bc

Ternyata Menikah Dengan Musuh

book_age16+
183
IKUTI
1.8K
BACA
love-triangle
HE
arranged marriage
submissive
kickass heroine
bxg
lighthearted
campus
office/work place
professor
like
intro-logo
Uraian

Pengalaman Jihan Fahira dulu saat di sekolah dibully karena memiliki tubuh yang gendut membuatnya menjadi bersemangat untuk merubah diri dalam penampilan dan prestasi. Dia benar-benar menjadi perempuan yang sangat mandiri, di usianya yang menginjak 24 tahun sudah mempunyai usaha produksi baju muslimah yang sangat besar. Jihan sangat sibuk dengan urusan pekerjaanya, sampai kedua orangtuanya khawatir melihat putrinya tidak pernah dekat dengan laki-laki dan tidak pernah membicarakan keinginannya untuk menikah. Akhirnya Jihan menerima perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya, dia tidak terlalu tertarik dengan pernikahan dan semuanya diserahkan kepada orangtuanya dalam memilih pasangan dan persiapan pernikahan. Ternyata suaminya adalah laki-laki yang dulu pernah membullynya Maulana Fajar Saputro, kok bisa? Sepenggal masalalu yang pernah mereka alami ternyata masih ada dalam ingatan mereka masing-masing. Ketika Jihan sudah mulai menerima Fajar tiba-tiba datang mantan pacar Fajar yang mulai menguncang rumah tangga mereka. Bagaimana kelanjutan hidup rumah tangga Jihan, menikah dengan musuhnya di masa lalu yang juga belum selesai dengan mantannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Menerima Untuk Dijodohkan
Jihan Fahira nama gadis yang sangat menginspirasi banyak kaum muda, karena prestasi dan usahanya yang sukses di usia muda.Sukses di usia yang tergolong sangat muda, membuatnya memang sibuk dalam urusan pekerjaan.Trauma saat masa lalunya membuat dia benar-benar bersemangat dalam menaikan value dirinya agar hal buruk seperti dulu tidak terulang lagi dalam kehidupannya.Namun Jihan kadang lupa dengan dirinya sebagai perempuan, dia sering pulang larut malam dari tempat kerjanya hal ini yang membuat ayahnya sering khawatir. "Sudah jam 10 malam adek belum pulang juga bu?" tanya Amran ayah Jihan. "Dari tadi ibu sudah telepon juga yah, nomornya tidak aktif." ucap Ina ibu Jihan. Tin Tin. Terdengar suara mobil masuk, yang mengartikan bahwa Jihan sudah pulang. "Assalamualaikum." ucap Jihan saat masuk ke dalam rumah, sedangkan orangtuanya menunggu di ruang tamu dengan wajah tidak enak. "Waalaikumssalam." jawab orangtua Jihan. "Belum tidur ayah ibu?" ucap Jihan sambil menyalam tangan kedua orangtuanya. "Gimana mau tidur kalau anak gadisnya jam segini belum juga pulang." ucap Amran dengan nada tegas. " Adek dari mana saja? ibu dari jam 8 tadi telepon tapi nomornya tidak aktif." ucap Ina lembut, berbeda dengan suaminya yang sangat tegas. "Jihan pasti selalu di rumah produksi lah bu, ngga kemana-mana.Inikan akhir bulan semakin banyak pesanan yang masuk dan perlu pengecekan, ponsel adek mati lupa di cas tadi." ucap Jihan. "Buang saja ponsel mahalmu itu kalau tidak pernah hidup, bukan sekali dua kali nomor adek tidak bisa dihubungi.Kalau terjadi hal-hal tidak diinginkan bagaimana? setiap hari pulang malam seperti ini, kamu itu anak perempuan tidak seharusnya pulang malam seperti itu." ucap Amran memarahi Jihan. "Karena itu adek sudah minta untuk tinggal di rumah adek sendiri yang dibangun tidak jauh dari rumah produksi dan butik jadi tidak pulang malam seperti ini ayah, jarak rumah produksi dan rumah kita kan lumayan jauh belum lagi macet, sebenarnya jam 8 jihan sudah jalan pulang tapi karena macet jadi sampai rumah jam 10 atau bahkan jam 11 malam." ucap Jihan tidak terima dimarahi oleh ayahnya karena dia merasa tidak melakukan kesalahan sedikitpun. "Jihan!ayah dan ibumu tidak akan membiarkan anak gadis tinggal sendirian, kalau kamu mau keluar dari rumah ini dan tinggal sendiri kamu harus bersama mahram, bersama suamimu." ucap ayah tegas. "Tapi ayah," ucap Jihan terputus oleh ibunya. "Sudah, adek masuk sana bersihkan badan lalu istirahat."ucap Ina tidak ingin anak dan suaminya semakin emosi dan bertengkar. Jihan menuruti ucapan ibunya dan masuk ke kamar. "Kamu tuh kebiasaan selalu saja membela anak, Jihan jadi bebas banget gini juga karena kita tidak tegas, kalau aku udah mulai mau tegas kamu pasti langsung kasian." keluh Amran kepada istrinya. "Bukan membela anak,kita bisa memberi tau Jihan nanti ketika kepala sudah dingin dan tanpa emosi." ucap Ina. "Selalu seperti itu, Jihan menjadi sangat bebas tidak mencerminkan sebagai perempuan muslimah.Hakikat perempuan itu di rumah,di usianya sekarang ini seharusnya sudah menyempurnakan separuh agama dengan menikah.Tetapi karena dia terlalu menjadi perempuan modren jadi gitu deh, semuanya bisa sendiri sampai mau tinggal pisah dari orangtua,Itu tidak baik untuk Jihan." ucap Amran. Ina pun tidak bisa membantah lagi, apa yang diucapkan suaminya memang benar.Anak perempuan mereka ini sangat mandiri, dan memang hanya sibuk dengan pekerjaan saja. "Ngga bisa ini dibiarin, aku akan mencarikan calon suami untuk Jihan." ucap Amran tiba-tiba yang membuat Ina sedikit terkejut. "Mau dijodohin?" tanya Ina. "Iya, usia kita ini sudah tidak muda lagi.Kita tidak tau sampai kapan, karena itu aku tidak ingin meninggalkan Jihan dalam keadaan masih dijalan yang salah." ucap Amran. "Baiklah, nanti kita diskusikan lagi dengan Jihan." ucap Ina. Jihan menahan tangisnya dibalik pintu kamar,dia mendengar semua yang dibicarakan oleh orangtuanya.Hal yang sangat membuatnya sedih adalah mendengar ayahnya mengatakan usia mereka sudah tidak muda lagi.Dan Jihan yang sering mengabaikan orangtuanya, dia merasa sangat bersalah. Keesokan harinya tidak seperti biasa Jihan sudah pergi untuk bekerja, hari ini dia di rumah saja membantu pekerjaan rumah, membantu ibunya memasak dengan senangnya. "Kenapa hari ini tidak keluar dek? lagi sakit atau gimana?" tanya Ina. "Aneh ya liat adek di rumah." ucap Jihan. "Ngga juga, biasanya kan adek paling ngga bisa di rumah seharian." ucap Ina. "Gapapa bu, adek mau istirahat sebentar." ucap Jihan. "Baguslah, tapi hari ini ibu mau pergi sama ayah ke tempat acara berbagi bersama teman-teman ayah.Adek mau ikut?" tanya Ina. "Mau," jawab Jihan bersemangat. "Wah kok semangat banget nih ada apa?"tanya Ina. "Adek udah ngga pernah jalan sama ibu dan ayah lagi, jadi senang banget ini bisa pergi bersama." ucap Jihan memeluk ibunya yang dibalas hangat oleh Ina. "Bayi ibu ini sekarang sudah besar banget." ucap Ina. "Adek sayang ibu," ucap Jihan. "Sekarang siap-siap dulu gih," ucap Ina melepas pelukannya. "Siap laksanakan." ucap Jihan langsung masuk ke kamarnya. "Sayang, adek hari ini mau ikut kita." ucap Ina dengan bersemangat kepada suaminya. "Tumben banget,kamu paksa?" tanya Amran. "Ngga kok, dia mau dengan sendirinya." jelas Ina. "Baguslah," jawab Amran tersenyum tipis. "Kok senyum, ada apa?" tanya Ina. "Ya senang bisa ada waktu kumpul sama anak, tapi sebenarnya tadi pagi aku baru saja dihubungi Hanif" ucap Amran. "Terus?" tanya Ina. "Dia mau kenalin anaknya di acara berbagi hari ini." ucap Amran. "Kenapa mau ngenalin?" tanya Ina tak menangkap maksud pembicaraan. "Itu dia cerita lagi mau cariin jodoh untuk anaknya, ya kebetulan kan kita juga mau cari jodoh untuk Jihan.Jadi nanti dia juga bawa anaknya, aku ngga tau kalau Jihan mau ikut hari ini." ucap Amran. "Ya gapapa, kita lihat dulu anaknya gimana yang jelas kita juga sudah tau latar belakang keluarganya, usia berapa anaknya?" tanya Ina. "Seumuran dengan Jihan, kan beda beberapa bulan saja jaraknya ingat ngga dulu Hanif memang lama sekali diuji belum dapat keturunan." ucap Amran. "Jadi cuma satu-satunya nih anak Hanif?" tanya Ina. "Iya," jawab Amran. "Tapi hari ini jangan dikenalin langsung ke adek ya, nanti dia kaget dan tidak mau jalan bersama kita lagi." ucap Ina. "Iya, nanti aku dan Hanif saja dulu yang bicara." ucap Amran. Setelah selesai berbincang mereka pun bersiap untuk pergi. "Adek, sudah siap belum?" panggil Ina dari luar kamar. "Iya bu sudah." ucap Jihan keluar kamar. "Dek, hijabnya kok seperti itu nanti ayah marah loh." ucap Ina mengingatkan Jihan yang memakai hijab tidak sesuai syariat menutup d**a. "Oh iya lupa," ucap Jihan langsung menganti gaya hijabnya lebih syari. "Gitu kan cantik." ucap Ina. Mereka pun naik mobil dan pergi. "Kenapa ngga masuk kerja hari ini?" tanya Amran. "Lagi mau istirahat aja ayah, kan mau jalan sama ayah dan ibu." ucap Jihan. "Baguslah, kalau seperti ini terus lebih enak." ucap Amran. "Dek belum ada kepikiran untuk nikah?" tanya Amran. "Nah udah mulai ternyata pembicaraanya, aku tidak boleh mengecewakan ayah dan ibu kan." batin Jihan. "Nikah ya? udah sih yah, tapi kan jodohnya belum ketemu dan ayah ibu juga tau adek ngga mau pacaran." ucap Jihan membuat orangtuanya tersenyum. "Kalau misalnya nih, ibu dan ayah mencarikan jodoh untuk adek gimana?" tanya Ina. "Gapapa bu, adek lebih senang kalau itu pilihan ayah dan ibu." ucap Jihan yang tentu saja membuat hati orangtuanya senang, mereka pikir dengan karekter Jihan biasanya pasti langsung menolak perjodohan tetapi ternyata Jihan menerima dengan lapang hati. "Alhamdulillah," ucap Amran. "Kenapa nih, udah ada target ya mau menjodohkan adek dengan siapa hayoo." ucap Jihan dengan raut wajah penasaran. "Nanti kamu juga tau," ucap Amran. "Ayah dan ibu langsung tersenyum bahagia seperti ini hanya karena aku menyetujui untuk menikah,sebelumnya aku tidak pernah merasakan senyum dan semangat mereka seperti ini dengan prestasi-prestasi yang sudah aku capai.Tapi hanya karena rencana menikah membuat mereka bahagia, aku tidak boleh merusak rasa bahagia mereka kan? siapapun nanti laki-laki yang dipilihkan untukku, aku tidak akan menolak.Karena aku yakin ayah dan ibu tidak akan memilihkan aku calon suami yang salah, walaupun nanti aku tidak menyukainya aku berjanji akan menerima perjodohan ini agar ibu dan ayah bahagia." batin Jihan yang menatap senyum orangtuanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook