Rencana Kabur

1577 Kata
Bab 4 Balas Dendam Rencana Kabur Seorang wanita setengah baya masuk, dengan membawa pakaian. Lalu tersenyum dan mendekati Karina. "Nyonya sudah bangun rupanya. Ini Nyonya, pakaian ganti anda. Saya, Antini asisten di rumah ini" jelasnya. Karina terdiam dengan alis yang bertemu. Ia tak mengerti dengan yang sedang terjadi padanya. Ia hanya mengamati gerak-gerik wanita itu. "Asisten? lalu siapa majikan anda?" tanya Karina kemudian. Wanita paruh baya itu kembali tersenyum tipis. Lalu beranjak begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Karina. "Hai, kenapa tak kau jawab pertanyaanku, wanita tua!" pekik Karina. Ia geram, karena merasa diabaikan begitu saja. Wanita itu menoleh dan mengangguk hormat. Seulas senyum tak lepas dari kedua sudut bibirnya. Meski tatapannya terlihat sangat dingin. Membuat Karina sedikit merinding bulu kuduknya. "Nanti, Nyonya juga akan tahu. Siapa Tuan besar juga Nyonya besar di sini. Maaf, saya permisi. Makan malam, nanti akan kami antar kemari. Itu perintah Tuan Muda pada kami." Lalu pintu tertutup dan terdengar anak kunci yang mengait pintu kamar tersebut. Karina sontak membeliak, menyadari bahwa dirinya kini dikurung di sebuah kamar besar nan mewah. "Kenapa nasibku sesial ini, sih. Astaga!" pekiknya seraya menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur. Karina masih terdiam, memikirkan bagaimana caranya agar bisa keluar atau minimal tahu, dimana sebetulnya dia kini berada. Tapi, tiba-tiba kandung kemihnya terasa sangat penuh. Sontak ia mencari kamar mandi dan, saat ia menemukannya. Ia sedikit tercengang, karena kamar mandi itu sangat bersih dan ruangannya begitu luas. "Waw, sepertinya mandi bisa menyegarkan tubuhku," gumamnya. Ia segera melucuti pakaiannya. Dengan tubuh polos ia menengadahkan wajahnya ke atas. Menikmati rintik air hangat yang turun dari shower. Rasanya seperti mendapatkan pijatan lembut di kulit wajahnya. Kemudian dia menurunkan wajahnya, dan dengan mata yang terpejam. Membiarkan air turun membasahi puncak kepalanya. Ingatannya tiba-tiba mengarah saat di mana Alvis memaksanya kala itu. "Astaga! Laki-laki sialan! Kenapa kau renggut hal paling berharga milikku, b******k!" umpatnya. Tubuhnya luruh, ia duduk di atas lantai. Menekuk lutut dan memeluknya erat. Tangis kembali pecah dari dadanya. Ia meraih sabun mandi, lalu mengeluarkannya sebanyak mungkin. Dan menggosok ke seluruh kulit tubuhnya. "Menjijikkan, kalau hendak menodaiku. Kenapa kau menyelamatkanku. Kenapa tak kau bunuh saja aku!" gerutunya lagi. Karina terus saja bermonolog. Mengeluarkan sesak yang memenuhi rongga dadanya. Menjambak surai di kepalanya. Lalu menggosok kulit tubuh bagian dadanya. Dengan raung yang terdengar ironi. Ia berharap, dengan membasahi tubuhnya. Akan menjadi lebih segar, tubuhnya. Tapi, justru ia semakin membenci dirinya sendiri. "Andai aku tahu ini yang akan terjadi, aku lebih baik tetap tinggal bersama Richard dan, menikah di sana. Ibu…!" raungnya lagi. Lelah menangis, ia menyudahi mandinya. Lalu masuk ke kamar dengan mengenakan handuk kimono yang tersedia. Saat ia mengenakannya, tercium aroma handuk baru. Ia mengernyitkan dahinya, berpikir sedikit lama, seraya melangkah keluar. "Apa, ini baru disiapkan? Ini wangi handuk baru," gumamnya. Lalu, Karina mengambil pakaian yang dibawa oleh Antini. Dan, memeriksanya sebelum mengenakannya. Betul saja, semua masih bermerek. "Astaga, ini juga masih baru," ucapnya. Lalu, dia mengambil underwear juga bra, kembali ia menggeleng. Karena semuanya masih baru. Karina semakin tak mengerti dengan keadaannya. Tapi, karena tak ada pakaian lain. Ia terpaksa mengenakannya. "Hmm, bisa pas begini, ya. Dan, ini sangat nyaman sekali," ujarnya. Setelah selesai mengenakan pakaian itu. Ia menuju meja rias, menatap alat make up yang super lengkap di sana. "Waw, ini… pasti punya pemilik rumah. Apa ada wanita sepertiku. Kenapa peralatan make upnya begitu lengkap," gumamnya lagi dengan hati yang diliputi banyak pertanyaan. Ia tak ingin memusingkannya dan, langsung mengenakannya saja. Mengeringkan surai yang basah. Lalu memoles wajahnya dengan riasan tipis. Seulas senyum mengembang di wajah Karina. Saat ia menatap pantulan dirinya dalam cermin tinggi di lemari 6 pintu di dalam kamar tersebut. Iseng, ia membuka lemari pakaian itu. Hanya ada pakaian Alvis di sana. Ia berdecak kagum, karena semua yang ada branded ternama. Iya, karena Karina pernah bekerja di sebuah toko besar. Yang menjual hanya barang-barang original bermerk terkenal. Karena itu Karina bisa tahu, berapa harga perlembar pakaian yang tergantung di dalam lemari itu. "Hmmm, melihat semua ini. Aku semakin merindukan Richard-ku. Aaa! Sial. Dimana dia menyembunyikan tas milikku. Aku harus segera menghubunginya, bukan. Dia pasti sangat mengkhawatirkanku saat ini." Karina menutup kasar pintu lemari itu, sesak kembali memenuhi rongga dadanya. Perasaannya begitu kacau dan hancur. Kesucian terenggut, kebebasan pula hilang. Dan dia menjadi tahanan kamar mewah. "Bagaimana caraku keluar dari sini, Tuhan," gumamnya dalam keputusasaan. Tiba-tiba terdengar suara kunci di buka, dari arah pintu. Sontak Karina melompat, dan bersembunyi di belakang pintu. Rencananya, dia akan mengendap-endap, untuk keluar jika ada kesempatan. Ceklek, pintu terbuka. Dan, Antini sang asisten masuk membawa nampan berisi kudapan. Lalu, Karina berjalan berjinjit dengan sangat perlahan. Dan— "Nyonya!" Karina menoleh sekejap, tapi kemudian melanjutkannya dengan cepat. Karena Antini menuju kamar mandi. Dengan d**a yang berdetak tak karuan. Karina berhasil keluar dari kamar itu. Dan, ia segera memindai seluruh sudut rumah besar itu. Langkahnya terus berjalan, menyusuri ubin dingin yang warnanya mengkilap bahkan berkilauan diterpa lampu pencahayaan. Dan, langkahnya terhenti. Saat mendapati sebuah ruangan yang sangat tidak asing baginya. "Apa! Jadi, aku—" Sontak Karina mencengkram surai di kepalanya dengan kuat. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Ia seperti sedang berada di labirin aneh. Kenapa setiap kali dia melangkah. Masih juga berkutat dengan pria yang telah menodainya itu. "Aaaaaargh!" jeritnya sekuat tenaga. Tubuhnya luruh begitu saja di atas lantai. Semua bayangan saat ia di paksa pria itu, hingga kesuciannya hilang. Melintas begitu nyata dalam ceruk kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa nasibnya begitu sial. Kenapa keberuntungan tak juga datang dalam hidupnya. Baru saja dia mencicipi indahnya cinta bersama Richard. Dan, pernikahan di ambang harapan. Kini, semua seakan hanya mimpi dan hilang begitu saja dari hidupnya. "Kenapa Tuhan! Kenapa…!" raungnya dengan wajah menengadah. Tiba-tiba Antini sudah ada di belakangnya. Ia segera menyeret tubuh lemah Karina. Dan, Karina tak berontak atau melawan. Dia hanya menangis dan meraung histeris. Entah siapa lagi yang mencekal tangannya. Karina sudah tak memperdulikannya. Ia hanya menyesali keputusannya untuk pulang. Dan merutuki dirinya sendiri. Hingga ia kembali di hempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia hanya menikmati tangisannya. Setelah pintu kembali terkunci, Karina mengacau di dalam kamar itu. "b******n! Apa yang kau mau dariku! Kenapa tak kau biarkan saja aku pergi…!" raungnya dengan suara yang melengking. Menggema di dalam kamar besar itu. "Kenapa pria b******k, kenapa…!" Ia membuang semua benda ke lantai. Selimut, bantal, juga sprei telah pergi dari atas ranjang. Dan, berpindah tempat di atas lantai, kini. Ia melompat dari ranjang lalu menggedor pintu kamar itu. "Buka pintunya! Buka…!" teriaknya. Tapi, tak ada yang terjadi. Pintu itu hanya diam, dan tak terlihat atau terdengar ada pergerakan dari luar. Karina melirik jendela, lalu berjalan mendekati benda lebar yang berkaca bening itu. Ia melihat sekeliling, tirai gorden, sprei, lalu pakaian-pakaian. Isi kepalanya berpikir, apa yang hendak ia lakukan dengan semua itu. Dan, Karina mengambil kursi yang ada di meja rias. Lalu membawanya dan menghantamkan kuat ke arah jendela. Karena saat ia membukanya, ia tak bisa melakukannya sama sekali. Prang! Suara pecahan kaca memekik di dalam kamar itu. Karina segera mengaitkan kain-kain panjang yang bisa ia ambil. Tirai-tirai gorden ia tarik sekuatnya. Lalu ia mengikatnya di kaki ranjang besar itu. Kain-kain itu ia kaitkan, hingga menjadi untaian tali yang panjang. "Aku harus pergi dari sini," ucapnya lirih. Seraya melempar tali yang dibuat dari tirai-tirai dan sprei juga selimut. Ia melongok ke bawah. Wajahnya sedikit memucat. Bangunan itu terlalu tinggi baginya. Tapi, rasa hati ingin keluar dari rumah itu lebih menguasai dirinya. Dengan sedikit nekat dan keberanian, Karina perlahan keluar jendela. Dengan memegang kuat dan memeluknya erat tali-tali kain itu. Ia perlahan turun, meski dengan tubuh yang gemetaran. Hingga ia berhasil sampai di bawah. Tapi, sial masih juga menimpanya. "Auw, ah… ya Tuhan. Kakiku berdarah," gumamnya lirih, dengan wajah meringis menahan sakit. Ada satu pecahan beling kaca jendela menancap di telapak kakinya. Perlahan ia mencabutnya dan membuangnya serampangan. Lalu, perlahan dengan kaki berjinjit. Karina melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Ia tak memperdulikan darah yang keluar dari kakinya. Ia terus mencari jalan untuk bisa keluar dari mansion besar yang mengurungnya. Ia ingin segera kembali ke Singapura dan bertemu dengan kekasihnya. "Ya ampun, kenapa pagar rumah ini sangat tinggi, astaga!" pekiknya dengan wajah meringis. Ia menengadahkan wajahnya, menatap pagar yang tinggi menjulang. Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. Ia terus berpikir, bagaimana bisa keluar dari lingkungan itu. Wajahnya menoleh kian kemari, mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menaiki pagar tinggi itu. "Yap, ada tangga. Aku bisa gunakan itu," ucapnya. Karina melangkah perlahan, menyeret kakinya yang semakin berat ia rasakan. Bahkan kepalanya mulai pusing ia rasakan. Tapi, dia mengabaikannya. Ia ingin secepatnya pergi dari tempat yang menyesakkan baginya. "Aduh, kenapa berat sekali tangganya," keluhnya. Ia mengangkat dengan kedua tangannya, secara perlahan. Menempelkan pada dinding pagar yang tingginya mencapai 4 meter itu. "Auw!" pekiknya, saat kakinya yang terluka tak sengaja ia pijakkan ke anak tangga. Perlahan, ia mencoba kembali dengan bagian telapak kaki yang tidak terluka. Satu persatu, Karina mulai menaiki tangga besi itu. Tapi, baru beberapa anak tangga yang ia pijaki. Kepalanya terasa sangat pusing. Matanya terasa berat, pandangan pun mulai memudar. "Apalagi, sih… kenapa kepalaku sakit sekali." Karina memijat keningnya perlahan. Lalu kembali mencoba memijakkan kakinya makin ke atas. Tapi tatapannya semakin kabur. Ia menggenggam kuat besi tangga. Saat pandangannya mulai berputar. "Ya Tuhan, biarkan aku pergi dari sini," gumamnya lirih. Namun, matanya semakin gelap ia rasakan. Dan, genggaman tangannya merenggang. Perlahan, ia tak bisa melihat apapun juga. Gelap, dan semakin gelap. "NYONYA! NYONYA…!" Suara itu masih bisa Karina dengar, meski sangat samar. "Jangan biarkan mereka menemukanku, Tuhan," batinnya berucap. ? BERSAMBUNG ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN