DENNIS POV “I love you, Niana. Love you so much, you’re mine,” bisikku lalu aku memejamkan mataku dan terlelap. Keesokkan paginya, aku terbangun lebih dulu dari Niana, dia masih terlelap. Aku memandanginy a, tak berapa lama dia bergerak dan membuka matanya perlahan. Aku menyambutnya dengan senyum. “Kau tidur dengan nyenyak semalam?” tanyak u, dia mengangguk. Lalu dia bangun dan meregangkan otot-ototny a. Begitu juga denganku. Setelah itu dia kembali menoleh ke arahku dan matanya membulat. “Dennis! Semalam kita tidur bersama?” tanyanya panik. Aku mengangguk sebagai jawaban, lalu dia menatapku horror. “Kau .... tak menggunakan kesempatan dalam kesempitan, kan?” tanyanya curiga. “Astaga ... apa dia tak ingat sama sekali kalau semalam dia itu menangis dan memintaku untuk tak pergi?” tan

