Wati menarik tangan Icha. Tatapannya berubah serius. Ini kesempatan emas untuk bertanya banyak hal. Mumpung mama dan papa Icha belum datang. Dia menepis selimut kecil yang sejak tadi menyelubungi kaki dan pahanya. Tersingkaplah pakaian khas rumah sakit itu. "Icha pokoknya harus jelasin banyak hal ke Tante Wati." Karena tarikan itu agak ranggas, Icha memilih untuk duduk daripada tersenggol pinggang ranjang besi. Itu akan lebih menyakitkan ketimbang paksaan ini. Dia terengah-engah. Baru kali ini tantenya terlihat kasar sehingga Icha sampai berpikir bahwa barangkali ini adalah efek awal dari kehamilan tantenya. Jadi dia berusaha maklum. "Jelasin apa, Tan?" Tanya Icha yang berusaha tak merespon paksaan itu. "Tante nggak usah mikir aneh-aneh. Yang terpenting sekarang, Tante sembuh dulu." W

