Rumah Bordil

1164 Kata
Balas Dendam Yang Salah Bab 1 Rumah Bordil “Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak mau dijual!” teriak seorang wanita muda, yang meronta saat lelaki separuh baya menariknya, memaksa masuk ke rumah terlarang. Gadis itu adalah Karina Starla, ia baru saja kembali dari Singapore. Dia berniat pulang hanya untuk meminta restu kepada ibunya. Karena kekasihnya disana baru saja melamarnya. Tapi siapa sangka, belum sempat bertemu dengan ibunya, dia sudah berhadapan dengan ayah tirinya di depan rumah. Dia langsung diseret dan dimasukkan ke dalam mobil. Lalu dibawa ke rumah bordil hendak dijual oleh pria tersebut. “Kamu pergi kemana, selama ini?" hardiknya kasar. Tangan lelaki setengah baya itu, makin erat pegangannya. Membuat Karina meringis kesakitan. "Ini adalah balasan untukmu! Karena tidak pernah berbakti kepada orang tuamu!" sentaknya lagi, seraya mencekal kuat tangan Karina. "Main kabur keluar negeri bertahun-tahun!” bentak Sandi—ayah tirinya. Terus mencecarnya dengan hujatan. “Maafkan aku Ayah... Aku mohon, Aku akan memberikan uang yang banyak untuk Ayah, asal jangan bawa aku ke dalam, aku mohon," rengeknya dengan kedua tangan menangkup di dadanya memohon iba dari sang Ayah tiri. “Hahahaha! Dasar t***l, setelah kamu masuk. Justru kamu akan menghasilkan banyak uang untukku! Pekerjaanmu itu sangat mudah dan nikmat!” imbuhnya dengan tawa yang terbahak. Karina berusaha keras melepaskan cekalan tangan ayahnya. Mendengar kata ‘pekerjaan yang nikmat’ saja sudah membuatnya jijik. Sungguh, Karina sangat ketakutan. “Aku tidak mau!” pekik Karina, seraya menendang kemaluan ayahnya. Reflek, genggaman tangan Sandi merenggang dan, Karina mengambil kesempatan itu untuk segera berlari dengan sangat cepat. Ia tak memperdulikan apapun lagi. Yang ia tahu, ia harus segera kabur. “Aaaargh!" jerit Sandi, seraya memegangi k*********a, dengan tubuh membungkuk. Menahan sakit di inti tubuhnya hingga bagian perutnya. "Anak durhaka! Jangan lari kamu!” teriak Sandi, yang sontak berlari mengejar Karina, seraya memegang bagian yang sakit, dengan wajah yang meringis menahan nyeri. Karina berlari sekencang mungkin supaya terhindar dari ayah tirinya. Dia bersumpah akan kembali saja ke Singapore dan menghilang. Agar tak akan pernah bertemu dengan pria tua gila itu. Ia lupa akan Ibunya, yang menjejal isi kepalanya adalah, lepas dari pria tak berakal itu. Hingga sampailah Karina di tengah jalan. Fokusnya yang terbagi, ia tak memperhatikan langkah kakinya berlari. Tiba-tiba, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Suara klakson terdengar melengking. Gadis itu tersentak dan sontak menghentikan langkahnya dengan mata membeliak tajam. Tiin! Tiin! “Aaaaa!” jerit Karina, seraya menutup sisi kepala dengan kedua telapak tangannya dengan mata terpejam. Nafasnya naik turun. Tubuhnya bergetar hebat. Ia sontak membuka matanya, saat tak merasakan apapun akibat tertabrak. Tapi, justru Karina merasakan tangannya ada yang mencekalnya kuat. Karina menggeragap, dengan mata nyalang penuh ketakutan, karena dia kembali tertangkap oleh Sandi, Ayah tirinya. “Mau lari kemana kamu, hah!” Sandi menarik kuat tangan Karina. “Lepaskan!” sentak Karina, menepis kuat cekalan tangan sandi. Ia terus meronta dengan wajah yang memerah. BUGG! Karina hampir terpental, akibat terseret cekalan tangan Sandi. Pria paruh baya itu menoleh cepat, menatap nyalang pada sosok pria tampan yang telah melayangkan tinju padanya. Hingga membuat pria tua itu tersungkur. “Siapa kamu! berani-beraninya memukulku!” bentak Sandi dengan d**a yang membusung, setelah berhasil berdiri tegak kembali. Sandi hendak meraih tangan Karina. Tapi, pria tinggi tegap itu menghadangnya lebih dulu. “Jangan sentuh istriku!” lantangnya. Suara itu terdengar dalam dan dingin dengan sorot matanya yang tampak begitu tajam. Sandi tercengang, ia tak percaya dengan ucapan pria gagah yang berdiri di hadapannya. Isi kepalanya terus terperas. Mencerna kalimat pendek yang diucapkan pria asing tersebut. “Wanita sialan! Kamu sudah menikah!” Sandi menoleh cepat dengan mata melotot ke arah Karina. Karina meneguk salivanya berat. Gadis itu bingung dan juga takut . Bagaimana bisa pria itu menyebutnya istri? Bahkan Karina baru saja melihatnya. Saling mengenal pun, tidak. Pikir Karina Tapi, jika dia menjawab ‘tidak’ maka ayah tirinya pasti akan kembali memaksanya dan, membawanya ke rumah bordil laknat itu lagi. Jadi, dengan sangat terpaksa. Karina mengikuti permainan pria itu. Mungkin saja ini adalah cara pria asing itu untuk menolongnya. “I-Iya, dia suamiku,” jawab Karina gugup, entah keputusannya benar atau salah. Yang ia tahu, ia ingin lepas dari Sandi yang tak waras itu. “Apa!" pekik Sandi, semakin kaget. Lalu, ia pun menyeringai, dan menatap licik pada pria asing tersebut. "Bayar dia dulu! Baru kamu bisa membawanya pergi!” ucapnya tanpa memiliki rasa malu, Sandi menengadahkan tangan, meminta uang pada pria asing itu. Pria asing itu terlihat dingin. Tidak ingin panjang lebar, dia melempar semua lembaran merah yang ia ambil dari dalam dompetnya, ke wajah Sandi. Sandi tersenyum puas. Pria paruh baya itu silau dan segera memunguti lembaran-lembaran uang yang berserakan di atas aspal yang hitam dan panas itu. “Bahkan, harga itu terlalu mahal hanya untuk membawanya,” gumam pria asing itu, yang Karina tak mendengarnya. Karena terlalu lirih, juga Karina yang fokus menatap Ayah tirinya, yang sudah beringsut pergi setelah mengutip semua uang itu. Dengan aura gelap, pria asing itu menarik tangan Karina. Kemudian, mendorong kasar tubuh Karina masuk ke dalam mobil di bagian sebelah kemudi. Kepala Karina sampai terbentur. Ingin dia menarik diri untuk keluar dari kendaraan mewah itu. Tapi, aura mengerikan pria asing itu, justru membuatnya semakin membeku. “Te-Terimakasih. Aku, tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika, Anda tidak menolongku," gugup Karina, tanpa berani memandang wajah pria asing, yang sudah duduk di sebelahnya menggenggam kemudinya, melajukan kendaraan. Pria itu diam selama perjalanan. Tapi, tangannya mencengkeram stir sangat kuat, sampai buku-buku jarinya memutih. Lalu, kakinya menginjak dalam pedal gas, yang membuat laju kendaraan tersebut sangat kencang. “A-anda mau membawaku, kemana? A—apa bisa turunkan saya di sini saja?” ucap Karina dengan tubuh yang mulai gemetaran. "Apa dia akan menculikku? Apa dia akan melecehkanku?" pikir Karina, yang tiba-tiba semua itu mulai menggerayangi otaknya. Tapi, pria itu tetap diam dan dingin dengan wajah yang memerah menahan amarah. Hingga sampailah mereka di sebuah rumah mewah dengan gaya eropa. Pagar yang menjulang tinggi, dengan patung-patung kuda di sana sini. Air mancur menghiasi taman halaman mansion tersebut. Karina hanya tercengang, dalam bingung dan ketakutannya. “I-ini rumah siapa?” tanya Karina, dengan mata yang terus melihat ke depan. Lalu memindai sekeliling. “Turun!” suara pria itu menggelegar, membuat Karina terjingkat kaget, dan menambah ketakutannya. Karena wanita di depannya hanya terdiam, pria itu menarik tangan Karina dan berjalan dengan langkah lebarnya. Tubuh Karina yang kecil dibuat kesulitan mengikuti. Hingga kakinya terseok-seok mengimbangi langkah pria tersebut. “Tuan, aku mohon biarkan aku pergi,” pinta Karina, di tengah langkah cepatnya mengikuti gerakan kaki pria asing itu. Namun, pria itu terus menyeret tangan Karina, hingga mereka sampai di tengah sebuah ruangan yang begitu luas. BUGG! Pria itu melempar tubuh Karina, hingga wanita itu tersungkur di atas lantai. "Auw!" pekik Karina, dengan wajah sangat ketakutan. Bagaimana tidak, dia lepas dari Ayah tirinya. Tapi, justru dibawa oleh pria yang tak dia kenal. Dan di perlakukan dengan sangat kasar. Dengan aura semakin gelap, pria asing itu melangkah mendekat perlahan. Wajahnya tampak buas dengan mata tajam menyeramkan. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN