Alvis Milo Syailendra

1269 Kata
Bab 3 Balas Dendam Alvis Milo Syailendra Karina membeliak, dan langsung mencelos. Saat ia melihat sosok pria yang telah menghancurkan masa depannya itu. "Kamu sudah bangun? Aku membelikan makanan untukmu. Kata dokter, kamu lapar dan sangat kelelahan. Itu akibatnya kamu pingsan," ujar pria itu dengan suara yang begitu lembut dan tatapan sangat manis. Sangat jauh berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Karina menghela nafasnya panjang. "Huft, kenapa dokternya begitu pintar. Aku memang hendak mencari makan barusan, ish. Menyebalkan," gerutu Karina yang masih membuang muka. Ia tak menghiraukan keberadaan pria itu. Rasanya ingin sekali mencakar-cakar wajahnya tapi, semua telah percuma sekarang. Meski ia memaki, atau mengamuk sekalipun. Tak bisa mengembalikan semua ke keadaan semula. "Makanlah, atau mau aku suapin?" ucap pria itu, yang sudah duduk di samping Karina. "Aku tidak mau!" sinis Karina. Ia sangat jaga image, meski isi perutnya sangat keroncongan saat ini. Pria itu tersenyum miring, lalu menyodorkan satu sendok nasi yang bercampur dengan ayam berkuah merah. Karina kembali mencelos kasar. Dan, tiba-tiba perutnya berbunyi gemerucuk. Membuatnya sontak memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya lembut. "Sial, kenapa pakai bunyi sih ini perut, bikin malu saja," keluhnya dalam hati. "Makanlah, kamu pasti sangat lapar, 'kan? Itu, cacing di perutmu sudah berontak semua. Demo meminta jatahnya," ujarnya santai. Karina mendesis lirih, dengan terpaksa ia menarik tubuhnya untuk duduk. Dan, dengan sigap pria itu membantunya. Tapi, Karina dengan kasar menepisnya. " Jangan menyentuhku!" sentaknya kasar. "Oke-oke, aku minta maaf." ujarnya, seraya mengangkat tinggi kedua telapak tangannya. Karina sontak mengambil kotak berisi makanan yang ada di atas selimutnya. Melirik sekilas, dan kembali mencelos sinis. Kemudian dia dengan lahap memakan kudapan tersebut. Lapar di perutnya membuatnya sangat lahap mengunyah makanan tersebut. Tiba-tiba, dia tersedak. Hingga matanya memerah, pria yang duduk di sofa agak jauh, melihatnya. Sontak berlari membawa satu botol air mineral dan memberikan kepada Karina. "Kenapa terburu-buru makannya. Pelan-pelan saja," ujarnya dengan sangat lembut. Karina meneguk minuman itu dengan sedikit melirik kesal. Pria itu hanya menggeleng lembut dengan sunggingan senyum di kedua sudut bibirnya. Sungguh, baginya itu sangat menggemaskan. Melihat jakun Karina naik turun saat minum. Rasa haus pun hinggap di tenggorokannya. "Sisakan airnya untukku, Karina. Aku juga haus. Aku hanya membeli satu, tadi," ucapnya. "Ini bekas mulutku, jangan kamu mi–" Terlambat, pria itu sudah merebut botol itu saat Karina menurunkan botolnya dan memangkunya. Ia hanya bisa terdiam dengan mata membulat sempurna dan bibir terbuka. "Namaku Alvis Milo Syailendra. Aku biasa di sapa Alvis. Tapi, Andini biasa memanggilku, Milo. Kalau kamu, boleh memanggilku dengan panggilan apapun," ucapnya, seraya menutup botol kosong itu dan membuangnya ke tong sampah yang tersedia di dalam ruangan tersebut. Karini memutar bola matanya lalu mendesis."Aku tak bertanya," sinisnya. "Aku hanya memberitahu padamu, Karina. Karena kita akan menikah. Apa iya kamu tak ingin mengetahui nama calon suamimu," balasnya tegas. "Apa? Menikah! Mimpi kamu, siapa yang mau menikah dengan pria gila sepertimu, ha. Dasar penjahat! Aku muak melihatmu, aku akan pergi setelah ini. Jangan harap kita akan bertemu lagi setelah ini." Dengan wajah yang merah, bola mata yang berapi-api. Karina berkata dengan sangat lantang. "Tapi, aku akan tetap menikahimu, Karina. Aku bukan lelaki pengecut. Aku telah merusakmu, karena itu. Aku akan bertanggung jawab sebelum cairan itu berubah menjadi janin. Kamu mengerti!" tegas Alvis dengan tatapan tajam. Karina membalas nyalang tatapan Alvis. Lalu, seringai tampak dari kedua sudut mata lelaki tampan itu. Karina sontak mencelos, tak tahan dengan wibawanya yang begitu karismatik. "Aku tidak mau!" tolak Karina lagi. Di hatinya hanya ada kekasihnya. Meski ia tak tahu, akankah kekasihnya menerimanya lagi. Karena kini ia sudah tak suci lagi. Tapi, Karina akan menjelaskan semuanya nanti. Pikir Karina, semudah itu. "Aku tak bertanya kau mau atau tidak, bukan? Aku hanya mengatakan, bahwa aku akan menikahimu. Dan, kau akan menjadi pengantinku," tegas Alvis, yang kemudian pergi begitu meninggalkan ruangan tersebut. Karina tercengang, dia menelan ludahnya yang terasa begitu pahit. Ia berpikir untuk kabur saja. Matanya mencari keberadaan tasnya. Benda itu adalah yang utama yang harus ia bawa. Semua kebutuhannya, dan identitasnya ada di sana.Namun, ia tak menemukan tas selempang miliknya itu. "Tasku? Kemana tasku?" gumamnya dengan mata yang terus mencari kian kemari. Karina melepaskan paksa infus yang menancap di punggung tangannya. Lalu melompat dari atas ranjang, dan mencari tasnya. "Astaga, dimana dia menyimpan tasku," gerutunya lirih. Menyingkap sofa, membuka laci. Lalu membuka bed dan bahkan dia mencari sampai ke dalam kamar mandi. Tapi, benda itu tam ia temukan. Karina menggelung rambut panjangnya. Lalu ia kembali mencari benda penting miliknya itu. "Bagaimana aku bisa pergi tanpa tas itu. Paspor - ku, identitasku. Aah, sial! Kemana benda itu, astaga!" Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah mendekat. Karina sontak kembali ke atas ranjang. Dan, berpura-pura tertidur. Ia menutup semua tubuhnya menggunakan selimut, kecuali bagian kepalanya. "Apa dia mengamuk, kenapa tempat ini jadi berantakan sekali," ucap Alvis yang kaget melihat ruangan yang menjadi sangat berantakan. Saat ia memasuki kamar tersebut. Matanya mengedar ke seisi ruangan, lalu tiba-tiba ada yang masuk. Yaitu, seorang perawat wanita datang untuk memeriksa keadaan Karina. Sepuluh menit Karina diperiksa dalam kepura-puraan tidurnya. Ia ingin tahu, apa yang akan di katakan perawat itu tentangnya. "Sepertinya istri anda sudah sangat baik kondisinya, Tuan. Jika hendak pulang, kami ijinkan," ucapnya. Sontak membuat Karina merasa kegirangan. Ia mengepalkan tangannya dengan semangat. Dan, menunggu Alvis lengah agar dia bisa segera kabur. Ia bersumpah akan menghilang dari kehidupan pria yang telah merusak hidupnya itu. "Syukurlah, ini kabar yang sangat baik. Kalau begitu, aku akan segera mengurus administrasinya. Tolong urus istri saya dan pastikan dia dalam kondisi baik-baik saja," ujar Alvis. Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu. Petugas medis itu segera mendekati infus yang masih tergantung. Keningnya berkerut, karena infus menjuntai ke lantai. Ia sontak menaruh curiga pada pasiennya itu. Dan, keduanya tersentak kaget saat Karina tiba-tiba menoleh dengan cepat. "Astaga!" pekik keduanya bersamaan. Lalu, dengan cepat Karina melompat dari ranjangnya dan, berlari dari ruangan itu. Tak memperdulikan perawat medis yang berteriak memanggilnya. "Nyonya! Anda mau kemana! Nyonya!" Perawat itu terus berteriak seraya memanggil Karina. Namun, sia-sia. Entah mendapatkan kekuatan dari mana. Karina berlari dengan sangat kencang keluar dari lokasi rumah sakit tersebut. Nafasnya naik turun, saat ia sengaja menghentikan langkahnya di gang yang ia rasa sudah aman. "Ya Tuhan, aku tak mengenal tempat ini," keluhnya, mulai bingung dengan situasi yang menghimpitnya. Dadanya naik turun, matanya terus memindai keadaan. Karina berdecak kesal, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok tinggi di gang sempit itu. Wajahnya menengadah, menatap langit yang biru. "Aku harus kemana sekarang," ucapnya lirih. Ia menyeret langkahnya perlahan. Keluar dari gang sempit itu. Tapi, ia kembali bingung. Kemana harus membawa diri. Ia berjalan gontai. Menyusuri jalanan hitam yang begitu panas. Sesekali ia mengedarkan pandangannya. Berharap ada hal atau sesuatu yang ia kenal atau ia ingat. Namun, sepertinya waktu telah membawanya jauh dari tempat ini. Hingga ia tak lagi mengingat apapun tempat yang baginya sangat asing. Karina berdecak kesal, karena tak menemukan jejak atau sesuatu yang bisa membawanya ke suatu tempat. Yang mungkin bisa ditinggali. "Duh, kenapa kepalaku pusing sih. Ah sial, sepertinya terik yang begitu ekstrim membuat kepalaku sakit," keluhnya. Saat ia merasakan pandangannya mulai kabur. "Rrrrr!" Karina menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa pening di kepalanya. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Kepalanya seolah berputar, juga pandangannya yang semakin gelap. Sepuluh detik kemudian, tubuhnya luruh diatas tanah pinggiran aspal. Entah berapa lama dia pingsan, saat ia membuka matanya. Ia semakin bingung, karena berada di tempat yang begitu mewah. Keningnya mengernyit, matanya melirik ke seluruh sudut ruangan. "Dimana lagi ini," gumamnya lirih. Karina menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia ingin mencari tahu dimana kini dia berada. Tapi, baru saja ia sampai di tepian ranjang. Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka lebar. Karina terkesiap seketika, dengan mata yang membulat. ? BERSAMBUNG ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN