"Bagaimana ini Karen? Aku melakukannya secara tak sengaja sungguh!? Bagaimana ini? Aku tak mau dipenjara, aku tak mau" adu gadis itu kepada sahabatnya yang sedang memijit pelipisnya yang berdenyut memikirkan apa yang harus ia lakukan terhadap masalah yang dihadapi sahabatnya ini.
"Akupun tak tahu. Aku bingung harus bagaimana, pasalnya kau membunuh dua orang Lani! Dua orang! dan itu bukan hewan yang kau bunuh" balas Karen membuat gadis itu diam membeku dan kembali membayangkan apa yang telah diperbuatnya.
"Lebih baik kau diam seolah-olah kau tidak melakukan apapun. Hanya ini yang bisa kau lakukan untuk sekarang jika kau tak mau dipenjara" saran Karen "Toh tak ada yang melihatnya bukan?" lanjutnya yang langsung mendapatkan pelukan dari sahabatnya itu.
****
Kembali kemasa sekarang, Karen kembali mengingat masalah 3 tahun yang lalu dan memikirkan apakah semua kejadian ini menyangkut dengan kejadian yang ditutupi olehnya dan yang lain? Tapi dia bilang tak ada yang mengetahui kecelakaan itu selain dia dan juga korban yang kemungkinan meninggal ditempat itu.
Karen menghela nafas berat, saat memikirkan semuanya. Kini ia merasa menyesal karena sudah menutupi semuanya. Dan sekarang lihatlah akibatnya, meski ia belum yakin apakah semua ini bersangkutan dengan kecelakaan itu apa bukan? tapi kejadian ini sukses membuat Karen sakit kepala bukan main. Merasa bersalah dan juga kecemasan akan nyawanya yang sedang terancam.
Belum usai memikirkan itu, kini kepalanya berdenyut saat satu pikiran tentang rambut Min Ji yang entah harus diapakan. Jika dibakar akan banyak orang yang mencurigainya, tapi jika diberikan kepada kepolisian itu sama saja ia menyerahkan dirinya sendiri. Seperti ibarat lepas dari kandang buaya masuk kandang singa. Sama-sama rugi dan menjatuhkan.
"Apa yang harus aku lakukan pada rambut itu?" gumam Karen pada dirinya sendiri.
Hingga sebuah pesan terlihat dilayar ponselnya dari nomor yang tidak tersimpan dikontaknya.
"Temui aku ditaman bermain" –Lani
"Lani? Dia mengganti nomornya? Tapi kenapa aku tak tahu?" gumam Karen setelah membaca pesan singkat itu yang ternyata dari Lani memakai nomor barunya. Tanpa ragu sedikitpun Karen mengiyakan dan langsung mengganti bajunya untuk menemui Lani. Mungkin Lani ingin membicarakan rencana untuk kedepannya.
"Ikanpun terpancing" gumam seseorang dibalik pohon dekat rumah Karen yang ternyata bukanlah Lani tapi seseorang yang memang sudah sejak tadi mengintai keberadaan Karen untuk melancarkan aksinya malam ini.
Hari semakin sore tapi Lani masih belum menunjukkan batang hidungnya ditaman yang dijanjikan. Sudah beberapa kali Karen menghubungi Lani tapi nomornya tidak dapat dihubungi membuat Karen bersungut marah. Bahkan sumpah serapah sudah ia keluarkan sejak tadi, namun Lani masih belum menunjukan dirinya.
"Apa dia mempermainkanku? Aku sudah menunggunya lama tapi dia tak nongol juga" gerutu Karen sambil mengotak-ngatik pesannya.
Namun belum sempat ia mengirimkan pesannya, bayangan seseorang yang terpantul diponselnya membuat Karen kaget. Sebelum berteriak, Karen sudah terjatuh pingsan karena dibius oleh orang itu, orang sama yang mengirimkan pesan kepada Karen.
Dilain tempat, Lani kini tengah berusaha melepaskan ikatan yang menjerat diseluruh tubuhnya disebuah ruangan yang hanya diterangi dua lampu tamaran membuat suasana semakin mencekam. Air matanya tak berhenti karena ketakutan dan putus asa yang dirasakannya.
"Semakin kau bergerak, maka tali itu akan semakin mengerat. Bodoh" cela seseorang menghentikan tindakan Lani dan langsung mendongak untuk mencari pelaku yang sudah membuatnya seperti ini.
"Siapa kau sialan!! Lepaskan aku!!" teriak Lani namun tak mendapati jawaban. Bahkan mata Lani kini tengah mencari orang yang diteriakinya namun percuma gelapnya ruangan tak bisa menemukan pelakunya. Meskipun remang itu hanya disekitaran nya saja, selain itu hanya kegelapan.
Tak berapa lama suara pintu yang dibuka membuat Lani mengalihkan tatapannya, matanya terbelalak kaget saat orang itu melemparkan seseorang kehadapannya dengan keadaan terikat dan wajah yang penuh lebam.
"Karen!!!!!" teriak Lani saat berhasil mengenali orang yang meringkuk dihadapannya itu. Karen hanya bisa melihat Lani tanpa bisa membalasnya karena Karen merasa lemas dan sakit disekujur tubuhnya yang dipukuli dengan kayu tanpa henti oleh orang yang tak diketahuinya ketika ia pingsan dibius tadi.
"Siapa kalian bresngsek!!!!! Apa yang kalian lakukan kepada sahabatku hah!!!!" teriak Lani marah melihat kondisi Karen bahkan secara tak sadar Lani meneteskan air matanya tak sanggup melihat keadaan Karen.
Namun isakannya berhenti saat ia mendengar suara langkah yang menghampirinya. Dan lagi-lagi matanya kembali terbelalak saat melihat orang yang membuat dirinya dan Karen bisa berada disini.
"Kalian...."
"Ya... terkejut manis?? Nikmatilah dan tunggulah sebentar lagi. Kau akan merasakan hal yang lebih dari Karen dan yang lainnya. Tunggulah" ucap salah satu dari mereka dengan suara datar dan menakutkan. Lani hanya menatap mereka tak percaya. Jadi selama ini, dia membully orang yang salah? Tapi bagaimana bisa? Karen hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Apa ia akan menyusul sahabatnya yang lain? Karen salah menduga ternyata orang yang pendiam lebih menakutkan.
"aku menyesal sungguh, maafkan aku" batin Karen yang tentunya tak akan didengar oleh siapapun. Namun dugaan Karen salah, saat keduanya menatap Karen setelah mengucapkan penyesalan.
"Kau menyesal? Kenapa baru sekarang? Apa setelah kau merasakan pukulan itu kau mengingat apa yang kau lakukan padaku? Sayang sekali, penyesalan kau terlambat. Jadi nikmatilah" ejek salah satu dari mereka yang tentunya amat sangat Karen kenali. Bahkan orang yang hanya memandang tanpa membuka mulutnya dari tadi membuat Karen benar-benar berada dipenyesalan yang amat sangat.
"Kau tak bisa memutar waktu ingat itu" desisnya yang sejak tadi hanya bungkam. Dan Karen menutup matanya pasrah dengan air mata yang mengalir deras.
"Jika ini adalah imbalan yang akan ku tuai aku menerimanya, aku minta maaf" kembali Karen membatin.
****
Sedangkan Santos tengah kebingungan saat orang tua Lani dan Karen melaporkan keduanya yang menghilang sejak tadi. Hingga Santos mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari mereka saat Santos mendapatkan pesan berdarah yang mengatakan bahwa dia hanya diberi waktu 30 menit dari sekarang untuk menemukannya atau Santos akan mendapatkan hadiah yang tak akan terlupakan seumur hidupnya.
"Aku pastikan akan menangkapmu bagaimanapun caranya" gumam Santos ambisius sambil meremas surat bertinta darah itu.
Beda halnya dengan dua orang sejoli yang kini tengah menyeringai didepan kantor Santos dengan pandangan geli terpancar dari keduanya.
"Kenapa kau melakukannya sampai sejauh ini? Bagaimana kalau kita tertangkap?" tanya gadis itu yang hanya ditatap datar oleh pemuda itu.
"Tidak akan pernah" jawab sang pemuda sambil mengemudikan mobilnya.
"Aku penasaran apa yang terjadi setelah ini" batin gadis itu dengan mata yang tidak terlepas menatap pemuda disampingnya dan tak lama senyuman ganjil terlihat diwajahnya.
"Semoga berhasil" batin pemuda itu.