Chapter 05

1141 Kata
"Lo sama dia diem-diem mulu, ajak ngomong kek." Sambil membuka tutup botol minumnya Agatha menggeleng dengan cepat. "Kasian tau dia gak ada temennya," "Ya udah kamu temenin aja, aku gak mau temenan sama dia." "Gue ngerti banget lho kalo lo itu orangnya welcome, setiap ada orang baru lo gampang banget deket sama dia tapi giliran sama Andriel kenapa susah gitu?" "Karena aku gak mau temenan sama dia, Putri." "Kalo sama gue mau gak?" Agatha menoleh mendapati Gaga datang ke kantin dan duduk tepat di sebelahnya. Agatha tersenyum, "kan kita emang temen." "Cuma temen?" "Ekhem!" Putri berdehem dengan cukup keras membuat mata Gaga dan Agatha tertuju pada gadis itu. "Mending lo cabut Put, daripada jadi nyamuk." Kata Gaga. "Lo kali yang cabut," Gaga terkekeh. "Oh iya, gimana anak baru itu? Denger-denger dia satu kelas sama lo berdua." Agatha mengangguk seraya mulai memakan bekal yang ia bawa dari rumah. "Duduk sama siapa?" Putri mengerucutkan bibir menunjuk Agatha yang sedang makan dengan bibirnya. Agatha menoleh karena tidak lagi mendengar suara Gaga. "Kenapa?" Tanya Agatha. "Awas cinlok," Agatha tertawa geli, "gak lah. Dia cowok aneh bukan tipe aku." "Jadi tipe lo yang gimana? Kayak gue kan?" Agatha kembali tertawa sambil menutup muka Gaga dengan tisu. ☁️ "Hari ini kita ulangan kan?" "Gak buk! "Iyaa!" Semua tatapan langsung tertuju pada Agatha, disaat yang lainnya kompak menjawab tidak Agatha malah mengiyakan pertanyaan guru Kimia mereka. Mereka ingin marah namun tidak bisa, murid laki-laki yang paling kuat saat bersuara tadi ingin sekali mencerca malah tidak bisa saat mereka mengetahui jika Agatha lah yang menjawab jujur pertanyaan guru tersebut. "Kita ulangan kan hari ini, Agatha?" Agatha mengangguk tanpa memperdulikan teman-temannya. "Memang kamu pantas dijadikan murid kesayangan oleh guru-guru," kata guru tersebut ditujukan untuk Agatha. Saat guru mereka tengah sibuk menghitung kertas untuk ulangan hari ini Agatha menatap satu persatu teman-teman sekelasnya seraya menangkup kedua tangan di depan d**a sambil mengucapkan maaf tanpa mengeluarkan suara. Agatha menoleh ke belakang menatap Ivan yang merupakan teman sebangku Putri. "Maaf ya, Van." Ivan tersenyum, "gak papa Tha." Agatha ikut tersenyum dengan mata yang tertuju pada tangannya yang tengah disentuh oleh Ivan. "Tapi tangan aku," Agatha menunjuk punggung tangannya. "Oh iya," Ivan langsung menjauhkan tangannya seraya tersenyum tanpa rasa canggung sedikitpun. Agatha memposisikan tubuhnya menghadap depan saat guru mulai membagikan kertas pada mereka. Sambil menunggu kertasnya Agatha melirik Andriel, mata Agatha jatuh pada perut laki-laki itu. Kayaknya dia gak ada makan, hantu mana mungkin makan. Andriel menoleh tepat saat Agatha selesai membatin. Agatha terkesiap langsung membuang muka ke arah dinding dengan mulut yang berkomat-kamit. "Kita punya waktu dua jam sebelum bel pulang berbunyi, saya kasih waktu satu setengah jam untuk kalian mengerjakan soal-soal yang saya berikan dan setengah jam yang tersisa saya pakai untuk mengoreksi ulangan kalian, setelah dikoreksi akan langsung saya bagikan dan besok harus dibawa dengan kertas yang sudah ditandatangani oleh orang tua kalian. Kerjakan sekarang." Agatha mengambil pulpen nya dari kotak pensil dan mulai mengerjakan soal-soal yang telah diberikan. ☁️ Agatha mengerenyit ketika tinta pulpen nya tidak lagi berwarna yang artinya tinta pulpen Agatha sudah habis. Karena waktu yang ia punya sudah tidak banyak lagi Agatha buru-buru mencari pulpennya yang lain di kotak pensil namun tidak ia temukan. Agatha mulai panik, waktu yang tersisa tinggal lima belas menit lagi. Walaupun sudah sampai di soal nomor terakhir Agatha belum menuliskan jawaban ataupun hasil dari soal terakhirnya. Agatha menatap Andriel bukan untuk meminjam pulpen melainkan menatap sebuah pulpen yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah. Pulpen tersebut Andriel sodorkan kepadanya dengan wajah laki-laki itu tertuju pada kertas jawaban. Bukannya langsung diambil, Agatha malah terdiam memandangi pulpen tersebut. Andriel meletakkan pulpen yang ia pegang di dekat Agatha tanpa mengucapkan apapun. Sambil memegang pulpen pemberian Andriel mata Agatha tertuju pada laci untuk mencari-cari dimanakah kotak pensil ataupun tempat Andriel menyimpan peralatan sekolahnya, di meja tidak ada dan di laci juga tidak ada. Agatha mulai bingung darimana Andriel mendapatkan pulpen tersebut pasalnya Agatha sempat melihat jika Andriel hanya memegang satu buah pulpen. "Waktu sudah habis." Agatha terkejut dan pasrah saat kertas jawabannya diambil. Agatha hanya memasang ekspresi pasrah ketika guru menatapnya seolah bingung mengapa Agatha tidak menjawab soal nomor terakhir. ☁️ Rafa berlari menghampiri Agatha yang sedang menangis di depan pintu keluar gedung sekolah, Agatha duduk di tangga sambil memegang kertas ulangannya. "Atha kenapa?" Agatha langsung mendongak. "Papi, nilai ulangan Atha." Sambil menangis Agatha memberikan kertas ulangannya pada Rafa. "Cuma dapet nilai sembilan," lanjut Agatha seraya menghapus air matanya. Rafa berjongkok di depan Agatha. "Gak papa, nilai sembilan juga udah bagus banget." "Tapi kan biasanya Atha selalu dapet sepuluh," "Gak ada salahnya dapet sembilan," "Nilainya dimasukkin ke buku nilai, semua nilai Atha sepuluh tapi kali ini sembilan. Malah anak baru itu dapet nilai sepuluh!" "Anak baru itu dapet nilai sepuluh nya baru kali ini aja sedangkan Atha dapet nilai sepuluh nya udah banyak banget. Gak papa, Atha udah hebat lho." Agatha menoleh ke samping dimana ada Andriel yang baru saja berdiri. "Dia! Gara-gara dia Atha dapet nilai sembilan!" Agatha menunjuk Andriel dengan raut wajah kesal sekaligus geram. Agatha menatap lama Andriel lalu menatap Rafa yang sedang memperhatikannya. "Dia Pi, gara-gara..." Agatha terdiam saat raut wajah Rafa terlihat kebingungan. Rafa bangkit berdiri seraya membantu Agatha dan langsung membawa anak gadisnya pergi. Sambil berjalan Agatha menoleh ke belakang, Andriel masih berdiri di sana sembari memperhatikannya. "Gak ada orang ya Pi?" Tanya Agatha dengan pelan. Rafa menatap Agatha kemudian menggeleng. Agatha meremas kemeja Rafa dengan kepala yang kembali menoleh ke belakang menatap Andriel yang sudah hilang entah kemana. "Mungkin Atha masih kepikiran soal nilainya ya? Jangan dipikirin, kita beli minuman aja mau?" Agatha mengangguk kecil tanpa berani lagi menoleh ke belakang. ☁️ "Aku ngerasa ada yang aneh sama Atha," "Aneh gimana? Menurut aku enggak," "Kamu gak tau aja waktu aku jemput Atha di sekolah tadi dia nangis gara-gara dapet nilai sembilan, terus Atha nunjuk-nunjuk ke samping sambil ngomel-ngomel kayak lagi marah gitu." Aya diam mulai mencerna ucapan Rafa. "Akhir-akhir ini Atha tidurnya juga sama kita, terus waktu kita pulang malem kan Atha maksa tidur di kamar Al katanya takut ada hantu kalo tidur sendirian. Aneh gak sih?" "Denger cerita kamu aku baru sadar," "Apa jangan-jangan Atha indigo?" Aya langsung memukul Rafa, "gak mungkin lah. Jangan sampe," Percakapan dua orang itu terhenti ketika Agatha masuk sambil membawa bantal ke kamar mereka. "Atha mau tidur di sini lagi ya?" Tanya Aya. Agatha mengangguk sambil berbaring. "Gak papa kan kalo Atha tidur di sini?" Aya menggeleng seraya tersenyum dan sesekali menatap Rafa. "Kenapa Atha pengen tidur sama Papi Mami terus?" "Lebih nyenyak aja, lebih nyaman." Rafa dan Aya saling tatap dalam diam. "Papi," panggil Agatha. "Kenapa?" "Ntar kalo Atha kebangun mau pipis gak papa kan kalo Atha bangunin Papi?" Rafa menggeleng sambil tersenyum. Agatha ikut tersenyum dengan kedua mata mulai terpejam. Saat mata Agatha sudah terpejam Rafa dan Aya kembali saling tatap dengan rasa penasaran luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN