Empat Belas

1654 Kata
Kadang, titik itu walau mungkin semacam noda yang membuat luka, tapi ia ikut memberi warna. Agar rasa tak jenuh dan berubah, dari yang kaku menjadi syahdu .... Sebuah rumah berdinding bata merah, dengan ukuran sekitar 6x10 meter, hanya bagian mukanya saja yang sudah terbungkus dengan adonan semen tipis bercat putih. Warna cokelat pada kosen pintu dan jendela sudah mulai usang karena terlalu sering kena panas matahari. Di bagian belakang sebelah kanan, ada bangunan tambahan dari lembaran papan yang disusun rapi. Itulah bagian rumah yang berfungsi sebagai dapur. Seseorang berdiri di tengah halaman yang ditumbuhi banyak bunga mawar. Ada yang berwarna merah, putih, kuning, pink, orange, bahkan ada yang bermotif batik, cantik sekali. Sayang, halaman itu terlihat sedikit kotor oleh daun-daun kering yang berserakan. Padahal, matahari sudah seterik ini. Namun, belum ada yang menyapu halaman rumah itu. Rumput-rumput liar juga seperti saling berebutan untuk mendapat julukan tertinggi di antara batang-batang mawar yang ujungnya menancap langsung ke tanah. Seorang gadis bertubuh mungil mengenakan kaus panjang berwarna navy dan celana jeans hitam model standar. Sepatu kets yang senada dengan warna kausnya dan tas gendong hitam yang sedikit lusuh menggantung di pundak. Dia mengarahkan pandangan ke semua sudut rumah itu, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kemudian, dia melangkah cepat menuju pintu rumah yang tertutup rapat, setelah ingat sesuatu. “Assalamu’alaikum.” Sepi, tidak ada jawaban. “Assalamu’alaikum.” Gadis muda itu mengulangi salam dan menambah volume suaranya. “Wa’alaikumsalam.” Suara laki-laki menyahut dari dalam. “Bapak?” Gadis itu menghambur ke pelukan lelaki paruh baya begitu pintu rumah terbuka. Air matanya luruh tak terbendung lagi. “Nduk?” Lelaki yang mengenakan kaus oblong putih bercelana kolor pendek warna abu-abu itu segera menyambutnya dengan pelukan penuh rindu. Diusapnya beberapa kali kepala yang berbalut kerudung hitam itu. Sementara tangan kirinya tak henti-henti mengusap punggung mungil yang sedari kecil selalu manja kepadanya. “Sudah, sudah.” Lelaki itu berusaha menenangkan anak manjanya dengan tepukan lembut di punggung gadis itu. “Ibu, mana, Pak?” Gadis itu merenggangkan pelukan. “Ibumu di kamar, ayo masuk.” Bapak mengajak Aira masuk ke dalam rumah. Kemudian, mereka menuju ke kamar yang ditunjuk oleh Bapak. Sementara tas ransel yang ada di punggung gadis itu sudah berpindah ke kursi yang ada di ruang tamu. Ruangan berukuran 3x4 meter itu hanya diterangi oleh sinar matahari yang masuk melalui satu lubang jendela yang ada di samping lemari tua. Di atas dipan kayu beralas kasur tipis, tampak seorang perempuan hampir paruh baya yang tergelak dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Selang itu terulur ke atas dan berakhir tergantung pada sebuah botol yang ujungnya dikaitkan pada tiang besi yang berdiri di samping dipan. “Pelan-pelan, Nduk. Ibumu baru bisa tidur. Dari semalam melek terus.” Bapak yang berdiri di ambang pintu kamar dengan tangan kanannya yang menahan tirai agar tetap terbuka, mengingatkan Aira dengan suara pelan. Aira yang sudah berdiri di samping dipan, menoleh ke arah Bapak, lalu mengangguk. Perlahan sekali gadis itu duduk di samping tubuh ibunya yang terbaring dengan mata terpejam. Gadis itu meringis saat dipan tua itu berderit menyambut tubuhnya yang hanya berbobot 45 kg. Perlahan, mata Ibu terbuka. Beberapa kali dia mengerjap. Dahi yang sudah mulai keriput itu mengerut, menambah jelas garis-garis gelombang yang ada di sana. Bola matanya yang kecokelatan berusaha keras menangkap bayangan yang ada di hadapannya. Pandangannya samar. Kemudian, bulir bening mengalir di sudut kelopak yang cekung, saat tampak jelas siapa sosok yang duduk di dekatnya. “Aira? Nduk?” Kedua tangan perempuan itu terulur ke arah gadis di hadapannya yang menatapnya pilu. “Ibu ....” Gadis itu membungkuk hingga keduanya bisa saling merengkuh dan menyatu dalam pelukan yang diselimuti oleh keharuan. “Kamu pulang, Nduk?” Suara itu gemetar. “Iya, Bu, Aira pulang. Maafin Aira, ya, Bu.” Ibu menggeleng, lalu tangisnya pecah. Kedua tangan yang lemah itu semakin mengeratkan pelukan ke tubuh mungil putrinya. “Enggak, Nduk, kamu enggak salah. Ibu yang salah, Ibu yang seharusnya minta maaf ke kamu, Nduk. Maafin Ibu, ya?” Suara Ibu semakin lirih dalam sesenggukannya. Aira ikut menangis sejadi-jadinya. Sementara Bapak yang dari tadi hanya menyaksikan adegan mereka sambil berdiri di ambang pintu, akhirnya ikut gerimis juga. Kemudian, perlahan dia mendekati keduanya yang masih lekat dalam pelukan. “Sudah, sudah. Nanti didengar sama tetangga, malah dikira ada apa.” Tangan Bapak menepuk-nepuk punggung Aira dengan lembut. Aira bangun sembari mengusap bulir bening yang masih terus mengaliri pipi putih bersih. Tangan Aira mengusap lembut wajah sang ibu yang masih menatap ke arahnya dengan pandangan penuh arti. Gadis itu berusaha tersenyum di antara isaknya. “Mbakmu, Nduk.” Lagi-lagi ibu tak kuasa menahan tangisnya. Wajahnya begitu pilu ingin mengadu. “Sssttt ...!” Aira menyilangkan jari telunjuknya ke bibir. Dahinya mengerut, mata ikut menyipit mengiringi kepalanya yang menggeleng pelan. “Ibu tenang aja dulu, ya, biar tensi darah Ibu enggak naik lagi.” Ibunya berusaha menahan tangis yang hendak kembali pecah. Matanya menatap lekat gadis bungsunya yang telah membuat hatinya mengharu biru. Tangannya kembali terulur ke arah gadis itu, lalu disambut oleh si gadis dengan pelukan hangat. “Sudah azan, Bu, Ibu salat dulu, ya? Tayamum aja.” Aira mengusap lembut bahu ibunya yang segera mengangguk sambil tersenyum. “Bapak mau wudu dulu, ya, nanti kita salat bareng, Bu. Aira biar membersihkan badannya dulu.” Kemudian, Bapak bergegas ke sumur untuk mengambil air wudu. Sementara Aira membantu Ibu untuk tayamum dan mengenakan mukena yang sudah tersedia di meja kecil samping dipan. *** “Berapa tekanan darahnya, Bu?” Aira berdiri di samping Bapak di depan pintu kamar, sambil mengamati Bu Bidan Watiningsih yang sedang memeriksa ibunya. “Alhamdulillah, Ra, udah mulai turun, 150/80.” Bidan Watiningsih melepaskan alat tensi dari lengan ibunya Aira. “Alhamdulillah,” ucap Aira dan Bapak hampir bersamaan. “Istirahat yang cukup, ya, Bu, jangan banyak pikiran.” Bidan Watiningsih menatap Ibu sambil tersenyum. Sementara tangannya sibuk menyimpan alat tensi ke dalam tas yang dibawa. Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi pesan Bu Bidan yang selalu dia dengar setelah Bu Bidan memeriksanya setiap hari. “Nah, gitu dong, Bu, senyum. Biar tetap semangat dan cepat sehat. Kan, anak gadisnya udah pulang?” Bu Bidan Watiningsih melirik ke arah Aira yang berdiri tak jauh darinya. Aira hanya tersenyum sambil mengangguk kepada Bu Bidan muda itu. “Ibu pengin makan apa?” Aira duduk di tepi dipan setelah mengantar Bu Bidan Watiningsih sampai ke pintu depan. “Ibu enggak pengin makan apa-apa, Nduk.” Ibu menggeleng sambil memandang Aira yang memijat kakinya. “Enggak boleh gitu, Bu. Ibu harus banyak makan biar cepat sehat.” Tangan Aira masih terus memijat kaki sang ibu. “Ibu ngomong aja kepingin apa, nanti Aira beliin. Aira masih punya uang, kok?” Aira menatap ibunya dengan tatapan bangga, bangga pada dirinya sendiri yang sekarang bisa membelikan sesuatu untuk sang ibu dengan uangnya sendiri. “Emang kamu punya uang, Nduk? Orang kerja baru kemarin, kok. Bisa pulang aja udah untung.” Ibu menatap Aira dengan tatapan ingin menggoda. “Ih, Ibu, ngejek banget sama Aira.” Aira memonyongkan bibirnya manja. “Kemarin itu, Aira kerja memang belum ada satu bulan, tapi sudah hampir satu bulan karena cuma kurang tiga hari. Alhamdulillah bos Aira orangnya baik banget, Bu. Dia juga tahu kalau Aira harus pulang karena Ibu sakit parah. Jadi, Aira tetap dapat gaji walaupun dipotong sedikit enggak apa-apa. Kakaknya Okta sama istrinya juga alhamdulillah baik banget orangnya, Aira dikasih sangu. Katanya untuk beli tiket bus. Terus, Okta juga kasih bantuan ke Aira, katanya buat beli minum di jalan.” Aira menceritakan perjalanan pulangnya dari Jambi ke Lampung dengan antusias. Ibunya hanya manggut-manggut sambil sesekali menanggapi celoteh anak gadis bungsunya itu dengan kalimat hamdalah dan senyuman. “Ya udah, Ibu pengin makan jeruk aja. Rasanya, kok, pengin yang seger-seger.” Ibu akhirnya menentukan pilihan untuk minta dibelikan jeruk oleh Aira. “Oke, Bu Bos!” Aira mengangkat tangan kanannya dan menempelkan ujung telunjuk di kening, persis seperti prajurit yang memberi hormat kepada komandan. Ibunya hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum menyaksikan tingkah Aira. Motor Astrea warna biru, sudah berusia sepuluh tahun lebih, tetapi jarang rewel. Dengan motor tua keluaran Honda itu, Aira menuju ke pasar di kecamatan untuk membeli jeruk yang diinginkan Ibu. Di pinggir jalan depan pasar itu biasanya ada banyak bakul buah yang menjual aneka macam buah-buahan segar. Sekitar sepuluh menit, Aira menghentikan motornya di depan salah satu kios buah yang jeruknya terlihat menguning dan masih segar. “Berapa sekilonya, Bu?” Aira menimang jeruk di tangannya. “Itu yang besar-besar, Nduk, lima belas ribu aja.” Ibu penjual berdiri, lalu menghampiri Aira. “Dua puluh lima dua kilo, ya, Bu?” Aira menawar sambil tersenyum kepada Ibu itu. “Belum dapet, lho, Cah Ayu. Ini jeruknya manis banget, kayak kamu. Coba aja dulu.” Ibu penjual buah itu mengeluarkan jurus andalannya, sambil bersiap membelah jeruk di tangan. “Udah, Bu, enggak usah dibuka. Ya udah, saya beli yang ini dua kilo, ya, Bu.” Aira menunjuk jeruk yang ada di tangan Ibu itu. Kantong plastik berisi jeruk yang katanya manis seperti dirinya, digantungkan pada besi bengkok yang menempel pada batangan di motor, di bawah setang bagian dalam. Aira segera memundurkan motornya yang terparkir di pinggir jalan, untuk memutarnya ke arah pulang. "Tiiin! Tiiin!" Tiba-tiba suara klakson mengagetkan Aira hingga setang motor yang digenggamnya hampir saja terlepas. Motornya sedikit miring, tetapi tubuh Aira spontan menahannya. Aira menoleh ke arah suara. Sebuah mobil Escudo warna hitam dengan bannya yang besar-besar berhenti tepat di belakangnya. Jaraknya hanya sekitar beberapa jengkal saja dari roda belakang motornya. Tangan kiri Aira masih menggenggam setang motor yang masih berdiri miring dengan bagian jok yang tersandar pada tubuhnya. Sementara tangan kanannya berkali-kali mengusap d**a yang masih berdegup kencang. Mata Aira menyipit, berusaha menembus kaca depan mobil itu untuk melihat siapa yang ada di belakang kemudi atau di sebelahnya. Akan tetapi, kaca mobil itu terlalu gelap. Hanya tampak dua bayangan orang yang sepertinya semuanya laki-laki, dan mereka menatap tajam ke arah Aira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN