Siapa Dia

1170 Kata
"Jihan, aku rasa kamu sudah mendengar dengan jelas kalau aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidupku." ucap Fajar. "Tapi kenapa harus aku? kenapa kamu menikah denganku Fajar, kalau kamu hanya ingin menikah satu kali seumur hidup itu sangat tidak mungkin bersamaku.Karena untuk kita bersama selamanya dengan orang yang dibenci sangat mustahil." ucap Jihan dengan serius. "Aku sama sekali tidak membencimu, Jihan pernikahan kita ini bukan main-main.Kita berjanji kepada Allah,coba kamu pertimbangkan lagi." ucap Fajar menjalaskan dengan sangat sabar. "Tapi sulit untukku Fajar! aku memang sangat ceroboh tidak membaca CV yang keluargamu berikan, ini memang salahku juga yang tidak teliti dalam memilih suami.Tapi aku sangat tidak nyaman kalau harus menjalankan peran sebagai suami istri sungguhan bersamamu, sulit sekali. Kamu pasti berpikir aku sangat berlebihan mengenai masalalu kita, tapi bisa tidak kamu banyangkan satu detik saja menjadi aku yang dulu? yang setiap hari datang ke sekolah penuh ketakutan, dibully, dikucilkan.Hanya karena tubuhku yang berbeda dari kalian." ucap Jihan sangat kesal. "Maaf aku." ucap Fajar langsung dipotong oleh Jihan. "Aku tidak butuh maaf mu yang sekarang, apakah dengan maaf mu itu aku bisa segera membaik dan melupakan semua yang terjadi? kita memang masih kecil saat itu, tapi luka yang kamu sebabkan tidak bisa sembuh sampai sekarang.Setiap aku melihatmu bertingkah baik, itu benar-benar membuatku muak! aku tau kamu bukan orang seperti itu, sesungguhnya kamu juga sudah tidak tahan kan dengan sikapku?" ucap Jihan. "Astaghfirullahaladzim istighfar Jihan, kamu terlalu banyak suudzon." ucap Fajar, membuat Jihan langsung membungkam mulutnya dan menghadap ke samping tidak ingin melihat Fajar, sambil beristighfar di dalam hatinya.Fajar juga terdiam sejenak memikirkan cara apa yang terbaik untuk tetap bisa berdamai dengan Jihan, dia menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya. "Baiklah kalau seperti itu, kita buat saja peraturan antara kita berdua, tentang hal apa yang tidak boleh dan boleh dilakukan.Tapi ini bukan perjanjian kontrak pernikahan ya, dosa." ucap Fajar namun tidak di gubris oleh Jihan. "Mau atau tidak?" tanya Fajar lagi. "Iya deh," jawab judes Jihan. Fajar pun melajukan mobilnya setelah merasa pembicaraan sudah mulai tenang, sampai di rumah.Belanjaan semuanya Fajar yang menyusun dengan rapi tanpa bantuan Jihan.Dia sedang asyik sekali di kamar menulis peraturan antara dia dan suaminya. "Sepertinya ini sudah cukup." ucap Jihan lega setelah menulis beberapa peraturan untuk Fajar, dia pun keluar dari kamar dan segera menghampiri Fajar yang baru saja selesai membereskan belanjaan.Jihan mengajak untuk duduk di meja makan dengan sangat bersemangat. "Ini aku bacakan ya peraturan yang aku inginkan." ucap Jihan. "Iya." jawab Fajar pasrah, padahal dia sebenarnya tidak setuju dengan usulan Jihan. "Pertama, tidak boleh menyentuh fisik dan tidak boleh tidur satu kamar.Yang kedua jangan selalu membiyai kebutuhanku karena aku bisa sendiri. ketiga jangan ikut campur urusan pribadi.Keempat bebaskan aku untuk bekerja. Kelima jangan menuntutku untuk menjalankan peran seorang istri.Sepertinya itu saja dulu, sekarang dari kamu apa ada yang ingin kamu masukan dalam peraturan ini?" tanya Jihan. "Hm ada, tulis ya." ucap Fajar. "Oke," jawab Jihan lalu menarik penanya bersiap untuk menulis. "Aku ingin Jihan menaati ucapan suami."ucap Fajar yang baru setengah Jihan tulis langsung saja dia hentikan dan seakan ingin memukul Fajar dengan kertas tersebut. "Fajar ini tidak sedang bercanda ya." ucap Jihan "Ya aku juga tidak bercanda, aku cuma hanya ingin itu. Kamu taat dengan suami, peraturan yang kamu buat itu sangat tidak masuk akal dan kalau dikerjakan menjadi dosa." ucap Fajar. "Kok dosa sih?" tanya Jihan heran. "Pertama, aku bisa tidak menyentuhmu tapi untuk kita berpisah kamar itu tidak baik. Kedua aku ini suamimu, sudah menjadi kewajiban untuk menafkahimu.Walaupun memang pendapatanku tidak sebanyak yang kamu punya, tapi izinkan aku untuk mengeluarkan kewajibanku sebagai suami yang menafkahi istrinya.Ketiga, urusan pribadi yang seperti apa yang tidak boleh aku ikut campuri? sekali lagi aku tegaskan aku adalah suamimu Jihan, mau bagaimanapun tidak bisa merubah status ini dan sebagai suami aku sangat berhak tau urusan apa saja yang istriku lakukan.Keempat ini sih bisa aku mengizinkan asalkan kamu selalu mengabariku dimana dan jam berapa kamu pulang, dan tidak sampai larut malam.Kelima, peran sebagai istri mana yang tidak ingin kamu lakukan? aku tidak akan memberatkanmu." ucap Fajar dengan sabar. "Peran istri yang harus masak, mencuci, mengosok aku tidak bisa melakukan itu semua." ucap Jihan. "Tidak masalah, itu bukan kewajibanmu sebagai istri.Semua itu bisa aku kerjakan, kamu tak perlu khawatir.Yang perlu kamu ingat adalah taatlah kepada suami, aku tau kamu memang membenciku tapi jangan sampai melawan, dosa melawan kepada suami, kamu tau kan?" ucap Fajar. "Apa sih dia ini selalu menyebut suami suami terus, menyebalkan." batin Jihan. "Iya," lalu Jihan merobek kertas peraturan yang dia buat, karena dia sedikit kesal keinginanya tidak terwujud, Fajar hanya manatap istrinya dengan sabar melihat tingkahnya yang luar biasa. "Oh Jihan satu lagi." ucap Fajar. "Apa lagi?" jawab Jihan dengan nada kesal dan wajah yang masam. "Mobilmu, besok kembalikan saja." ucap Fajar memang keberatan jika istrinya harus membawa barangnya saat masih gadis dulu. "Memangnya kenapa sih? itu mobilku sendiri kok, bukan uang dari orangtua jadi bebas dong mau aku bawa, lagi pula kalau hanya punya satu mobil juga kesulitan.Aku kerja butuh kendaraan dan kamu juga." ucap Jihan. "Aku bisa pake motor saja kalau kamu mau menggunakan mobilku." ucap Fajar. "Tidak, aku tidak akan nyaman di mobil orang lain.Jadi biarkanlah aku membawa mobilku sendiri." ucap Jihan langsung masuk kamar tanpa mendengarkan penjelasan dari Fajar lagi. "Allahuakbar kenapa sih dia itu sangat menyebalkan, perkara mobil saja dibawa ribet." oceh Jihan sangat kesal, lalu naik keatas ranjang dan kembali menyusun tembok tinggi dari bantal dan guling di kamar Fajar, setelah itu batu dia tertidur. Sementara di ruang tamu, masih ada Fajar yang termenung sambil mentap ke televisi yang sebenarnya dia tidak menyaksikannya.Fajar mulai bingung dengan sikap Jihan yang ternyata di luar ekspektasinya.Dia tidak mengira kalau Jihan berpikiran untuk mengajak pernikahan kontrak. "Padahal aku juga belum mencintainya, tapi tidak pernah di dalam pikiranku untuk mengajaknya berpisah.Sebenarnya rumah tangga ini masih mampu untuk dipertahankan atau tidak kalau hanya aku saja yang ingin."batin Fajar. Lalu dia mengecek ponselnya, tak terduga ada notif yang masuk dari nomor yang tidak dikenal, berisikan seperti ini. Fajar, aku besok sudah ada di indonesia. Kamu mau bertemu tidak? Fajar sedikit mengerutkan dahinya, dan setelah diingat-ingat dia paham sekali dengan cara ketikan pesan seperti itu siapa. "Tidak mungkin ini dia kan? kenapa baru sekarang dia menghubungiku." batin Fajar, lalu langsung mengahapus pesan tersebut dan tidak membalasnya, setelah itu dia masuk ke kamar untuk tidur.Terlihat Jihan masih belum tidur dengan memainkan ponselnya, lalu saat Fajar naik ke atas ranjang dia langsung mengeser tubuhnya menjauh. "Terlalu kepinggir sekali nanti jatuh loh."ucap Fajar. "Berisik,geser sana menjauh.Menyebalkan kenapa harus tidur satu ranjang sih." ucap Jihan dengan wajah cemberutnya. "Biar dapat pahala, kalau mau lebih banyak dapat pahala kita harus..." ucap Fajar sengaja untuk memancing Jihan "Ih apaan sih, tidur sana jangan berisik." ucap Jihan lalu langsung membelakangi Fajar, yang membuat Fajar sedikit tertawa. Sementara mereka masih saling adu pembicaraan ala anak kecil, tanpa sadar ponsel Fajar masuk pesan dan telepon namun karena Fajar sudah mengatur ponselnya untuk tidak bersuara, jadi dia tidak sadar. Fajar aku tau kamu sudah membaca pesan ini, aku mohon balas dan aku akan menjelaskan semuanya kenapa aku pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN