“APA yang terjadi? Ke mana semua orang?” tanya Ratna yang begitu terbangun di pagi hari, tak menemukan satu orang penjaga.
“Romii!!” teriak Ratna yang juga tak menda pati kekasihnya di sampingnya saat terbangun tadi. Dia mencari ke seluruh ruangan dan menemukan Romi yang masih belum tersadar di kamar Niana. Ma buk membuat Romi lebih lama tersadar.
“Romi, bangun! Apa yang terjadi? Ke mana gadis itu?” Ratna mengoyang-goyangkan tubuh Romi y ang masih belum sadarkan diri.
“Dasar lelaki berengs*k! Kerjaannya hanya ma buk dan bermain wanita. Setelah sadar akan ku beri pelajaran jika kau tak memberikan alasan yang masuk akal,” ucap Ratna kesal sendiri mendapati prianya pingsan di kamar Niana, yang sudah pasti Niana kabur karena ulahnya. Tak lama algojo yang semalam mengejar Niana, mendatangi Ratna yang baru keluar dari kamar Niana.
“Ke mana saja kalian?! Apa yang terjadi semalam? Ke mana gadis itu?!” tanya Ratna bertubi-tubi kepada kedua algojo tersebut.
“Ma-maaf, Nyonya. Dia berhasil melarikan diri, kami su—”
Plak!
Salah satu algojo tersebut terdiam mendapat sarapan tamparan pedas di pagi hari.
“Apa saja kerja kalian! Kenapa bisa sampai lolos? Menjaga satu gadis seperti itu saja tidak becus! Untuk apa aku membayarmu?!” Ratna murka.
“Semalam Tuan Romi meminta kami untuk beristirahat. Saat kami kembali, gadis itu telah pergi. Kami sempat mengejarnya, tapi dia pergi menaiki mobil bersama seorang lelaki,” ucap salah satu algojo tersebut menerangkan kronologi yang terjadi semalam.
“Aku tak mau tahu! Kalian harus menemukan gadis itu sebelum dia melaporkan semua kejadian selama seminggu ini!” ucap Ratna tak terbantahkan.
“Ba-baik, Nyonya,” ucap algojo yang mendapat tamparan tersebut dan mereka pergi mencari keberadaan gadis itu.
“Aargh!! Semua jadi kacau! Apa yang harus kulakukan jika dia sampai ke pengacaranya? Aku harus mencari tahu sebelum dia mengadukan semuanya kepada si Tua Bangka,” ucap Ratna menyebut pengacara yang menangani kasus Niana.
Tak lama Romi tersadar dan dia terkejut begitu membuka mata, Ratna sudah berada di hadapannya.
“Sa-sayang, maaf ... gadis itu memukulku dan melarikan diri. Dia menggodaku,” ucap Romi berdusta.
“Apa benar begitu? Kaupikir aku bodoh?” tanya Ratna tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat pengacara tersebut untuk mengetahui apa Niana sudah melaporkannya.
“Ak-aku tak berbohong, Sayang. Dia benar-benar menggodaku dan memperalatku untuk melepas-kannya,” ucap Romi kembali membela diri namun tak diladeni oleh Ratna, “Kau mau ke mana, Sayang?”
“Menurutmu aku harus ke mana setelah gadis itu menghilang? Kurasa dia belum melaporkan per-lakuanku pada si Tua Bangka itu. Karena dia belum menghubungiku, jadi aku akan mengadukan dan membuat cerita palsu lebih dulu kepada si Tua Bangka sebelum dia mendengar pengaduan dari Niana lebih dulu,” ucap Ratna.
“Hm ... mau kutemani?” tanya Romi yang terlihat seperti orang bodoh.
“Apa kau menjadi bodoh setelah gadis itu memukulmu? Lebih baik kau kembali ke tempatmu. Si Tua Bangka pasti mempunyai mata-mata untuk mengecek gadis itu. Jadi sebelum semuanya terbongkar, kau harus bersembunyi dulu sampai keadaan aman.”
“Ja-jadi aku harus kembali ke kost-kostan busuk itu lagi? Tak akan, setidaknya kau berikan aku tempat tinggal yang layak ... seperti apartemen misalnya?” tanya Romi berusaha bernegosiasi.
“Jangan berharap dulu. Sebelum keadaan aman, aku tak bisa mengunakan uang perusahaan untuk hal seperti itu. Cepat pergi dari sini sebelum siang, aku pergi dulu.” Lalu Ratna pergi ke kantor pengacara tersebut untuk melakukan acting seperti yang selama ini dia lakukan.
***
“Hei! Gadis gila, cepat bangun! Ini bukan hotel. Bisa-bisanya kau tidur nyenyak dengan keadaan seperti itu,” ucap Dennis membangunkan Niana yang baru bisa tertidur nyenyak selama seminggu ini.
“Ehm ... aku baru saja merasakan tidur senyenyak ini. Kenapa kau kejam sekali membangunkanku yang bahkan berasa baru beberapa menit memejamkan mata,” ucap Niana sambil mengulat. Bahkan tubuhnya sangat sakit hanya untuk meregangkan otot-ototnya yang sudah lama tak pernah diregangkan.
“Apa tubuhmu tak merasa sakit? Bahkan kau bisa tidur dengan memar di seluruh tubuhmu. Setidaknya kau harus mengompresnya untuk menghilangkan memar itu,” ucap Dennis sambil memberikan es batu di dalam baskom untuk Niana dan diletakkan di nakas.
“Biarkan aku tidur untuk sepuluh sampai dua puluh menit lagi,” ucap Niana yang masih memejamkan mata. Bahkan dia masih memeluk gulingnya.
Dennis berjalan ke arah jendela dan membuka tirai di kamar itu. Terik matahari langsung menyeruak masuk menyilaukan mata Niana yang masih memejamkan mata, sontak membuat Niana merengek dan berceloteh tak jelas.
“Ehm ... apa kau benar-benar tak bisa membiarkanku untuk tidur beberapa menit lagi? Selama seminggu aku tak bisa tidur dengan nyaman, bahkan walau itu di rumahku sendiri.”
Akhirnya Niana bangun. Dia benar-benar merasakan tubuhnya seperti remuk. Selama seminggu dia meregang nyawa dan mendapat pukulan sana-sini. Bahkan di lukanya yang belum hilang pun ditambah beberapa pukulan.
“Huuffh....” Dennis membuang napas jengah terhadap gadis gila yang tak tahu diri yang ada di hadapannya. Sekarang dia baru menyesali perbuatan baiknya semalam.
Flashback on
“Cepat naik sebelum aku berubah pikiran,” ucap lelaki yang berada di dalam mobil yang tengah menyenterkan lampu mobilnya kepada Niana. Ya, dia adalah Dennis. Dia nekat memutar balik mobilnya di jalan tol yang jelas hanya satu arah. Dia berjalan di tepi jalan dan tak lama menemukan gadis tersebut sedang berjalan terpincang-pincang.
“Ka-kau? Apa sekarang kau menyesali perbuatanmu? Atau kau memang mau mem-perkosaku?” tanya Niana yang bukannya segera masuk ke dalam mobil Dennis.
“Apa kau meledek orang yang akan menolongmu?” tanya Dennis menahan amarah.
“Ti-tidak! Tidak!” ucap Niana dan langsung berjalan cepat memasuki pintu penumpang. Dennis langsung memutar balik mobilnya kembali dan menuju ke apartemennya. Hari ini dia tak jadi pulang ke rumah mamanya karena menolong gadis asing yang terdiam di kursi penumpang.
“Terima kasih,” ucap Niana pelan nyaris tak bersuara, walau masih dapat didengar Dennis. Dengan sengaja Dennis bertanya kembali.
“Kaubilang apa?” tanya Dennis sembari me-miringkan kepalanya ke arah Niana.
“Terima kasih sudah menolongku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi jika tadi kau tak menolongku,” ucap Niana cepat. Bisa besar kepala lelaki angkuh ini jika dia terus merendahkan dirinya.
Sekadar informasi, Niana adalah sosok gadis yang sangat populer di kampus. Dia selalu dikelilingi lelaki tampan di kampus, tapi tak pernah Niana memilih salah satu dari mereka. Dia terlalu fokus pada kuliahnya. Dia hanya ingin segera lulus dan menjadi desainer untuk menjadi pewaris utama di Kennedy Company Indonesia. Dia tak menginginkan lelaki yang mengejarnya.
Baginya mereka hanya penganggu. Bahkan sahabat dari Juno juga menyukainya, tapi jelas sekali ditolak mentah-mentah olehnya. Maka dari itu sifat keras kepala dan angkuh Niana tak bisa diubah oleh gombalan para lelaki yang menggodanya.
“Apa begitu caramu berterima kasih kepada orang yang menolongmu?” tanya Dennis masih fokus menyetir. Dia mulai lelah. Dia harus segera sampai ke apartemennya.Biarlah nanti gadis ini pergi sendiri ke tempat orang yang dikenalnya. Setidaknya besok dia bisa pergi.
“Jadi aku harus bagaimana? Apa harus bersujud di depanmu? BIG NO! Aku akan ganti rugi semuanya, jadi kau tenang saja. Setelah aku sampai di tempat pengacaraku, kau akan mendapat imbalannya.”
“Kaupikir aku menginginkan itu semua?! Ah, sudahlah. Aku sudah mulai lelah dan sedikit jetlag. Lebih baik kau diam dan biarkan aku fokus,” ucap Dennis menghentikan debatnya, maka Niana terdiam kembali. Dia sedikit was-was mengingat ucapan Dennis sebelum dia ditinggalkan di jalan tol.
“Apa aku akan benar-benar diperkosa? Entah mau ke mana dia membawaku,” batin Niana.
“Kita mau ke mana?” tanya Niana memberanikan diri.
“Ini mobilku dan kau hanya menumpang. Jadi kau ikut saja ke mana aku pergi. Jika kau melihat tempat yang kauketahui sebelum sampai ke tempatku, kau boleh turun,” ucap Dennis datar. Dia tak memusingkan mau ke mana gadis ini. Jika dia ingin menginap di apartemennya, Dennis akan me-ngizinkan. Jika tidak mau, dia boleh pergi.
“Kau!” Niana diam tak jadi memaki Dennis. Dia takut di turunkan lagi, “Baiklah. Di mana rumahmu? Asal jangan ke arah kompleks tadi. Aku akan melihat
ke jalanan, siapa tahu aku tahu tempat kenalanku,” lanjut Niana yang memandang jalanan yang sangat sepi dan gelap.
“Perhatikan saja jalannya dan berhenti bicara. Aku benar-benar sedang fokus,” ucap Dennis masih angkuh. Dia hanya tak ingin disebut manusia tak berperasaan. Setidaknya dia akan mengeluarkan gadis ini dari jalan tol.
Karena disuruh diam, maka Niana terdiam dan dia malah mengantuk karena heningnya suasana di dalam mobil. Akhirnya dia tertidur. Akibatnya, Dennis harus menggendongnya ketika mereka sampai di apartemen lelaki itu.
“Kenapa gadis bertubuh kecil ini sangat berat? Apa yang dia makan?” gumam Dennis setelah meletakkan Niana di tempat tidur di apartemennya.
“Entah dia pingsan atau tertidur, dari tadi tidak bangun-bangun.” Dennis melihat jam di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul empat pagi.
“Benar-benar perjalanan yang panjang.” Dennis menutupi tubuh Niana dengan selimut dan keluar dari kamar itu. Dia pergi ke kamarnya dan membasuh diri lalu istirahat.
Flashback off
“Cepat bersihkan dirimu dan sarapan—lebih tepatnya makan siang. Aku harus pergi dan kau juga,” ucap Dennis lalu keluar dari kamar tersebut.
“Ap-apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini?” Niana tersadar setelah Dennis meninggalkan kamar tersebut. Dia langsung melihat tubuhnya dan ternyata masih mengenakan pakaian yang sama. Dia juga tak merasakan sakit di bagian sensitifnya.
“Huh! Sepertinya masih aman. Ah! Aku harus cepat.”
Niana bangkit dari tempat tidur tersebut. Dia melihat ada sebaskom es batu di nakas. Dia tersenyum lalu membasuh dirinya dan mengompres memarnya sebentar lalu keluar dari kamar tersebut.
“Maaf agak lama. Aku sudah lama tak mandi dengan nyaman,” ucap Niana ketika keluar dari kamarnya dan mendapati Dennis di meja makan.
“Sudahlah. Makan dan aku akan mengantarmu ke tempat orang yang mengenalmu,” ucap Dennis berusaha untuk bersikap baik. Namun, Niana malah mencurigai sikap Dennis yang berubah.
“Ah, terserah dia mau apa. Aku sangat lapar dan harum masakan membuatku harus mengisi perutku yang sudah demo,” ucap Niana dalam hati.
“Apa kau sudah memakai es batu yang ada di nakas tadi?” tanya Dennis bangkit dari duduknya dan menuju tempat cuci piring.
“Sudah,” jawab Niana singkat karena dia sedang menyantap nasi goreng buatan Dennis. Entah karena lapar atau memang masakan Dennis sangat lezat.
“Kau kemanakan baskom dan kain handuknya?” tanya Dennis. Sebenarnya pertanyaan tak penting, tapi Dennis sangat suka kebersihan dan kerapian. Semua itu terlihat dari tata letak apartemennya.
Sebelum kembali ke Indonesia, dia meminta tolong pada ibunya untuk menyuruh orang membersihkan apartemen dan menyiapkan bahan makanan. Dennis juga lebih suka makanan yang dimasak sendiri. Dia terbiasa hidup mandiri.
Untung saja ada baju ibunya yang ditinggalkan, mungkin ibunya akan menginap sesekali di apartemen. Jadilah sekarang Niana mengenakan baju ibunya Dennis yang sudah disiapkan Dennis di ujung ranjang yang tadi ditiduri Niana. Sedikit kebesaran untuk tubuh Niana dan Niana terlihat seperti tante-tante arisan.
“Aku letakkan di kamar mandi kamar tadi.” “Ya sudah, habiskan makananmu.”
Dennis mengambil telepon dan meminta orang untuk membersihkan apartemennya.
Setelah semuanya beres, mereka pergi dari apartemen tersebut dan menuju ke kantor pengacara Niana. Namun, belum sampai masuk ke kantor tersebut, sudah ada mobil yang sangat dikenal Niana. Yaitu mobil yang biasa digunakan Ratna sehari-hari.
“Stop ... stop,” ucap Niana tak sadar bahwa dia sedang menumpang dengan lelaki asing.
“Kaupikir aku sopirmu! Kau ingin berhenti di sini atau tidak?” tanya Dennis sedikit kesal. Gadis ini benar-benar membuat seorang Dennis seperti sopirnya.
“Ah, maaf. Aku ingin sekali masuk ke dalam, tapi ... sepertinya aku terlambat. Dia sudah datang lebih dulu.”
“Aku tak tertarik dengan urusanmu. Aku tak akan mengantarmu ke mana pun, jadi lebih baik kau turun.”
“Baiklah. Aku yakin setelah ini aku akan kembali lagi ke tempat itu,” ucap Niana memulai aktingnya. Dia tak tahu lagi harus ke mana. Selama kuliah, dia tak begitu berteman dekat dengan siapa pun. Hanya sekadar sapa dan tahu nama beberapa teman, tapi Niana tak pernah bermain ke rumah temannya itu.
“Apa kau tak mempunyai saudara atau teman?” tanya Dennis akhirnya mengalah dan iba dengan Niana.
Niana menggelengkan kepala dengan mantap. Kerabat ayah dan ibunya berada di Sydney dan luar kota. Kakaknya berada di Sydney. Bagaimanapun juga, dia tak dapat menghubungi kakaknya karena ponselnya berada di rumah.
“Aku ingin ke rumah ibuku di dekat kompleks semalam kita bertemu. Apa kau mau ikut?” tanya Dennis.
“Tidak! Aku tak ingin ke arah sana lagi. Aku....”
“Baiklah. Kau kembali saja ke apartemen. Aku akan meninggalkanmu di sana. Jangan merusak dan mengotori apartemenku. Kau akan kuusir kalau sampai ada barang yang sedikit saja bergeser dari tempatnya,” ucap Dennis tak terbantahkan.
Entah kenapa Dennis masih mau menolong gadis yang sampai sekarang bahkan tak dia ketahui namanya. Namun, Dennis merasa iba. Walau dia tak tahu apa yang sedang terjadi pada gadis ini, yang jelas dia sangat ketakutan.
Mereka akhirnya sampai di apartemen Dennis lagi. Dennis mengantarnya sampai ke dalam apartemen. Karena kunci cadangan apartemennya ada di tangan ibunya, jadi dia tak bisa meninggalkan kunci yang dipegangnya kepada Niana. Bagaimanapun dia tak percaya pada gadis itu. Bagaimana jika Niana pergi dan membawa kunci tersebut, atau mungkin Niana akan menyewakan apartemennya kepada orang lain?
Membayangkannya saja sudah membuat Dennis bergidik ngeri jika apartemennya menjadi kotor dan tercemar dengan hawa manusia lain.
Saat Dennis menekan tombol password untuk membuka pintu apartemennya, ternyata seseorang dari dalam sudah membukakan pintu itu.
“Ke mana saja kamu, Sa-yang?” tanya seorang wanita setelah pintu apartemen Dennis terbuka.
**
34