Bagas membuka pintu kamar hotel dengan pelan. Setelah mendapat penolakan dari Nana tadi, Bagas memutuskan untuk menyewa satu kamar hotel yang tidak jauh dari rumah kontrakan Nana. Dia akan mencoba menemui Nana lagi besok pagi, lagi pula besok weekend jadi dia tidak perlu ke kantor. Bagas merebahkan tubuhnya di ranjang king size. Hotel sederhana namun tetap memberi kenyamanan pada tubuh Bagas. Dia tidak peduli hotel ini memiliki berapa bintang, yang penting jarak antara hotel dengan rumah tidak jauh. Bagas memejamkan matanya sejenak. Banyak hal yang sudah dia lewati hari ini. Kelelahan dan keletihan yang dia rasakan membuatnya ingin istirahat, namun pikiran Bagas masih melayang pada sosok wanita dengan perut buncit yang menolaknya tadi. Bagas menatap tangannya yang kosong. Ternyata bukan

