NIANA membuka matanya perlahan agar terlih at seperti orang yang baru saja sadar dari tidurnya.
“Ehm ... hm ... Tante?” tanya Niana dengan suara yang sengaja dibuat lebih serak walau memang suara asli Niana agak serak.
“Niana, kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Tamara yang lupa untuk marah karena melihat keadaan Niana.
“Ehm ... pandai acting-nya. Aku seperti sedang menonton drama ibu yang baru bertemu anaknya,” ucap Dennis menyindir.
“Apa maksudmu, Dennis?” Tamara berbalik bingung dengan perkataan Dennis
“Apa Mama tak jadi ma....” Perkataan Dennis yang ingin mengingatkan Tamara tentang marah kepada orang yang membuatnya seperti ini dipotong oleh Niana dengan cepat.
“Ah, Tante, Niana mau ucapin terima kasih karena Tante sudah melahirkan anak yang baik hati mau menolong Niana. Niana hampir saja diperkosa. Jika Dennis tidak datang mungkin aku sudah ... hikss...,” ucap Niana memotong perkataan Dennis.
“Ya ampun, Niana sayang... Kamu jangan sedih lagi. Sekarang kamu sudah baik-baik saja. Benarkah Dennis datang di saat yang tepat? Wah, baguslah, akhirnya anak Tante bisa berguna juga bagi sesamanya.” Tamara malah menyindir Dennis.
“Aduuh ... aku yang sakit, aku yang berkorban, tapi aku yang disindir. Tahu gitu aku gak usah diselamatin aja sekalian kalau udah diselamatin malah disindir,” ucap Dennis berpura-pura kesakitan.
“Dennis, kamu bicara apa, sih? Dari tadi ngomongnya ngelantur terus. Yang sakit kan perut kamu, bukan otak kamu. Ke mana kamu jadi error begitu, sih?!” Tamara malah mengomeli Dennis
“Tante, udah Dennisnya jangan dimarahin lagi. Aku minta maaf, ya, Tan. Karena Dennis mau nolongin aku, dia jadi terluka seperti itu. Tapi aku udah hajar orang yang nusuk Dennis, kok, Tan. Aku gak kasih ampun sampai dia pingsan. Aku yakin saat dia bangun nanti dia sudah berada di dalam sel penjara.” Ucapan Niana membuat Tamara kagum.
“Apa? Kamu menghajar orang yang menusuk Dennis? Wah, apa kamu bisa bela diri? Ini, sih, jadi Dennis yang ditolongin kamu, dong?” tanya Tamara menjadi seru sendiri mendengar cerita dari Niana.
“Ya jelaslah, Ma. Dia itu udah rada gila. Barusan perutku aja dipukul. Terus pinter akting. Aku curiga jangan-jangan dia itu sebenarnya lelaki yang lagi nyamar jadi perempuan.” ucapan Dennis lagi-lagi membuat Tamara menjadi kesal.
“Anak ini! Benar-benar gak bisa serius, ya?! Kalau lagi gak sakit, Mama pukul kamu!”
“Ma, yang anak Mama itu aku apa Niana, sih?” tanya Dennis cemburu.
“Kamu ini, udah segede ini, masa iri sama Niana?” tanya Tamara.
“Tante, Dennis mungkin lagi butuh perhatian, Tan. Kan biasa kalau anak lagi sakit pasti pengen dimanja, aku aja kepengin. Tapi karena Mama dan Papa udah gak ada dan Kakak lagi di Sydney, jadi aku gak bisa minta dimanja.”
“Ah, kau itu memang gadis manja. Sampai mamaku juga mau diambil,” ucap Dennis sinis.
“Sudah, Niana. Kau jangan sedih lagi. Tante akan memanjakan kamu, Sayang. Biarin aja omongan Dennis,
“Oh, begitu, ya. Mama udah gak sayang Dennis lagi. Ya udah, kalau Dennis udah sembuh, mending Dennis balik lagi aja ke Amerika dan tinggal bareng sama Papa.” Dennis ngambek.
“Ih, Mama kan gak bilang udah gak sayang kamu. Mama cuma bilang kamu bandel gak mau dengar nasehat Mama,” ucap Tamara ngeles, tapi memang benar.
“Ah, gak bisa, Dennis udah keburu sakit hati! Dennis tetap akan kembali ke Amerika kalau udah sembuh,” ucap lagi Dennis masih mode ngambek.
“Ih, anak Mama udah gede kok ngambek, sih? Nanti kalau udah sembuh, Mama masakin makanan kesukaan kamu, deh. Tapi jangan balik lagi ke Amerika, dong. Kan Mama kesepian,” ucap Tamara merayu.
“Kan ada Niana yang bakal temanin Mama, yang nurut kalau dibilangin sama Mama. Bawa aja Niana ke rumah, jadi tiap hari gak bakal kesepian.” Ucapan Dennis kali ini membuat Niana tertohok. Dia juga sangat kesepian dan dia sangat merindukan sosok ibunya. Ibu kandungnya, bukan ibu yang seperti Ratna.
“Dennis, lebih baik kamu jangan kembali ke Amerika karena kamu akan sangat kesepian saat orang yang menyanyangimu sudah tak ada di dunia ini. Maaf, Tante, Niana mau mencari Pak Mario, pengacara
Niana. Aku mau minta dia untuk menelepon kakakku. Niana permisi dulu, ya, Tan,” ucap Niana yang memang sudah tidak diinfus lagi.
Lalu Niana keluar dari ruangan VVIP tersebut meninggalkan kedua orang yang baru dikenalnyan, tapi sangat memperngaruhi Niana.
“Dennis! Kan, kamu tuh mulutnya keterlaluan. Lihat kan gimana reaksi Niana? Dia jadi sedih karena teringat ibunya. Kamu tuh bukannya bersyukur karena mama dan papamu masih hidup walau sudah berpisah. Lihat Niana. Dia benar-benar tak mempunyai siapa pun di sini, bahkan kakaknya pun tak ada di sini,” ucap Tamara membuat Dennis tak lagi melawan. Dia jadi merasa bersalah kepada Niana.
“Niana, apa kau sangat kesepian? Maaf, kata-kataku barusan menyakitimu,” ucap Dennis dalam hati.
***
“Pak Mario,” panggil Niana saat melihat seorang lelaki dengan kepala plontos di ujung koridor sedang berbicara dengan dokter.
“Niana! Kenapa kau berkeliaran? Kau harus istirahat agar cepat pulih,” ucap Mario yang mengkhawatirkan Niana.
“Aku sudah tak apa-apa, Pak. Apa ada masalah?” tanya Niana, karena melihat pembicaraan serius dengan sang dokter.
“Ah, bukan apa-apa. Dokter hanya memberitahuku agar kau dan Dennis tak banyak bergerak karena kalian terluka parah,” ucap Mario.
“Niana, kau harus banyak istirahat karena keadaanmu cukup parah. Aku akan melakukan rontgen untuk memeriksa memar di tubuhmu,” ucap sang dokter.
“Baiklah, Dok. Lakukan apa saja yang terbaik untukku dan Dennis,” ucap Niana.
“Ada apa kau mencariku, Niana?” tanya Mario.
“Ah, itu, aku hampir saja lupa. Bisa aku menghubungi kakakku? Kau tahu ponselku tertinggal di rumah.”
“Oh, tentu, pakai saja ponselku. Nomor kakakmu ada di panggilan terakhirku,” ucap Mario sambil memberikan ponselnya kepada Niana.
“Terima kasih, Pak,” ucap Niana tersenyum lalu melakukan panggilan telepon kepada kakaknya sambil kembali ke ruangannya dirawat. Walau ada Dennis yang sedang tertidur, dia sudah sangat merindukan kakaknya. Sementara Tamara baru saja pergi untuk membeli makanan.
“Halo ... Kakak,” ucap Niana.
“Halo, Niana? Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu, Sayang? Maafkan Kakak yang tak ada di sana dan membuatmu dalam bahaya,” ucap Juno yang sangat merindukan sekaligus mengkhawatirkan keadaan adiknya, Niana.
“Aku sudah membaik, Kak. Aku kangen sekali dengan Kakak. Kakak kapan pulang? Atau biarkan aku saja yang ke sana, Kak. Aku butuh Kakak sekarang. Aku ingin dipeluk Kakak,” ucap Niana sambil meneteskan air matanya.
Walau Dennis hanya bisa mendengar suara
Niana, tapi dia tahu saat ini Niana sedang menangis.
Ya, Dennis hanya pura-pura tidur.
“Maafkan Kakak, Niana. Di sini sangat tak bisa ditinggal dan kau juga harus menyelesaikan skripsimu, kan? Setelah kau sidang, kau bermainlah ke sini. Kakak akan pulang bersamamu saat kau akan wisuda, bagaimana?” tanya Juno mencoba menenangkan Niana.
“Tapi, Kak, aku butuh Kakak sekarang. Aku sendirian, Kak. Aku tak ingin pulang ke rumah lagi. Aku tak ingin mengingat hal buruk yang terjadi di sana,” ucap Niana memohon.
“Baiklah, kau tak usah pulang ke rumah itu. Kakak akan membelikanmu sebuah apartemen, bagaimana? Kau pilih saja apartemen mana yang kau inginkan. Nanti Kakak akan menyuruh Pak Barito mengurus segala keuangandan pengeluaran yang kau butuhkan,” ucap Juno.
“Apartemen? Tapi, Kak, aku tetap akan tinggal sendiri, kan?” tanya Niana, Dennis masih memasang telinganya.
“Apa Niana akan tinggal di apartemen? Jika benar, dia bisa menjadi tetanggaku,” ucap Dennis dalam hati.
“Iya, Niana. Setidaknya apartemen lebih kecil dari sebuah rumah. Niana, kau gadis yang pintar. Kau pasti mengerti harus bagaimana. Kakak akan mempercepat kerjaan Kakak di sini. Kakak juga kangen kamu, Sayang. Tapi saat ini ribuan kepala keluarga sedang membutuhkan Kakak untuk mempertahankan perusahaan yang telah papa bangun dengan susah payah. Kau pasti mengerti, Niana. Papa pasti akan bangga jika kamu bisa bersikap dewasa,” ucap Juno untuk membuat Niana mengerti bahwa dia harus bersikap dewasa.
“Baiklah, Kak. Niana akan bersikap dewasa.”
“Terima kasih, Adikku sayang. Oh iya ... aku dengar ada seorang lelaki yang ikut menolongmu. Dennis kalau tak salah namanya. Bagaimana keadaan dia? Apa benar dia tertusuk pisau saat sedang menolongmu?” tanya Juno.
“Ah, iya. Dia sedang istirahat sekarang, tapi dia sudah dioperasi. Tinggal tunggu lukanya sembuh saja, Kak.”
“Ya sudah kalau begitu. Jika dia sudah bangun, sambungkan Kakak dengannya. Kakak akan ucapkan terima kasih karena telah menolong adikku.”
“Uhukk! Uhukk!” batuk Dennis yang dibuat-buat. Karena merasa dibicarakan, jadilah dia berpura-pura batuk. Membuat Niana beranjak dari tempat tidurnya dan membuka tirai pembatas tersebut.
“Ah, Kak, sepertinya dari tadi ada yang menguping pembicaraan kita dan berpura-pura istirahat,” ucap Niana kepada Juno.
“Hmm ... apa maksudmu Niana?” tanya Juno heran.
“Nih, orang yang Kakak tanyakan barusan. Dia sepertinya tahu kalau Kakak ingin bicara dengannya,” ucap Niana.
“Oh, maksudmu Dennis? Apa kalian seruangan?” tanya Juno.
“Iya, Kak, nih aku akan berikan ponselnya kepada Dennis,” ucap Niana lalu memberikan ponsel Pak Mario kepada Dennis.
“Halo,” ucap Juno.
“Halo, Pak Gabriel Juno,” ucap Dennis setelah menerima ponsel Pak Mario dari Niana.
“Ah, panggil saja aku Juno. Sepertinya kita seumuran, jika mata Niana masih bisa menilai usia seseorang,” ucap Juno.
Dennis sedikit tertawa. Sebenarnya dia masih sedikit sakit di bagian perutnya. Dia menyesal berpura-pura batuk untuk membuat Niana sadar kalau dia tak tidur. Sekarang perutnya masih nyut-nyutan.
“Baiklah, Kak Juno. Lebih baik aku memanggilmu dengan sebutan Kakak juga agar lebih sopan,” ucap Dennis.
“Terserah kau saja kalau begitu. Aku ingin ucapkan terima kasih karena kau sudah mau menolong Niana. Maaf sampai membuatmu hampir kehilangan nyawa,” ucap Juno.
“Tak apa. Yang penting sekarang Niana dan aku sudah selamat,” balas Dennis.
“Tetap saja itu sangat fatal jika kau tak selamat, aku akan merasa bersalah kepada keluargamu.”
“Tenang saja. Buktinya sekarang aku selamat, itu juga berkat Niana. Dia gadis yang hebat dalam ilmu bela diri,” ucap Dennis membanggakan Niana, membuat Niana yang mendengarnya menjadi kege-eran.
“Jangan katakan itu di depan Niana. Dia akan kege-eran jika kaupuji begitu,” ucap Juno. Dia tak tahu jika ponselnya di-loudspeaker.
“Kakak!” protes Niana.
“Ah, ternyata dia memencet tombol speaker untuk mendengar pembicara lelaki. Kau tak sopan, Niana.
Biarkan Kakak bicara dengan Dennis tanpa harus kau mendengarnya,” ucap Juno yang memang ingin bicara serius kepada Dennis.
“Baiklah, kalian memang lelaki. Penuh dengan rahasia-rahasiaan,” ucap Niana yang kini kembali ke tempat tidurnya dan duduk sambil bersidekap tangan di dadanya.
“Kak Juno, Niana ngambek,” adu Dennis.
“Tidak! Kau itu benar-benar tukang ngadu, ya? Tadi dengan ibumu, sekarang dengan kakakku? Terus saja menjelek-jelekkanku,” ucap Niana kesal.
“Kau memang jelek. Jadi jangan marah kalau dijelek-jelekkan,” ucap Dennis meledek Niana.
“Ah, terserah kau saja. Hanya kau yang bilang aku jelek,” ucap Niana masih dengan mode kesal. Dennis hanya geleng-geleng kepala.
“Dennis, maafkan Niana yang sangat kekanak-kanakan. Dia memang sedikit manja jika sudah merasa nyaman dengan seseorang,” ucap Juno di ujung telepon.
“Tak apa, Kak. Kebetulan aku anak tunggal. Mamaku juga ingin mempunyai anak perempuan. Jadi mamaku sangat senang dengan Niana.”
“Baguslah kalau begitu. Aku sedikit tenang mendengarnya. Dia merengek terus memintaku untuk kembali. Aku tak bisa kembali sekarang. Jadi aku ingin minta tolong kepadamu jika kau tak merasa direpotkan,” ucap Juno.
“Aku tak merasa direpotkan, Kak. Apa yang bisa kubantu?” tanya Dennis.
“Aku ingin menitipkan Niana kepadamu dan mamamu. Maaf, tapi aku tak tahu harus meminta siapa lagi. Pak Mario pasti juga sibuk dengan pekerjaannya. Kudengar kemarin kautinggal di apartemen? Aku ingin membeli apartemen tepat di sebelah apartemenmu agar Niana bisa terkontrol olehmu. Bagaimana? Jika itu merepotkanmu dan mamamu, kau bisa menolaknya,” ucap Juno meminta tolong kepada Dennis.
“Itu sama sekali tak merepotkan. Mamaku juga pasti akan senang,” ucap Dennis.
“Ah, baguslah. Terima kasih, sampaikan terima kasihku juga pada mamamu. Katakan juga di mana apartemenmu. Aku akan memberitahukan kepada orang kantorku untuk mengurus keperluan Niana.”
Dennis menyebutkan apartemen tempatnya menetap di Indonesia dan pembicaraan diakhiri dengan rengekan Niana kepada Juno yang tak ingin tinggal bersebelahan dengan Dennis walau sebenarnya Niana ingin sekali. Tak lama Pak Mario masuk ke dalam ruangan mereka untuk mengambil ponselnya yang dipakai Niana untuk panggilan keluar negeri.
Dapat dipastikan pulsa Mario habis karena panggilan ke luar negeri selama itu.
*123#
Mario mengecek pulsanya.
Saldo pulsa Anda Rp.0, masa berlaku 27/02/2017
Tulisan tersebut membuat Mario geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya dia memberikan ponselnya kepada Niana untuk menelepon Kakaknya yang berada di Sydney. Ah, sepertinya dia sudah sangat tua.
“Niana, kau bahkan menghabiskan pulsaku yang baru kuisi lima ratus ribu hanya untuk panggilan dua puluh menit ke luar negeri. Untung saja kau bukan anakku. Aku bisa bangkrut hanya untuk pengeluaran pulsa,” ucap Mario setelah keluar dari ruangan Niana dan Dennis. Dia tak tahu jika Niana menempelkan telinganya di balik pintu tersebut.
Niana tertawa lebar telah mengerjai Pak Mario. Dennis hanya bisa menahan tawanya mendengar Niana menceritakan apa yang dilakukannya barusan. Niana malah terus tertawa untuk membuat Dennis merasakan kesakitan.
“Niana! Berhenti tertawa, kau bisa membuatku mati. Perutku sakit menahan tawa, kumohon hentikan!” ucap Dennis, tapi tak dihiraukan Niana.
Akhirnya Niana bisa tertawa sebebas itu setelah sebelumnya dia menderita, walau dia masih harus menghadapi apa yang akan terjadi nanti.
**