Bab 9 Balas Dendam
Kenyataan
Karina mengerjap perlahan membuka matanya. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa begitu berat. Wajah pucatnya meringis, menahan sakit di kepala juga telapak kakinya.
Setelah matanya bisa melihat dengan jelas. Ia tercengang dan kembali kesal. Sungguh, ia merasa sedang berada di labirin mengerikan. Kemanapun dia melangkah, ia akan kembali lagi ke tempat semula.
"Bagaimana mungkin aku masih disini, ya Tuhan…," lirihnya dengan d**a yang terasa sesak dan nyeri.
Ia menoleh menatap jendela yang ia pecahkan. Mustahil, kenapa sudah rapi. Bahkan, kini semua jendela menjadi berteralis besi yang kokoh. Karina menatapnya pilu dengan bibir yang menganga tak percaya.
"Oh my God! Keterlaluan. Apa sebetulnya yang ia inginkan dariku," gerutunya, seraya meremas dadanya yang semakin terasa sakit di dalam sana.
Karina menggeser tubuhnya perlahan, ia ingin sekali turun dari ranjang besar itu. Dan, keluar dari kamar mewah yang bukan miliknya. Lalu segera kembali ke Singapura untuk bertemu kekasihnya.
Namun, tubuhnya terasa sakit semua. Bahkan titik nyeri itu berpusat di kakinya, yang kini telah tertutup perban dengan sangat rapi. Ia memandangi kakinya dengan perasaan yang tak berbentuk lagi.
"Aku ingin pergi dari sini, Tuhan…," ucapnya dengan wajah menengadah dan mata yang basah.
"Aku mohon, keluarkan aku dari tempat ini." Karina meremas sprei putih bersih yang ia duduki.
Karina terperanjat, saat terdengar pintu terbuka. Ia sontak menatap ke arah tersebut. Matanya memicing, saat melihat Alvis berdiri di ambang pintu dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Karina mencelos, saat ia tak bisa lebih lama lagi menatap karismatik dari wajah pria yang telah menodainya itu. Tapi, pria itu berjalan dengan gagah, setelah mengunci kembali pintu tersebut. Ia mendekati Karina dan duduk di sampingnya.
"Halo, sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah membaik?" tanyanya santai, seraya menyibak rambut panjang Karina yang tergerai di pipi. Lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Ish, jangan pegang-pegang!" sentak Karina sinis, seraya menepis tangan besar itu.
Alvis justru tersenyum kian lebar, lalu merengkuh kepala Karina, dan mendekapnya erat ke dalam dadanya. Meski Karina memberontak tapi, wanita itu tak bisa keluar dari kungkungan tangan besar Alvis.
Satu kecupan hangat Karina rasakan di puncak kepalanya. Lama, dan semakin hangat Karina rasakan. Bahkan, hatinya terasa sejuk, sampai ia akhirnya memejamkan matanya perlahan. Seakan terbuai dengan ciuman yang Alvis berikan.
"Jangan pergi, atau mencoba pergi, Karina Starla. Ini istanamu sekarang. Nikmatilah apa yang seharusnya kau nikmati," ucap Milo lirih, namun terdengar jelas ditelinga Karina.
"Apa maksudmu, aku harus segera kembali ke Singapura. Calon suamiku pasti sudah menungguku saat ini. Mana, mana tasku. Kembalikan!" ocehnya, seraya meracau menarik-narik kemeja Alvis.
"Maksudmu, Richard?" ujar Alvis yang telah menangkap kedua tangan Karina di dalam genggamannya.
Karina tercengang, ia tak percaya. Bagaimana pria itu bisa mengetahui kekasihnya itu. Dalam keterkejutannya, Karina terdiam membisu menatap kedua bola Alvis yang begitu memesona.
Tanpa sadar, ia terbawa rengkuhan Alvis. Yang perlahan membaringkan tubuh itu, hingga kini Karina ada di bawah tubuh pria tampan itu. Kedua tangannya erat berada di dalam genggaman tangan Alvis.
"Lupakan dia, karena sekarang, kau adalah milikku," bisik Alvis, seraya menempelkan ujung bibirnya di pipi Karina.
"Hah! Apa!" tiba-tiba, Karina tersadar dan meronta dengan kuat.
Ia mencoba mendorong tubuh besar yang menindihnya. Bahkan, pria itu kini telah menguasai wajahnya. Bibirnya liar menciumi leher jenjang miliknya. Tangan besarnya menggerayangi bagian tubuh lainnya.
"Lepaskan! Pergi! Jangan menyentuhku, b******n! Aku benci kamu!" amuknya, seraya terus mencoba mendorong tubuh kekar itu sekuat tenaganya.
Namun, pria itu bahkan tak menghiraukan raungan Karina yang begitu memilukan. Ia terus melakukannya, lagi. Hingga Karina dengan tubuh polosnya, menerima hentakan lembut yang baginya sangat menyakitkan.
Ia mencengkram kuat sprei, dengan mata yang terpejam kuat. Saat tubuh di atasnya itu mengerang seraya mencium lehernya. Hingga ia pun merasakan hal yang sama. Lunglai bak tak bertenaga dengan peluh membasahi tubuh mereka.
"Aaaa, kenapa kau lakukan ini padaku…, kenapa? Apa salahku padamu…," raung Karina dengan wajah penuh air mata.
Alvis tersenyum miring seraya menarik tubuhnya dari tubuh karina. Karina sedikit meringis, saat benda tumpul itu keluar dari lubang surgawinya. Masih terasa nyeri dan sakit.
"Kau akan terbiasa melayaniku nanti. Karena aku mulai kecanduan dengan nikmatnya tubuhmu," ucap Alvis seraya merengkuh tubuh polos Karina ke dalam pelukannya.
"b******n! Apa maumu! Kenapa kau melakukannya lagi padaku. Kau menyakiti tubuh dan hatiku! Penjahat!" pekik Karina seraya meronta dari pelukan pria yang telah menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Karena kau istriku, Karina Starla," jawab Alvis lirih, seraya merengkuh tubuh itu lebih erat dalam kungkungan pelukannya.
"Mimpi kamu! Pergilah menjauh ! Aku tak mau berdekatan denganmu, b******k!" hardik Karina seraya terus berusaha menyingkirkan tangan pria itu dari tubuhnya.
Namun, yang terjadi justru Alvis kembali menindihnya. Ia menciumi dengan liar tubuh polos Karina. Tak peduli dengan ronta yang Karina lakukan. Dan, pria itu semakin beringas. Menggigit kecil hampir seluruh tubuh Karina.
Sehingga meninggalkan jejak-jejak merah kepemilikannya. Tak peduli dengan tangisan Karina. Alvis terus saja melakukannya. Ia membuka kaki Karina dengan paksa. Menenggelamkan wajahnya di sana. Melilitkan lidahnya, menyesap ceruk lubang surgawi milik Karina.
"Aaaah," erang Karina.
Yang kini justru merasakan nikmatnya. Tubuhnya gemetar dengan d**a yang membusung. Alvis tersenyum dan kembali melakukannya. Membiarkan Karina terpejam dengan tubuh gemetar menikmati sentuhannya.
"Mmmmh, tidak..!" raung Karina.
Tangannya tiba-tiba menjambak surai hitam Alvis yang bersembunyi di antara selangkangannya. Lalu menekannya, dan membuka kakinya lebih lebar. Alvis semakin tersenyum lebar.
"Nikmati sayang, karena aku akan memberikan kenikmatan ini setiap saat untukmu," bisiknya lirih. Saat ia mulai merayap kembali menggesekkan kulit tubuhnya.
Nafas Karina terlihat naik turun. Pandangannya berkunang-kunang, tapi ia merasakan nikmat yang terhingga. Saat Alvis kembali memasukkan kelelakiannya ke lubang surgawinya yang berdenyut nyeri namun nikmat menyeruak.
"Mendesahlah sayang, kau sangat seksi saat melakukan itu," bisik Alvis sekali lagi.
Lidahnya menari di lubang telinga Karina. Dan, "Aaaah!" desah Karina dengan tubuh yang menegang dalam pelukan Alvis.
Pria itu segera memompa tubuhnya. Menghentak dan terus memompa. Saat juniornya seakan tersedot dalam kehangatan di bawah sana. Ia mencengkram sprei, lalu mencium leher Karina.
Kemudian, tubuhnya lunglai kembali di atas tubuh Karina. Mereka masih terdiam dalam keheningan. Menikmati sisa-sisa denyutan dalam tubuh yang lemas.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?" lirih Karina dalam isak.
Alvis memejamkan matanya sekejap. Lalu ia menarik tubuhnya dan terlentang di samping tubuh Karina. Nafasnya masih terengah-engah. Ia menghela panjang, menetralkan lelah penuh kenikmatan.
"Aku sudah mengatakannya, bukan? Kau itu istriku. Istriku, Karina Starla."
? BERSAMBUNG ?