Dua

1283 Kata
“Aira, tunggu.” Aira terpaksa menghentikan langkahnya lagi meski bola matanya berputar malas. Dia ingin sekali segera sampai di rumah lalu masuk ke dalam kamar yang di dalamnya ada Riana yang sedang meringkuk di pojok, lalu dia berdiri di depan gadis angkuh itu dengan tangan mengepal, dan "Buuuk!" Satu tinjunya yang keras mendarat tepat di rahang kanan Riana yang kotak. Riana mengerang kesakitan, lalu dia memohon ampun kepada Aira sambil bersujud di kakinya. "Ampun Aira, maafkan aku. Aku salah. Semua yang aku bilang tadi tidak benar. Aku yang sengaja mengada-ada. Tolong maafkan aku, tolong Aira, tolonglah aku yang lemah ini." Sayangnya, itu hanya hayalan Aira saja. Huff. Aira menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Rena yang sedang berjalan menuju ke arahnya. ‘Hem, mungkin ini nih, biang keroknya.’ Aira bergumam kesal. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Gigiya gemeretak hingga rahangnya mengeras dan kaku. “Kenapa Ra? Kok kamu kayak lagi kesel gitu?” Rena mengerutkan dahinya setelah berdiri tepat di hadapan teman kecilnya itu. “Ngga papa. Ngapain tadi manggil?” Aira memalingkan wajahnya. Kemudian kembali menatap Rena lalu mengibaskan tangan kanannya, menyadarkan Rena yang masih bengong sambil menatap wajah Aira yang tampak tidak seperti biasanya. “Oh, iya. Fadhil, dia ngajak ketemuan nanti malam. Abis isya, di tempat biasa ya.” Rena mengecilkan volume suaranya sambil mendekatkan wajahnya ke Aira, seperti takut kalau-kalau ada yang mendengar apa yang dia katakan kepada Aira. “Kebetulan!” Aira mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Rena. Lalu dia melangkah pulang tanpa menghiraukan Rena yang masih tidak mengerti dengan sikapnya yang aneh. Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil menatap punggung Aira hingga menghilang ditelan pepohonan liar yang tumbuh dipinggir jalan. *** “Kita putus.” Aira menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Fadhil yang berdiri di samping Aira spontan memutar kepalanya 90% ke arah gadis mungil itu. Dahinya mengerut mengikuti matanya yang menyipit. Dia yakin sekali kalau telinganya sudah salah dengar barusan. “Kamu ngomong apa Ra?” Sekarang tubuhnya yang tinggi dan sedikit kurus ikut menghadap ke arah Aira yang masih bergeming. “Aku bilang kita putus.” Aira sedikit mengeraskan suaranya. Mata gadis yang masih mengenakan mukena berwarna putih itu masih memandang lurus ke depan, meski hanya ada gelap di sana. “Kenapa? Ada apa? Kamu, kamu ngga kenapa-kenapa kan Ra?” Mata Fadhil sedikit melebar. Tangan kanannya hendak memegang pundak Aira, tapi segera diurungkannya. Dia tidak berani melakukan hal itu, takut Aira marah. Selama ini, Aira paling marah jika Fadhil menyentuhnya, meski hanya tangannya saja. Fadhil pun menurut, karena yang terpenting bagi dia adalah Aira mau menerima cintanya. Itu sudah membuat hari-harinya dipenuhi dengan aneka warna bunga layaknya taman di sebuah istana. Jiah. “Emang mau sampai kapan kita pura-pura pacaran?” Aira menatap Fadhil yang juga sedang menatapnya. Lalu, cepat dia membuang pandangannya ke arah lain. “Pura-pura? Maksud kamu apa sih Ra?” Fadhil membalikkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi d**a sembari menaikan bahunya. Sementara Aira hanya melirik ke arahnya tanpa kata-kata. “Oh, jadi selama ini kamu cuma pura-pura menerima aku, gitu?” Mata Fadhil semakin melebar. Aira tetap bergeming. Beberapa detik kemudian mata Fadhil berubah menjadi layu bahkan mulai mengembun ketika menangkap dingin pada wajah gadis yang selama ini selalu dipujanya. Kini gadis itu ada di hadapannya dan bersetatus sebagai pacarnya sejak sebulan yang lalu. Tapi tiba-tiba saja muncul kalimat yang menggoreskan luka menganga, kemudian ditambah dengan siraman air cuka dari bibirnya. Fadhil memejamkan mata sembari mengulum perih dalam hatinya. Pemuda berparas hitam manis itu membungkukkan badannya yang terasa lemas. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya yang terasa gemetar. Beberapa saat mereka saling diam. Rena. Sebenarnya apa yang dia lakukan? Dia bilang, Aira sendiri yang mau menerima aku. Tapi kenapa akhirnya jadi begini? Fadhil membatin lalu terdengar suara gemerutuk dari giginya hingga rahangnya ikut mengeras. Sementara kedua tangannya yang masih bertumpu pada lutut mengepal kuat. Pemuda itu lalu bangun, kedua tangannya mengacak rambutnya sendiri. Kemudian dia berdiri tepat di hadapan Aira yang masih bergeming. Ditatapnya lekat wajah gadis itu. Tampak semakin cantik disinari cahaya remang lampu bohlam yang tergantung di atap samping Masjid. Fadhil menggigit bibir bawahnya. “Aira, maksud kamu apa sih? Kamu jangan bikin aku bingung kayak gini.” Fadhil menggelengkan kepalanya sambil menyipitkan matanya. Sementara Aira memalingkan wajahnya dari Fadhil. Gadis yang sudah dikenal sejak kecil oleh Fadhil itu menarik ujung bibir kirinya sambil sekilas menatap ke arah Fadhil lalu dia kembali membuang muka dari pemuda itu. “Aira ...” Suara Fadhil melemah, matanya kembali terpejam kemudian tampak bulir bening menetes dari ujung kelopaknya. “Udahlah, satu saat mungkin kamu akan tahu sendiri, yang terpenting sekarang kita udahan secara baik-baik. Fadhil menggelengkan kepala kemudian mengusap rambutnya kasar. “Tapi kenapa Aira? Kenapa? Apa alasannya kamu mutusin aku? Aku salah apa?” Fadhil menepuk-nepuk dadanya sendiri lalu tangan Fadhil mengepal keras kemudian melesatkan tinjunya ke dinding di samping wajah Aira. Aira memekik sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian tubuhnya bergeser sedikit menjauhi Fadhil yang masih berdiri tertunduk dekat sekali dengan tubuhnya. Sekilas matanya menatap ke tangan Fadhil, tapi tak terlihat apapun karena gelap. Harusnya punggung tangan Fadhil memar bahkan mungkin berdarah. Tapi pemuda itu tidak mempedulikannya sama sekali. “Aku minta maaf.” Aira menatap Fadhil yang masih berdiri terpaku tanpa mengangkat kepalanya lalu gadis itu berlari meninggalkan Fadhil sendirian. “Aira! Tunggu!” Fadhil berlari menyusul Aira hingga ke halaman masjid yang sudah tampak sepi, tapi Aira sudah berlari jauh tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Fadhil menghentikan langkahnya, berdiri terpaku dengan tangan mengepal kuat. Jantungnya bergetar hebat. Sementara matanya sudah basah oleh gerimis bening. Kadang dia benci dengan ketidakberdayaan yang selalu membelenggunya setiap kali berdiri di depan Aira. Apa lagi saat gadis itu menatap matanya. Aira, kenapa kamu selalu membuatku lumpuh di hadapanmu? Jiwa kerdil Fadhil protes. Tapi tetap saja itu yang dialami olehnya setiap kali mereka bertemu. “Berpamit pada resah Bersalaman dengan gundah Menampik ragu yang dikira sendu Melamar rindu tanpa tahu waktu Kemana pendar kidung mesra yang sedari tadi menunggu? Apa mungkin telah dipaksa jengah agar segera berpindah? Di mana lagi syairnya mengumbar janji yang tak jua diakui? Ah, lagi-lagi jiwa ini dipermainkan oleh rasa yang letih bermandikan perih.” *** “Hai, bunganya cantik kayak yang nyiram.” Sebuah suara yang tenang tapi penuh rayuan datang menghantar senyuman teramat manis menghanyutkan. Aira bangun dan menolehkan wajahnya ke arah suara itu. Tanpa sadar, gayung di tangannya terlepas dan jatuh ke dalam ember yang berisi air hendak untuk menyiram bunga. Seorang pemuda bertubuh jangkung dengan rambut gondrongnya yang lurus sebahu berpotongan segi. Penampilannya sederhana tapi memesona. Eeaaa. Mata mereka sempat beradu. Lalu Aira cepat berpaling, dan menunduk sambil mengulum senyum tersipu. Ah, cantik sekali dia. “Aku-“ Kalimat pemuda yang mengenakan kaos oblong putih dipadu celana jeans biru muda itu terputus. Bola matanya bergerak mengikuti punggung Aira yang berlalu dari hadapannya dan menghilang di balik rimbun pohon mawar yang tumbuh di halaman rumahnya. ‘s**l! kenapa dia malah pergi?’ Pemuda itu mengumpat sendiri. Semenjak kejadian tiga tahun yang lalu, Aira sangat berhati-hati untuk menanggapi sikap dan kata-kata dari setiap laki-laki yang sengaja datang menghampirinya. Fadhil. Meskipun Aira merasa kasihan kepada pemuda itu, tapi sakit hati yang ia rasakan akibat menerima cinta Fadhil cukup memberinya pelajaran agar dia tahu diri. Fitnah memang lebih kejam dari membunuh. Apa lagi jika dilengkapi dengan penghianatan yang dilakukan oleh sahabat sendiri. Satu tahun kemudian Fadhil menyatakan cinta untuk kedua kalinya kepada Aira. Kali ini dia sendiri yang mengatakan langsung kepada gadis yang masih membelenggu hatinya itu. Dia mengungkapkan perasaan sekaligus ancamannya. Jika Aira tidak mau menerima cintanya lagi, maka dia tidak akan melanjutkan sekolahnya lagi. Cukup sampai kelas 1 SMA saja dia sekolah. Selanjutnya, dia akan menghabiskan waktunya untuk main saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN