Dua Wanita

1727 Kata
Menunggu waktu sore hari menjadi sesuatu yang menyiksa Kevin. Kejadian tadi tidak bisa ia lupakan begitu saja. Dia bukan orang yang mau menerima hal yang sudah ia klaim sebagai miliknya disentuh pria lain. Dan ia perlu menegaskan pada Tiara, secepatnya. Tidak boleh ada bantahan sedikitpun. Untuk itu Kevin berencana mengantarkan Jingga pulang terlebih dahulu sebelum pergi ke apartemen Tiara. Sikap Jingga yang berubah juga menjadi masalah tersendiri baginya. Dia tidak mau rencana menyakiti Mei agar wanita itu meminta cerai padanya mundur lagi. Jadi Kevin harus membereskan dua masalah sekaligus. Tiara dan Jingga. "Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku harus menemui Tiara sekarang. Lebih baik aku menyuruh Jingga menunggu sebentar agar kami bisa pulang bersama," ucap Kevin pada dirinya sendiri. Pria itu kini bersandar di kursinya, ia memutar untuk menghadap jendela kaca luas yang merajai kantornya. Matanya memperhatikan pemandangan kota Jakarta sementara pikirannya melayang pada dua wanita yang ada di hidupnya. Lama berpikir, Kevin memutuskan mengirim pesan pada Jingga. Dia memprioritaskan masalah Tiara lebih dahulu. Bayangan wanita itu bersama pria lain sangat membakarnya. To Jingga. Tunggu aku waktu pulang. Kita pulang bersama. Send... Selesai mengirim pesan pada Jingga, dia kembali mengirimkan pesan. Tapi kali ini dia tidak mengirim pesan pada Jingga melainkan pada Tiara. To My Tiara. Kita bertemu di apartemen. Send. Usai memastikan ia membuat Jingga menunggunya begitu pulang kerja, Kevin mengambil kunci mobil dan keluar ruangan. Dia sama sekali tidak memeriksa apakah Jingga membaca pesan darinya atau tidak. Baginya menemui Tiara adalah hal paling penting hari ini. ... Tiara yang memang sudah berada di apartemen mendesah melihat pesan yang muncul di ponselnya. Dia masih merasakan kesedihan atas apa yang terjadi di mall. Sikap lembut dan juga senyum yang ia berikan pada Jingga tak bisa ia lupakan. Namun Kevin justru datang setelah semua upaya yang ia lakukan untuk merayu gadis polos bersamanya. Dalam hati ia ingin sekali berteriak pada Kevin agar menghentikan semuanya. Namun rasa cintanya kembali membelenggu keberanian Tiara. Dia takut kehilangan Kevin tapi tak ingin Kevin melihat gadis lain dengan begitu istimewa, meski hanya pura - pura. Bukankah tidak ada salahnya bersikap posesif pada pria yang sudah bersamanya selama lebih dari tiga tahun. "Apa yang harus aku lakukan padamu Kevin. Aku sudah mulai tidak nyaman menjalani kehidupan seperti ini..." guman Tiara. Tiara tidak tahu tindakan apa yang harus ia lakukan. Yang ada di pikirannya saat ini hanya menyambut Kevin dengan semua sikap manis dan dandanan yang sempurna. Setengah jam berlalu, pintu apartemennya terbuka yang menandakan kemunculan dari Kevin. Dia segera mencari Tiara sambil memanggil namanya. Tak sulit bagi Kevin menemukan wanita di apartemen modern minimalis ini. "Kamu sudah datang...?" sambut Tiara. Seperti biasa, dia tampil memikat dengan pakaian tipis di tubuhnya yang tinggi semampai. Riasan mata ala smoked eyes, dan bibir penuh warna merah menggoda. Seandaianya saja yang memakainya adalah Mei mungkin saja Kevin akan muntah, tapi yang memakainya adalah Tiara, yang justru membuatnya nampak seksi. "Siapa pria tadi Tiara? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Kevin yang langsung memberondong Tiara dengan pertanyakan sebagai bukti keposesifannya. Bahkan sebelum Tiara menjawab, dia mengambil pinggang Tiara dan menghimpitnya di tembok. "Kevin, hubunganku dengannya tidak seperti hubunganmu dengan Jingga. Kami murni berteman," jawab Tiara. Dia sedikit berontak agar bisa lepas dari intimidasii Kevin. Pria itu memojokkannya ke dinding sehingga membuatnya tak nyaman dan sulit bernafas. "Aku hanya mau mengulangi apa yang aku katakan dulu Tiara. Kamu itu milikku. Ingat milikku. Tidak boleh ada yang menyentuhmu selain aku." Tiara tidak tahan dengan semua ini. "Tapi kamu menjadikanku jalanggmu. Jadi hentikan omong kosong ini Kevin." "Apa maksudmu?" Desis Kevin. Dia pria yang tak menyukai bantahan apalagi dari orang yang mampu membuatnya jatuh cinta. Tiara yang ia kenal tidak suka membantah. "Ini kenyataannya Kevin. Jika kamu mencintaiku maka kamu akan mengikatku, bukannya memperlakukan aku seperti simpana," ucap Tiara sambil berkaca - kaca. Kevin justru menatap Tiara dengan tatapan aneh. "Kamu tahu benar masalahku Tiara. Kenapa kamu berubah seperti ini!? Kamu tahu jelas aku tidak bisa berkutik selama aku belum mendapatkan nama untuk donor ginjal ibuku!" "Aku mengerti Kevin, tapi kenapa kau melibatkan Jingga. Kenapa harus ada Jingga yang terlibat dalam hidupmu." Kevin tidak percaya jika ia harus mengatakan hal ini berulang. Kenapa para wanita sangat susah untuk dibuat mengerti dan paham. Padahal Tiara adalah orang yang sangat cerdas. Kevin sama sekali tidak tahu jika kecerdasan manusia akan nampak remeh di depan cinta. "Sudah aku katakan berkali - kali jika Jingga adalah alat. Hanya itu saja... aku tidak akan jatuh cinta pada gadis kemarin sore sepertinya. Kaulah yang menempati posisi di hatiku Tiara. Kenapa kamu membuatku harus mengatakan ini berulang - ulang?" tanya Kevin. Tiara tidak bisa menahan diri akan semua emosi yang ada di dadanya pada saat Kevin mengatakan itu semua. Dia maju dan memanggut bibir Kevin. Begitu pula Kevin, ia tak akan pernah bisa didominasi oleh siapapun. Semuanya harus ia kendalikan. Begitu pula sesi panas mereka. Kevin takkan ragu mendayung perahu kenikmatan tak bertepi yang menimbuhkan desahan merdu dari sang dara. Baginya Tiara begitu sempura terlebih di ranjang. Kelembutan kulitnya, tanggapan yang ia berikan, geliatan erotis dari tubuh akibat respon pada belaian indah-- sangat sempurna di mata Kevin. Tak ada yang bisa seperti Tiara yang begitu mahir memuaskan pria. Dia adalah perwujudan sempurna bagi pria yang ingin melepaskan kepenatannya. *** Jingga hampir sampai pada akhir pekerjaannya. Lisa bahkan sudah ia suruh pulang jika pekerjaannya selesai. Tak ada gunanya menahan wanita itu di kantor sedangkan yang belum selesai adalah pekerjaannya sendiri. Dia menoleh ke arah ponsel dan melihat apa yang tertulis di sana. Yang ternyata sebuah pesan dari Kevin muncul agar menunggu dirinya sehingga bisa pulang bersama. Jingga terdiam sejenak. Pikirannya kembali melayang pada kejadian ketika ia dan Kevin berada di mall. Kemarahan Kevin jelas bukan hal yang biasa ditunjukkan oleh orang yang tak mau mengalah. Gadis yang menunduk dan kemarahan Kevin yang berlebih. Dalam hati ia sedikit curiga akan reaksi tak wajar dari keduanya. "Apa mereka saling kenal?" guman Jingga. Dari sini ia benar - benar menyadari kalau tidak benar - benar mengenal Kevin. Keputusan menarik kembali hubungannya dengan Kevin, tak sesuai dengan hatinya yang tak bisa berhenti memikirkan pria itu. Semua ini jauh dari rencananya semula. Jingga menyadari sudah terjerat pada Kevin sampai tak memiliki jalan untuk pulang. Dia pun berniat diam - diam mencari informasi tentang Kevin melalui internet. Jarinya bergerak mengetik nama Kevin Pratama yang langsung ditunjukkan oleh internet semua biografi Kevin. Jingga melihat satu persatu foto - foto hasil penelusurannya. Pria itu sejak lama memiliki wajah yang dingin dan memukau. Begitu tampan hingga tak pernah gagal menarik perhatian dari gadis - gadis di sekitarnya. Ada banyak foto yang menunjukkan bagaimana ia bisa menarik perhatian gadis walau Kevin hanya berjalan. 'Woah, kau pernah jadi cover majalah Peopl*. Aku tak heran kenapa Mei bisa begitu tergila - gila padamu.' Jingga begitu asyik mengamati foto- foto itu sampai perutnya bersuara. Barulah ia sadar jika waktu sudah sangat lama berlalu sejak jam kerja selesai. Kruyuk. Kriuk. "Oh, jam brapa sekarang? Kenapa aku sudah lapar?" Tanya Jingga pada dirinya sendiri. Dia melihat ke arah jam dinding yang menujukkan pukul tujuh. Padahal ia tadi selesai pukul lima, bahkan Lisa sudah meninggalkan ruangannya. "Kenapa kak Kevin belum datang?" Jingga merasa mungkin saja Kevin lupa atau memiliki pekerjaan yang penting dengan rekan bisnisnya. Ia pun mengemas barang - barangnya berniat untuk pergi. Setidaknya ia mencari makan lebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Tak mungkin ada pelayan yang menyediakan makan, apalagi Mei. Jingga juga sudah terlalu lelah untuk memasak. Begitu ia keluar dari lobi gedung Pra building. Jingga menuju ke arah stand yang berjajar di trotoar pinggir jalan dekat taman. Rupanya pasar malam sudah buka dan Jingga tak ragu memilih makanan untuk mengisi perutnya. Tindakan Jingga ternyata tak luput dari seseorang. Dia kebetulan jalan - jalan ke tempat ini untuk mengusir rasa bosan dari pada pergi ke club, dan tak menyangka akan bertemu gadis yang memang menarik perhatiannya. "Hei, kamu gadis yang tadi sama Kevin kan?" tanya Irvan. Jingga awalnya memasang pose waspada sebelum menyadari jika dia adalah pria yang hampir berantem dengan Kevin gara - gara kursi. "Oh, kamu yang di mall tadi ya? Bagaimana pacarmu, dia tidak ketakutan gara - gara kak Kevin yang galak tadi kan?" tanya Jingga. Pria itu mengibaskan tangannya. "Tidak, dia bukan pacarku. Aku tidak memiliki banyak teman di Indonesia jadi aku memintanya menemaniku makan siang setelah berkerja," jawab Irvan. Jingga mengangguk paham. "Ooh. Sekarang dia dimana?" Irvan mengangkat bahunya. "Mungkin saja sama pacarnya atau entahlah. Dia gadis bebas jadi dia bisa berkencan dengan siapapun yang ia mau. Mungkin juga dengan kekasihmu," goda Irvan. Jingga cemberut karena godaan Irvan, tapi sedetik kemudian keduanya tertawa bersama. Jingga baru menyadari jika Irvan orang yang ramah dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan Kevin yang dingin dan mendominasi. Irvan menatap kasihan pada gadis di depannya. Padahal apa yang ia katakan sama sekali tidak bercanda. Tapi gadis ini justru menganggapnya lelucon. Dia mengutuk Kevin yang benar - benar bajingaan sampai mempermainkan perasaan para wanita baik di sekitarnya. "Ngomong - ngomong kenapa kamu sendirian?" tanya Irvan. Dia memperhatikan burger dan cola di tangan Jingga. "Aku menunggu kak Kevin pulang kerja. Tapi sampai sekarang dia belum datang, padahal ia meminta aku menunggunya." "Oh pantas kau kelaparan. " Jingga merasa malu, tapi mengangguk. Ia memang kelaparan. Jadi memborong makanan. Tadi dia makan sosis dan roti bakar. Setelah itu dia pesan burger dan cola yang belum dia makan. Sepertinya pria ini tahu ia makan begitu banyak. "Og maafkan kekasaranku, aku Irvan. Dan kau---" "Jingga," jawab Jingga spontan. "Jingga!" Panggil bariton yang nampak marah. Tak lain pemiliknya adalah Kevin. Pria itu mendekat ke arah Jingga dan Irvan yang berdiri berhadapan. "Well, orang yang membuat orang kelaparan datang, " sindir Irvan. "Siapa kau? Jangan ikut campur," hardik Kevin. Dia tidak habis pikir kenapa pria ini berada di antara gadis - gadis yang ada dalam hidupnya. "Aku cuma mengingatkanmu agar jangan terlalu menjadi b******n. Karena aku tahu benar apa yang kau lakukan dengan Tiara sampai membuat Jingga menunggu lama," bisik Irvan. Lalu ia berlalu sambil menepuk pundak Kevin. Kevin pun sadar apa yang sudah ia lakukan pada Jingga. Dan memang ia tadi lupa diri saat berhubungan badan dengan Tiara sampai waktu terlewat begitu lama. "Jingga... aku tadi---" "Lain kali kita tidak perlu saling menunggu kak. " Jingga pun melenggang meninggalkan Kevin. Masa bodoh dengan rencananya. Tindakan Kevin jelas tidak menghargainya sama sekali. Kevin mengusap rambutnya karena tak bisa melakukan apapun untuk membujuk Jingga agar tidak marah. Kali ini dia benar - benar salah. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN