"Abang!"
"Abang!"
"Iya Tha iya!"
Agatha diam sambil menunggu pintu kamar abangnya terbuka.
"Papi sama Mami lagi ke Singapura, Atha tidur di sini ya."
Al menunjuk kamar yang berada tidak jauh dari kamarnya.
"Tapi Atha mau tidur di kamar Abang lagi,"
Al menggeleng.
"Atha gak mau tidur sendirian,"
"Bodo,"
"Jangan gitu, Atha beneran gak mau tidur sendirian lho."
"Takut ada hantu? Makanya rajin sholat Tha biar gak diikutin hantu."
"Abang kok gitu sih,"
"Udah sana-sana," Al menggerakkan tangannya mengusir Agatha.
Mata Agatha tertuju pada Oliv yang baru saja keluar dari kamar.
"Kak, Atha boleh ya tidur di situ lagi." Agatha menunjuk ke dalam kamar Al dan Oliv.
"Bo..."
"Gak!"
Agatha menatap sinis Al.
"Gak boleh, di kamar tamu aja sana." Al mendorong bahu Agatha dengan kedua tangan.
"Tapi bang..."
"ENGGAK!"
Agatha tidak lagi mengeluarkan suara dan mulai berjalan dengan langkah lambat menuju kamar tamu.
"Tha," panggil Oliv karena merasa tidak enak.
Agatha tidak menoleh.
"Atha,"
Agatha terus berjalan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu dengerin apa kata Mami Papi gak sih, Atha itu lagi ketakutan." Omel Oliv pada Al.
"Ya masa tidurnya sama kita,"
"Sekali-sekali gak setiap hari apa salahnya sih, namanya juga orang lagi ketakutan. Kamu abangnya masa gak ngerti," Oliv melangkahkan kaki menuju kamar yang Agatha tempati.
Al tetap berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Oliv yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar Agatha.
Di dalam kamar Agatha tengah duduk di tepi tempat tidur seraya matanya menyapu seluruh isi ruangan. Agatha mulai merasa ketakutan walaupun ia sedang berada di tempat yang terang, Agatha takut jika makhluk aneh itu kembali muncul secara tiba-tiba membuatnya tidak bisa tidur selama semalaman.
"Atha, buka pintunya ya. Kalo mau tidur sama kakak buka pintunya,"
Agatha menatap pintu kamar tanpa minat.
Beberapa kali Oliv memanggil selalu Agatha hiraukan karena ia malas jika harus bertemu dengan abangnya.
Air mata Agatha jatuh saat suara Oliv tidak terdengar lagi.
Sambil memperhatikan seluruh isi kamar Agatha mulai membuka suara.
"Aku mau tidur, kamu jangan muncul apalagi sampe ganggu aku. Aku takut, jangan muncul." Gumam Agatha tidak yakin jika apa yang ia ucapkan ampuh untuk mengatasi rasa khawatirnya.
Agatha menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur dan berbaring dengan posisi membelakangi jendela, Agatha memeluk erat guling seraya menenggelamkan wajahnya di guling membayangkan bahwa guling itu adalah ayah ataupun ibunya.
☁️
Tepat di pukul 06.00 pagi Agatha bangun dan langsung duduk di tempat tidur dengan mata yang tertuju pada lemari.
Agatha merasa tidurnya sangat nyenyak, biasanya Agatha masih suka terbangun tengah malam namun kali ini tidak membuat Agatha dapat tersenyum di pagi hari.
"Kayaknya aku gak ada kebangun deh," ucap Agatha sambil merenggangkan otot-ototnya.
Mumpung hari Minggu, Agatha ingin sekali kembali tidur namun ia urungkan karena baru ingat jika dirinya sedang berada di rumah abangnya.
Agatha beranjak dari tempat tidur sambil membawa bantal hello Kitty tanpa mencuci muka terlebih dahulu.
Saat menuruni tangga Agatha bertemu dengan Oliv.
"Mau kemana? Sarapan dulu yuk,"
Agatha menggeleng, "Atha sarapan di rumah aja."
"Kakak udah bikin sarapan untuk kamu,"
Agatha diam sejenak karena rasanya kurang ajar sekali jika ia tidak memakan sarapan yang sudah Oliv buat.
Agatha menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki dimana ada Al yang sedang menuruni tangga.
"Sarapan di rumah aja deh," Agatha kembali melanjutkan langkahnya berjalan menuju pintu.
Oliv menatap Al, tanpa mengucapkan apapun perempuan itu pergi ke dapur.
☁️
Agatha terkejut melihat Andriel berdiri di kamarnya sambil memperhatikan miniatur rumah yang ia buat.
"Ngapain kamu di kamar aku?" Tanya Agatha tanpa rasa takut.
Andriel menoleh.
"Oh, pasti kamu mau ganggu aku kan tapi karena aku tidurnya di rumah Abang aku jadi kamu gak bisa ganggu aku." Agatha tertawa senang.
"Siapa yang mohon-mohon minta jangan diganggu?"
Agatha berhenti tertawa.
Andriel kembali menatap miniatur rumah buatan Agatha.
Agatha maju beberapa langkah, "jadi kamu denger permintaan aku?"
Andriel mengangguk kecil.
"Siapa sih kamu sebenernya? Kamu hantu kan?"
Andriel tidak menjawab.
"Kenapa kamu bisa hilang timbul? Kenapa kamu bisa sekolah? Kenapa cuma aku yang bisa liat kamu? Tapi kenapa semua orang bisa liat kamu sekarang?"
Lagi-lagi Andriel kembali diam.
Agatha mendekati Andriel dengan sangat hati-hati, telunjuk Agatha menyentuh sedetik lengan Andriel memastikan bahwa laki-laki itu dapat disentuh.
Andriel menoleh ketika merasakan sentuhan di lengannya.
"Siapa sih kamu?"
Andriel berdiri menghadap Agatha.
"Nanti juga tau,"
Agatha mengerenyit.
"Nanti kapan? Kapan? Sekarang kasih tau aku!"
"Di umur ke tujuh belas,"
Agatha diam lalu kembali bersuara.
"Tiga bulan lagi," Agatha menahan senyum karena sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa sebenarnya Andriel.
Andriel dan Agatha saling tatap tanpa ada yang membuka suara.
"Aku udah gak takut lagi sama kamu," ucap Agatha dengan wajah menantang.
Wajah Agatha berubah tegang ketika Andriel menghilang dari hadapannya, tubuh Agatha memutar untuk mencari-cari keberadaan Andriel.
Agatha mengusap tengkuknya karena mulai merasa merinding.
"Ya ampun dia ilang." Gumam Agatha sambil berjalan menuju pintu lalu berlari keluar menuju rumah abangnya.
☁️
"Kalian ibu tugaskan untuk membuat makanan dari umbi-umbian, terserah mau makanan ringan atau berat yang penting terbuat dari umbi-umbian."
"Satu kelompok berapa orang Bu?" Tanya salah satu murid perempuan.
"Dua,"
Agatha langsung menoleh ke belakang tersenyum penuh arti pada Putri.
"Kita bikin donat dari kentang ya Pu..."
"Satu meja satu kelompok,"
Agatha langsung menatap gurunya dengan syok.
"Dikumpulkan hari Jumat, selamat siang."
Agatha menyandarkan tubuhnya di dinding dengan posisi menghadap Andriel. Bagaimana mungkin ia mengerjakannya bersama orang yang menurutnya aneh itu.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi dimana semua murid mulai keluar dari kelas, Agatha masih diam di tempat duduk sambil memegang ponsel.
"Jangan pulang dulu,"
Andriel menoleh.
"Ini udah hari Rabu, hari Kamis bikin makanannya terus Jumat udah di kumpul. Aku gak suka kerja sendirian jadi hari ini ikut aku belanja beli bahan-bahan makanannya,"
Andriel tidak memberikan respon apapun.
"Tau gak kita mau bikin apa?"
"Donat kentang,"
Agatha beranjak sambil memakai tas nya saat kelas sudah sepi.
"Ayo keluar,"
Andriel memakai tas nya dan berjalan di belakang Agatha.
"Awas aja pas di mall nanti kamu ngilang, aku gak mau ya disangka orang gila gara-gara ngomong sendiri."
Agatha berbalik, "denger?"
Andriel mengangguk.
Ketika sudah keluar dari gedung sekolah Agatha berdiri mematung di depan pintu mobil Andriel.
"Masuk," kata Andriel membuat lamunan Agatha terbuyarkan.
Agatha pun membuka pintu mobil tersebut dan tidak langsung duduk melainkan melihat-lihat isi mobil itu.
"Gak ada yang aneh," gumam Agatha lalu duduk di sebelah Andriel.
"Beneran bisa bawa mobil kan?"
"Emang hantu bisa bawa mobil?"
"Bisa,"
Agatha mengerenyit karena bingung dengan jawaban Andriel, baru saja Andriel menjawab pertanyaan yang mana? Pertanyaan yang pertama atau yang kedua?
"Tau mall nya dimana?"
Andriel mengangguk.
Agatha memperhatikan Andriel seraya berpikir keras.
☁️
Sambil mendorong troli Agatha memperhatikan Andriel yang terlihat risih dan tidak nyaman saat berada di keramaian.
Agatha menghentikan langkah Andriel.
"Dorong troli nya biar aku yang cari bahan-bahannya, ikutin aku."
Selesai berbicara Agatha memperhatikan orang-orang yang ada di dekatnya, mereka terlihat acuh dan sibuk dengan barang belanjaan mereka. Di situ Agatha merasa lega sekaligus yakin jika Andriel dapat dilihat oleh semua orang.
Agatha berdiri di depan rak yang berisikan bahan-bahan untuk membuat kue, termasuk donat.
Agatha menatap Andriel, "ambil mentega yang itu. Kamu kan tinggi," Agatha menunjuk mentega yang berada di rak paling atas.
Andriel mengambil apa yang Agatha perintahkan dan langsung memberikannya.
"Mentega udah, tepung udah, semuanya udah tinggal kentang yang belum. Ayo cari kentang," Agatha berjalan terlebih dahulu.
Semua bahan-bahan yang dibutuhkan sudah terbeli Agatha dan Andriel tidak langsung keluar dari mall.
Agatha yang tengah kehausan pergi mencari minuman dan dengan setia Andriel mengikuti kemanapun Agatha pergi.
"Saya mau hazelnut chocolate milk tea,"
Setelah memesan Agatha menatap Andriel.
"Kamu mau gak?"
"Enggak,"
"Kenapa?"
Andriel menggeleng.
Agatha menatap sebentar Andriel lalu mendekati laki-laki itu.
"Hantu gak mungkin minum kan?" Tanya Agatha dengan sangat pelan walaupun disekitar mereka cukup sepi.
"Hazelnut chocolate milk tea,"
Agatha mendekati meja kasir untuk mengambil pesanannya, tidak ingin membeli apa-apa lagi Agatha dan Andriel pun keluar dari mall.
Agatha memperhatikan perempuan-perempuan yang sedang menatap ataupun mencuri pandang dengan Andriel yang sedang berjalan di sebelahnya sambil mendorong troli.
Dari tatapan tersebut terlihat jelas jika mereka tengah kagum dengan wajah dan juga pesona Andriel.
Mereka belum tau aja makhluk apa yang ada di sebelah aku.
Andriel menoleh membuat Agatha berhenti meminum minumannya.
Agatha melirik Andriel yang masih memperhatikannya sambil berjalan tanpa melihat ke arah depan seperti sudah hafal dengan langkahnya.
Tak lama Agatha bernapas lega karena Andriel tidak lagi memperhatikannya.
Agatha ingin sekali membatin namun entah mengapa ia langsung yakin jika Andriel benar-benar bisa mendengar apa yang ia ucapkan di dalam hati sehingga Agatha menahan dirinya sendiri untuk diam.
Agatha memperhatikan bagian bawah cup minumannya untuk menggerakkan sedotan pada bubble yang tidak sempat masuk ke dalam mulut.
Tin! Tin!!!
Agatha langsung menoleh dan terkejut melihat mobil datang dari arah berlawanan, kaki Agatha terasa seperti lumpuh membuatnya tidak bisa bergerak dari tempat.
Kedua mata Agatha terpejam erat saat mobil tersebut semakin dekat hingga ia merasa ada sebuah tangan yang melingkar di pinggang seperti menarik dirinya.
Tidak merasakan hantaman pada tubuhnya kedua mata Agatha terbuka dan terpaku ketika dirinya dan Andriel saling tatap.
Agatha menatap pinggangnya dimana ada tangan Andriel yang masih melingkar di sana.
"Mau jadi hantu juga?" Andriel menjauhkan tangannya dari pinggang Agatha lalu berjalan menuju mobilnya.
Agatha masih berdiri di tempat karena ia sedang mencerna ucapan Andriel.
"Kenapa dia nanya kayak gitu? Apa dia beneran hantu? Pasti dia hantu!" Seru Agatha membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.
Agatha berlari mengejar Andriel ketika menyadari jika dirinya sedang menjadi pusat perhatian.