Sampai dilokasi, Amran langsung bergabung dengan temannya dan melanjutkan kegiatan mereka, sambil diselengi obrolan yang mereka bahas ditelepon.
"Maaf nih tadi Fajar mendadak ada urusan jadi tidak bisa ikut,"ucap Hanif menjelaskan bahwa anaknya tidak bisa ikut.
"Tidak apa-apa, itu anakku hari ini malah bisa ikut." ucap Amran menunjuk ke arah Jihan yang sedang bersama ibunya.
"Itu Jihan?" tanya Hanif tak percaya karena yang diingatnya dulu Jihan gadis kecil bertubuh besar.
"Iya, kenapa? beda ya." ucap Amran yang tau maksud dari respon Hanif.
"Beda banget ya jadi semakin cantik masyAllah."ucap Hanif.
"Siapa dulu ayahnya," ucap Amran sangat bangga.
"Kerja dimana Jihan? atau di rumah saja?" tanya Hanif.
"Dia punya butik sendiri, dan produksi gamis-gamis perempuan gitu." ucap Amran.
"Hebat ya, pasti banyak ya yang nyoba mau lamar Jihan." ucap Hanif.
"Tidak juga, Jihan tidak pernah dekat dengan laki-laki.Baru ini juga dia mau membicarakan pernikahan, biasanya hanya pekerjaan saja." ucap Amran.
"Sama seperti Fajar, alhamdulillah anak-anak kita ini paham dengan ajaran agama.Kemarin kan kamu tau sendiri Fajar itu nakal sekali sejak kecil makanya dia beberapa kali pindah sekolah, sampai pas SMA langsung aku masukan ke pesantren, alhamdulillah jadi anak sholeh." ucap Hanif.
"Alhamdulillah udah ada perubahan." ucap Amran.
Lalu mereka banyak sekali menggobrol setelah kegiatan selesai, memang Amran tidak mempertemukan Jihan dengan Hanif karena tidak ingin langsung terburu-buru.
Malamnya dikediaman Hanif, mereka kembali membicarakan tentang perjodohan ini terlihat Hanif memang tidak sabar untuk segera meluruskan niat baik ini.
"Tadi abah sudah bertemu dengan anak teman abah yang mau dijodohkan denganmu." ucap Hanif.
"Oh iya? gimana orangnya?" tanya Fajar penasaran.
"Cantik,dan Shalihah." ucap Hanif.
"Mana lihat, ada fotonya?" tanya Fajar.
"Tidak sempat memfoto, bagaimana kalau besok kita berkunjung ke rumah teman abah itu.Kamu bisa?" tanya Hanif.
"Pagi bisa," ucap Fajar.
"Besok pagi kita ke rumah mereka." ucap Hanif sangat bersemangat lalu langsung menghubungi Amran.
Keesokan paginya, terlihat Ina sudah mempersiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Hanif dan keluarga.
"Bu, ada apa kok banyak banget makanan?" tanya Jihan bingung karena dia baru keluar dari kamar untuk berpamitan pergi kerja, namun melihat meja tamu sudah diletakan banyak makanan dan minuman.
"Astaghfirullahaladzim tadi malam ibu lupa memberitahukanmu dek, pagi ini keluarga pak Hanif dan anaknya mau datang ke rumah."ucap Ina.
"Oh om Hanif sahabat ayah ya? wajar saja menyiapkan banyak makanan seperti ini." ucap Jihan.
"Tapi Dia datang bersama anaknya." ucap Ina.
"Ya gapapa dong, selama ini tidak pernah bertemu dengan anaknya kan." ucap Jihan dengan santai tanpa tau sebenarnya kedatangan mereka untuk mempertemukan Jihan dan Fajar.
"Aduh adek masa kamu ngga paham sih, om Hanif datang bersama anaknya karena ingin berkenalan denganmu Taaruf." ucap Ina membuat Jihan berhenti mengunyah kuenya dan membulatkan matanya sangat terkejut.
"Apa bu? ibu ngomong apa barusan?" tanya Jiha tidak percaya.
"Anak om Hanif ingin Taaruf denganmu." ucap Ina dengan jelas.
"Ibu,kok ngga bilang adek sih mau datang sekarang mereka." ucap Jihan terdengar panik.
"Kenapa panik gitu,nanti ayah sama ibu yang bertemu kok.Kamu cukup lihat dari kamar saja, nanti kalau sudah mau pulang baru ayah panggil." ucap Amran menyambung obrolan ibu dan anak ini.
"Gitu aja ya?" ucap Jihan.
"Iya, masuk sana itu mobil mereka sudah datang." ucap Amran membuat Jihan langsung berlari kecil masuk ke kamar.
"Assalamualaikum." ucap Hanif dan keluarga.
"Waalaikumssalam, ayok masuk." sambut Amran dan istri.
"Maaf nih pagi-pagi sudah bertamu." ucap Sarah istri Hanif.
"Gapapa pagi-pagi itu yang rezekinya bagus." ucap Ina yang langsung membuat semuanya tertawa.
Mereka pun duduk bersama.
"Ini Fajar?" tanya Amran.
"Betul om."jawab Fajar sopan.
"Ganteng ya beda sama abahnya." ucap Amran bercanda.
Amran dan Ina langsung membicarakan bagaimana sifat anaknya,jenjang pendidikannya, dan pekerjaanya.Begitu pula dengan keluarga Hanif yang juga menjelaskan semuanya tentang Fajar.
"Apa boleh om dengar kamu mengaji? baca surah Al-fatihah saja." tanya Amran.
"Boleh om, " ucap Fajar langsung melantunkan bacaan surah Al-fatihah yang juga di dengar oleh Jihan.
"Eh MasyaAllah merdu sekali suaranya, jadi reflek jatuh hati.Ayah dan ibu memang tidak sembarang memilihkan suami untukku," gumam Jihan yang mengintip kecil dari kamarnya, dia hanya bisa melihat pungung Fajar.
"Gimana Jihan sudah dengar kan?" ucap Amran tiba-tiba yang membuat Jihan langsung menutup pintu kamarnya karena kaget ayahnya tau dia mengintip dari tadi.
Fajar dan keluarga jadi tersenyum melihatnya.
"Tunggu sebentar ya." ucap Ina masuk ke kamar Jihan untuk memanggilnya keluar.
"Ayo adek kita keluar, mereka mau ketemu tuh." ucap Ina menarik Jihan namun entah kenapa Jihan menahannya.
"Aduh bu, tapi Jihan takut." ucap Jihan.
"Loh adek ini, ada ibu dan ayah kok kenapa takut."ucap Ina.
"Setelah mendengar obrolan tadi Jihan merasa tidak sebanding dengan dia bu, dia MasyaAllah sekali.Sedangkan Jihan Astaghfirullah bu," ucap Jihan ternyata jadi tidak percaya diri.
"Udah ayo keluar saja dulu kenalan." ucap Ina menarik Jihan dengan terpaksa dia tidak bisa menolak dan ikut keluar. Jantungnya berdebar sangat kencang dan langsung tertunduk karena berhadapan langsung dengan Fajar.
"MasyaAllah cantik sekali Jihan ini." ucap Sarah memuji Jihan.
"Terima kasih tante." ucap Jihan masih tetap tertunduk, membuat Fajar mengukir senyum tipis dibibirnya karena merasa tingkah gadis dihadapannya sangat mengemaskan.
"Gimana nih Fajar, Jihan? kalau setuju kita bisa langsung menentukan tanggal ya ngga Amran." ucap Hanif.
"Aku harus jawab apa ya." batin Jihan merasa bingung.
Fajar dan Jihan tak menyuarakan apapun, tetapi terlihat Fajar menarik nafasnya dalam untuk mengatakan sesuatu.
"Kalau dari Fajar, karena niat untuk menyempurnakan separuh agama.Saya merasa Jihan sudah termasuk dalam calon istri yang baik.Jika tidak ada halangan, saya setuju untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius."ucap Fajar dengan mantap dan tetap dengan sopan.
"Nah kalau Jihan bagaimana?" tanya Amran.
"Setuju," ucap Jihan dengan cepat karena grogi.
"Eh gimana sih kenapa aku langsung jawab setuju."batin Jihan merasa sangat malu.
"MasyAllah memang kalau pagi-pagi itu rezeki menjadi lancar sekali ya, temasuk rezeki jodoh.Anak-anak sudah semangat seperti ini, berarti kita wajib menyegerakan ya besan?" ucap Hanif kepada Amran.
"Iya lebih cepat lebih baik kalau niat baik ini langsung dilaksanakan." ucap Amran dengan sangat senang.
Jihan mengangkat wajahnya, menatap wajah ayah dan ibunya yang sangat senang membuatnya juga tersenyum.
Setelah pertemuan itu, kedua belah pihak keluarga dari Jihan dan Fajar langsung mengurus untuk acara pernikahan.Bahkan Jihan menyerahkan semuanya kepada ibunya, dia hanya terima jadi saja, karena dia masih sibuk dengan pekerjaanya dan sebenarnya tidak antusias dengan acara pernikahan tersebut.Komunikasi dengan Fajar pun tidak ada, karena memang hanya keluarga saja yang terhubung demi menjaga jarak diantara mereka yang belum halal, sampai hari yang ditunggu tiba hari pernikahan Jihan dan Fajar.Sepuluh menit sebelum ijab qobul, Fajar baru menghapalkan nama Jihan dengan lengkap namun dia seperti teringat sesuatu.
"Jihan Fahira ya, dari kemarin aku selalu merasa nama ini sangat familiar, atau memang banyak nama yang seperti ini ya." pikir Fajar.
Sementara itu Jihan sudah dirias dengan sangat cantik, dia masih menunggu di ruangan sambil melihat dari kejahuan calon suaminya yang sudah bersiap membaca ijab qobul.
"Saudara Maulana Fajar Saputro." ucap penghulu. membuat Jihan sedikit tersadar.
"M-maulana?" ucapnya.
"Iya nama lengkap Fajar kan memang itu, kamu ngga baca CV nya?" tanya Ina.
Memang Jihan tidak pernah menyentuh CV Fajar yang diberikan kepadanya, dia merasa tidak perlu tau lagi karena sudah cukup merasa cocok dengan Fajar.
"SAH alhamdulillah," ucap mereka diluar menyadarkan lamunan Jihan yang sedang terganggu pikirannya mengingat nama Maulana adalah nama orang yang sangat dia benci.
Jihan pun keluar dan mengahmpir Fajar untuk meresmikan mereka sebagai suami istri yang sah.
Jihan memandangi Fajar, begitu pula dengan Fajar yang tersenyum memandangi istrinya yang sangat cantik ini.
"Tidak mungkin kan laki-laki nakal dan jahat itu adalah dia?" batin Jihan menatap suaminya.