TUJUH jam perjalanan yang ditempuh Ratna untuk bersembunyi kesuatu tempat yaitu kampung halamannya. Dia menghubungi rekannya yang lain untuk meminta uang. Dia tak memiliki uang cash lagi. Semua ada di rumahnya karena dompetnya tertinggal .
“Bagaimana? Apa kau sudah mentransfer dana yang kuminta? Aku tak ingin tinggal di kampung lagi. Aku terpaksa ini,” ucap Ratna.
“Tenang, Ratna. Aku sudah menyiapkanny a. Nanti sore kamu akan menerima dana tersebut,” ucap rekan Ratna.
“Baiklah, kabari jika keadaan sudah aman.” “Baiklah.”
**
Seminggu kemudian Juno sudah selesai mengurus masalah Niana. Sekarang dia bisa kembali fokus untuk mengurus perusahaannya.
“Apa saja jadwalku hari ini, Cath?” tanya Juno kepada Catherine yang tengah ada di ruangan Juno. Atas permintaan Juno minggu lalu, Cathrine pindah meja menjadi di ruangan Juno.
“Hmm ... hari ini Anda sedikit senggang. Hanya ada makan siang dengan Pak Brian untuk membicarakan masalah desain baju baru,” ucap Cathrine.
“Malamnya?” tanya lagi Juno.
“Ehm ... malamnya....” Cathrine malu sendiri jika menyebutkan jadwal malam bosnya itu adalah dinner dengannya.
“Apa, Cath?” tanya Juno lagi.
“Ah, ya, Pak, malamnya Anda dinner....”
“Denganmu?” tebak Juno tepat. Cathrine hanya mengangguk dengan rona malu dipipinya.
“Apa kau keberatan untuk dinner denganku?” tanya Juno lagi.
“Ah, tidak! Tentu tidak, Pak. Malah saya sangat senang,” ucap Cathrine keceplosan membuat Juno tersenyum penuh pesona.
“Maaf, Pak. !ku tak bermaksud....” ucap Cathrine
tertunduk malu. Saat dia mendongak, Juno sudah berada di depannya dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Dia tersenyum menebar pesonanya membuat Cathrine terpana melihat senyumnya itu.
“Itu ... Pak....”
“Ya.”
“Maaf, jangan menunjukkan wajah itu kepadaku,” ucap Cathrine memberanikan diri.
“Memangnya kenapa?”
“Bukan apa-apa, hanya saja ... Anda terlihat mempesona,” ucap Cathrine merutuki kebodohannya, tapi dia tak tahan ditatap seperti itu. Jantungnya bedegup tak keruan, jadi dia tak bisa menahan untuk mengatakan bahwa Juno sangat terlihat mempersona baginya
“Hahahah ... kamu lucu banget. Aku akan keluar makan siang sekarang. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang dan bersiap untuk dinner nanti malam, dan....” Juno mendekatkan dirinya kepada
Cathrine lalu melepas ikat rambut Cathrine yang dikucir kuda.
“Jangan ikat rambutmu. Kau lebih cantik jika rambutmu terurai. Lagipula jika di ikat seperti itu, aku takut kelepasan ingin mengecupnya.” Ucapan Juno kali ini membuat Cathrine membulatkan matanya. Bisa-bisanya Juno mengatakan hal itu kepada Cathrine.
“Ma-maaf, Pak. Saya tak akan mengikatnya lagi,” ucap Cathrine benar-benar salah tingkah.
"Aku hanya bercanda, Cath. Kau cantik dengan penampilanmu yang apa adanya dan aku suka itu. Ingat, aku suka,” ucap Juno lalu keluar dari ruangannya dan pergi makan siang, meninggalkan Cathrine yang susah payah menahan napas dan detak jantungnya yang bedetak tak keruan.
***
Dennis akhirnya bisa pulang ke apartemennya. Walau Tamara sebenarnya sudah memintanya untuk pulang ke rumahnya, tapi Dennis sudah nyaman berada di apartemen.
Sementara Niana sudah pulang dua hari yang lalu dan dia juga telah selesai merapikan barang-barangnya yang baru dipindahkan di sebelah apartemen Dennis. Entah rapi atau tidak, karena Niana itu sedikit selebor dan sesukanya meletakkan barang-barangnya.
Hari ini dia ikut Tamara ke rumah sakit untuk menjemput Dennis.
“Niana, kamu tak apa ikut menjemput Dennis?” tanya Tamara saat memasuki lobby rumah sakit.
“Tak apa, Tan. Aku masih ada waktu sampai minggu ini. Jadi aku akan menemani Tante ke mana pun. Lagipula Kakak juga telah menitipkanku pada
Tante dan Dennis. Pasti akan sangat merepotkan kalian. Aku ini keras kepala dan susah diatur, Tan,” ucap Niana polos mengakui keburukkan dirinya.
“Ah, masak sih? Buat Tante kamu itu lucu dan gemesin. Duuh ... kamu benaran gak mau nikah sama Dennis?” tanya Tamara asal ceplos.
“Ih, Tante, aku masih 21 tahun dan baru juga mau skripsi. Habis itu aku masih mau ngurusin perusahaan Papa. Aku mah gak mikirin nikah-nikahan, masih bocah aku. Nanti Dennis pusing ngurusin bocah keras kepala seperti aku,” ucap Niana panjang lebar membuat Tamara terus tertawa setiap kali bicara dengan Niana.
“Jadi kamu mau jadi adiknya Dennis aja, nih?” tanya lagi Tamara
“Hmm ... memangnya Dennis mau anggap aku adiknya? Dia kan irian sama aku. Hehehe...,” ucap Niana teringat kejadian beberapa hari lalu.
“Oh iya, ya ... tuh anak udah bangkotan masih aja irian,” ucap Tamara memecah tawa Niana.
Tak lama mereka masuk ke dalam ruangan Dennis sambil ketawa-ketawa.
“Wah, makin akrab, ya, Mama sama anak barunya.” sindir Dennis.
“Apaan sih kamu, Dennis!” protes Tamara, “Punya anak cuma satu bikin gereget banget tuh mulut. Kelemesan banget. Kebanyakan nyiumin cewek bule kamu tuh, jadi lemes begitu,” ejek Tamara.
“Jadi Dennis musti nyiumin cowok Arab gitu, Ma? Mana ada di Amerika.” Dennis makin ngawur. Niana hanya tertawa geli mendengar percakapan kocak antara ibu dan anak.
“Eh, kau, gadis gila! Obatnya habis, ya, dari masuk sampai sekarang cekikikan terus. Dikira aku sama mama lagi stand up komedi apa?” tanya Dennis dan langsung mendapat jitakan dari Tamara.
Pletak!
“ADUUH! Mama!” teriak Dennis.
“Nih anak cowok mulutnya benar-benar, deh. Sembarangan ngatain Niana gadis gila. Kamu gak tahu kalau dia itu anak pengusaha besar tahu,” ucap Tamara dan Niana langsung menjulurkan lidahnya kepada Dennis, tanpa membalasnya Niana sudah dibela oleh Tamara.
“Kau kenapa, Dennis? Kita kan datang untuk jemput kamu. Kenapa kamu judes gitu, sih? Lagi PMS, ya? Hahaha,” ucap Niana lalu dimeriahkan oleh tawanya dan tawa Tamara.
“Kalian tuh bikin kesal. Sengaja banget gitu, datang-datang ketawa-ketawa. Ngeledek aku yang gak bisa ketawa, ya? Udah tahu nih perut sakit banget.
Keterlaluan banget, sih! Gara-gara siapa, nih, aku begini?” protes Dennis panjang lebar.
“Oh, gara-gara itu? Ya maaf, deh. Kau mau tahu aku sama Tante kenapa ketawa?” tanya Niana malah semakin meledek.
“Kau benar-benar mau membuatku cepat mati, ya? Gak perlu, aku lagi mogok ketawa!”
“Ya sudah, biasa aja kali. Wle....” Niana menjulurkan lidahnya.
“Awas kau, ya. Kalau aku udah sembuh, kuhabisi tanpa ampun kau,” ucap Dennis dendam.
“Memangnya kamu mau apain Niana, Den?” tanya Tamara yang jadi penasaran sambil membenahi barang-barang Dennis.
“Aku belum pikirin. Pokoknya apa ajalah yang penting dia kapok ngetawain aku. Nih gadis udah ditolongin malah ngekiin,” ucap Dennis penuh kekekian.
“Ih, seram, Tante. Aku gak mau ngerawat Dennis pas Tante keluar kota. Nanti aku ditelan idup-idup lagi, Tan,” ucap Niana memperagakan orang yang ketakutan.
“Hahahaha ... Niana ... Niana, kamu benaran lucu, bikin gemes aja.”
“Siapa juga yang mau kau urus? Emang kau bisa ngurus aku? Ngurus diri sendiri aja gak bisa.”
“Siapa bilang aku gak bisa urus diri sendiri?” protes Niana.
“Kalau kau bisa, gak mungkin Kak Juno minta aku sama Mama untuk menjagamu!”
“Itu kan Kak Juno aja yang berlebihan. Kan Kak Juno yang minta, bukan aku!” jawab Niana tak mau kalah.
“Heh! Udah-udah, kalian ini! Tiap ketemu berantem terus. Nanti jatuh cinta baru tahu rasa kalian!”
“Gak mungkin!” ucap Niana dan Dennis berbarengan membuat Tamara tertawa terpingkal-pingkal.
“Hahahahaha ... tuh belum apa-apa aja udah kompak gitu.”
“Enak aja, Tan. Dennis itu pasti ikut-ikutan,” protes Niana.
“Eh, yang lahir duluan siapa? Yang belakangan lahir tuh biasanya yang ikut-ikutan, dasar gadis bocah,” ejek Dennis.
“Yee ... apa hubungannya? Dasar om-om gak laku!” balas Niana.
“Hahahah ... udah, ah. Mending Mama tinggal kalian biar cakar-cakaran aja sekalian. Duh, berasa punya anak bocah yang doyan berebut mainan. Hahaha....” ucap Tamara lalu keluar ruangan untuk mengambil obat Dennis untuk perawatan di rumah nanti.
“Tante, Niana ikut. Niana gak mau berdua sama Dennis seruangan. Niana takut ditelan!” teriak Niana bangkit dari duduknya di samping Dennis, tapi Dennis dengan cepat menarik tangan Niana.
“Kau mau ke mana? Bukannya kemarin-kemarin kau yang minta aku untuk seruangan denganmu?” tanya Dennis masih menggenggam pergelangan tangan Niana.
“Ih, siapa yang minta? Itu kebijakan dokter aja kali.”
“Niana ... Niana, mereka itu meminta persetujuan aku dulu kali pas mau pindahin aku ke ruanganmu. Kau masih gak nyadar, ya, dengan ucapanku pas hari pertama itu?”
Niana kembali memutar otaknya untuk mengingat perkataan apa yang sempat diucapkan Dennis, dan ‘ting’ seperti ada sebuah bohlam menyala di atas kepala Niana yang mengingatkan Niana akan perkataan Dennis sebelum dia teralihkan oleh ancaman Dennis
“‘Aku menyesal menyetujui permintaanmu yang ingin aku berada di ruangan yang sama denganmu’ itu kan, yang kauucapkan?” tanya Niana.
“Iya, masih mau mengelak kalau kau yang memintaku untuk pindah ruangan bersamamu?” tanya Dennis.
“Ah, itu sebuah kesalahan. Aku tak memintanya, mungkin Pak Mario yang memintanya. Kau kege-eran banget,” elak Niana.
“Sudahlah. Aku tak akan menang berdebat dengan gadis kecil sepertimu,” ucap Dennis angkuh.
“Sekali lagi kaukatakan aku gadis kecil, kupukul perutmu yang sakit,” ancam Niana.
“Coba saja, aku tak takut,” tantang Dennis.
“Baiklah, bersiaplah untuk kesakitan.” Niana mulai mengangkat tangannya.
“Dennis, Niana, ayo kita pulang.” Tiba-tiba Tamara datang kembali setelah selesai mengambil obat Dennis, membuat Niana yang berniat memukul tempat tidur Dennis jadi oleng tak seimbang dan....
Cup!
Dennis dan Niana membulatkan matanya karena bibir mereka bertabrakan. Niana langsung melepas ciuman itu dan Dennis meringis kesakitan.
“Bisa kausingkirkan tanganmu? Bibirmu tak sebanding jika aku harus menahan lebih lama lagi.” Ucapan Dennis membuat Niana tersadar dan langsung berdiri. “Aargh! Kalau tak kena bibirmu, sudah kulempar kau,” ucap Dennis membuat wajah Niana memerah.
“Kau! Jangan geer dulu, aku tak sengaja. Lagipula tadi aku hanya ingin menakutimu, tapi Tante masuk dan membuatku menahan niatku. Jadi aku tak seimbang dan....”
“Hahaha ... ternyata kalian di depan mama, gak tahan, ya? Udah, Niana. Tante bilang juga nikah aja sama Dennis, jadi kan kamu bisa jadi anak Tante benaran. Hahaha, maaf loh anak-anak, wanita paruh baya ini menganggu kalian.”
“Tante! Niana gak sengaja tahu. Abis Dennis tuh nantangin aku,” protes Niana tak terima.
“Bohong, Ma. Dia tuh gak tahan. Dari kemarin aja minta seruangan sama Dennis,” ucap Dennis menambah bumbu di wajah Niana yang sudah seperti kepiting rebus.
“Kau! Aku tak begitu! Ah, ya ampun, aku diserang ibu dan anak,” ucap Niana ngambek. Dennis dan Tamara hanya tertawa melihat seorang gadis keras kepala sedang ngambek.
“Aduh, aduhh! Udah, Ma. Dennis gak kuat. Niana, jangan pasang wajah begitu. Kau ... benar-benar,” ringis Dennis kesakitan memegangi perutnya, tak tahan untuk tertawa.
“Rasakan! Biarkan saja, kau tertawalah,” ucap Niana.
“Sudah-sudah, ayo kita pulang. Niana, kamu di belakang aja sama Dennis.”
“Dennis gak mau, Ma. Nanti disosor lagi,” ucap Dennis masih meledek Niana.
“Kau ini kege-eran banget, sih! Tante, Niana di depan saja sama Pak Udin,” ucap Niana memilih duduk di sebelah sopir.
“Ya ampun, Dennis, kamu kalah sama Pak Udin, tuh. Si Niana malah maunya di sebelah Pak Udin. Kamu gimana, sih!” ucap Tamara melebih-lebihkan.
“Ah, Tante nih, ledekin aku terus,” ucap Niana kembali merajuk.
“Sudah-sudah, kalian jangan bikin lelucon lagi. Aku sudah cukup menahan sakit karena duduk di kursi roda ini,” ucap Dennis.
Tak lama Pak Udin sampai dilobby, dan mereka masih meributkan masalah duduk di mana.
“Sudah kalian! Dennis, Niana di belakang! Mama di depan, gak ada protes!” ucap Tamara akhirnya menyudahi keributan kecil itu.
Mereka pun menuju apartemen mereka. Namun, di perjalanan ada saja masalahnya. Saat keadaan di mobil sudah cukup tenang karena sebelumnya Niana dan Dennis masih terus mengoceh tak jelas. Tamara juga sudah pusing dan membiarkan kedua anak muda itu beradu mulut terus. Asal jangan pukul-pukulan, biarkan sajalah, pikir Tamara.
CIITT!
Pak Udin mengerem mobilnya secara mendadak, membuat tubuh Dennis dan Niana yang ada di belakang sampai maju mengenai kursi di depannya. Tamara yang sempat memejamkan matanya sampai terkejut karena merasa tubuhnya terdorong kedepan.
“Aargghh ... Pak Udin!” teriak Dennis meringis.
“Ada apa, Pak?” tanya Tamara.
“Dennis, kamu gak apa-apa?” tanya Niana.
“Menurutmu apa? Kau tak lihat aku kesakitan begini? Makanya lebih baik Mama yang di belakang. Dia pasti memegangiku dengan benar,” protes Dennis.
“Mendapat perhatian bukannya makasih, malah marah. Dasar lelaki angkuh,” ucap Niana dalam hati.
“Kan, aku juga gak mau duduk di belakang.”
“Heh! Sudah, kalian ribut saja. Itu si Pak Udin sudah keluar mobil, sepertinya dia menabrak sesuatu,” ucap Tamara.
“Aku liat juga deh keluar.” “Jangan, Niana!” cegah Dennis. “Kenapa?!” tanya Niana.
“Kau tak ingat? Ratna, ibu tirimu masih buron. Kalau itu kerjaannya, kau akan celaka. Biarkan Pak Udin yang melihat,” ucap Dennis.
“Dennis benar, Sayang. Kita sebaiknya jangan keluar. Tante takut ini pancingan. Jika kau keluar, Tante takut ada yang datang menyergapmu. Mereka pasti tahu kalau Dennis masih terluka dan Pak Udin tak mungkin bisa menyelamatkan kamu. Dia sudah banyak umur dan akan sulit mengejar orang.”
“Baiklah,” ucap Niana jadi ketakutan sendiri.
Tak lama Pak Udin kembali masuk ke dalam mobil dan membawa seekor merpati yang sayapnya sudah terluka karena ditancapkan sebuah surat ancaman, tapi tak disadari oleh Pak Udin yang hanya orang kampung yang tak mengerti.
“Nyonya, maaf ... saya kira tadi ada apa, tapi ternyata ini burung merpati. Sayapnya berdarah,” ucap Pak Udin memperlihatkan burung merpati yang dia bawa.
“Ih, Pak Udin, kenapa dibawa ke dalam?” tanya Tamara sedikit geli.
“Kasihan, kalau boleh saya mau obatin dulu. Baru saya lepasin lagi,” ucap Pak Udin.
“Ya terserah Bapak, tapi jangan dibawa masuk atuh. Saya kan sedikit geli sama burung,” ucap Tamara lagi. Niana yang memperhatikan burung tersebut langsung merebut paksa dari Pak Udin.
“Sini, Pak, bentar. Sepertinya ada sesuatu di sayapnya yang berdarah.”
“Ih, Niana! Kau ini sebenarnya wanita atau bukan, sih? Tak ada geli-gelinya?” tanya Dennis yang sama seperti ibunya.
“Kau itu, lelaki atau bukan, sih? Sudahlah, tahan sebentar. Aku ingin memeriksa sayapnya.”
Lalu Niana memeriksa sayapnya dan menemukan secarik kertas kecil yang sudah terkena noda darah si burung, lalu Niana membuka kertas tersebut dan ada sebuah tulisan.
TERTAWALAH SEKARANG. KARENA SAAT AKU KEMBALI, KAU AKAN MENANGIS DARAH!
Niana langsung meremas kertas tersebut tanpa memberitahukan kepada Dennis dan Tamara lalu Niana mengembalikan burung itu kepada Pak Udin.
**