bc

AFSANA

book_age4+
14.8K
IKUTI
106.9K
BACA
love after marriage
goodgirl
powerful
CEO
boss
drama
sweet
bxg
like
intro-logo
Uraian

Penantian yang panjang tak selalu berakhir dengan kebahagiaan

Namun juga tak selamanya berakhir dengan kesedihan

Penantian ku tetap berakhir dengan pertemuan, tetapi dengan statusnya yang berbeda, yaitu calon suami orang.

Marah ? jelas. Namun tidak semua masalah akan terselesaikan dengan amarah.

Kesal ?. pasti. Namun tidak semua persoalan bisa sesali.

Menanti bukan hanya tentang masalah waktu, tetapi juga perihal hati.

Ingin menyerah namun gagal karena selalu ingat dengan janji-janji.

Ingin bertahan namun selalu ada rasa keraguan, keraguan karena tidak adanya kepastian.

Namun yang namanya takdir tak ada yang mengetahui.

Naskah Tuhan lebih indah dari harapan manusia.

Dengan selalu percaya dan memanjatkan doa-doa yang sama, hal yang pahit akan berubah menjadi manis.

Mungkin hanya ada 2 dari 10 orang yang merasakan hal ini.

Salah satunya Nana, lebih dari 10 tahun menanti namun hanya menjadi seorang pengganti.

Kehidupan rumah tangga yang rumit, penuh liku, dan rintangan menguji kesabaran Afsana. Ditambah dia harus mengakui jika lelaki yang menjadi suaminya tak lagi mencintainya. Mampukah Afsana menaklukkan Bagas dan membuat Bagas mencintainya lagi ?...

Cover by Mutiara

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian Satu
Matahari memancarkan sinarnya dengan terang. Cahaya yang dihasilkannya lumayan panas. Terlihat dari beberapa tukang parkir yang sesekali menyeka keringat dikeningnya dengan handuk putih lusuh yang tersampir di pundak kanannya. Cuaca yang panas tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mencari nafkah. Pundi-pundi rupiah tak seberapa selalu ia kumpulkan demi dapat menghidupi keluarga. Polusi yang dihasilkan dari deretan kendaraan besi tak membuatnya pantang menyerah untuk menepi, malah membuatnya terus mengayunkan tangan dan meniup peluit untuk membantu para pengemudi menyeberang. Mereka semua tak luput dari pandangan perempuan ayu berambut sebahu. Afsana namanya. Sedari tadi dia mengaduk minuman di depannya sambil memperhatikan lalu lalang jalanan. Kota yang padat membuatnya tak heran jika sana sini terjadi kemacetan. Namun dia selalu tak mampu untuk meninggalkan kota ini, kota kelahiran, kota yang menjadi saksi dia berkembang, dan kota yang penuh dengan kenangan. Kenangan kepada seseorang yang sampai saat ini belum bisa dia lupakan. Orang yang selalu masih ada dalam fikiran. Orang yang masih selalu membuatnya terbayang. Pernah sekali dia meninggalkan kota ini untuk waktu yang singkat, namun secepatnya dia kembali lagi ke kota ini. Saat ini Afsana sedang menunggu sahabatnya. Sahabat lamanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah jumpa. Karena kesibukannya di dunia kerja membuatnya harus keluar dari kota ini untuk mendapatkan jabatan yang dia inginkan. Dan seminggu yang lalu, Afsana mendapat kabar jika sahabatnya ini akan menikah dan ingin menyewa Jasa WO Afsana. Betapa senangnya Afsana mendapat kabar ini, dia segera menyetujui permintaan sahabatnya ini. Walaupun sebenarnya banyak sekali pesanan yang sudah masuk ke dia, namun dia tetap menyetujui permintaan sahabatnya. Afsana Ghania Rawnie, sering dipanggil Nana. Perempuan berusia 26 Tahun pemilik perusahaan jasa Afsana Wedding Organizer. Perusahaan yang dirintisnya sejak empat tahun lalu sekarang sudah menjadi perusahaan yang bisa menyaingi perusahaan WO hebat lainnya. Perusahaan yang dibangunnya sendiri dengan mendapat sedikit suntikan modal dari Papanya, sekarang sudah menempatkan nya menjadi salah satu pengusaha wanita yang sukses di Yogyakarta. Selain mempunyai jasa WO, Afsana juga memiliki sebuah butik kecil yang menyediakan gaun pengantin. Mulai dari kebaya sampai gaun modern. Istimewanya, semua gaun yang tersedia di butiknya adalah gaun rancangannya sendiri. Memiliki hobi menggambar sejak kecil, membuatnya tak kesulitan untuk mendesaign gaun pengantin. Bahkan sejak tiga tahun yang lalu, dia sudah mendesaign gaun pengantin yang akan di pakainya dihari istimewa nya. Namun hingga saat ini, gaun itu masih terpajang rapi di etalase ruang kerjanya. Dari kejauhan terlihat sepasang anak manusia berbeda kelamin berjalan mendekat ke arahnya. Afsana menyunggingkan senyum sambil berdiri. Saat pasangan itu tinggal 2 meter darinya, Afsana menanggalkan senyumnya. Dia memicingkan matanya untuk melihat laki-laki yang digandeng oleh sahabatnya. Seketika hatinya sakit namun masih ada sedikit kebahagiaan. Dia bahagia bertemu lagi dengan laki-laki yang dinantinya, namun dia sakit karna bertemu dalam keadaan seperti ini. Perasaannya tak enak, dia merasa jika ini akhir dari penantiannya. "Hai Na. Maaf ya nunggu lama." Sapa Mira sambil cipika cipiki dengan Afsana. "Hai juga Ra. Nggak kok, akunya yang kecepetan." Jawab Nana sambil menyudahi cipika cipiki dari Mira. Kemudian dia melirik pria disebelah Mira dengan ragu-ragu. "Ha... Hallo." Sapa Afsana ragu-ragu pada pria disamping Mira sambil mengulurkan tangannya. Pria itu menyambut uluran tangan Nana sambil berdehem. Nana mengulas senyum kikuk. "Eh iya duduk. Mau pesen apa ?." Kata Nana mempersilahkan kliennya untuk duduk. Kemudian dia melambaikan tangannya untuk memanggil salah satu waitress. "Kamu mau minum apa Yang ?." Tanya Mira kepada laki-laki disebelahnya. Interaksi itu tak luput dari perhatian Nana. Sakit yang dirasakannya semakin besar. Namun dia harus menahannya. "Kopi." Jawab laki-laki itu singkat. "Kita pesen orange jus 1 sama kopi 1." Kata Mira kepada waitress yang bertugas. Waitress itu mencatat pesanan Mira dan langsung undur diri untuk menyiapkan pesanan. "Kamu banyak berubah ya sekarang. Tambah cantik aja." Kata Mira membuka obrolan. Nana menanggapi ucapan Mira dengan senyum kikuk. Dia merasa grogi saat ini. Karena lelaki yang duduk di depannya sedari tadi memperhatikannya. "Kamu juga tambah cantik kok." Jawab Nana. "Bisa aja kamu." Kata Mira sambil senyum cekikikan. "Emm jadi gimana rencana pernikahan kamu ?." Tanya Nana sambil memancing obrolan utama. Dia ingin tahu, apa laki-laki ini calon suaminya. Namun dia berdoa jika laki-laki ini bukan calon suaminya. Jika benar laki-laki ini calon suami Mira, maka penantiannya selama ini terjawab sudah. Yaitu dia harus berhenti menanti dan mencari pengganti. "Aku inginnya konsep pernikahan aku bertema outdoor, tapi Bagas maunya indoor aja." Jawab Mira menjelaskan. Deg. Hati Nana hancur seketika. Sesak yang sedari tadi ditahannya sekarang sudah meledak. Bagai luka yang diberi perasan jeruk nipis, rasanya sangat perih. Ingin sekali rasanya dia segera pergi dari sini, namun dia harus bersikap profesional. Pertemuan ini sudah dia anggap sebagai urusan kerja. Seperti dia bertemu dengan kliennya. "Lalu apa kalian sudah memutuskan ?." Tanya Nana lagi sambil menahan perih hatinya. "Sudah. Dan aku harus mengalah." jawab Mira lemah. Nampak sekali jika mereka telah melewati perdebatan panjang untuk mencapai kesepakatan ini. Nana mengulas senyum lembut. Ternyata sifat tak mau mengalah Bagas tak pernah berubah. Masih abadi hingga saat ini. Pikiran Nana kembali ke masa-masa saat mereka masih bersama. Sebesar apapun keinginan Nana, jika Bagas tak menyetujui pasti keinginan itu hanya menjadi harapan tanpa bisa terwujudkan. Namun yang Nana tahu, setiap keputusan yang dibuat oleh Bagas pasti selalu tepat. Karena sebelum memutuskan, Bagas sudah memikirkannya terlebih dahulu. Hal itu yang membuat Nana betah berhubungan dengan Bagas. Walaupun seringkali mereka berdebat karena perbedaan pendapat. Namun apa sekarang ? Semua itu hanya masa lalu. Masa sebelum dia meninggalkan kota ini. "Na ?." Panggil Mira sambil melambai-lambaikan tangannya di depan Nana. "Eh i..iya gimana?." Jawab Nana gugup. "Kamu bengong. Dari tadi aku udah cerita panjang lebar tentang konsep pernikahan yang aku inginkan." Kata Mira dengan nada sedikit jengkel. Bagaimana tidak jengkel, jika orang yang diajak bicara tak memperhatikan. Nana hanya nyengir kuda tanpa merasa salah. "Hehe kamu ulangi lagi ya, biar aku catet." Jawab Nana lembut. Mira memanyunkan bibirnya, hal itu membuat Nana senyum semakin lebar. Sifat Mira yang kekanakan tak berubah hingga kini. "Jadi aku dan Bagas memutuskan konsepnya indoor. Tapi untuk tempatnya dimana kita belum nentuin. Terus aku maunya dekorasinya yang mewah tapi terlihat elegan. Terus untuk hiasan bunganya, aku mau bunga mawar merah dan putih asli. Terus juga nanti di gedungnya itu ada kombinasi gold gitu bi.." "Nggak usah ceritain secara detail, dia pasti juga ngerti kok. Kan kata kamu WO dia udah terkenal, profesional, hebat. Jadi kita lihat aja gimana kinerja dia, sesuai dengan konsep yang diinginkan klien atau belum. Kalau dengan konsep yang udah disebutin klien tapi dia masih nggak ngerti berarti dia nggak pantas disebut WO terbaik." Kata Bagas penuh penekanan. Entah apa maksud dari ucapan Bagas, Nana merasa jika Bagas begitu benci padanya. Tapi Nana merasa tak pernah melakukan kesalahan. Malah seharusnya yang benci disini adalah Nana bukan Bagas. Karena Bagas sendiri yang meminta Nana untuk menunggu nya, tapi apa ? Bagas kembali ke hadapan Nana dengan status calon mempelai pria dari sahabatnya sendiri. "Mohon maaf tuan Bagas. Afsana Wedding Organizer sudah berdiri dari 4 tahun yang lalu. Alhamdulillah selama kami melayani klien belum ada satupun klien yang komplain dengan kami. Malah mereka memberikan apresiasi yang baik untuk kami sesuai dengan kinerja kami. Jadi tuan Bagas tak usah takut dan khawatir jika kami tak bisa menuruti keinginan dari anda." Jawab Nana dengan sopan. Saat ini dia seperti berhadapan dengan klien sungguhan, bukan dengan sahabat lagi. Bagas yang di kenalnya dulu sudah berbeda dengan Bagas yang ada di depannya saat ini. "Oke. Dengan klu yang sudah di ucapkan oleh calon istri saya, saya harap anda bisa menyiapkan semuanya sesuai konsep yang kami inginkan." Kata Bagas dengan menekan kata calon istri. Entah apa maksudnya. Memang tak memiliki maksud yang berarti ataukah dia ingin membuat Nana semakin sakit hati?. Nana mengumbar senyum manisnya. Senyum yang mampu menggetarkan hati para lelaki, tak terkecuali Bagas. Hanya saja, Bagas pandai menutupi itu. "Saya akan berusaha menyiapkan pernikahan kalian sesuai dengan konsep yang kalian inginkan." Jawab Nana tenang. Suasana di meja ini terasa tegang. Walaupun tak ada perseteruan secara fisik, namun dari ucapan yang dikeluarkan oleh Bagas maupun Nana mengisyaratkan bahwa mereka sedang berseteru. Hal itu dirasakan oleh Mira. Sehingga membuat Mira mencoba untuk mencairkan suasana menjadi lebih santai. Mira melontarkan pertanyaan-pertanyaan diluar obrolan utama. Karena dia rasa jika dia meneruskan topik utama maka suasana akan semakin panas. Mira memutuskan untuk mengakhiri topik utama dan merencanakan akan menghubungi Nana lewat telephon jika ada yang dia inginkan lagi. Nana ingin sekali pergi dari sini. Pertemuan yang dia harapkan akan menebar senyuman, tapi yang dia rasa hanya sakit dan perih. Dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini, namun dia juga masih ingin menatap wajah tampan Bagas. Baginya sebelum Bagas sah menjadi suami Mira, dia masih berhak untuk menatap wajah tampan Bagas. Rasa rindu yang harusnya terobati dengan pertemuan, malah membuatnya hancur tak karuan. Jika dia disuruh memilih, lebih baik dia memilih menyimpan rindu daripada menyimpan perih. Jika dia disuruh memilih, lebih baik dia bertemu dengan Bagas bertahun-tahun lagi daripada harus bertemu sekarang dengan cara seperti ini. Dia yakin jika pertemuan saat ini bukan sebuah kesalahan, namun memang sudah naskah dari Tuhan. Apapun yang akan terjadi selanjutnya, dia akan ikhlas menerimanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

T E A R S

read
317.9K
bc

Pengganti

read
304.1K
bc

Perfect Honeymoon (Indonesia)

read
29.6M
bc

Hello Wife

read
1.4M
bc

BRAVE HEART (Indonesia)

read
92.8K
bc

My Ex Boss (Indonesia)

read
3.9M
bc

MY ASSISTANT, MY ENEMY (INDONESIA)

read
2.5M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook