Bab 13: Semedi Monster

1094 Kata

"Apa kau sedang tidak punya uang?" tanyanya memecah lengang suasana di dalam mobil yang tanpa musik ini. "Kenapa kau menarik kesimpulan seperti itu?" tanyaku kembali, melirik jalanan di balik kaca anti peluru yang terbahasi oleh air hujan. Pemuda bernama Tian itu tidak menjawab, juga tak lagi bertanya-- predikat 'pemuda tak tau malu' nya sudah kulupakan. Aku baik sekali bukan? Sungguh. Sedan mewah ini terus melaju membelah jalanan, aku sampai terkantuk di dalam mobil, tapi aku tak boleh tidur, bagaimana jika Tian dan sopirnya menculikku? Bukankah kota besar itu menyeramkan? Aku harus mengingat setiap lurusan dan belokan jalan, untuk jaga-jaga jika aku diculik, aku bisa cari jalan pulang sendiri. Maps google terkadang tak selalu benar-- malah sering sesat. Tak lama perjalanan, hanya 2

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN