NIANA POV KAMI sudah berada di meja makan dengan lilin di tengahnya. Meja kami di pinggir pantai, Dennis benar-benar pandai membuatku tersipu. Setelah seharian inni dia membuatku terkejut dengan semua persiapan kencannya, kuakui dia memang berbeda dari yang lainnya dan aku terkesan. “Niana….” panggil Dennis lembut, dia itu bisa berubah-ubah ... tadi siang dia mengomel terus, sekarang dia sangat lembut, membuatku bingung saja. “Ya,” jawabku, dia mengenggam tanganku dan mengelusnya. “Kau senang?” tanyanya. “Iya, Dennis,” jawabku membuatnya tersenyum. “Ya ampun, Dennis ... jika sering-sering tersenyum begini, jantungku bisa keluar dari tempatnya,”batinku. “Terima kasih, Niana.” Lagi-lagi dia mengucapkan itu. Seharusnya, kan, aku yang mengucapkan terima kasih. “Untuk apa, Dennis? Aku y

