Sembilan

1391 Kata
“Aira pamit, ya, Pak.” Aira menyalami dan memeluk bapaknya yang berdiri di samping pintu untuk melepas kepergiannya. “Ingat, jangan pernah tinggalkan salat. Baca Qur'an juga jangan lupa.” Pesan penting Bapak terucap seiring belaian tangannya di kepala Aira yang berbalut kerudung hitam. “Iya, Pak, Aira akan selalu ingat sama pesan Bapak.” Aira tersenyum sambil mengusapusap punggung bapaknya. Bapak mengeratkan pelukan sebelum kemudian melepasnya dengan berat. Diusapnya kepala Aira untuk kesekian kali. “Hati-hati, ya, Nduk. Jaga dirimu baik-baik.” Ibu mengusap lengan Aira lembut. Ada rasa khawatir yang tidak bisa ditutupi. “Sebenarnya, kamu enggak harus pergi, Nduk.” Ibu memeluk erat putri bungsunya yang ayu itu. “Aira pengin cari pengalaman, Bu. Bosen lama-lama di rumah.” Aira menyambut pelukan ibunya. “Maafkan Ibu, ya, Nduk. doakan mbakmu biar cepet dapet jodoh.” Kalimat itu, kenapa terasa seperti menyayat di hati Aira? Adakah hubungannya dengan kepergiannya? Namun, semoga saja apa yang menjadi ketakutan Aira adalah ketakutan tak berdasar. Bukan ketakutan yang sebenarnya perlu ditakutkan, karena tidak mungkin akan terjadi. Aira berdoa dalam hatinya, saat bayangan wajah Zidan melintas di pelupuk mata, menyusul kalimat Ibu barusan. “Iya, Bu. Aira doakan, semoga Mbak cepet dapet jodoh yang terbaik.” Mata Aira mengembun, membuat pandangannya sedikit buram. Senyumnya terkulum, rasanya pahit. Entah mengapa, seperti ada rasa khawatir yang bergelayut dalam pikirannya. Dia sayang sekali dengan kakaknya, Bapak, dan Ibu. Akan tetapi, dia sendiri tidak terlalu yakin bahwa yang membuatnya pergi hanya rasa ingin mencari pengalaman saja. “Jaga kesehatan dan semoga kamu betah di sana, ya.” Giliran Fatia yang memberikan pelukan untuk Aira, adik semata wayangnya. “Kami di sini hanya bisa mendoakan kamu. Semoga kamu berhasil di sana.” Fatia memegang pundak adiknya dengan kedua tangan. “Ayo, Ra, nanti keburu busnya jalan.” Suara Paman Zaelani membuat Fatia segera melepaskan pegangannya dari lengan Aira. “Iya, Man.” Aira mengambil tas pakaian yang tidak seberapa besar. Tidak ada baju yang bisa dibawa, karena semua bajunya adalah biasa saja. Rata-rata hanya pantas untuk dipakai di rumah atau sekadar keluar rumah yang tidak terlalu jauh seperti sekarang. “Pamit, ya, Mas, Mbak, Fatia.” Lelaki yang bernama Zaelani--adik dari bapaknya Aira--membantu membawakan tas Aira ke motornya. “Assalamu’alaikum.” Ucapan salam Aira dijawab serempak oleh Bapak, Ibu, dan Fatia. Mereka melepas kepergian Aira dengan air mata karena baru kali ini Aira pergi merantau. *** “Yah, telat, deh. Pacarmu udah pergi kemarin.” Ferdi langsung menyambut Zidan dengan berita tak enak. Zidan yang baru mau mengucap salam hendak masuk ke rumah Ferdi, menghentikan langkah di depan pintu. Dia langsung menoleh ke arah rumah Aira. “Yang bener aja kamu?” Wajah Zidan seketika berubah panik. Dia berharap Ferdi hanya meledeknya seperti biasa. Akan tetapi, kenapa kali ini wajahnya begitu serius? “Beneran, lah. Ngapain juga aku bohong? Apa untungnya coba?” Ferdi melebarkan mata, kemudian dia berjalan menuju kursi kecil di teras dan menghempaskan tubuhnya di sana. “Kapan?” Zidan menatap tajam ke arah Ferdi. “Baru kemarin pagi.” Ferdi yang merasa mendapat intimidasi dari Zidan, menjawab tegas untuk meyakinkan pemuda itu bahwa dia bukan seorang terdakwa yang mengada-ada. Zidan yang masih berdiri di depan pintu dan menghadap ke arah Ferdi, menatap serius pemuda itu, meminta kepastian atas kebenaran ucapannya. “Kalo enggak percaya, datang aja ke rumahnya. Tanya sendiri sama bapak-ibunya. Berani, enggak, ke rumahnya?” Ferdi seperti sengaja menyalakan kompor. Mau bikin mi instan kali dia. Tanpa bicara lagi, Zidan segera melangkah pergi meninggalkan Ferdi yang sengaja menyilangkan kaki kanannya seperti bos yang sedang duduk di kursi kebesaran. “Wooii! Mau ke mana lo? Ikut.” Ferdi kaget melihat Zidan yang berjalan cepat ke arah rumah Aira. Dia lalu bangkit dan berlari mengejar Zidan yang hampir melewati lahan milik bapaknya yang membatasi rumahnya dengan rumah Aira. “Mau ngapain lo? Mau nyulik Aira? Telat!” Ferdi berusaha menyusul langkah Zidan yang panjang. Zidan yang jangkung semakin menyulitkan Ferdi untuk melampaui sahabatnya itu. “Diem, lo.” Zidan menyela tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Dia hanya menoleh sedikit ke arah Ferdi yang masih membuntuti dengan napas sedikit tersengal. “Assalamu’alaikum.” Tangan Zidan mengetuk beberapa kali pintu rumah yang tertutup rapat. Jantungnya berdegup kencang. Matanya menyapu sekitar, berharap ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Ferdi yang ada di sampingnya, mengintip ke dalam melalui kaca jendela yang berwarna hitam. “Wa’alaikumsalam.” Terdengar jawaban dari dalam rumah yang diikuti oleh gagang pintu yang berputar ke bawah, kemudian daun pintu itu pun terbuka. Seorang gadis berambut keriting muncul dari balik pintu, kemudian matanya melebar seperti tak percaya, diiringi dengan senyum yang mengembang dan diusahakan paling manis. “Mas Zidan? Tumben lewat pintu? Eh, eee ... silakan masuk.” Fatia gugup setengah mati. Jantungnya dangdutan seperti radio yang volumenya rusak. Sementara senyumnya merekah, bak jamur di musim hujan. Eh, bunga mawar yang kehujanan. “Oh, iya, Mbak. makasih.” Zidan dan Ferdi masuk ke dalam ruang tamu yang berukuran sekitar 3x4 meter itu. Satu set kursi kayu tanpa ukiran, beralaskan busa tipis berbalut kain warna cokelat yang mulai usang menghiasi ruangan itu. Mereka segera duduk dan sejenak saling pandang sebelum ada yang mulai berbicara. “Aira ada, Mbak?” Fatia yang duduk tepat di depan Zidan, langsung mengubah air mukanya. Ada rasa kecewa yang terlihat jelas di sana. Ternyata dia nekat ke sini karena mau cari Aira, to? Fatia membatin sambil tersenyum kecut. “Oh, eee ... Aira? Aira, kan, udah pergi.” Fatia berusaha menyembunyikan kecewa pada seutas senyum yang dia kembangkan di wajahnya. Tangan kanannya membenarkan kerudung merah hati yang sebenarnya sudah lurus bertengger di atas kepala sedari tadi. “Emang dia pergi ke mana, Mbak?” Zidan melebarkan mata dan sedikit memajukan wajahnya ke Fatia. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ada rasa takut yang menguasai hati, takut akan banyak hal yang membuat dia tidak lagi bisa bertemu dengan Aira, apalagi memilikinya. “Emangnya kenapa?” Fatia melengos. Zidan dan Ferdi sejenak saling pandang, samasama bisa menangkap sinyal kurang enak dari gadis yang sudah lumayan dewasa yang duduk di hadapan mereka. “Enggak apa-apa, kok, Mbak. Kirain Aira masih di rumah. Ya udah, Mbak, kami pamit.” Ferdi buru-buru menarik lengan Zidan yang masih mau duduk di sana. Bukan untuk menikmati wajah Fatia, karena jelas berbeda rasanya dengan wajah Aira. Akan tetapi, dia merasa belum mendapatkan informasi yang bisa mempertemukannya dengan Aira. Sembarangan! Seenaknya aja dia menggantung aku kayak gini. Emang aku apaan? Jemuran? Zidan mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Harusnya dia mengutuk Aira yang pergi meninggalkan dia begitu saja, tetapi mana tega mengutuk gadis kecil kesayangannya itu? Zidan dan Ferdi melangkah keluar dari rumah Aira diikuti oleh Fatia yang mengantar sampai ke depan pintu. “Assalamu’alaikum.” Kali ini Ferdi yang mengucap salam untuk pamit karena Zidan sudah tidak ingat lagi dengan salamnya. Dia terus mengacak rambutnya yang sedikit gondrong itu sambil berdecak kesal. “Eh, bentar.” Tiba-tiba Ferdi menghentikan langkah, lalu tangannya menarik lengan Zidan. Zidan yang berjalan lesu di sampingnya ikut menghentikan langkah dan menatap lekat ke arah sahabatnya. “Apaan?” Zidan mengerutkan dahi. “Kemarin aku lihat Aira dibonceng sama Paman Zaelani, adik bapaknya Aira.” Ferdi mengangkat telunjuk ke atas, memberikan isyarat kepada Zidan bahwa dia baru saja mengingat sesuatu. “Kamu tahu rumahnya, ‘kan?” Pertanyaan Zidan dibalas dengan anggukan oleh Ferdi. Mereka bergegas ke halaman rumah Ferdi. Sebelum langkah mereka semakin dekat dengan motor Zidan yang terparkir, tangan pemuda itu sudah merogoh ke saku celananya untuk mengambil kontak motor untuk menyingkat waktu. Akhirnya, mereka melaju membelah jalanan, menuju rumah Paman Zaelani, berusaha mencari informasi tentang keberadaan Aira. “Kira-kira, pamannya Aira bakal berpihak ke siapa, ya?” Zidan menoleh sedikit ke belakang agar suaranya bisa didengar oleh Ferdi di sela-sela suara angin yang ikut mengantar mereka. Kebetulan jalanan sepi, seperti hati Zidan yang dirundung hampa akibat kehilangan gadis kecilnya. “Kita lihat aja nanti.” Terlihat dari kaca spion, Ferdi mengangkat kedua bahunya pertanda tak bisa memberikan jawaban pasti. *** Aku meminjam lagu untuk menyapamu atas nama rindu Membelenggu malu demi hasrat untuk sekadar bertemu Berpura-pura berharap sembari meminang waktu agar tak lagi disiksa jemu dalam ruang tunggu Berkisah laranya sepi pada sang bayu. Memelas pada takdir yang tak mau lagi ikut campur dengan urusanku Terpaksa aku berbisik licik demi mengurai segenggam igauan yang mengurung langkah dan menjebakku dalam lingkar dakwaan sebagai pemburu yang halu Alamaaak, matilah aku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN