Bagian Empat

1452 Kata
"Sayang, nanti kamu sendiri yang ambil undangan pernikahan kita ya, soalnya aku ada janji dan nggak bisa di tunda." Kata perempuan berambut pirang. Wajah cantik berkat perawatan mahal membuatnya tinggi hati. Tubuh indah dengan lekuk yang sempurna seringkali membuatnya percaya diri dengan pakaian mini. Make up yang lebih dominan menor selalu terlukis di wajahnya. Accesoris mahal yang selalu melekat padanya tampak berkilau jika terkene cahaya. Namun hanya accesoris saja, tidak dengan hatinya. "Aku juga ada meeting dengan klien. Semalam aku sudah padamu, ‘kan." Jawab laki-laki di depannya. Jas hitam yang membalut tubuh atletisnya semakin membuatnya gagah. Wajah tampan dengan rahang tegas membuatnya terlihat berwibawa. "Lalu bagaimana? Siapa yang akan mengambilnya?" Kata Mira bertanya-tanya. "Oh iya kan ada Nana, biar dia saja yang mengurusnya." Kata Mira lagi setelah berfikir beberapa saat. Bagas hanya menoleh sesaat. Entah mengapa setiap kali dia mendengar nama Nana hatinya masih saja berdebar. Itu yang membuatnya seringkali bimbang. Bimbang antara melanjutkan hubungan dengan Mira atau meluruskan masalahnya dengan Nana. Namun lagi-lagi rasa kecewa dari masa lalunya muncul sehingga dia selalu berfikir jika Mira lebih baik jika dibandingkan dengan Nana, sehingga itu membuat Bagas lebih memilih Mira daripada kembali dengan Nana. "Aku sudah bilang dengan Nana dan Nana menyetujui nya." Kata Mira tiba-tiba sambil memasukkan handphonenya ke dalam tas. Bagas hanya mengangguk sambil menyesap cofee late di depannya. Pikirannya tak tentu arah. Semakin dekat dengan hari pernikahan semakin membuatnya bimbang dengan pilihannya. Namun untuk membatalkan semuanya, sudah terlambat. Pernikahan tinggal hitungan hari, tak mungkin dia membatalkan tanpa alasan yang jelas. Lagipula menikah dengan Mira adalah keputusannya sendiri, tanpa ada paksaan dari keluarganya atau dari orang lain. *** Nana berdiam diri sambil menatap pagar tinggi di depannya. Dia merasa canggung jika menginjakkan kaki lagi kesini. Padahal dulu dia sering sekali main kesini. Sudah dia anggap seperti rumah sendiri. Namun semuanya berbeda sejak dia ikut Papanya pindah ke luar kota. Semuanya berubah dan tak lagi sama. Hubungan yang dulu indah sudah terbelah. Perlakuan yang simpati sekarang sudah mati. Kedekatan yang sering membuat orang iri, sekarang sudah tak ada lagi. Pagar tinggi di hadapannya terbuka. Menampilkan sesosok perempuan paruh baya dengan pakaian seadanya keluar dengan menenteng plastik hitam besar berisi s****h dapur. Perempuan itu nampak kaget melihat Nana. Nana yang menyadari itu segera tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia mendekati perempuan itu. "Apa kabar bi?" Orang yang di sapa oleh Nana segera meletakkan plastik hitam yang di bawanya di samping tong s****h. Kemudian menghampiri Nana lagi sambil mengusap kedua tangannya ke rok selutut yang di pakainya. "Kabar baik neng, gimana kabarnya sampean juga?" *sampean = sebutan kamu dalam bahasa jawa. Nana tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menyalami wanita yang sudah berumur setengah abad itu. "Nana juga baik bi." Jawab dengan Nana sopan. "Mau ketemu dengan Mas Bagas ya? Tapi sekarang Mas Bagasnya lagi nggak di rumah. Tapi ibu ada kok di dalam." Kata wanita itu ramah. Mereka sudah mengenal satu sama lain, tak ada kecanggungan tak terlihat. Nana tersenyum kecut. Entah mengapa hatinya tak sebahagia dulu. Dulu saat ia ke rumah ini, dia menemukan keluarga kedua. Namun sekarang, dia merasa dia bukan siapa-siapa. Se-tak nyaman apapun hatinya, dia tetap melangkahkan kakinya masuk ke rumah ini. Ini semua tak lain karena pekerjaan nya. Pekerjaan yang menuntutnya untuk datang ke sini. Selangkah demi selangkah dia mendekati pintu rumah. Pikirannya tak menentu. Dia tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah sikap Ibu Bagas masih sama seperti dulu atau bahkan dia akan di tolak dan di usir? Dia memasrahkan semuanya pada yang kuasa. "Maaf bu, ada neng Nana di depan." Kata bi Irah pada perempuan yang usia nya tak lagi muda namun wajah ayu masih terlihat jelas di wajahnya. Bu Eni (ibu Bagas) segera menuju ruang tamu setelah mendengar ucapan bi Irah. Di sana sudah ada Nana yang duduk manis dengan pandangan melihat sekeliling rumah. Mungkin Nana sedang membandingkan keadaan rumah saat dia masih sering kesini dan juga keadaan rumah saat ini. "Nana." Panggil bu Eni lembut saat dia sudah berada di ruang tamu. Nana yang merasa namanya di panggil segera menengokkan kepalanya ke sumber suara. Dia melihat di sana ada ibu yang dulu sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Bagi Nana, bu Eni ada ibu kedua untuknya setelah ibu kandungnya sendiri. Karena mereka sangat dekat dulu. Nana berdiri dan menyalami bu Eni. Senyum manis tak pernah luntur dari bibirnya. "Apa kabar, Bu?" Tanya Nana sopan. "Ibu baik. Kamu sendiri bagaimana?" Jawab bu Eni sambil balik menanyakan kabarnya. "Alhamdulillah Nana baik juga Bu." "Eh ayo, silahkan duduk." Kata bu Eni sambil menuntun Nana untuk duduk di salah satu kursi yang berada di ruangan itu. "Bi ambilkan minum dan camilan." Teriak bu Eni ke arah dapur. Nana tersenyum melihat tingkah bu Eni. Dari dulu sikapnya tidak berbeda sedikit pun. Dari sini Nana sudah bisa bernafas lega, karena perlakuan bu Eni terhadapnya masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang dia sudah tak bisa berharap ingin menjadi menantunya. "Oh iya bu, Nana kesini hanya ingin mengantar undangan pernikahan Bagas dengan Mira. Soalnya tadi Nana ke rumah Mira tak ada orang, dan Mira menyuruh Nana untuk memberikan ini ke ibu saja, karena Bagas sedang sibuk katanya." Kata Nana menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah itu. Bu Eni menerima dua ratus lima puluh lembar undangan itu. Dia nampak memandang jengah pada undangan itu dan kemudian meletakkan undangan itu dengan asal. Bu Eni menggenggam tangan Nana erat. "Kamu tau doa apa yang selalu ibu panjatkan setiap malam?" Tanya bu Eni pada Nana. Nana menggelengkan kepala sebagai jawaban. Matanya memandang lekat ke mata bu Eni. "Ibu selalu berdoa untuk kebaikan suami dan anak ibu." Jawab bu Eni. "Dan ibu juga berdoa kamulah yang menjadi menantu ibu." Lanjut bu Eni yang membuat Nana terkejut. Nana memandang bu Eni lekat-lekat. Dia mencari kebohongan dari raut wajah bu Eni namun tak dia temukan. Entah apa maksud dari ucapan bu Eni, dia tak faham dengan itu semua. Namun dia tak ingin munafik, dia bahagia mendengar ucapan yang baru saja di dengar itu. "Bahkan sampai detik ini pun, doa ibu masih sama." Kata bu Eni lembut. Perasaan Nana semakin tak karuan. Untuk menjawab perkataan itu pun dia bingung. Hingga akhirnya dia diam untuk mendengar ucapan bu Eni selanjutnya. "Hingga ibu kadang merasa bersalah dengan Bagas. Disaat Bagas sudah menentukan pilihannya namun ibu berdoa sebaliknya." "Rencana Allah tak ada yang bisa menebaknya, Bu." Jawab Nana akhirnya. "Tapi ibu ingin merubah rencana Allah dengan terus berdoa kepada-Nya." Nana menggelengkan kepalanya lemah. Di genggamnya erat tangan bu Eni. "Nana ikhlas menjalani semua ini. Selama apapun hubungan Nana dengan Bagas, jika bukan Nana jodohnya pasti kita akan tetap berpisah." Jawab Nana mencoba tegar. Lagi-lagi dia membohongi dirinya sendiri. Nyatanya perasaan tak rela masih menyelimuti hatinya. "Kamu mungkin bisa membohongi semua orang. Tapi kamu tak bisa membohongi ibu. Kamu tak pandai berbohong, Nana". Jawab Bu Eni semakin erat menggenggam tangan Nana. Setetes air mata jatuh di genggaman tangan mereka berdua. Sekuat apapun Nana menahan air matanya, tapi tetap jatuh juga. Dia begitu lemah jika menyangkut perasaannya kepada Bagas. Seperti tak ada lagi lelaki lain di dunia ini. Ya, bagi Nana tak ada lelaki yang sebanding dengan Bagas. Hingga dia tidak bisa mencari pengganti Bagas. "Mira perempuan yang baik. Ada sesuatu pada diri Mira yang tidak ada di diri Nana. Ibu hanya belum mengenal Mira lebih jauh." Kata Nana. "Ada sesuatu juga yang membuat ibu tidak yakin dengan Mira, dan ibu lebih menyukaimu menjadi menantu ibu." Jawab bu Eni sambil mengusap air mata yang terus keluar dari mata Nana. "Bagas itu sudah dewasa. Setiap keputusannya pasti sudah di pikirkannya matang-matang. Ibu percaya saja dengan Bagas, jika pilihannya ini adalah pilihan yang terbaik untuknya." Jawab Nana memberi pengertian. "Bu, terkadang apa yang kita rasa tepat, belum tentu tepat untuk orang lain. Sama, ibu merasa jika Nana perempuan yang tepat untuk Bagas tapi belum tentu Bagas merasakan hal yang sama". Lanjutnya. Sebenarnya dia merasa sakit mengucapkan hal itu. Namun dia berusaha untuk terus tegar. Bu Eni diam saja mendengar ucapan Nana. Dalam hatinya dia ingin sekali Nana yang menjadi menantunya, bukan Mira. "Ibu hanya berpesan padamu. Jangan membohongi dirimu sendiri jika kamu tak mampu". Kata bu Eni. Nana tersenyum kecut mendengar ucapan bu Eni. Dia selalu tak berhasil membohongi perempuan di depannya ini. Sama halnya jika dia akan membohongi ibunya, pasti gagal. Kedua perempuan itu selalu tau jika dia sedang berbohong. Seperti ada ikatan batin diantara keduanya. "Nana pamit pulang dulu ya, bu". Pamin Nana sambil berdiri. "Kita makan siang bersama dulu. Sudah lama kita tak makan siang bersama". Kata bu Eni mengajak Nana untuk makan siang bersama. Nana menyetujui ajakan bu Eni. Dia berfikir tak ada salahnya menerima ajakan makan siang bu Eni. Lagi pula belum tentu dia bisa makan bersama lagi. Namun Nana selalu berharap akan ada pertemuan-pertemuan hangat dengan bu Eni lagi setelah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN