Lima

1485 Kata
“Aira? Kamu, kalian kenal?” Fatia bingung, bola matanya melebar. Jari telunjuknya menuding bergantian ke arah Aira dan Zidan. “Ah, udahlah. Ayo, kita pulang!” Tangan Aira menarik lengan kakaknya, lalu melangkah meninggalkan Zidan. “Mas, duluan, ya?” Fatia mengangguk sambil tersenyum kepada Zidan. Terpaksa dia mengikuti Aira karena tangannya yang terus ditarik oleh adiknya itu. “Aira, tunggu!” Zidan mengurungkan niatnya untuk mengejar Aira. Dia mendengus kesal, karena justru Fatia yang sesekali menoleh ke arahnya. Lagi-lagi perempuan itu mengangguk sambil tersenyum layaknya orang pamit. “Huuhhh ...!” Zidan membuang napas kuat. Kakinya menendang sembarangan. “Apa-apaan, sih, kamu, Ra?” Fatia menghempaskan tangannya dengan kuat. Lengannya pun terlepas dari pegangan Aira. “Apa-apaan kenapa?” Aira mengerutkan dahinya sambil cemberut. “Kenapa, kenapa? Ngapain kamu narik-narik tanganku kayak gini? Emang aku anak kecil apa? Malu-maluin aku aja.” Mata Fatia mendelik lalu dia membuang muka sambil cemberut. “Iya, maaf, maaf, enggak sengaja.” Aira mengatupkan kedua telapak tangannya di depan d**a sambil cengar-cengir. Dia baru saja menyadari kalau ternyata sudah berhasil mengintimidasi kakaknya yang super judes binti galak campur cerewet itu. “Enggak sengaja, enggak sengaja, mana mungkin? Ngaco kamu! Huh!” Mata Fatia melotot seperti mau keluar. Dua tangannya yang mengepal diacungkan kepada Aira sambil menyeringai memperlihatkan gigi bawah dan atas yang menyatu hingga mengeluarkan suara gemeletuk. “Eh.” Aira cengar-cengir sambil garuk-garuk kepalanya yang mendadak gatal. “Oh, iya, di mana kamu kenal sama ... siapa itu tadi namanya?” Kening Fatia mengerut sampai matanya hampir terpejam. Sementara jari telunjuknya berkali-kali menyentuh keningnya. “Zidan.” Aira menjawab ketus. Bola matanya berputar malas. Untung saja ini malam hari, kalau ini siang, kakaknya pasti mendelik ketika tahu ekspresi Aira yang bikin kesal. “Iya, Zidan.” Fatia mengacungkan telunjuknya ke atas. “Aku enggak kenal dia, kok, cuma tahu namanya aja.” Aira membuang muka lalu kakinya melangkah cepat meninggalkan Fatia. “Eh, Aria, tunggu! Kok, malah kabur, sih? Dasar, Anak Kurang Ajar!” Setengah berlari Fatia mengejar Aria yang berjalan cepat sekali. *** Entah sejak kapan Aira jadi lebih semangat untuk menyiram bunga dan menyapu halaman. Sambil membawa sapu lidi dan ember yang berisi air, mata Aira menyapu sekeliling. Bola matanya berhenti di satu titik, tepat di mana kemarin Zidan berdiri. Eh, apa-apaan, sih? batin Aira mengomel, lalu mata gadis itu bekerjap-kerjap sambil menggeleng cepat. “Ngawur aja.” Aira bergumam sambil menampar pelan pipinya sendiri. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya. Pagi ini, bunga mawar di halaman rumahnya tak berbau wangi. Bahkan, warnanya hampir berubah menjadi hitam. Apa karena hati Aira yang tiba-tiba terasa mendung tanpa sebuah senyum yang datang seperti kemarin? Aira melangkah lesu hendak masuk ke dalam rumahnya setelah meletakkan sapu dan serok s****h di samping rumah. “Aira!” Sebuah suara menghentikan langkahnya. Sebelum menoleh ke arah suara itu, dia berharap ada seseorang yang diam-diam dinantikan di sana. “Eh, Mas Ferdi to? Kirain siapa?” Lelaki yang bernama Ferdi itu tersenyum geli. Rupanya dia menangkap rasa kecewa yang melintas di wajah gadis cantik yang ada di hadapannya itu, lantaran yang muncul ternyata dia. “Emang kirain siapa? Lagi nunggu seseorang? Cieee ... pagi-pagi udah ada yang janjian, nih.” Tangan Ferdi hendak menggamit lengan Aira, tetapi Aira keburu menghindar. “Yeee ... siapa juga yang janjian?” Aira memonyongkan bibirnya sambil pura-pura cemberut. “Tapi, kok, kayak kecewa gitu, waktu nengok tadi?” Ferdi menaikkan dahinya sembari menarik kedua ujung bibirnya ke belakang. “Ih, enak aja, siapa yang kecewa?” Aira yang merasa diledek, memukulkan sapu lidinya ke arah Ferdi, tetapi tangan Ferdi segera menangkisnya. “Kalo enggak kecewa, berarti seneng dong di panggil sama aku?” Ferdi menaikkan alisnya genit. “Mas Ferdi, nih, apa-apaan, sih? Udah buruan, mau ngapain?” Aira mengerutkan dahinya. “Dapet salam kamu, Ra.” Ferdi memajukan wajahnya. “Salam? Dari siapa?” Aira melebarkan matanya hingga dahinya mengerut ke atas. “Zidan.” Ferdi menatap lekat wajah Aira, menunggu dan mecari tahu reaksi seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. “Zidan?” Aira berlagak b**o untuk berusaha menutupi rasa kagetnya. Padahal, jantungnya berdegup kencang tidak beraturan. Dia ingin lompat setinggi-tingginya sambil melempar sapu dan serok s****h ke atas, seperti orang yang habis upacara dan merayakan wisuda. Namun, keinginannya itu harus bisa ditahannya. Kalau tidak, bisa-bisa kepalanya sendiri yang benjol karena kejatuhan sapu dan serok s****h yang terbuat dari seng dan bergagang kayu itu. Akan tetapi, semua rasa senang dan bahagia itu dia simpan dan ditutupinya rapat-rapat dalam hati. Cukup dia saja yang tahu. Orang lain, tidak boleh! Meskipun ada semacam harapan, karena ternyata rasa yang dia miliki tidak berkelana sendiri, ada yang menanti untuk menyambutnya meskipun mereka belum bertemu dan saling menyapa dalam sebuah kisah. “Iya, Zidan. Cowok yang kemarin nyamperin kamu di sini.” Mata Ferdi masih menyelidik ke wajah Aira. “Mas Ferdi kenal dia?” Dahi Aira mengerut, matanya serius menatap ke arah Ferdi, tepatnya berharap berita lebih tentang Zidan. “Ya kenal, lah, orang dia temanku, kok?” Ferdi tertawa ngakak. “Emang dia orang mana? Terus orangnya kayak mana, sih, Mas?” Aira memberanikan diri untuk bertanya. Sebenarnya bukan takut, tetapi malu. Malu, kalau-kalau Mas Ferdi sampai menilai Aira sebagai gadis yang tidak punya malu dan tidak punya harga diri karena menanyakan lebih dahulu tentang seorang laki-laki. “Ya kayak orang, lah, emang kayak apa?” Ferdi melebarkan mata hingga dahinya mengerut ke atas, lalu tertawa lucu menyaksikan wajah Aira yang sangat serius dengan pertanyaannya. “Orang kaya bukan?” Aira ikut mengernyitkan dahi, hingga mata sipitnya sedikit bertambah lebar. Cuma tambah lebar sedikit saja, sih. Kemudian Aira segera mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah menyadari kalimatnya sendiri. “Emang harus orang kaya, ya?” Ferdi menatap tajam mata Aira. “Justru aku takut sama orang kaya.” Gadis cantik itu menunduk. Tiba-tiba dia merasa rendah diri dan sakit. Kenangan pahit itu terbayang lagi di pelupuk matanya. Aira membuang jauh pandangannya ke lahan milik bapaknya Ferdi yang dipenuhi tanaman pohon singkong setinggi lutut orang dewasa. Dia ingin kejadian yang menghinakan dirinya itu ikut terkubur bersama sebagian batang pohon singkong itu dan berubah menjadi umbi singkong yang merekah saat dibakar. Mungkin itu akan terasa lebih enak dan mengenyangkan. Tidak lagi terlalu menyakitkan baginya. “Yakin? Bukannya perempuan sukanya sama anak orang kaya?” Ferdi menatap sinis Aira yang masih memandang pohon singkong yang berbaris rapi seperti peserta upacara bendera di sekolahnya dahulu. “Tapi enggak semua, Mas.” Aira menunduk. Ingin membela diri dengan pengalaman yang pernah dia jalani. Namun, mau ditaruh di mana mukanya nanti? Bisa-bisa Mas Ferdi malah mengolok-ngoloknya. Padahal, sih, itu belum tentu, ya? Ah, sudahlah, terserah Aira saja. “Kami bertiga temen main. Aku, Fais, Zidan. Tapi lumayan lama enggak ketemu sejak aku merantau ke Jakarta. Udah tiga hari ini dia nginap di rumahku karena Fais menikah. Emang dia bukan orang kaya, tapi dia orangnya enakan, kok? Mau kerja. Kemaren aja dia bantuin metik kelapa buat bikin jenang di rumah Fais meskipun turunnya sambil teriak-teriak karena dikerubuti semut." Ferdi tertawa geli mengingat kejadian kemarin. Dia bercerita banyak tentang Zidan, tetapi gaya ceritanya lebih mirip sales yang lagi promosi dagangannya biar ada yang mau beli. “Berarti dia seumuran Mas Ferdi, ya?” Bola mata Aira bergerak menyapu wajah Ferdi. Ternyata dia pandai menebak juga. Zidan memang seusia dengan Ferdi dan Fais. Jika dihitung dari usia Aira yang sekarang tujuh belas tahun, usia Zidan terpaut sekitar tujuh tahun lebih tua dari Aira. Ferdi mengangguk. Lalu melanjutkan promosinya. Eh, ceritanya. “Dia orang desa sono.” Jari telunjuk Ferdi menunjuk ke arah selatan sambil menyebutkan daerah asal Zidan. “Oh ....” Mulut Aira membulat, kepalanya manggut-manggut pertanda dia tahu desa yang dimaksud oleh Ferdi. “Sebenarnya dia udah sering lihat kamu. Dia suka tanya macem-macem soal kamu ke aku. Kayaknya dia suka, deh, sama kamu.” Ferdi kembali menatap Aira dengan tatapan menyelidik. Ingin tahu reaksi Aira dan itu akan jadi bahan laporan utama Ferdi ke Zidan nantinya. Aira mengulum senyum, tetapi segera disembunyikan dan menghilang ditelan oleh rasa takut yang ikut nimbrung dalam hatinya. Takut kecewa dan sakit hati. Takut dihina dan dicaci lagi. Jika dahulu, Aira yang dicintai saja, kejadiannya bisa seperti itu. Apalagi sekarang, jika Aira juga suka sama dia? Akan dijadikan apa dia nanti? Gado-gado? “Aku takut, Mas. Takut nanti ....” “Aira! Udah selesai belum nyapunya? Lama amat, sih?” Teriakan Fatia dari dalam rumah menghentikan keraguan Aira. Keraguan untuk melanjutkan kalimatnya dan segera berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ferdi begitu saja yang menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. *** Andai hati boleh memilih cinta dengan segala kesempurnaannya, Tentu tak akan ada suara-suara yang selalu berbisik menuntut untuk dibahagiakan. Namun, waktu terlanjur mengalir menjejakkan banyak kisah yang meski diam, tapi tak akan pernah bisa dihapus dari sejarah. Jika engkau berpikir bahwa takdir telah bersalah, lalu seberapa besar kelirumu tentang penilaian yang hanya melibatkan sebagian rasamu saja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN