"Astagfirullah! Sejak kapan, Man?" Kening Aira mengerut hingga alisnya hampir menyatu.
Kepala Aira mendadak terasa berat. Dia yang berdiri di samping meja telepon, segera menyandarkan dirinya ke dinding.
"Sudah lima hari ini," jawab Paman Zaelani dari seberang telepon.
"Terus, sekarang keadaan Ibu gimana, Man?" Aira semakin panik. Digigitnya kuku ibu jari tangan kirinya. Ish, kebiasaan buruk.
"Ibumu enggak mau dirawat di rumah sakit. Sudah dibujuk berkali-kali, tapi enggak mau juga. Jadi, sekarang diinfus di rumah. Kemarin sore Bu Bidan Watiningsih yang pasang infusnya."
Suara Paman terdengar pelan, tetapi mantap. Di seberang telepon sana, beliau
berbicara sambil mengangguk-angguk.
"Ya Allah, Ibu ...."
Aira meluruhkan tubuhnya hingga terduduk di lantai keramik putih yang terasa dingin malam itu, untung saja kabel teleponnya lumayan panjang. Kalau tidak, wah, bisa jatuh itu perangkat komunikasi jarak jauhnya. Bisa runyam urusannya sama
kakaknya Okta.
"Ra, kamu enggak apa-apa?" Mbak Mirna, kakak ipar Okta yang hendak ke dapur kebetulan melihat Aira terduduk lesu di lantai, tetapi masih sambil memegang gagang telepon.
Tadi memang Mbak Mirna juga yang mengangkat telepon dari Paman Zaelani. Paman Zaelani bilang padanya, ada kabar penting dari ibu Aira.
"Enggak apa-apa, kok, Mbak." Aira berusaha tersenyum meski terlihat sekali dipaksakan.
Mendengar masih ada suara dari seberang telepon, Mbak Mirna segera pamit. "Ya udah, dilanjut aja dulu, ya."
Mbak Mirna menyodorkan telapak tangan kanannya, memersilakan kepada Aira.
Aira hanya mengangguk pelan. Mbak Mirna berlalu setelah mengusap punggung Aira lembut, untuk memberi kekuatan kepada gadis yang sudah hampir sebulan menumpang tinggal
di rumahnya itu.
"Halo, Man." Aira melanjutkan pembicaraan dengan pamannya.
"Iya, Ra." Paman Zaelani masih menunggu Aira di seberang sana, meski matanya sesekali melihat ke arah layar monitor wartel di mana ada angka berkedip-kedip yang terus berubah menuju jumlah hampir lima belas ribu rupiah.
Mata Aira mulai mengembun, membayangkan ibunya yang terbaring lemah di rumah dengan selang infus di tangannya seperti dalam film-film telenovela di TV.
Selama hidupnya, dia belum pernah melihat langsung orang yang diinfus, apalagi di infus di rumah.
Waktu itu Pak Karto, bos kopra di kampungnya pernah diinfus gara-gara sakit jantung katanya, tetapi di rumah sakit, bukan di rumah. Setelah seminggu di rumah sakit, akhirnya Pak Karto meninggal.
Ini ibunya sudah dari kemarin diinfus, berarti? Aira mulai meracuni pikirannya sendiri dengan bayangan-bayangan yang tiba-tiba saja muncul memenuhi halaman matanya yang sipit.
Dia menutup wajahnya dengan tangan kiri. Bulir bening sudah membanjiri wajah yang bersih
itu.
"Paman, emang tekanan darah Ibu berapa?" Suara gadis itu sudah mulai serak.
Wajahnya terlihat semakin khawatir. Bahkan, tangan kanan yang memegang gagang telepon tampak gemetar.
"Tadi pagi waktu ditensi sama Bu Bidan, katanya 180/90."
"Ya Allah, tinggi banget, Man? Tapi Ibu masih sadar, 'kan?" Aira berjingkat kaget saat tiba-tiba ada tangan yang mengusap pundaknya pelan.
Ternyata Okta sudah duduk di belakangnya dengan wajah ikut khawatir melihat sahabatnya begitu panik dan tubuhnya sudah lemas.
"Terus aku mesti kayak mana, ya, Man?" Aira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalo saran Paman, sih, kalo bisa kamu pulang dulu, Ra, kasihan ibumu, bapakmu juga.
Dia harus ngurusin ibumu sendiri di rumah." Paman Zaelani memberi saran untuk Aira.
Aira diam sejenak, bingung, harus bagaimana. Eh, sendirian? Emang ke mana Mbak Fatia? Tiba-tiba ada sesuatu yang sepertinya lupa dia tanyakan.
"Paman, Bapak ngurusin Ibu sendirian? Emang, Mbak Fatia ke mana?" Aira memindah gagang telepon ke tangan kirinya.
"Mbakmu pergi kerja ke Jakarta, Ra. Udah sekitar seminggu lebih dia berangkat ikut Kang Bambang yang mengantar anaknya ke Jakarta. Katanya, majikannya butuh orang untuk mengasuh anaknya yang masih umur lima bulan."
Aira melebarkan mata. Ternyata ada banyak hal yang sudah terjadi di rumah. Padahal, belum ada sebulan aku pergi dari rumah, batinnya.
"Katanya Mbak Fatia enggak mau merantau lagi. Kok, sekarang malah pergi?" Aira bersungut.
Dia tahu, itu bukan salah pamannya, tetapi karena yang menelepon dia adalah Paman Zaelani, ya, mau enggak mau pamannya itu yang kena akibatnya.
"Enggak tahu, lah, Ra. Kata Ibu sama bapakmu, dia perginya kayak agak marah gitu. Makanya, ibumu jadi kepikiran terus, enggak bisa tidur, enggak enak makan, jadi mungkin
darahnya terus naik. Ibumu, kan, emang punya riwayat darah tinggi, to?"
Aira menatap tajam ke tembok di seberang meja telepon. Otaknya berusaha mencerna kata-kata pamannya barusan. Lalu, rasa bersalah kembali menyergap hati.
"Aira, udah ya, udah dulu, udah habis banyak ini biaya teleponnya. Nanti uang Paman enggak cukup buat bayar. Udah, ya. Assalamu'alaikum."
Aira terkesiap, dia baru ingat kalau
pamannya menelepon di wartel, dan biaya telepon antara Lampung dan Jambi mungkin cukup mahal, karena jaraknya yang cukup jauh.
"Tuuuttt ... tuuuttt ...." Suara telepon terputus.
"Waalaikumsalam." Aira tetap menjawab salam pamannya meski pamannya jelas tidak mendengarnya.
"Sabar, ya, Ra." Suara Okta membuat Aira berjingkat. Dia bahkan sampai lupa kalau dari tadi sahabatnya itu masih duduk di belakangnya.
"Eh, Ta, makasih ya." Aira mengangguk dan berusaha tersenyum pada gadis yang bertubuh mungil seperti dirinya.
"Ya udah, sekarang kita makan aja dulu, yuk?" Okta menuntun tangan Aira untuk bangun dan mengajaknya ke dapur untuk makan malam.
"Aku masih kenyang, Ta." Aira menahan langkahnya. Membuat Okta juga ikut menghentikan laju kaki.
"Kenyang apanya? Tadi siang aja kamu enggak makan nasi, 'kan? Cuma makan apa tadi itu namanya?" Okta memicingkan satu mata, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang
mendadak gatal.
Dia berusaha keras mengingat-ingat nama kue yang mereka makan sebelum berangkat kerja tadi siang.
"Putri kandis!" Okta mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aira. Dia menyebut nama salah satu makanan khas Jambi yang memiliki bentuk serupa dengan lapis legit itu.
Kue putri kandis dibuat dari campuran beberapa bahan makanan seperti telur, gula pasir, s**u, mentega, tepung terigu, vanili, dan santan. Kue ini dimasak dengan cara dipanggang lapis demi lapis sampai matang selama
kurang lebih tiga jam. Kue bercita rasa manis ini biasanya disajikan saat hari raya atau pada momen khusus.
Kebetulan, tetangga kakaknya Okta ada yang sedang bersiap untuk mengadakan resepsi pernikahan anak perempuannya. Mbak Mirna diminta untuk membantu membuat kue di sana.
Tadi siang saat pulang untuk salat Zuhur di rumah, Ibu yang punya hajat membawakan beberapa potong kue putri kandis kepada Mbak Mirna. Katanya, biar adik-adik yang ada di
rumahnya bisa ikut mencicipi kue khas Jambi itu.
"Beneran, Ra, aku beneran masih kenyang." Wajah Aira memelas, berusaha melepaskan pegangan tangan Okta. Namun, gagal.
"Aira, ibumu sakit. Kalo kamu di sini ikut sakit karena telat makan, apa kamu enggak kasihan sama Ibu-bapakmu kalau mereka tahu terus khawatir dan ibumu malah jadi tambah sakit?" Akhirnya Aira menurut kepada sahabatnya itu.
"Aku bingung, Ta. Mau pulang, aku udah enggak punya uang buat ongkos. Kalo aku enggak pulang, gimana nanti Ibu sama Bapak? Kasihan sekali mereka."
Mata Aira kembali mengembun. Tidak menunggu lama, butiran-butiran bening luruh menganak sungai tak
terbendung lagi.
Aira termangu di tepi tempat tidur. Kemudian dia menelungkupkan wajahnya di antara lututnya yang ditekuk. Atmanya luluh lantak. Bayangan Ibu, Bapak, Mbak Fatia, berputarputar mengelilingi kepalanya.
Kemudian, bayangan lain menyusul ikut mengulir dengan senyum
khasnya.
"Sabar, Ra, sabar, ya?" Okta yang tadinya sudah berbaring, bangun dan segera duduk disamping Aira untuk menguatkan sahabatnya.
***
Jangan lelah memberi arti
meski kecil dan sedikit.
Tahukah kamu
bahwa ketulusan meski sedikit
akan mampu menciptakan kekuatan yang besar.
Ketimbang banyak,
tetapi berbungkus kepalsuan
yang pada akhirnya hanya akan menyisakan kehancuran.