Empat

1460 Kata
“Aira! Cepat mandinya, gantian!” Fatia berteriak kesal sambil mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. “Iya, sabar.” Suara Aira tak begitu jelas terdengar. Tumpahan air yang ia guyurkan ke tubuhnya mengeluarkan bunyi yang menelan suaranya. “Aira! Buruan, udah sore!” Fatia kembali berteriak sambil mengetuk pintu kamar mandi lebih keras lagi. Tidak ada jawaban. Tapi pintu kamar mandi segera terbuka lalu kepala Aira yang masih basah kuyup menyembul dari dalam kamar mandi. “Lama amat sih?” Mata Fatia melotot ke Aira sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Kemudian terdengar suara yang cukup keras. "Braaakkk.” Aira berjingkat, lalu memonyongkan bibirnya ke arah Fatia. Padahal, kakaknya jelas-jelas sudah tidak melihat dia lagi. *** “Aira, udah belum? Ayo!” Fatia berdiri di depan kamar Aira sambil mendekatkan wajahnya ke celah pintu yang sedikit terbuka. “Iya iya, ayo.” Aira muncul dari kamarnya dengan mengenakan gamis polos model minimalis warna mocca. Kerudung segi empat warna hitam menjadi andalannya. Bros berbentuk bunga mawar berwarna silver tersemat cantik di pundak kirinya, menghiasi salah satu ujung jilbab yang menjuntai ke bawah. Polesan bedak padat natural dan lipstik warna orange agak pink membuat wajahnya yang bersih jadi semakin berseri. Malam ini Aira terlihat cantik sekali. Beda sekali dengan hari-hari biasa yang hanya mengusapkan bedak bayi pada wajahnya tanpa memoles bibirnya dengan lipstik sedikitpun. “ Lama amat sih?” Mata Fatia mendelik pada Aira yang sudah berdiri di hadapannya. Aira hanya memutar matanya malas menanggapi kakaknya yang memang sedikit bawel itu. Kemudian mereka berdua pamit kepada Bapak dan Ibu yang sedang duduk di ruang tamu. “Pulangnya jangan malam-malam ya nduk.” Pesan Ibunya yang juga diiyakan oleh Bapak dengan anggukan kepala di sela-sela kepulan asap rokok tembakau yang dihisapnya. “Iya Bu.” Aira dan Fatia menjawab hampir bersamaan. ‘Ayo, keburu malam.” Fatia menggamit lengn Aira. Malam ini Aira dan Fatia akan menghadiri acara malam muda-mudi di rumahnya Fais, salah satu teman Fatia. Acara muda-mudi adalah acara khusus untuk anak-anak muda setelah siangnya diadakan akad nikah dan resepsi pernikahan. Waktunya dimulai sehabis maghrib sampai acara selesai. Acara muda-mudi ini sudah menjadi tradisi turun temurun di desa ini. Tadi siang Fais, salah satu teman Fatia melangsungkan akad nikah. Aira yang baru lulus sekolah SMA sudah masuk ke dalam daftar tamu undangan, karena kebetulan mereka juga saling kenal. Jarak rumah Fais hanya berselang lima rumah dari rumahnya Aira. Langit malam cerah bertabur bintang yang berkedap-kedip menemani bulan yang baru muncul. Angin berembus menyapa daun-daun kecil yang tumbuh rimbun sepanjang pinggir jalan yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang ingin menikmati malam di luar rumah. Sebagian ada yang duduk-duduk di gorong-gorong depan rumah mereka. Suara bising yang berasal dari mesin diesel sudah terdengar dari jarak dua rumah sebelum sampai ke rumah Fais. Mesin itu memang harus diletakkan sedikit agak jauh dari rumah yang punya hajat agar suaranya tidak mengganggu acara. Sampai di sana, kursi yang berbaris di bawah 4 buah tenda yang dipasang di halaman rumah Fais sudah hampir terisi penuh oleh tamu undangan yang semuanya adalah anak muda. Aira dan Fatia menempati kursi di baris ketiga dari depan, karena kebetulan kursi itulah yang masih kosong. Kursi di bagian belakang memang selalu penuh lebih dulu. Biasanya Aira dan Fatia lebih suka duduk di bagian agak belakang dalam acara seperti ini. Tapi kali ini kakak beradik itu terpaksa duduk di kursi yang cukup terlihat jelas dari panggung karena mereka datang terlambat. “Kamu sih, tadi lama banget dandannya.” Fatia menggamit lengan Aira yang baru saja menyusulnya duduk setelah mereka selesai menyalami para tamu yang duduk di kanan-kiri mereka. Aira hanya diam sambil melirik ke arah kakaknya yang sibuk membenahi kerudung coklat yang dikenakannya. Kakaknya suka mengomel seperti nenek-nenek. Makanya, Aira kadang lebih suka berangkat sendiri daripada di jalan dia selalu kena omelan kakaknya karena kelamaan saat mengenakan kerudung. Acara sudah dimulai. Pembukaan, pembacaan ayat suci Al quran dan beberapa kata sambutan dari tuan rumah sudah berlalu. Setelah acara doa bersama, sampailah pada acara hiburan yang diisi dengan acara musik orgen tunggal. Pemandu acara sudah naik ke atas panggung, menyapa seluruh tamu undangan yang hadir dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Kemudian dilanjutkan dengan lagu pembuka yang dinyanyikan oleh penyanyi yang sudah disiapkan untuk menghibur para tamu undangan. Setelah beberapa lagu, biasanya pemandu acara akan memberikan kesempatan kepada keluarga mempelai dan tamu undangan yang ingin ikut serta menyumbangkan lagu. Suara bising dari soundsystem bercampur dengan riuhnya obrolan para tamu undangan yang saling bercengkerama sembari menikmati hidangan kue yang beraneka macam. Musik kembali terdengar untuk mengiringi sebuah lagu. “Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu ... “ Sebuah suara tiba-tiba menyita perhatian seluruh tamu undangan, tak terkecuali Aira. Lagu-lagu dangdut yang sedari tadi terdengar sama sekali tidak menarik bagi dia yang memang tidak suka dengan musik bergenre dangdut. Berbeda dengan Dealova-nya Once kali ini yang terdengar sangat merdu di telinganya, dan suara itu? Apa Aira seperti pernah mendengarnya? Belum sempat Aira mengingat, tepatnya berpikir tentang siapa pemilik suara merdu itu, matanya tiba-tiba melotot dan mulutnya menganga lebar saat dia melihat ke atas panggung. Telapak tangan kanannya segera menutup mulutnya yang terbuka lebar, sebelum siapapun melihat kekonyolannya dan dia akan merasa malu sendiri. Apalagi jika kakaknya sampai melihatnya, jelas dia akan mengomel dan memakinya dengan segudang cacian. Tiba-tiba jantung Aira berdegup kencang seperti genderang mau perang. Eh, ada apa ini? Dia berusaha untuk menenangkan dirinya diantara riuh tepuk tangan para tamu undangan yang mengelu-elukan suara yang dimiliki oleh pelantun lagu cinta itu. Meskipun mereka mungkin tidak kenal dengan pemilik suara itu, tapi sorak sorai yang terdengar adalah bukti bahwa bukan Aira saja yang mengakui bahwa suara itu memang sungguh merdu dan indah. Pas sekali membawakan lagu milik salah satu mantan personel Dewa itu. Rasa deg-degan yang semakin tak terkendali di d**a Aira, sungguh mengacaukan pikirannya. Tanpa sadar, dia terus menatap lekat pemuda yang sebenarnya sedang dihindarinya itu. ‘Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia saudara Fais? Atau jangan-jangan ... ?‘ Gadis itu bergumam menebak-nebak sendiri. ‘Aakkhhh ... ‘ Aira menelungkupkan dua tangan ke wajahnya. Dia tidak ingin melihat pemuda itu lagi. Tapi suara itu, dan bahkan lagu itu? Dia kembali tak kuasa untuk menahan tatapannya. ‘Itu kan lagu kesukaanku? Kenapa dia bisa tahu?’ Eh Aira, pede amat sih kamu? “Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ho oooo ... “ Reff pada lagu itu nyaris sempurna seperti yang dibawakan oleh penyanyi aslinya. Aira segera membuang pandangannya ke arah lain saat sepasang mata juga menatap ke arahnya sambil mengalunkan baris-baris lagu itu dari atas panggung. Senyuman itu? ‘Aira, kamu harus bisa menahan diri Aira. Jangan sampai kamu tergoda.’ Aira berusaha mengingatkan dirinya sendiri. Dia bahkan hampir lupa jika sekarang dia sedang berada di acara kondangan yang dihadiri oleh banyak orang. Bahkan ada kakaknya yang super cerewet itu sedang duduk di sampingnya. Jika kakaknya tahu bahwa dia deg-degan begini gara-gara pemuda itu, habislah dia. Meskipun Fatia tidak melarang adiknya untuk pacaran, tapi dia selalu bicara banyak soal laki-laki yang baik adalah yang begini dan begitu. Banyak sekali syaratnya selain ganteng. Pantas saja dia yang sekarang sudah berumur 22 tahun belum punya pacar lagi setelah tiga tahun yang lalu putus dengan Faisal yang bertubuh kurus dan berambut keriting itu. Mungkin Faisal tidak tahan mendengar ocehannya setiap kali datang untuk ngapel. Tapi, bisa jadi itu sih hanya pikiran Aira saja ya. Aira menoleh ke arah kakaknya yang ternyata juga sedang mabuk terbius entah oleh suara, lagu, atau jangan-jangan wajah pemuda itu? Dilihatnya Fatia sedang asyik menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Kedua tangannya yang ditelungkupkan di depan d**a, diayunkan ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan irama lagu dan suara merdu itu. Bukannya dia sukanya musik dangdut? Aira protes sambil mencibir. Tapi hanya dalam batinnya saja. Lalu dia melengkungkan kedua ujung bibirnya ke bawah hingga wajahnya terlihat sangat menjengkelkan. Untung saja kakaknya tidak melihatnya. “Kau seperti udara yang kuhela, kau selalu ada ... kau selalu ada .... “ Tepuk tangan kembali terdengar meriah saat lagu itu berakhir. “Lagi ... lagi .... lagi ... “ Suara para tamu undangan terdengar mengajukan permintaan, terutama para gadis yang bahkan ada yang berteriak sambil mengacung-acungkan tangannya ke atas seperti sedang menonton konser. Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk kembali menyanyikan sebuah lagu. Dia melompat turun dari atas panggung saat melihat Aira berdiri dan melangkah pamit kepada tuan rumah. Dikejarnya Aira dan Fatia yang sudah keluar dari tenda. Aira dan kakaknya memilih pulang lebih dulu dari tamu lainnya karena mereka ingat pesan dari Ibunya tadi. “Aira tunggu!” Sebuah suara yang memanggil namanya menghentikan langkah Aira dan kakaknya. Jantung Aira berdebar hebat. Aira dan Fatia membalikkan badan ke arah sumber suara. “Eh, eeemmm, ngapain di sini?” Aira berusaha bersikap biasa meski jantungnya berdegup dengan sangat tidak biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN