Paman Zaelani menatap lekat ke mata pemuda itu. Kemudian, meraba setiap lekuk wajahnya dengan saksama menggunakan pandangan. Bola mata yang kecokelatan menyapu sosok pemuda yang duduk di depannya.
Dimulai dari rambut, mata, hidung, bibir, dagu, lalu ke bahu, terus turun sampai ke bagian bawah tubuh Zidan yang hanya kelihatan sebatas lutut karena terpotong oleh garis meja
yang menjadi penghalang keduanya.
Semua bagian tubuh pemuda itu yang tampak olehnya, tidak ada sejengkal pun yang luput dari jelajah bola matanya.
Zidan yang sadar sedang diawasi, tidak berkutik di kursi pesakitan. Hanya bola matanya saja yang bergerak ke kanan, kiri, atas, bawah, mengikuti bola mata Paman Zaelani. Kemudian, dua bola itu sama-sama berhenti dan beradu di satu titik, membuat Zidan segera menundukkan pandangan.
Ferdi mencium gelagat kurang menyenangkan dari Paman Zaelani. Dia menyikut lengan Zidan, memberikan kode agar temannya itu waspada. Mereka berdua saling lirik, lalu sama-sama menatap lelaki hampir paruh baya yang duduk di depan mereka yang ternyata juga sedang menatap ke arah mereka. Ferdi dan Zidan segera menunduk.
“Jadi, kamu yang namanya Zidan?” Kepala yang mulai ditumbuhi satu-dua uban itu manggut-manggut. Sementara dua sudut bibirnya ditarik ke bawah.
“Iya, Paman, saya Zidan.” Zidan mengangguk sampai bahunya sedikit membungkuk. Dia juga melebarkan senyum dengan sengaja.
“Kamu Ferdi, ‘kan?” Tatapan Paman Zaelani beralih ke Ferdi yang masih menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.
“Iya, Paman. Saya Ferdi, anak Pak Jamal, tetangga Aira.” Ferdi juga membungkukkan badan seperti yang dilakukan oleh Zidan tadi.
“Iya, saya tahu.” Paman Zelani manggut-manggut. Tangan kirinya mengusap dagu yang ditumbuhi hanya beberapa jenggot sepanjang kira-kira dua senti.
“Jadi, maksud kalian ke sini mau apa?” Manik Paman Zaelani sedikit melebar hingga dahinya terlihat berkerut ke atas. Matanya masih terus memandang ke arah dua pemuda yang ada di hadapannya secara bergantian.
“Gini, Paman ....” Ferdi bermaksud menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah Paman Zaelani, tetapi Zidan segera menyela.
“Saya mau tanya soal Aira, Paman. Kemarin, kan, Paman yang menjemput Aira dari rumahnya, jadi saya rasa Paman pasti tahu Aira mau kerja ke mana. Makanya kami sengaja
datang ke sini untuk menanyakannya kepada Paman.” Zidan menatap Paman Zaelani penuh harap. Sementara Paman Zaelani hanya tersenyum sambil manggut-manggut melihat tingkah Zidan.
“Ya, ya. Aira sudah cerita ke saya, juga ke bibinya.” Sekarang Paman Zaelani mengerti maksud kedatangan kedua pemuda itu. Lelaki yang mengenakan kaus oblong tipis berwarna putih itu kembali tersenyum seraya menggeleng-geleng.
“Dasar! Anak Muda.” Paman Zaelani bergumam, yang ternyata didengar oleh Zidan juga Ferdi yang kemudian saling berpandangan dan sama-sama mengernyitkan dahi.
“Maksud, Paman?” tanya Ferdi yang juga mewakili isi benak Zidan.
“Hemmm ....” Paman Zaelani kembali menggeleng sambil tersenyum dan berdecak pelan. Kemudian, laki-laki melanjutkan kalimatnya.
“Memangnya, kamu sudah punya kewajiban apa terhadap Aira?” Zidan tergagap. Kemudian, menengok ke arah Ferdi yang justru cengar-cengir memamerkan gigi depannya
yang besar-besar. Kedua pundaknya diangkat sejenak, kemudian dijatuhkan lagi, lemas.
Zidan mengalihkan pandangan ke arah kakinya yang mengenakan sandal jepit swallow berwarna putih dan biru. Bola matanya berputar mencari ide ke segala arah yang bisa dijangkau
oleh pandangan.
Kemudian, bahunya meluruh, pertanda dia gagal mendapatkan jurus jitu untuk mengalahkan Pamannya Aira.
Akhirnya, Zidan mengalah untuk jujur. “Kami memang belum ada hubungan yang serius, Paman.” Suara Zidan melemah.
“Terus? Kenapa sekarang kamu ke sini?” Paman Zaelani semakin menikmati kebingungan yang diderita oleh pemuda di hadapannya.
Zidan semakin gagu. Sementara Ferdi tak bisa menyumbang kata-kata untuk membantu sahabatnya. Mereka terdiam, kalah.
Paman Zaelani tertawa menang. Dia sampai terkekeh, dan lagi-lagi sambil menggeleng-geleng.
“Tapi ... saya berniat serius sama Aira, Paman.” Akhirnya kalimat nekat itu yang keluar dari mulut Zidan.
Mata Ferdi melotot ke arah Zidan sambil menyikut lengan Zidan untuk kedua kalinya.
“Kamu, udah gila, ya!” seru Ferdi berbisik. Dia mendekatkan wajah ke telinga Zidan. Suaranya terdengar sengaja ditekan.
Benar saja, dia memang berucap tanpa membuka rahang. Saking geregetnya pada Zidan.
“Konyol!” Gerutu Ferdi lirih yang hanya dibalas dengan lirikan oleh Zidan.
“Berapa umur kamu sekarang?” Pertanyaan Paman Zaelani mengalihkan perhatian mereka kembali ke sosok tenang yang duduk di hadapan.
“Dua puluh tujuh tahun, Paman.” Zidan menatap lelaki itu. Paman Zaelani manggut-manggut menanggapi. Kemudian, untuk beberapa saat lamanya, mereka saling diam, berbicara dengan pikiran masing-masing.
Dari pintu yang menuju ke ruang tengah, muncul istri Paman Zelani dengan nampan berisi tiga gelas teh hangat dan sebuah piring di tangan. Ternyata ada pisang goreng
juga. Diletakkannya gelas itu di depan suaminya, Zidan, dan satu lagi di depan Ferdi.
Sementara, mereka semua diam. Bola mata mereka bergerak ke sana-sini, mengikuti gerakan tangan istri Paman Zaelani hingga selesai mengerjakan semuanya.
Kemudian, perempuan berusia sekitar empat puluh tahun itu meletakkan nampan yang sudah kosong di bawah meja, lalu duduk di samping Paman Zaelani.
“Ayo, silakan diminum tehnya, Nak Ferdi dan ....” Dia menggantung kalimatnya. Matanya memandang ke arah Zidan yang juga memandang ke arahnya, lalu membungkukkan badan sambil tersenyum.
“Zidan, Bi. Saya Zidan.” Zidan menyambung kalimat istri Paman Zaenal yang sepertinya hanya pura-pura saja kalau belum tahu siapa pemuda itu.
“O ... jadi ini yang namanya Zidan?” Mulut perempuan itu membulat membentuk huruf O besar. Sementara, kepala yang berbalut kerudung cokleat langsungan itu manggut-manggut.
Gayanya tidak jauh dari sang suami.
“Ayo, ayo, silakan.” Bibi mengulurkan telapak tangan kanan sambil tersenyum ramah, mempersilakan kepada Ferdi dan Zidan untuk mencicipi teh dan pisang goreng yang masih hangat itu.
“Ayo, silakan.” Paman Zaelani juga ikut mempersilakan mereka berdua dengan gerakan tangan.
Ternyata enggak seserem kelihatannya. Zidan membatin hal yang sama dengan Ferdi.
Paman Zaelani mengawali mengambil gelasnya dan menyeruput teh hangat dengan aroma yang khas. Ferdi dan Zidan menyusulnya dengan menyeruput teh mereka.
Kemudian, mereka bertiga meletakkan kembali gelas ke piring kecil hampir bersamaan.
Paman mengambil satu pisang goreng dari piring putih berhias gambar bunga di tepinya. Ferdi dan Zidan juga ikut menikmati pisang goreng yang dibalut tepung dengan warna kekuningan itu. Aromanya memang sangat menggoda.
“Ini Zidan yang waktu itu diceritakan Aira ke kita, Bu.” Paman mengawali kembali pembicaraan mereka.
Tangannya menunjuk ke arah Zidan yang mengangguk sambil tersenyum
kepada Bibi. Perempuan yang dipanggil Bibi itu juga membalas anggukan Zidan sambil tersenyum ramah.
“Dia ke sini mau tanya soal Aira, pengen tahu Aira kerja di mana.” Paman Zaelani menatap perempuan yang manggut-manggut di sampingnya.
“Kalo soal Aira kerja di mana, kami juga sebenarnya enggak tahu, Dik Zidan. Dia cuma bilang mau kerja di Jambi." Istri Paman Zaelani menatap Zidan yang serius mendengarkan dia bicara.
Kata-kata bibi Aira itu membuat Zidan dan Ferdi sedikit kaget. Mereka melongo dan saling pandang.
“Kemarin, pamannya cuma mengantar sampai ke loket bus yang akan dinaiki. Katanya, nanti ada temennya si--siapa, ya, kemarin? Okta, iya, Okta, si Okta itu yang akan menjemputnya di loket kalau dia sudah sampai di sana.”
Istri Paman Zaelani mengacungkanacungkan telunjuk sambil menyipitkan mata, berusaha mengingat-ingat.
“Apa, Bibi enggak dikasih tahu alamat yang akan dituju sama Aira, Bi?” Zidan menautkan kedua tangan sambil menatap saksama ke arah Bibi.
“Enggak.” Jawaban Bibi membuat Zidan kembali meluruhkan pundak. Kecewa dan nyaris putus asa.
“Tapi Aira ninggalin nomor telepon yang kemungkinan bisa dihubungi.”
Zidan berjingkat mendengar kalimat Bibi. Dia seperti mendapat pertolongan di saat yang tepat, saat dirinya hampir mati tenggelam.
Pemuda itu kebingungan mencari di mana keberadaan gadis kecilnya, nomor telepon yang mungkin bisa dihubungi terasa seperti napas buatan yang mampu membuatnya hidup kembali.
***
Banyak senja terlewati tanpamu
setelah waktu itu
kau berdiri membelakangiku
tanpa kata
dan berlalu pergi
hingga kini.