Clek
Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Nana yang keluar dengan pakaian yang sudah berbeda dari saat dia masuk tadi. Piyama panjang berbahan satin sudah melekat di tubuhnya. Rambut basah yang dibalut dengan handuk putih nangkring di kepalanya. Melangkah keluar perlahan dengan memeluk gaun yang tadi dipakainya di acara resepsi pernikahan. Bagas menoleh ke arah pintu yang terbuka namun setelah itu kembali fokus ke objek semula.
Nana membuka koper kosong dan memasukkan gaun itu ke dalamnya. Bangkit lagi menuju nakas untuk mengambil hair dryer dan menggunakannya. Setelah kering dia mendekati ranjang dan duduk di pinggiran ranjang. Melipat kedua tangan dipangkuan dan tak berani bersuara. Entah mengapa dia merasa canggung. Padahal dulu hubungan mereka begitu dekat hingga tak ada jarak dan rasa sungkan diantara keduanya, rasa canggung tak dapat di hindari. Mungkin karena sudah 10 tahun tak bertatap muka.
"Kau tidur disini saja, biar aku check in kamar lain." Kata Bagas membuka suara. Sebelum Nana menjawab ucapan Bagas, Bagas sudah pergi lebih dulu dengan menutup pintu yang lumayan keras hingga membuat Nana terperanjat.
Satu butiran air mata lolos melewati pipinya. Jelas saja Nana merasa sakit. Dia seperti tak di harapkan di sini. Bagi pengantin baru malam pertama adalah malam yang indah dan tak akan terlupakan. Namun yang dialami Nana di luar dugaan. Memang dia tak akan pernah melupakan malam ini, malam yang membuatnya begitu terhina dan tak di butuhkan. Dia tau jika Bagas tak pernah menginginkan pernikahan ini, namun apa yang dilakukan Bagas malam ini tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Kalaupun Bagas tak ingin seranjang dengannya, bisa saja Bagas meminta Nana tidur di sofa. Tapi yang dilakukan Bagas malah menghindar dan cari kamar lain. Seakan-akan Bagas memberitahu semua orang jika dia tak bahagia dengan pernikahannya.
Tangannya terangkat untuk menghapus air mata di pipinya. Tak ada gunanya dia menangis, sebanyak apapun air mata yang keluar tak akan mampu membuat Bagas mencintainya lagi. Apakah Nana kuat menjalani kehidupan pernikahan ini? Belum genap sehari menjadi istri Bagas dia sudah merasakan sakit. Lalu bagaimana hari-hari selanjutnya?
***
"Satu jam lagi kita akan check out." Kata Bagas begitu membuka pintu dengan tiba-tiba.
Nana yang sedang mengancingkan kemeja nya segera membelakangi Bagas. Sedangkan Bagas nampak kaget dengan apa yang baru saja di lihatnya. Bagas mengalihkan pandangannya dan memutuskan untuk keluar dari kamar. "Aku tunggu di lobi." Ucap Bagas sebelum benar-benar keluar dari kamar.
Nana tak menjawab ucapan Bagas. Dia dengan terburu-buru mengancingkan kemeja dan bersiap. Rasanya dia ingin cepat-cepat sampai di rumah. Setidaknya di rumah akan ada Mama yang menemaninya. Daripada disini dia sendiri. Punya suami namun seperti tak ada arti.
Nana membawa dua koper dengan tertatih-tatih. Satu koper berisi perlengkapannya dan satunya lagi milik Bagas. Karena semalam saat Bagas keluar kamar dia tak membawa satupun perlengkapannya hanya handphonenya saja. Bagas yang melihat Nana kerepotan membawa dua koper hanya melihat saja tanpa ada inisiatif untuk membantu.
Bagas bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah di siapkan. Nana mengikuti Bagas dari belakang. Saat sampai di samping mobil, Nana membuka bagasi dan memasukkan kedua koper itu ke dalam bagasi. Setelah itu memutar ke samping dan duduk di kursi penumpang.
Ada dua orang dalam satu mobil. Namun suasana dalam mobil hening. Tak ada yang mengeluarkan suara. Dan tak ada yang berniat untuk membuka percakapan. Semua fokus ke objek masing-masing. Bagas fokus ke jalanan depan sedangkan Nana memilih menoleh melihat keluar jendela. Melihat sekitar jalanan yang terdapat banyak pohon yang asri dan terawat.
Pagi hari yang cerah ini suasana lebih padat daripada biasanya. Memang hari ini adalah hari senin. Hari dimana beberapa orang memulai aktivitas mereka setelah hari minggu berdiam diri di rumah berkumpul dengan keluarga. Banyak sekali kendaraan lalu lalang di samping mobil yang di kendarai Bagas. Sepasang Remaja SMA yang berboncengan motor tampak ceria sambil bercanda. Seperti tak ada beban dalam hidup mereka. Nana memfokuskan pandangan ke arah mereka. Pikirannya melayang ke zaman 11 tahun yang lalu. Zaman dimana dia dan Bagas menjadi pasangan kekasih.
Berangkat dan pulang sekolah selalu bersama. Pagi hari Bagas akan menjemputnya dengan sepeda ontel dan waktu sore hari mereka akan pulang sekolah bersama. Terkadang mereka mampir sebentar untuk sekedar minum es cendol. Kebersamaan sesederhana itu yang di rindukan oleh Nana. Namun sekarang dia tak bisa merasakannya lagi. Raga Bagas bersamanya, namun hati Bagas masih memikirkan Mira.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang." Kata Bagas begitu melihat Nana keluar rumah lengkap dengan perlengkapan sekolah.
"Sudah." Jawab Nana sambil menganggukkan kepala.
Bagas berjalan ke arah belakang Nana dan menyalami tangan Mama Nana untuk berpamitan. Setelah itu mereka berangkat ke sekolah bersama.
"Hati-hati naiknya. Jangan sampek roknya masuk roda lagi." Kata Bagas mengingatkan. Pasalnya kemarin sore rok sekolah Nana masuk ke roda karena mereka asik bercanda selama perjalanan sehingga membuat rok itu sobek dan tidak bisa digunakan lagi.
"Iya. Ini udah aku benerin kok." Jawab Nana pelan.
Bagas mengulas senyum manisnya. "Pegangan ya." Kata Bagas pada Nana sambil mulai mengayuh sepeda. Nana mengulurkan tangannya untuk berpegangan pada pinggang Bagas. Bagas menyunggingkan senyumnya melihat tangan Nana yang melingkar dipinggangnya. Rutinitas sederhana itu selalu mereka lakukan setiap hari dan sudah membuat mereka bahagia.
Nana tersenyum jika dia mengingat masa-masa indah dengan Bagas. Rasanya dia ingin mengulang waktu dan tak ingin pergi meninggalkan Bagas walau hanya dengan waktu sebentar. Dia akan mengikuti Bagas kemanapun Bagas pergi. Tak apa dia di bilang ganjen, asalkan cinta Bagas selalu untuknya, tidak seperti sekarang, dia benar-benar kehilangan cinta Bagas.
Mobil berhenti di depan pintu dengan pagar tinggi. Nana menolehkan kepalanya dan menatap dengan sedikit tak suka. "Kenapa kesini?" Tanya Nana bingung.
"Kenapa? Ini kan rumah, Ibuku. Kamu tak suka?" Jawab Bagas sinis.
"Bukankah kita akan ke rumah, Mama?" Tanya Nana.
"Siapa yang bilang?" Tanya Bagas ketus.
"Aku kira kita akan ke rumah, Mama." Jawab Nana pelan.
"Jangan membuat asumsi sendiri." Kata Bagas sinis sambil membuka pintu mobil dengan agak keras. Kemudian dia membuka pagar rumah dan kembali masuk ke mobil. Setelah itu memasukkan mobil ke halaman rumah.
Di depan rumah sudah ada perempuan paruh baya yang tersenyum riang menanti kedatangan seseorang. Dan seseorang itu telah tiba. Ya, siapa lagi kalau bukan anak dan menantunya. Sudah 30 menit yang lalu dia menantikan anak dan menantunya sampai di rumah. Karena tadi Bagas memberitahunya jika mereka akan menginap disana selama semalam.
"Sini, Sayang. Sudah biar Bagas saja yang bawa." Kata Bu Eni menghampiri Nana yang baru turun dari mobil. Bu Eni melarang Nana yang saat itu akan mengambil koper di bagasi.
Nana mengurungkan niatnya untuk mengambil koper di bagasi. Dan menurut pada ibu mertuanya. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam rumah meninggalkan Bagas yang sedikit kerepotan dengan dua koper.
"Ibu, sudah menyiapkan sarapan. Ayo kita sarapan." Kata Bu Eni lembut pada menantu barunya itu.
Nana menganggukkan kepalanya pelan. Dan mereka langsung menuju ke ruang makan.
“Ini Ibu sendiri yang masak. Tadi waktu Ibu dikabari sama Bagas kalau kalian akan menginap di sini, Ibu langsung belanja di depan." Cerita bu Eni begitu antusias. Nana hanya tersenyum mendengarkan. "Gas, ayo sarapan dulu." Kata bu Eni pada Bagas. Bagas melangkahkan kakinya mendekat pada Ibu dan istrinya.
"Biar ku ambilkan." Kata Nana lembut. Nana mengisi piring Bagas dengan nasi dan lauk pauk secukupnya. Bahkan hingga saat ini dia masih ingat takaran porsi makan Bagas. Karena dulu sering sekali mereka makan bersama.
"Kalian itu cocok sekali. Mengingatkan Bapak waktu dulu masih jadi pengantin baru." Celoteh Pak Ratno sambil tersenyum.
Nana dan bu Eni tersenyum menanggapi. Sedangkan Bagas tak menghiraukan sama sekali. Dia terus menyuapkan nasi yang tadi diambilkan istrinya ke dalam mulutnya. Baginya apa yang di katakan Bapaknya tak penting.
"Habis ini aku berangkat kerja." Kata Bagas tiba-tiba.
Ketiga orang yang mendengar ucapannya seketika menghentikan acara makannya. Mereka tak mengerti dengan apa yang di fikirkan oleh Bagas.
"Bukannya kamu dikasih cuti 5 hari?" Tanya Pak Ratno penasaran.
"Aku menolak." Jawab Bagas cuek sambil terus menyuapkan sarapannya.
"Kamu nggak ingin menghabiskan waktu dengan istrimu? Kalian kan pengantin baru." Kata Bu Eni lembut.
"Nggak". Jawab Bagas singkat.
Nana hanya menundukkan kepalanya. Ingin menangis namun malu dengan mertuanya, untuk menahan tangis dia tak mampu. Dia hanya berdoa semoga situasi seperti ini cepat berakhir dan dia tak mengalaminya lagi.