"Anu... kakek sedang apa?" tanyaku spontan. Tian melotot kaget. Mungkin dia kaget dengan pertanyaanku atau panggilan "kakek" itu, atau bisa jadi dua-duanya. Laki-laki paruh baya beruban yang dipanggil Tian "guru" dengan suara penuh kharisma itu tetap diam bersemedi. Tiba-tiba saja saat aku kembali memalingkan wajah padanya, dia membuka kedua matanya, menatapku dalam-dalam. "Anak muda memang tidak tau apa-apa," ucapnya, berdiri dari duduknya, menyudahi semedinya. "Ah bukan begitu kek, saya tau kakek sedang bersemedi, mungkin. Tapi untuk apa? Apa kakek percaya dengan hal-hal ghaib seperti itu?" tanyaku menatap heran. Ini pertanyaan yang sudah kusadari, bukan spontan lagi. Laki-laki tua itu berjalan melewatiku, meninggalkan ruangan. Tian ikut berdiri, menendang pahaku dengan kakinya. "A

