Dendam yang Terbalaskan

1272 Kata
Santos masih terus mencari keberadaan Karen dan Lani walau waktu yang ditargetkan tersisa sepuluh menit lagi. Namun santos belum menemukan jawaban dari teka-teki yang diberikan sipelaku. Ia menemukan kertas itu saat ia akan keluar dari kantornya teka-teki itu berbunyi. "TAraaa, ayo MAin, aku Nantikan. BERsembunyilah MAka INi adalah akhirnya. Selamat mencari" Pesan yang sampai sekarang belum Santos temukan apa maksudnya. Bahkan dia sudah mengubek daerah yang sudah ia pikirkan tapi tetap saja. Dan disinilah harapan santos. Disebuah taman bermain yang sudah tak terpakai, tapi Santospun merasa ragu saat melihat luasnya taman ini disaat waktu hanya tersisa lima menit lagi. "Ahhhhh,,, dimana kalian bersembunyi!!!!!!" teriak Santos saat kepalanya berdenyut pusing memikirkan keberadaan mereka, bahkan orang tua keduanya sudah menangis dan marah-marah padanya. "Kau dengar jeritan frustasi itu? Itu sangat merdu sekali" ejek orang itu yang tengah melihat kearah dimana banyak orang tengah mencari keberadaan mereka diantaranya yang mereka lihat adalah Santos. Sebenarnya jika Santos masuk sedikit lagi disana akan menemukan sebuah ruangan dimana mereka berada. Entah mereka yang pandai bersembunyi atau Santos yang terlalu kalut hingga ceroboh seperti ini. "Menurut mu, apa mereka akan menemukan keberadaan kita dengan akhir kita dipenjara atau lebih buruknya dihukum mati? Ros?" kembali orang itu bertanya kepada gadis disebelahnya dan memanggil namanya dengan seringaiannya. "Tidak keduanya. Mereka akan menemukan jasad mereka berdua. Aku pastikan itu" jawab gadis yang dipanggil Ros itu. Dan tak lama mereka berdua terkekeh menakutkan sedangkan Karen dan Lani kini tengah menatap punggung keduanya dengan pasrah. Karena mereka tak bisa berteriak ataupun berkutik karena ikatan dan perban dimulutnya. "Game over, Mari Ros kita akhiri semuanya. Kau mulai lebih dulu seperti biasanya" Dan tanpa banyak bicara mereka berduapun langsung menghampiri Karen dan Lani dengan pisau ditangan mereka berdua masing-masing. "Aku mulai, selamat datang dineraka" gumam Ros dengan seringaian menakutkan terus menghiasi wajah cantiknya tak seperti hari-hari biasanya. "Tapi sebelum itu aku akan membeberkan semua kesalahmu Lani. Pertama, kau bersalah" ucap Ros to the point dan menyayat lengan kanan Lani dalam hingga Lani menggeram sakit bahkan air matanya langsung turun. Darah keluar dengan deras disayatan itu, membuat Ros tersenyum puas sedangkan gadis satunya hanya tersenyum dengan tangan bersedekap menikmati pertunjukan dihadapannya. "Kedua, kau pun tetap bersalah" kembali Lani menggeram sakit saat lengan kanannya kembali disayat dalam seperti lengan kirinya. "Sakit? Itu bukanlah apa-apa dibandingkan aku dan kembaranku yang kehilangan orangtua oleh orang yang tak bertanggung jawab seperti dirimu" lanjut Ros dengan pandangan sedih dan muram saat bayangan itu kembali berputar. Sedangkan Lani dan Karen yang mendengar itu menegang karena bukan hanya mereka yang tahu tapi ada yang lainnya juga. "Tidak-tidak Ros jangan sekarang sedihnya nanti saja" ejek gadis lainnya sambil berdecak dan menghampiri mereka. "Tapi itu tak masalah, karena aku akan bayar semuanya hari ini" wajah muram dan sedih itu kini tergantikan dengan wajah yang jahat dan menakutkan. Bahkan Lani dan Karen yang melihatnya hanya pasrah. "Tunggu Ros, kenapa kau membuang pisaunya?" tanya gadis itu saat melihat pisau yang Ros pegang dibuang dan menggantikannya dengan sebongkah kayu jati yang ditemukan tak jauh dari mereka. Dan tanpa menjawab pertanyaan, Ros langsung mengayunkan kayu itu kekedua kaki Lani dengan keras membuat Lani mengejat karena sakit yang melanda kedua kakinya yang tak terkira sedangkan Karen memejamkan matanya tak sanggup melihat. "Ini untuk ibuku" bugh "Ini untuk ayahku" bugh "Ini untuk kau yang sudah membunuh kedua orang tua kami" bugh "Dan ini untuk amarah kami" bugh!! Pukulan terakhir dan paling keras mampu membuat Lani pingsan tak kuat menahan rasa sakit yang mendera kedua kakinya yang remuk dan hancur. Bahkan ruangan gelap itu kini tercium bau amis yang berasal dari tubuh Lani yang mengeluarkan darahnya, apalagi kakinya yang remuk dengan darah yang mengalir deras. "Hebat kau Ros, kini giliranku. Ternyata kau lebih ganas dari apa yang kupikirkan" pujinya sebelum ia menghampiri Karen, bahkan dia membalikan tubuh Karen menggunakan kakiknya. Wajah yang tadi bersinar geli berubah menjadi datar dan dingin. "Karen, kau ingat siapa aku? Tentu saja kau pasti akan mengingatku bukan? Lama tak berjumpa Karen temanku, ups maksudku mantan temanku, betul?" Karen hanya diam sambil menangis. Dan tanpa basa-basi lagi, dia langsung menendang Karen dibagian perut dengan sekuat tenaga membuat Karen mengernyitkan keningnya merasa sakit dan sesak. Tidak cukup sampai disitu, gadis itu langsung menusukkan pisau berkali-kali keperut Karen dengan brutal. Sedangkan Ros hanya menatap perbuatan gadis itu dengan diam. Hingga dia berhenti saat dirasa cukup, dan kini seluruh tubuhnya berlumuran darah Karen lebih mengerikan saat bibirnya menyeringai melihat tubuh Karen yang sudah rusak digenangi darah. "Kau akan mengambil apalagi kali ini?" tanya Ros yang hanya dijawab gelengan kepala dari gadis itu, "Tidak aku tak ingin mengambilnya. Dengan aku melakukan hal ini sampai darahnya habis sudah membuatku puas" jawab gadis itu dan langsung membuka ikatan tali Karen menggusur tubuh penuh darah itu hingga meninggalkan jejak darah. "Bantu aku" pinta gadis itu kepada Ros untuk memegangi kaki karen yang tengah diikat lalu diangkat menggantung jasad Karen dengan terbalik. Setelah selesai menyimpulkan, mereka berdua menatap jasad Karen dengan datar dan puas. "Itu akibat dari masalalumu dan masa sekarang" gumam keduanya dan matanya kembali beralih kearah Lani yang masih belum sadarkan diri. "Mau kau apakan dia Ros? Cepatlah kucing jantan itu mulai mencurigai tempat ini. Ah lama, biar aku saja" ucap gadis itu tak sabaran dan tanpa basa-basi dia kembali menghujamkan pisaunya kearah jantung Lani berkali-kali dan terakhir menggores dalam leher Lani. "Selesai" gumamnya dan langsung menancapkan pisau itu tepat diatas kepala Lani tanpa perasaan. Sungguh, mereka melakukannya benar-benar kejam dan sadis. Mereka seolah-olah sedang bermain boneka padahal itu adalah manusia. "Ayo kita pulang, mereka sudah mendekat. Kau sudah puas bukan?" yang dijawab anggukan Ros. Dan merekapun bergegas pergi dari sana namun sebelumnya, Ros mengambil kayu dan memukul kepala Karen hingga berdarah. Dan sekarang ruangan itu berubah menjadi ruangan berdarah karena dilantainya Darah terus bertambah. Apalagi darah Karen semakin menggenang dibawah kepalanya yang bercucurun melalui rambutnya yang terurai kebawah. Bruk!!! "AHHHHHHHH!!!!!!!!!!" jeritan yang berasal dari ibu Karen dan Lani menggema diruangan itu saat melihat kondisi anak mereka yang mengenaskan. "Karen!!!!" "Lani!!!!" Kembali teriakan itu terdengar, sedangkan Santos yang melihat itu merasa menyesal karena terlambat untuk menyelamatkan keduanya. Kenapa ia baru menemukan jawaban teka-teki itu. Kenapa tidak dari awal ia bisa memecahkan teka-teki yang menunjukan mereka berada disini dengan ejaan huruf awal disetiap kalimatnya! Mungkin jika sejak tadi dia mengerti kedua gadis malang ini masih hidup, Penyesalan memang selalu terakihr bukan? "Terlambat!! Itu hadiahnya silahkan dinikmati" santos meremas kertas itu dengan erat bahkan gemeratak giginya dan geraman amarah terdengar membuat beberapa bawahannya yang berada disekitar Santos mengkerut takut. "Aku bersumpah akan menangkap mu!!!!" kini giliran Santos yang berteriak diantara riuh tangisan dari orangtua Karen dan Lani. Bahkan ibu mereka kini terjatuh pingsan tak menerima keadaan putrinya yang berakhir seperti ini. Sedangkan kedua gadis itu yang mendengar teriakan Santos hanya diam dan kemudian menghentikan langkahnya secara bersamaan. "Game over, kami pemenangnya" "Selamat mencari dan menangkapku" Mereka berdua bergumam, dan tak lama memiringkan sedikit wajahnya melihat nyalang kebangunan itu dan seringaian keji tercipta dikedua bibir tipisnya itu. Membuat siapapun yang melihatnya bergidig ngeri, dan mereka berduapun melanjutkan langkahnya yang terhenti. "Berakhir, semuanya selesai. Tapi jangan terlalu senang, karena bisa saja korban selanjutnya adalah kamu. Siapa yang tahu pemikiran mereka berduakan?" gumam seorang pemuda yang tengah duduk diatas pohon melihat kearah dua gadis yang tengah berjalan dengan santai itu. Jangan sesekali melihat orang dari luarnya. Karena luarnya belum tentu sama dengan sifat dalamnya. Bisa saja yang ramah menjadi jahat dan begitupun sebaliknya. Ini sudah berakhir, dendam mereka sudah terbalaskan. Kini biarlah Santos dan pihak kepolisian yang lain untuk menyelesaikan semuanya. Biarkanlah Santos memikirkan bagaimana cara menangkap kedua pembunuh itu. Bahkan kalian bisa membantunya dengan memberitahukan pengetahuan kalian dari part-part sebelumnya. "Next time, You're my target" – Ros. The End.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN