena sekarang ia sedang membelakangi pintu kamar.
"Lagian udah tau Atha mau ke sini Abang sama kak Oliv malah ciuman!"
"Salah siapa gak pake ketok dulu?"
Agatha diam.
"Kamar Atha di sana, bukan di sini." Al memegang kepala Agatha mengarahkan gadis itu pada pintu kamar yang biasa Agatha tempati ketika menginap di rumahnya.
Agatha berbalik menatap Al dan juga Oliv yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Atha tidur sama Abang sama kak Qila ya,"
"Gak!"
"Emang kenapa? Biasanya Atha tidur sendirian," kata Oliv.
"Akhir-akhir ini Atha kalo tidur sama Papi Mami karena waktu itu sempet... Sempet liat hantu di kamar," Agatha memelankan suaranya di akhir kalimat.
Agatha menatap kesal Al yang sedang tertawa keras.
"Pokoknya Atha mau tidur di sini!" Agatha menerobos masuk dan langsung duduk di atas tempat tidur.
"Tha, pindah ah jangan di sini." Al menarik tangan Agatha namun Agatha menolak untuk pindah.
"Gak mau! Atha mau tidur di sini, Abang sana yang pindah. Orang sekali-sekali Atha tidur di sini karena Mami sama Papi lagi pergi,"
"Tapi kan bentar lagi pulang,"
"Tapi Atha udah ngantuk banget!"
Al sibuk menarik-narik tangan adiknya sementara Agatha sibuk mempertahankan dirinya di atas tempat tidur.
☁️
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Agatha sembari berjalan diantara kerumunan orang-orang.
Agatha berdiri di paling depan sambil memperhatikan objek yang sedang menjadi pusat perhatian.
Mulut Agatha terbuka lebar melihat Andriel keluar dari mobil dengan memakai seragam sekolah seperti dirinya.
Gaga yang kebetulan berdiri di sebelah Agatha mengerenyit melihat reaksi gadis itu saat Andriel keluar dari mobil, reaksi Agatha sama persis seperti reaksi murid-murid perempuan yang lain dimana mereka terlihat seperti terkesima dengan kehadiran murid baru itu.
"Hei, hei. Bubar, jangan ngalangin jalan." Seorang guru laki-laki menerobos kerumunan anak muridnya yang tengah menghalangi pintu masuk sekolah.
Guru laki-laki yang merupakan wakil kepala sekolah itu menyambut kehadiran Andriel dengan hangat dengan cara menjabat tangan Andriel.
Andriel tersenyum kecil bahkan hampir tidak terlihat ketika dirinya disambut.
Agatha dan yang lainnya menyingkir memberi jalan untuk Andriel yang hendak masuk.
☁️
"Gila sih anak baru nya ganteng banget aduh!"
"Semoga masuk kelas ini, semoga masuk kelas ini."
"Yu, pindah dong Yu. Sapa tau anak barunya masuk kelas kita jadi dia bisa duduk sama gue."
"Teros gue duduk dimana monyet?!"
Agatha tidak habis pikir dengan reaksi teman-temannya sekelasnya yang terlihat begitu memuja Andriel.
"Tha, ganteng kan Tha?
"Kira-kira dia jomblo gak ya?"
"Put! Dia itu aneh, stop."
Putri mengerutkan dahi.
"Aneh apaan? Ganteng gitu masa dibilang aneh," Putri tertawa geli.
Agatha meremas kotak pensilnya geram melihat reaksi Putri.
"Putri, dia itu..."
"Selamat pagi,"
Agatha menghela napas panjang melihat wali kelasnya datang bersama Andriel.
"Hantu," gumam Agatha dengan kedua tangan menopang keningnya.
Selama Andriel memperkenalkan diri Agatha sama sekali tidak memperhatikan laki-laki itu, pandangannya terus tertuju pada kotak pensil yang sedang ia mainkan resletingnya.
"Baik, cukup perkenalan dirinya sekarang Andriel duduk di sebelah Agatha."
Kepala Agatha langsung terangkat dengan wajah yang syok.
"Putri, kamu pindah ke belakang duduk dengan Ivan."
"Bu, saya kan emang duduknya sama Putri kenapa Putri di suruh pindah?" Tanya Agatha.
"Memang sudah peraturannya seperti itu kan, laki-laki duduk dengan perempuan. Jadi Putri duduk dengan Ivan dan Andriel duduk dengan kamu,"
Agatha kehabisan kata-kata melihat Putri membereskan buku-bukunya dan juga Andriel mulai melangkah ke arahnya.
Saat Andriel sudah duduk Agatha langsung menggeser kursi hingga lebih merapat ke dinding.
Pergerakan Agatha yang seperti itu tidak luput dari perhatian Andriel.
☁️
Sudah lima menit lamanya Agatha duduk diam di kursi padahal ia ingin sekali buang air kecil, Agatha sengaja menahannya karena malas sekaligus takut jika harus meminta Andriel untuk geser memberi jalan keluar untuknya.
Agatha menoleh menatap Andriel yang baru saja berdiri keluar dari bangkunya. Agatha terdiam di tempat sambil memperhatikan Andriel.
Andriel sedikit menggerakkan kepala seolah berkata keluar.
Bukannya langsung keluar Agatha masih berdiam diri di tempat karena terkejut melihat Andriel tahu apa yang ia inginkan.
"Kenapa kamu berdiri?"
Andriel menoleh ke arah guru yang sedang duduk. Laki-laki itu kembali menatap Agatha dan kembali menggerakkan kepalanya.
Agatha langsung bangkit berdiri.
"Saya mau izin ke toilet, Bu." Ucap Agatha dan langsung dibalas anggukan oleh gurunya.
Setelah buang air kecil Agatha tidak kembali ke kelas melainkan berdiri di depan cermin berukuran besar dan lebar.
"Dia siapa sih? Kenapa tadi bisa tau kalo aku mau pipis? Pasti dia bukan manusia, dateng aja suka tiba-tiba gak mungkin banget manusia."
"Waktu itu Putri gak bisa liat dia sedangkan aku bisa, tapi kenapa sekarang semua orang bisa liat dia?"
Agatha berbicara sendiri di depan cermin seperti orang gila dengan raut wajah frustasi.
☁️
Agatha yang biasanya selalu fokus ketika sedang belajar menjadi sebaliknya karena kehadiran Andriel tepat di sebelahnya.
Sudah tidak terhitung berapa kali Agatha melirik Andriel yang sedang sibuk menulis dengan ekspresi datarnya.
Sambil menulis Agatha melirik Andriel.
Andriel menoleh membuat Agatha langsung memfokuskan mata nya pada buku, sekarang gantian Andriel lah yang menatap Agatha secara terang-terangan membuat gadis itu menjadi salah tingkah, tangannya sudah keringat dingin serta jantungnya berdegup sangat kencang.
Agatha tidak menyangka jika Andriel terus-terusan menatapnya membuat dirinya mulai geram dan langsung membalas tatapan Andriel walaupun takut.
"Jangan liatin aku!" Bisik Agatha dengan penuh penekanan.
"Kamu dulu yang liatin aku," balas nya membuat mata Agatha membulat sempurna.
Agatha mencari-cari sesuatu dari kotak pensilnya, yang Agatha keluarkan adalah pensil. Dengan sekali tarikan Agatha membuat suatu garis vertikal ditengah-tengah meja.
"Jangan lewatin garis ini!" Agatha menunjuk-nunjuk garis yang ia buat dari pensil.
Andriel mengalihkan pandangan dan kembali menulis.
Baru saja Agatha memberi peringatan Andriel sudah melanggarnya dengan cara menyentuh bahkan melewati garis yang ia buat dengan siku nya.
"Ngeselin juga ternyata." Gumam Agatha menatap tajam Andriel.