"Aku iri lihat perempuan-perempuan di dunia ini yang bisa dengan mudah memiliki keturunan sedangkan aku begitu sulit. Seharusnya kamu paham akan hal itu. Bukannya malah menghalang-halangiku untuk bisa hamil juga." Wati terkekeh-kekeh sambil memandangi celemek kotor yang kini menempel erat di sekujur perutnya itu. Dia tak terlalu memerhatikan ekspresi kakaknya yang kini terkejut bukan kepalang melihat tingkah lakunya mengelus-elus celemek dari Bi Lem tersebut. Setelah puas, barulah ia mendongak menatap wajah Camah, tapi senyum bahagia masih betah bersarang di sudut-sudut bibirnya. "Kakak nggak tahu, ya?" Seru Wati. "Bukannya Bi Lem itu sudah lama jadi pembantu Kakak, tapi, kok, bisa, sih, nggak tahu?" Camah tercengang heran. "Nggak tahu apa, Ti? Memangnya ada apa dengan Bi Lem pembantuku

