1. Cinta Pada Pandangan Pertama

1500 Kata
Di dalam kediaman Wiraguna, terlihat seorang gadis cantik tengah mengendap-endap pergi dari rumahnya. Bukan karena gadis cantik itu akan melarikan diri, melainkan saat ini gadis itu tengah membawa kunci mobil kesayangannya. Gadis cantik, dengan rambut panjang tergerai indah itu bernama Tiara Cahyani Wiraguna, yang biasa di panggil Ara. Bukan tanpa sebab Ara ingin pergi secara diam-diam, sebab selama ini papa dan mamanya terus saja melarangnya untuk membawa mobil. Karena kedua orang tuanya, begitu mengkhawatirkan keselamatan putri semata wayang mereka. Ketika Pak Nathan dan Bu Nara, tengah menghadiri undangan pesta. Kebetulan Ara saat ini hanya tinggal dengan beberapa asisten rumah tangga, dan juga satpam di dekat gerbang memudahkan Ara untuk pergi tanpa sepengetahuan dan pengawasan Pak Nathan. Seperti yang dilakukan Ara sekarang, dengan memakai rok jins di bawah lutut, kemeja polos berwarna putih, topi berwarna putih tidak lupa tas selempangnya. Kini Ara telah siap pergi, begitu melihat asisten rumah tangga di rumahnya tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. 'Yes, sudah sepi. Sekarang aku harus cepat pergi, sebelum Papa dan Mama pulang,' gumam Ara, dengan berjinjit saat berlari ke luar. Saat sampai di garasi, terlihat beberapa mobil mewah terparkir cantik dan Ara menuju mobil berwarna putih yang menjadi mobil kesayangannya. Tidak sampai lima menit, setelah Ara memakai sabuk pengaman ia mulai melajukan mobil dengan sedikit kecepatan. Begitu ia sampai di pos satpam, ia dengan cepat membuka topinya. Lalu sedikit ia menurunkan kaca samping, untuk berbicara dengan satpam dengan sedikit merayu. "Mang Udin, tolong bukain gerbang dong? Ara mau ke butik sebentar, karena ada pembeli pakaian di butik Ara yang protes, karena bajunya sobek," ucap Ara dengan nada menyakinkan. "Tapi, Non, kalau nanti Tuan dan Nyonya tahu Non Ara bawa mobil saya pasti akan dimarahi Tuan sama Nyonya," bimbang satpam, saat ia mengingat Pak Nathan dan Bu Nara. "Ara yakin Papa dan Mama tidak akan marah sama Mang Udin, kalau Mang Udin tidak mengadu ke Papa sama Mama kalau Ara saat ini bawa mobil keluar," bujuk Ara. Tapi, Ara melihat Mang Udin masih terdiam. Ia yakin kalau Mang Udin pasti tidak akan membiarkannya pergi, jadi ia mempunyai rencana agar Mang Udin mau membukakan pintu gerbang untuknya. "Mang, kok, malah melamun?" "Ayo buka pintunya, Ara sudah terlambat ini. Apa Mang Udin mau Ara di marahi orang, berarti Mang Udin tidak sayang sama Ara," rajuk Ara, demi mendapatkan perhatian dari satpam yang telah bekerja di kediaman Wiraguna, dan itu Ara masih belum lahir. Jadi, bisa dipastikan kalau Mang Udin sangat menyayangi putri dari majikannya selayaknya anak sendiri. "Jangan bilang seperti itu, Non. Saya bekerja di sini, itu sudah sangat lama. Bahkan saat Nona belum lahir, hingga Nona lahir dan besar seperti sekarang saya sangat menyayangi Nona. Sama seperti putri saya sendiri, jadi jangan bilang kalau saya tidak menyayangi Nona." "Saya melarang Nona mengendarai mobil, juga karena saya mengkhawatirkan keselamatan Nona," ucap Mang Udin panjang. Saat Ara mendengar kalau Mang Udin menyayanginya, dengan kesepakatan itu ia meminta izin kembali. "Kalau Mang Udin menyayangi Ara, sekarang bukain gerbang dulu. Soal Papa dan Mama nanti jadi urusan Ara, Ara janji sama Mang Udin kalau Ara pasti jaga keselamatan saat membawa mobil," pinta Ara dengan ekspresi menggemaskan. Hingga Mang Udin tidak bisa menolak apa yang di minta putri majikannya, dengan sedikit tergesa membuka gerbang. Karena ia tidak ingin nonanya di marahi seorang pembeli di butik Ara, dan ia pun tidak segan meminta Ara berjanji agar tidak terluka. Suara deritan pintu gerbang saat di buka, membuat Ara yang berada di dalam mobil tersenyum senang. 'Akhirnya aku bisa berjalan-jalan dengan membawa mobil kesayanganku, aku seperti putri yang bebas dari sangkar emas kalau seperti ini,' gumam Ara dengan kekehannya, lalu dengan pelan ia mulai melajukan mobilnya. Saat di hadapan Mang Udin, Ara memberikan mobilnya sebentar dan ia mendengar nasehat dari pria paruh baya itu. "Mang ... Ara pergi dulu, ya. Tidak lama, kok, jadi tidak perlu terlalu mencemaskan Ara," pamit Ara dengan sopan. "Tapi, Non Ara harus berjanji harus kembali dengan keadaan baik-baik saja, ya. Saya tidak mau Non Ara terluka saat mengendarai mobil, kalau Non Ara sampai terluka saya nanti tidak akan mau membukakan pintu gerbang lagi," ancam Mang Udin, dan itu membuat Ara terkekeh. "Iya, Ara berjanji akan selalu hati-hati." "Daa ... Mang Udin." Ara pun pergi, dengan hati yang senang. Berbeda dengan yang dirasakan oleh Mang Udin ia malah terlihat khawatir. Bahkan mobil Ara yang sudah tidak terlihat, Mang Udin masih saja terpaku melihat ke arah depan. Tepatnya ke arah jalan raya, di mana mobil Ara tadi telah melaju pergi. "Semoga Allah senantiasa melindungimu, Non Ara," doa tulus Mang Udin untuk Ara. *** Ara terus berputar-putar di area taman, karena merasa bosan ia ingin pergi ke mall. Namun, naas saat ditikungan Ara melihat kucing ingin menyebrang kebetulan ia melajukan mobil sedikit kencang. Karena tidak ingin menabrak kucing itu, ia membanting setir ke kanan. Tepat saat itu ada sebuah mobil dari arah berlawanan ingin berbelok, dan timbullah kecelakaan itu. Brakkk!! Suara tabrakan cukup keras, karena Ara memang sengaja membanting setir tepat bersamaan mobil dari arah berlawanan tengah melaju. Meskipun saat itu Ara telah mengurangi cepetan mobil, tetap saja kecelakaan itu menurutnya cukup membuatnya terkejut. Ia juga takut, orang yang ia tabrak kenapa-kenapa. Maka dari itu, saat ia merasa dirinya baik-baik saja dan tidak terluka. Maka dengan terburu Ara keluar dari mobil, lalu menghampiri mobil di depannya. 'Ya Allah, bagaimana ini? Semoga saja pemilik mobil di depanku tidak apa-apa, sekarang aku harus cepat melihat keadaan pemilik mobil itu,' gumam Ara dengan panik, seraya melepaskan sabuk pengaman lalu turun dan melihat keadaan orang di dalam mobil di depannya. Ara telah turun, dan tidak melihat aktifitas atau pun kemarahan dari pemilik mobil. Hingga ia berpikiran kalau pemilik mobil itu terluka parah, dan tidak sadarkan diri membuatnya semakin dihinggapi ketakutan. 'Kenapa pemilik mobil ini tidak keluar-keluar juga? Apa dia terluka parah, dan sekarang pingsan? Aduh, aku sekarang harus bagaimana?' 'Dengan situasi sepi seperti ini, bagaimana aku meminta pertolongan pada masyarakat atau orang yang sekadar lewat. Karena di sini terlalu sepi, dan jarang rumah juga?' bingung Ara, setelah itu ia memberanikan diri untuk mengetuk kaca samping mobil dekat kursi kemudi. Tok! Tok! Saat Ara dengan panik mengetuk pintu, di dalam mobil terdengar suara seorang pria tengah mengerang kesakitan seraya memegangi dahinya setelah terkena benturan di setir mobil tadi. Pria tampan, yang masih menggunakan pakaian kantor lengkap seperti seorang CEO. Benar saja, pria tampan itu adalah seorang CEO muda dengan karier cemerlang di dalam dunia bisnis. Pria itu tidak lain adalah Reza Fahreza, CEO dari perusahaan Reza Groups. Saat Reza masih merasakan sakit di kepalanya, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di samping kanannya. Reza seketika menoleh, dan melihat siapa orang yang tengah mengetuk kaca pintu mobilnya. 'Siapa, sih, mengganggu saja. Orang juga lagi kesakitan begini, masih juga ada yang mengganggu.' 'Apa seseorang itu adalah orang yang menabrak mobilku, tadi? Kalau benar, akan kuberikan dia pelajaran setimpal,' monolog Reza dengan menoleh ke arah samping kanan. Sesaat Reza terkejut, lebih tepatnya ia terpesona dengan wajah Ara yang cantik alami tanpa make up tebal di wajah sama seperti wanita suka berias. Degh! 'Cantik sekali. Apa dia seorang bidadari? Kalau begitu aku ingin berkenalan dengannya,' Reza terpesona, dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Reza melupakan kalau orang yang menabrak mobilnya adalah gadis yang kini berada di depannya, karena cinta itu telah masuk ke dalam sanubarinya. Maka ia terburu membuka mobil, Ara yang mendengar suara pintu akan segera terbuka ia bergegas minggir. Tidak lama Reza pun keluar, Ara yang sebelumnya ingin mengucapkan banyak kalimat permintaan maaf. Kini langsung terdiam, begitu Ara melihat pria dengan setelan pakaian CEO tengah keluar dari mobil dengan gaya cool, seketika itu juga timbul perasaan suka dalam diri Ara untuk Reza. Kini keduanya saling memandang, dengan tatapan saling memuja. Namun, semuanya berubah saat Ara melihat dahi Reza yang terlihat benjol. Akibat benturan tadi, waktu kecelakaan dengan mobil Ara. "Aaaa ... luka itu?" "Luka ini. Pasti sakit sekali, ya? tanya Ara, seraya membelai benjolan di dahi Reza. Tangan Ara begitu menikmati mengelus bencolan di dahi Reza, dan tidak jauh berbeda yang dirasakan oleh Reza. Ia juga menikmati elusan lembut di dahinya, tanpa mereka sadari jarak di antara mereka begitu dekat. Jarak tinggal beberapa senti saja, seolah keduanya terlihat akan berciuman ketika orang lain melihat posisi mereka. Ara merasakan embusan napas di pipinya, seketika tersadar kalau dirinya saat ini begitu dekat dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal. Seketika ia mengambil langkah mundur, tanpa sadar ia sedikit mendorong d**a Reza. Membuat pria tampan itu, sebelumya menikmati elusan tangan Ara menjadi ikut terkejut. "Maaf! Maafkan saya, Tuan." "Sungguh, saya tidak sengaja menabrak Anda tadi," sesal Ara, dengan meremas kedua tangannya seraya menunduk. Ara akan bersikap seperti itu, saat ia merasa begitu gugup, dan juga saat ia merasa takut. Reza yang peka, langsung mengerti kalau gadis di depannya saat ini tengah merasa ketakutan padanya. Karena tidak ingin Ara terus-terusan takut, akhirnya ia mulai mendekati Ara. Tanpa sungkan Reza langsung memegang lengan kanan Ara, merasa ada yang menyentuh lengannya seketika Ara mendongak dan saat itu juga kedua netra mereka bertemu kembali. Menimbulkan benih cinta dalam hati keduanya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN