“Selamat, ya, Ra.” Okta mengulurkan tangannya kepada Aira yang akan berbaring di sampingnya, bersiap untuk menjelajah mimpi yang seharusnya indah.
“Ih, apa'an, sih, kamu?” Wajah Aira merona. Bukannya menyambut uluran tangan Okta, gadis itu malah menyikut lengan sahabatnya yang sudah berbaring di sampingnya.
“Cieee ... akhirnya punya pacar juga. Mesti syukuran, nih. Jangan lupa, besok kalo kamu gajian, traktir aku, ya.” Okta terus menggoda Aira yang makin tersipu. Dipandangnya wajah sahabatnya yang bermandikan bahagia. Namun, ada juga rasa lainnya di sana.
“Ye ... kerja belum ada sebulan, udah ngarep gajian, masih lama tahu!” Aira merengut. Dicubitnya lengan Okta yang kemudian membalas cubitan di pipi Aira.
“Eh, Ra. Kamu, kan, pasti lagi bahagia banget, nih, sekarang.”
“Enggak juga, biasa aja.” Aira yang kini sudah berbaring, cepat menyela ucapan Okta.
Mulut Okta terpaksa berhenti dalam posisi setengah terbuka. Dia mengubah posisi tubuhnya. Badan miring menghadap ke arah Aira, sementara tangan kanannya menyangga kepala dengan siku bertumpu pada bantal.
Aira masih bergeming, tanpa melihat ke arah gadis di sebelahnya. Pandangannya lurus ke atas, menatap plafon kamar yang berwarna putih bersih berhias lampu yang tidak terlalu terang.
“Kamu beneran biasa aja, Ra?” Dipandangnya wajah sahabat SMA-nya dengan saksama.
Aira tidak merespons. Mungkin dia masih terlalu asyik menikmati rasa bahagia. Matanya menerawang jauh. Namun, sebentar kemudian kenapa senyum di wajahnya tak terlihat lagi? Hanya ada pandangan diam di sana.
“Aira? Kok, malah bengong, sih? Lagi bayangin apa, hayo? Jangan bayangin yang enggak-enggak, lho, ya?” Okta menggoyang bahu Aira.
Aira berjingkat, lalu berusaha menguasai kesadarannya. Ditariknya kain jarik yang menutupi tubuh, kemudian kedua tangannya mendekap sebagian ujungnya. Kain jarik bermotif batik warna cokelat kombinasi kuning dan sedikit hitam itu adalah milik ibunya, sengaja dia minta waktu mau berangkat ke sini kemarin.
“Sebenarnya, aku masih bingung, Ta.” Suara Aira terdengar datar. Matanya masih menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang berukuran sekitar 3x3 meter itu.
“Bingung kenapa? Bukannya kamu udah nerima Zidan tadi?” Okta beringsut membenarkan posisinya. Lebih mendekat ke Aira. Matanya menyipit sambil menatap ke arah
gadis berambut lurus sebahu itu. Okta jadi ikut bingung.
“Apa aku enggak keterlaluan, ya?” Aira masih tidak melihat Okta. Pandangannya masih tetap lurus ke atas.
“Keterlaluan kenapa?” Okta mengerutkan dahi, semakin tidak mengerti dengan katakata Aira.
“Keterlaluan karena telah menerima Zidan.” Wajah Zidan kembali terbayang di pelupuk mata. Senyumnya yang selalu terkembang jika melihat Aira, kata-katanya yang tenang, tetapi kadang nakal, suka meledek dan menggombali Aira.
“Ya enggak, lah, Ra. Kamu, nih, aneh.” Okta melebarkan matanya ke arah Aira sambil mengeratkan pelukan pada guling.
“Tapi bisa jadi, dengan menerima Zidan, aku telah membuat kecewa, bahkan mungkin berkhianat pada seseorang, Ta.” Kalimat Aira sedikit terbata. Dia menoleh sebentar ke arah
Okta, lalu pandangannya kembali kepada plafon kamar.
“Berkhianat pada seseorang? Emang sebenernya kamu udah punya pacar?” Okta memegang lengan Aira dan sedikit menggoyangkannya.
“Belum, sih,” jawab Aira datar.
“Terus? Kamu berkhianat pada siapa? Pada pacarnya Zidan?” Aira segera menoleh ke arah Okta yang menebak asal. Wajahnya sedikit merengut, lalu dia menggeleng.
“Sembarangan. Kalo dia udah punya pacar, ngapain aku mau ama dia?” Okta meringis, merasa bersalah dengan kata-katanya tadi.
“Aku inget Mbak Fatia sama Ibu di rumah.” Suara Aira melemah. Dia bangun dari posisinya, lalu menyandarkan setengah badan mungilnya ke dinding kamar berwarna putih sedikit keabu-abuan itu. Punggungnya yang menempel di tembok tiba-tiba terasa dingin,
membuat kulitnya merinding.
“Mbak Fatia sama Ibu emang kenapa, Ra? Kok, kata-katamu enggak nyambung gitu, sih?” Okta ikut bangun dan duduk menghadap ke arah Aira.
Dia mengernyitkan dahi, semakin
tidak mengerti dengan kata-kata Aira.
Aira menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Kemudian, dia menceritakan tentang kejadian pertemuannya dengan Zidan, sikap Fatia dan ibunya terhadapnya, sampai akhirnya dia menemui Okta yang kebetulan sedang ada di rumah, untuk minta dicarikan pekerjaan di Jambi.
Okta menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, seperti Aira tadi.
“Untung aja kemarin aku pulang, ya?” Okta manggut-manggut sambil melebarkan bibirnya yang tetap terkatup. Merasa jadi pahlawan yang sudah menyelamatkan Aira dari
penderitaan.
Aira menatap Okta sambil memonyongkan bibirnya. Kemudian dia membuang pandangan ke arah lain.
“Makanya, Ta, sekarang aku, tuh, kayak ngerasa salah gitu sama Mbak Fatia, juga sama Ibu. Aku enggak bisa jaga perasaan mereka.” Aira menunduk lesu. Memandang kain jarik ibunya yang masih membalut bagian bawah tubuhnya.
“Tapi, Ra, kamu juga punya hak untuk mencintai, punya hak untuk bahagia dengan perasaanmu sendiri.” Okta memegang lengan Aira.
“Apalagi, jelas-jelas yang Mas Zidan itu suka itu kamu, bukan Mbak Fatia. Dia juga enggak bakalan mau, lah, kalo disuruh sama Mbak Fatia. Kamu sama Mbak Fatia itu, kan, kayak angka enam sama sembilan.” Aira melotot ke arah Okta yang kemudian baru menyadari
kalimat terakhirnya.
“Eh, maksudnya, seperti nilai enam sama sembilan, enam buat Mbak Fatia, sembilan buat kamu.” Okta mengacungkan enam jarinya, kemudian mengubahnya menjadi sembilan jari.
“Hus! Sembarangan aja kamu.” Aira melebarkan matanya memelototi Okta sambil mencubit lengan gadis berambut ikal yang sudah di-rebonding itu.
“Memang iya.” Okta ganti melotot ke Aira. Kemudian dia melanjutkan ucapannya.
“Intinya, kamu enggak salah. Karena kamu dan Mbak Fatia sama-sama punya hak sebagai perempuan dan anak. Meskipun alasan ibumu karena kondisi kalian yang berbeda, tapi
bukan berarti kamu enggak punya hak untuk menentukan kebahagiaanmu sendiri, Ra. Kamu berhak, dong, mencintai orang yang mencintai kamu. Selama ini kamu selalu mengalah untuk menghindari masalah, sampai-sampai kamu terbiasa enggak mikirin perasaan kamu sendiri.
Padahal, kamu berhak untuk itu.”
Okta menatap lekat sahabatnya. Gayanya sudah mirip dengan
psikolog yang sedang memberikan masukan kepada kliennya.
Aira menatap Okta lekat, seolah-olah ingin mencari pembenaran atas keputusan yang sudah diambilnya dengan merujuk kepada pendapat sahabatnya itu.
Benarkah selama ini aku yang ... apa iya, Mbak Fatia dan Ibu enggak akan gimanagimana kalau tahu aku sudah menerima Zidan? Aira bertanya-tanya sendiri dalam batinnya.
“Udah, udah malem. Kita tidur aja dulu, yuk, istirahat. Besok kita ngobrol lagi. Mimpi Zidan, ya … eh, mimpi indah, ya.” Okta mengusap lembut lengan sahabatnya yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.
***
Harusnya, yang dirasakan oleh Aira sekarang memang bunga yang bermekaran di hati dan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Perasaan baru, senyum baru yang selalu terkembang.
Harapan baru tentang bahagia yang meski masih tertunda oleh jarak dan waktu.
Baginya, merasa memiliki cinta meski masih dalam sebatas kata-kata tanpa rupa adalah sesuatu yang cukup membuat dirinya lebih berharga dan dewasa. Jadi, biarkan sekarang dia
menikmati haknya untuk merdeka merasakan cinta. Bukan begitu?
“Aira, walaupun kita baru bisa pacaran lewat telepon, tapi kamu sabar, ‘kan?” tanya Zidan dengan suara sedikit khawatir.
“Sabar apanya?” Aira pura-pura b**o. Suaranya sedikit lembut, tidak seperti biasanya yang selalu cuek dan ketus.
“Ya, sabar nunggu sampai kita bisa kencan beneran sambil memadu kasih.”
“Yeee ... enak aja! Emang apaan pake diadu segala.” Suara Aira mulai terdengar ngeselin lagi.
“Ya kasihnya, lah, yang diadu. Emang apanya? Bibirnya?” Zidan mulai genit.
“Sembarangan!” Aira melotot.
“Iya, iya. Ampun, Tuan Putri.” Zidan memang pandai banget bikin Aira terbang dan merasa seperti tuan putri.
Yah, hanya sebatas itu saja mereka saling melebur cinta dan rindu yang menyatu lewat sambungan jarak jauh.
Apalagi, sekarang Zidan juga ikut menyusul Aira pergi. Namun, bukan ke kota yang sama dengan Aira. Dia menyusul kakaknya yang ada di Jakarta. Jika dia dapat kerja di sana,
berarti dia akan tinggal lama di sana.
Entah kapan mereka akan bertemu dan benar-benar menjalin hubungan di dunia nyata. Saling mengenal lebih jauh, untuk menyelami kisah yang
mungkin akan jadi awal mula sebuah kehidupan yang baru untuk mereka berdua. Jika iya.
Selama ini, Aira mendengar cerita tentang Zidan hanya dari Ferdi. Dia belum tahu keluarga Zidan seperti apa. Akankah mereka menerima Aira?
“Zidan itu orangnya enak, kok. Pemikirannya lebih dewasa dibanding aku sama Fais. Dia juga cukup bertanggung jawab dengan janji. Meskipun, dia belum ada pekerjaan tetap.” Begitu cerita Ferdi pada Aira waktu itu.
“Dia emang pernah punya pacar dan hampir menikah.” Aira memandang Ferdi dengan tatapan yang lain.
“Tapi gagal.” Ferdi melanjutkan sebelum Aira sempat mengeluarkan pertanyaan.
“Kenapa, Mas?” Sekarang Aira benar-benar ingin mendapat jawaban.
“Katanya, sih, pacarnya itu ternyata udah dijodohin sama lelaki pilihan orang tuanya.” Ferdi menyentilkan batu kecil yang dipegang ke udara.
“Terus?” tanya Aira tidak sabar.
“Ya udah, putus. Pacarnya nikah sama pilihan orang tuanya.” Ferdi menatap sekilas ke arah Aira yang duduk di sampingnya.
“Kenapa pacarnya lebih milih pilihan orang tuanya?” Ferdi menggeleng, lalu mengangkat pundaknya sebentar.
“Kapan, Mas?”
“Apanya? Nikahnya?” Ferdi menoleh ke arah Aira yang masih menunggu jawaban darinya.
“Ya, kejadiannya?” Telunjuk Aira menunjuk ke sembarang arah.
“Udah lama. Sekitar tiga tahun yang lalu apa, ya?” Mata Ferdi menyipit. Dia berusaha mengingat dan akhirnya hanya bisa mengira-ngira.
“Oh ....” Mulut Aira membulat membentuk huruf O.
“Bulet.” Ferdi menjawab asal kata-kata Aira.
***
Bergumul dalam rindu
sekalian pilu
tanpa temu
Merangkai kata cinta
yang masih berselimut, malu-malu
Meski jarak dan waktu mencibir
Biarkan saja
esok, dia akan menyerah
pada sebuah rencana
yang kita jelang
Jika mungkin.