Bab 2 Balas Dendam Yang Salah
Nyaris Serupa
Reflek, Karina menggeser tubuhnya untuk mundur tanpa memiliki kekuatan untuk berdiri dan berlari. Aura menegangkan di sekitar sungguh menguras seluruh tenaga bahkan nafasnya.
“Setelah satu bulan kau menghilang dan, mencelakai Nenek, juga mencuri uang dari dalam brankas. Kau masih berani muncul di kota ini, hah!” Suara gemeretak dari rahang tegas yang mengeras itu sangat terdengar jelas.
“A-Ada apa ini? aku tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan," protes Karina. Wajahnya semakin kebingungan.
Pria itu, sontak berjongkok dan mencengkram rahang Karina.
“Jangan pura-pura amnesia, kamu. Selama ini bersembunyi di mana kamu? Kau pergi dengan pria selingkuhanmu!” geramnya. Pria itu semakin kuat mencengkram leher Karina.
Karina hanya bisa menggeleng dengan wajah ketakutan dan memerah karena mulai kehabisan stok oksigen dari tenggorokannya yang tercekal.
“Andini!" pekiknya dengan sangat lantang. Suaranya menggelegar di dalam ruangan besar yang sunyi dan sepi itu.
"Bahkan kau bersekongkol dengan selingkuhanmu! b******k kalian!" bentaknya lagi, "Berani-beraninya kalian mempermainkanku! Kurang apa aku, hah! Sampai kau mencari pria lain dan, kabur membawa hartaku!” cecar pria itu dengan lantang. Dengan kedua bola mata yang berapi-api.
Dalam diam dan dengan nafas yang tercekal, Karina akhirnya memahami jika, pria ini sudah salah mengenalinya. Dengan sisa tenaganya, Karina menggeleng mencoba menerangkan pada pria tersebut. Kalau dia bukanlah wanita yang dimaksudkan.
Mata bening itu berusaha menembus sorot pria yang begitu tajam. Kejujuran yang sedang ia sampaikan melalui tatapannya.
“Argh!” pria itu melepas kasar cengkeramannya karena mendadak kehilangan kekuatannya setelah terlalu lama memandang mata bening yang memohon belas kasih.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Karina memegangi lehernya yang terasa sangat sakit. Menarik nafas berulang kali, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Dia sudah seperti orang yang sekarat sebab hampir kehabisan nafas. Tapi, pria itu sama sekali tidak peduli.
"Masih mau mengelak! Mau lihat, apa yang aku dapatkan, hah!” Pria dengan perawakan tinggi, hidung mancung dengan jambang tipis itu berdiri lalu, menyalakan layar besar yang menempel di dinding, di sisi ruangan.
Sebuah video rekaman CCTV yang menunjukkan seorang wanita, wajah yang sangat mirip dengan Karina, sedang bercinta dengan pria yang tidak terlalu jelas wajahnya. Terpampang nyata di hadapan Karina. Mata Karina sontak membulat, dengan leher yang kian tercekal.
Lalu pria itu memindah ke video yang lainnya. Dimana sosok wanita itu tengah membobol brankas di sebuah kamar. Bahkan demi menyelamatkan diri, wanita itu mendorong tubuh wanita tua yang ada di dalam kamar tersebut, hingga terjungkal.
Karina semakin membeku. Wajahnya semakin pucat pasi, setelah melihat bukti yang memang menunjuk padanya. Meski dia begitu yakin, itu bukanlah dirinya. Bahkan pria itu menyebutnya dengan nama, Andini.
"Wajah itu sangat mirip denganku. Tapi, dia bukan aku…," gumamnya lirih. Dengan suara tertahan di tenggorokan di tengah kebingungannya.
“Sekarang, Nenek menjadi koma akibat perbuatanmu. Memenjarakanmu saja tidak akan cukup bagiku.” Matanya nyalang, menatap Karina yang semakin ketakutan. "Kau harus menerima imbalan yang setimpal, Andini!"
Wajah pria yang buas menyunggingkan senyuman miring layaknya lucifer yang menertawakan ketidak berdayaan Karina.
Dalam satu kali gerakan, pria itu membawa tubuh Karina dan menjatuhkannya di atas sofa.
“Kamu mau apa! Jangan sentuh aku!” pekik Karina, ketakutan.
Karina berusaha bangkit dari sofa, tapi dengan beringas pria itu menguasai tubuhnya. Bahkan dengan mudah, pria itu merobek pakaian Karina.
“Kenapa aku tak boleh menyentuhmu! Kamu adalah milikku. Kamu harus menanggung semua kesalahanmu!”
"Aaaaa…!" Jeritan Karina melengking, memenuhi setiap sudut ruangan itu.
Karina meraung. Rasa sakit, nyeri dan nikmat yang menguasai tubuhnya. Membuatnya sungguh tak berdaya. Entah apa yang sedang merasuki pria asing tersebut. Hingga tega melakukannya, tanpa meminta penjelasan dari Karina, atas semua yang ia katakan terlebih dahulu.
"Aku Karina! Karina…!" raungnya dengan sisa-sisa tenaganya. Wajahnya basah air mata, tubuh polosnya menggigil akibat isak lara yang meluap dari perihnya luka hatinya.
"A-apa!" Pria itu segera menarik tubuhnya dengan cepat.
"Aaaa!" jerit Karina seraya menutup kakinya dan menekuk lututnya. Tangisnya kian pecah, di hadapan pria yang berdiri menatap tubuh polosnya dengan wajah bingung.
"Da-darah? Tidak mungkin!" gumam pria itu, dengan suara lemah namun tegas.
"Aku Karina…! Karina! Bukan Andini… aku tidak tahu siapa Andini, tidak tahu!" pekik Karina di antara isak yang terdengar sangat pilu itu.
Pria itu tiba-tiba luruh, lututnya menempel ke lantai. Menatap bercak darah di atas sofa putih miliknya itu. Ia meremas rambutnya, dan menjambaknya kuat.
"Kenapa kau tidak bilang dari ta—"
"Apa kau memberiku kesempatan untuk berbicara, ha!" pekik Karina.
"A—aku minta maaf," lirih pria itu, dengan wajah penuh sesalnya.
"Apa! Maaf! Kau pikir maaf bisa mengembalikan keadaan, iya!"
Karina kembali meraung, ia mengacak-acak wajahnya. Lalu rambutnya, bahkan berulang kali ia menggosok tubuhnya hingga telapak tangannya terasa sangat panas. Ia merasa sangat jijik dengan tubuhnya sendiri.
"Aku menjaganya dengan baik. Untuk aku serahkan pada suamiku, kelak. Tapi, Kau merenggutnya dengan paksa. Kau b******k! b******n! Aaaaaa!" racau Karina penuh ironi.
"Aku akan menikahimu," tegas pria itu.
Mendengar kalimat yang keluar dari pria itu, Karina terdiam, perlahan ia bangkit. Dengan menahan perih di antara selangkangannya. Ia segera meraih pakaiannya yang terkoyak. Lalu dengan cepat mengenakan nya.
"Tak sudi aku menikah dengan lelaki b******k sepertimu!" jawab Karina sinis.
Dengan wajah meringis, menahan nyeri di bagian inti tubuhnya. Karina melangkahkan kakinya keluar dari mansion itu. Pria itu pun bergerak cepat. Dia mengenakan pakaiannya kembali dan mengejar Karina.
"Tunggu!" serunya, dan tiba-tiba menutupkan jasnya ke punggung Karina. Karena pakaian Karina sangat lebar koyak nya di bagian belakang tubuhnya.
Wanita itu hendak menolaknya tapi, pria itu menahan dengan kuat pakaiannya yang menempel di tubuh Karina.
"Punggungmu nampak sekali. Aku yakin banyak yang akan melihatnya, jika tidak di tutupi. Katakan, dimana tempat tinggalmu, aku akan mengantarmu. Setelah itu, kita bicarakan rencana pernikahan kita."
Karina meliriknya sekilas, lalu mencelos dan melangkah pergi begitu saja. Perasaannya sudah hancur lebur. Sakit yang teramat sangat, tak bisa membuatnya berpikir dengan jernih.
"Aku bisa pulang sendiri. Jangan pernah mencariku, aku sangat membencimu!" oceh Karina seraya melangkah menjauh dari pria itu.
Namun, tiba-tiba Karina merasa kepalanya berat. Tubuhnya sedikit terhuyung dan hampir saja ia limbung. Karina memegang kepalanya dan, ia merasa ada yang menyangga tubuhnya.
"Kita kerumah sakit, aku akan mengantarmu," ucap pria itu.
Karina menepis rengkuhan tangan besar yang memeluk tubuh lemahnya. Dan, mencoba berdiri kembali seraya melirik sinis pada pria itu.
"Jangan menyentuhku!" desis Raya lirih, dengan sisa-sisa tenaganya.
Namun, sepertinya tubuhnya memang sangat lemah. Matanya tiba-tiba gelap, dan ia tak merasakan apapun lagi kemudian.
2 jam kemudian, di rumah sakit harapan. Karina mengerjapkan kedua matanya. Dengan mata yang menyipit, ia berusaha memindai ruangan. Kepalanya masih terasa sangat berat, sontak Karina memijat keningnya perlahan.
"Aku kenapa." Karina kembali mengedarkan pandangannya. Mencari tahu dimana dirinya kini berada.
"Rumah sakit? Siapa yang membawaku kemari? Apa… pria b******k itu. Ish, Karin. Kenapa pakai pingsan segala sih," gerutunya, menduga-duga.
Karina menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu mencoba untuk turun dari ranjang. Tapi, tiba-tiba pintu terbuka cepat dan sangat lebar. Raya terkesiap, begitupun dengan sosok yang membuka pintu.
BERSAMBUNG