'Dasar anak orang kaya! Manja! Egois!' Aira mengumpat Fadhil dalam hatinya.
Ternyata Fadhil benar-benar membuktikan ucapannya. Dia berhenti sekolah, kerjanya hanya main kesana-kemari. Pergaulannya juga semakin rusak. Bahkan ada yang bilang dia mulai mau menenggak minuman keras.
Aira sempat merasa bersalah atas sikap Fadhil yang berubah hampir 180°. Dulu Fadhil begitu rajin sekolah dan mengaji. Bahkan Fadhil selalu masuk lima besar di kelasnya. Apalagi saat dia masih menjalin hubungan dengan Aira yang meski hanya satu bulan saja, dia bahkan bisa selalu bersikap lebih dewasa dari umurnya.
Bodoh sekali jika dia sampai benar-benar melaksanakan ancamannya waktu itu. Memangnya siapa yang bakal rugi dengan apa yang dia lakukan sekarang? Bukankah dirinya sendiri dan keluarganya?
Aira tidak mau lagi ikut campur dengan urusan Fadhil. Menurut dia, sebagai laki-laki Fadhil terlalu rapuh dan cengeng. Dia tidak pandai bersyukur karena telah dilahirkan sebagai anak orang kaya, tapi dia malah seenaknya saja menjalani hidupnya hanya karena gagal dalam urusan cinta yang memang belum seharusnya.
Pada akhirnya Riana memang tahu, kalau uang jajan Fadhil ternyata habis untuk menepati janjinya pada Rena.
Ya, Fadhil sudah berjanji kepada Rena. Jika Rena bisa membuat Aira menerima cintanya, maka dia akan menyerahkan semua uang jajannya selama 1 bulan pada Rena. Rena sempat bimbang, tapi mulutnya yang doyan makan tidak sanggup menolak jajan gratis selama 1 bulan.
Meski akhirnya dia menangis sampai sesenggukan di kamar Aira demi mengakui semua kesalahannya kepada Aira, tapi toh, kertas yang sudah diremas tidak mungkin bisa kembali halus mulus seperti sedia kala. Begitu juga kepercayaan Aira kepada Rena.
Aira benar-benar tidak menyangka. Bahkan, Rena tega mengingkari janjinya sendiri. Ya, dia sendiri yang membocorkan rahasia tentang hubungan Aira dengan Fadhil kepada Riana. Lagi-lagi hanya demi jajan gratisan.
“Dasar mulut soak!” Makian Aira hanya dijawab dengan tangisan Rena yang semakin keras kala itu.
***
“Ehem, yang bersih nyapunya, biar jodohnya nggak berewokan.” Suara itu lagi. Aira segera bangun dari posisinya yang membungkuk sambil memegang sapu lidi. Lagi-lagi pemuda itu yang tersenyum manis ke arahnya.
Aira berlari meninggalkan dedaunan kering yang masih berserakan di samping rumahnya.
“Eh, tunggu.” Tangan pemuda itu terulur seperti ingin menahan sesuatu. Tapi Aira sudah berlari ke dalam rumah melalui pintu belakang, dan segera menutup pintu itu.
Pagi, sore, di halaman depan, disamping rumah, siapa sih dia? Kok tahu-tahu dateng aja kayak jaelangkung? Batin Aira bertabur tanya yang terasa berbeda dari biasanya.
***
Meskipun sulit untuk terlelap, Aira merusaha memejamkan matanya. Beberapa kali dia mengubah posisi tidurnya dari miring ke kiri lalu miring ke kanan, tengkurap, telantang, tapi bayangan senyum itu masih saja ada. Dia menutup wajahnya dengan bantal, hingga tahu-tahu bahunya teras berguncang dan ditepuk-tepuk oleh seseorang.
“Aira.” Suara itu memaksanya untuk membuka mata meski terasa berat.
“Aira bangun, udah siang. Cepat salat subuh.” Suara kakaknya memaksa gadis itu untuk segera bangun.
Setelah mengucap doa bangun tidur dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, mata Aira memeriksa ke arah jam bulat yang bergantung malas pada dinding kamar yang masih berupa susunan batu bata merah.
“Astaghfirullah!” Matanya yang sipit membelalak mendapati jarum jam sudah menunjuk pukul 05.30.
Dia segera bangkit dari tempat tidurnya. Kemudian setengah berlari menuju sumur yang berada di belakang dapur. Ibunya yang sudah sibuk menyiapkan sarapan alakadarnya, menggelengkan kepalanya melihat Aira yang tergopoh-gopoh mengambil air wudhu.
Tugas Aira setiap pagi adalah menyapu rumah sampai ke bagian depan, sedangkan kakaknya bertugas membantu Ibu membuat sarapan. Jika halaman rumah tampak kotor, maka itu adalah tugas Aira juga untuk membersihkannya.
“Sttt ... Sttt ... “ Aira yang sedang menyapu halaman celingukan karena mendengar suara mendesis. Matanya menyapu keadaan sekitar dengan pandangan was-was. Bawah pohon mawar yang rimbun, bawah bunga kertasan yang banyak berserakan daun kering, bawah pagar yang berupa tanaman hidup? Tidak ada apapun.
Dia pun segera melanjutkan aktifitas menyapunya. Lalu-
“Sttt ... Sttt ... Sttt ...“ Suara itu terdengar lagi.
Aira melangkah pelan ke sana kemari sambil kembali celingukan memeriksa sekitarnya.
“Nyariin apa cantik?”
“Allahu Akbar!” Aira melompat setinggi-tingginya sambil melempar sapu lidi yang ada di tangannya. Jantungnya seperti melompat dari tempatnya. Beberapa kali tangannya mengusap dadanya yang masih bergetar tak karuan. Dia seperti mendengar suara degup jantung sendiri.
Pemuda yang telah membuatnya terlambat bangun tadi pagi karena semalam tidak bisa tidur.
Dia tahu-tahu sudah berdiri tepat di samping pagar halaman rumah Aira yang terdiri dari tanaman berdaun kecil-kecil dan lebat yang biasa dijadikan pagar halaman oleh orang-orang di desanya. Ia tersenyum geli menyaksikan Aira yang sedari tadi celingukan ke sana-ke mari.
Senyumnya sudah terlihat begitu manis dan hangat bahkan di pagi yang masih sedingin ini.
“Kenalin, aku Zidan, Muhammad Zidan.” Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. Rupanya dia sengaja memanfaatkan keadaan untuk bisa berkenalan dengan Aira.
Aira yang sedari tadi bengong tergagap. Cepat ia membuang pandangan tanpa mengacuhkan uluran tangan pemuda itu.
Dia hendak segera masuk ke rumahnya ketika sebuah suara langsung menahannya lagi.
“Jangan sombong-sombong, ntar nggak ada yang berani deketin lo.” Suara itu membuat Aira mengurungkan niatnya. Gadis itu menghentikan langkah kakinya.
“Aku Zidan, kamu?” Pemuda yang pagi ini hanya mengenakan singlet putih dan celana kolor itu mengulangi kalimatnya.
Aira masih bergeming tanpa dengan posisi badan membelakangi pemuda ganteng itu.
“Nolak orang yang ngajak kenalan, itu juga sombong namanya.” Ah, dia seperti tahu benar apa yang sedang dipikirkan Aira. Padahal Aira baru saja berniat untuk tetap berlalu meninggalkannya meski dia juga melakukannya dengan terpaksa.
Tapi ternyata pemuda itu malah seperti peramal yang bisa membaca pikiran Aira. Dasar, dukun ganteng. Aira ingin mengumpat begitu, tapi takut nanti bakal ketahuan juga sama dia.
“Aira.” Akhirnya suara itu keluar juga dari mulut Aira yang mendadak lidahnya terasa sedikit kelu setelah matanya beradu dengan bola kecoklatan nan tajam milik pemuda itu jangkung itu.
Ah, ada apa ini? Kenapa Aira jadi bersikap bodoh begini? Bukankah biasanya dia begitu lincah berkelit setiap kali ada laki-laki yang berusaha menggodanya? Tapi kali ini?
Aira segera mengambil langkah cepat sambil menenteng sapu lidi dan serok s****h di kedua tangannya. Bola matanya sempat melirik ke arah pemuda yang ternyata masih memandangnya. Sontak, pipi mulus gadis itu memerah seperti udang rebus.
Aira mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Ditariknya panjang, lalu dibuangnya perlahan-lahan.
“Ngapain kamu Ra?” Suara itu kembali membuatnya kaget setengah mati. Aira spontan mengusap dadanya dengan tangan kanannya. Al hasil, sapu yang dipegangnya pun terjatuh dan mendarat di kaki kakaknya yang sudah berdiri tepat di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di d**a.
“Aduh!” Gadis nyengir sambil kesakitan sambil membungkuk mengusap kakinya yang terkena ujung sapu lidi.
"Maaf Kak, maaf, ngga sengaja.” Sekarang ganti Aira yang nyengir sambil berlalu mencari selamat dari kakaknya yang bersiap hendak mencubit lengannya.
‘Ada apa ini? Nggak, nggak, nggak. Aku nggak boleh gini. Aku harus tenang, huuhhh.’ Aira mengusap-usap dadanya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
Aira, kamu belum tahu dia itu siapa. Jadi jangan sembarangan meramu rasa apalagi merangkai macam-macampikiran! Ingat, kamu harus hati-hati terhadap siapapun, apalagi orang yang kamu belum benar-benar mengenalnya. Lagian, dia kan hanya menanyakan namamu, kenapa kamu sudah begitu hebohnya? Aira mengajukan ancaman kepada dirinya sendiri. Mengutuki tingkah konyolnya dan memilih munafik atas sebabnya.
Tapi ada sisi lain hatinya yang ingin lari dari ancaman itu. Menyelinap mencari tahu tentang getar yang tiba-tiba muncul begitu saja tanpa mampu ia kendalikan. Akhirnya, dia memilih berusaha untuk menghindari penyebabnya.
***