Ternyata Dia

1048 Kata
Untuk pertama kalinya Jihan menyentuh tangan seseorang laki-laki, walaupun dari awal dia memang tidak tertarik mengenai pernikahan ini.Tetapi setelah mendengar nama Maulana, dia mulai merasa gelisah.Trauma masa lalunya seakan kembali menghantuinya, anak laki-laki yang nakal selalu menjelekan Jihan dan bertengkar denganya itu bernama Maulana, tetapi Jihan tidak ingat nama lengkap anak laki-laki itu.Setalah acara selesai, Jihan dan Fajar masuk ke kamar. Terlihat Fajar yang sangat gerogi di dalam ruangan hanya berdua dengan Jihan pertama kalinya. Sedangkan Jihan sekarang terlihat sibuk dengak pikirannya yang terganggu dengan nama sang suami. "Aku tidak bisa diam seperti ini, aku harus tanyakan saja." batin Jihan. "Ehm, hm itu boleh bertanya?" ucap Jihan memulai pembicaraan. "Tentu saja." jawab Fajar dengan sangat senang akhirnya mereka bisa menggobrol. "Apa terlalu cepat ya untuk bertanya, tapi aku tidak tenang." batin Jihan terlihat bingung. "Dulu kamu SD dimana?" tanya Jihan sedikit mengukir senyum dibibir Fajar karena pertanyaan itu terdengar sangat basa basi, Fajar mengira Jihan memang berusaha keras untuk mengobrol sampai menyakan hal yang tak perlu lagi dia tanyakan, pasalnya semua sudah tertera di CV yang telah dia berikan. "Itu saja pertanyaanya?" tanya Fajar menyakinkan. "Iya itu saja." ucap Jihan menganguk dengan serius. "Bukankah semuanya sudah tertulis di CV?" ucap Fajar. "Oh iya, Jihan bodoh! kenapa harus bertanya kepadanya , aku kan bisa tinggal lihat CV itu saja memalukan." batin Jihan. "Ada apa memangnya?" tanya Fajar melihat wajah Jihan masih terlihat gelisah dan bingung. "Gapapa," jawab Jihan. "Tunggu dulu,kamu tau siapa aku?" tanya Jihan terkesan konyol karena rasa gelisahnya tutur bahasanya jadi sembarangan. "Jihan istriku." ucap Fajar tersenyum karena merasa lucu dengan pertanyaan Jihan. "Bukan itu maksudku, apa kamu sebelumnya pernah mengenalku? Maulana kamu dulu sekolah di SD pelangi daerah A kan?" ucap Jihan membuat Fajar sedikit bingung melihat wajah istrinya terlihat sangat gelisah. "Iya," jawab Fajar, yang membuat Jihan sangat terkejut membuat tubuhnya sangat gemetaran hebat, hampir saja jatuh kalau tidak ditahan oleh Fajar.Tapi dengan tidak terduganya Jihan menepis tangan Fajar dan menolaknya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" bentak Jihan. "Jihan ada apa?" tanya Fajar bingung. Jihan menarik nafasnya mengatur pikirannya agar tidak kacau, lalu melangkah mendekat kepada Fajar. "Maulana Fajar Saputro, ternyata itu nama lengkapmu.Coba buka matamu dengan sangat jelas, siapa perempuan yang ada di hadapanmu ini ha?" ucap Jihan dengan mata yang berkaca-kaca tentu saja membuat Fajar sangat bingung, apa yang terjadu sebenarnya terhadap istrinya. "Jihan istighfar, kamu kenapa?"tanya Fajar sangat lembut,membuat Jihan muak melihat tingkah laki-laki yang dia kenal nakal dan jahat sekarang seolah seorang laki-laki sholeh dan baik. "Hentikan topengmu, aku tau kamu laki-laki seperti apa. Laki-laki yang dengan teganya mengolok-olok fisik orang, menghina, bahkan membuatnya sampai trauma tidak ingat ya?memang cuma korban yang selalu mengingat perbuatan jahat itu, mari aku ingatkan kembali. Aku Jihan Fahira gadis gendut yang selalu kamu bully bersama teman-teman sekelasmu. Bahkan saat SMP kamu masih tetap mengolok-olok ku, dan sekarang kita menikah? apa ini tidak terlalu konyol?" ucap Jihan dengan penuh amarah. TOK TOK Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. "Dek, makan malam dulu." panggil Ina dari luar kamar. "Iya bu," jawab Jihan dengan suara yang dia buat ceria, seolah tidak terjadi apa-apa.Lalu dia langsung keluar kamar. Fajar tidak langsung ikut Jihan, dia terduduk di ranjang sebentar karena fakta yang baru saja dia hadapi cukup menguncang pikirannya.Wajar saja dia merasa nama istrinya ini terlihat sangat familiar, karena mereka pernah satu sekolah.Fajar memang membaca CV nya tapi tertulis Jihan bukan alumni dari SD pelang dan SMP Dharma.Karena Jihan berpindah sekolah jadi seperti itu. Gadis yang dulu membuatnya sangat jijik, sekarang menjadi istrinya bagaimana ini bisa terjadi? dan kenapa setelah ijab qobul mereka berdua baru sadar kalau mereka adalah dua orang yang dulu saling bermusuhan. "Apa yang harus aku lakukan, sebagai seorang suami yang baru beberapa jam.Tidak mungkin kami mengajukan untuk berpisah, tapi untuk bersatu juga tidak mungkin.Aku sadar perbuatanku dulu terhadap Jihan memang diluar batas,aku selalu mengejeknya gajah gendut, menyuruh teman sekalas untuk ikut menjauhinya,dan selalu mengerjainya hingga menangis.Dan ternyata hal itu benar-benar melukai hatinya sampai sekarang." batin Fajar. Sementara di meja makan, orang tua Jihan masih menunggu menantunya untuk ikut makan bersama.Namun dengan entengnya Jihan sudah mulai menyuap nasinya. "Adek!kok langsung makan saja, suaminya ditunggu dulu dong tidak sopan seperti itu." ucap Ina. "Lama sih, adek kan laper bu." ucap Jihan. Tak lama kemudian Fajar akhirnya bergabung ke meja makan untuk makan bersama. "Yok yok makan dulu nak." ucap Amran mempersilahkan Fajar. "Iya om," jawab Fajar. "Loh loh kok masih om," ucap Amran. "Oh iya maaf, maksudnya ayah." ucap Fajar tersenyum tidak enak lalu mencuri pandang kepada Jihan yang terlihat abai dengannya. Mereka pun makan dengan lahap,seolah semua baik-baik saja.Tapi tidak saat sudah berada di kamar.Atmosfer kembali dingin, terutama Jihan yang tidak memberi wajah ramah lagi kepada Fajar.Dia keluar dari kamar mandi menganti pakainn tidur dan membuka hijabnya, Fajar benar-benar terkesima melihat istrinya yang menurutnya sangat cantik. "MasyaAllah, apa iya dia anak kecil yang selalu aku ejek dulu." batin Fajar. Jihan tidak bicara sepatah kata pun, dia masih menyibukan diri dengan memakai skincare rutinnya sebelum tidur. "Jihan, aku benar-benar minta maaf atas kejadian di masa lalu, aku tau perbuatanku saat itu memang tidak bisa dimaafkan. Tapi itu benar-benar kenakalan dimasih anak-anak aku.." belum sempat Fajar menyelesaikan ucapannya. Jihan langsung memotong ucapan suaminya karena dia merasa tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Fajar. "Hari ini aku benar-benar sangat lelah, dan lagi pula saat ini kita masih di rumahku. Aku tidak mau kedua orang tuaku sampai tau tentang permasalahan kita."ucap Jihan sangat tenang. "Kita tidak ada masalah." ucap Fajar. "Memang mudah sekali ya melupakan masa lalu." ucap Jihan dengan senyum sinisnya. "Masa lalu ya masa lalu, sekarang semuanya sudah berbeda.Aku suamimu." ucap Fajar dengan tegas. "Jadi kalau kamu suamiku, kamu dengan entengnya mau melupakan masa itu? ha?" ucap Jihan langsung berdiri karena terpancing emosi. "Jihan, itu masa anak-anak yang kita sekarang tau bahwa itu sama-sama belum bisa berpikir dengan benar." ucap Fajar membela diri. "Tapi umur 11 tahun itu sudah bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik, kamu hampir saja membunuh orang dengan perbuatanmu." ucap Jiham sangat geram melihat Fajar bukannya merasa bersalah dan meminta maaf tapi malah menyuruh melupakan. "Kamu berlebihan sekali, aku sama sekali tidak menyentuhmu apalagi menyakitimu." ucap Fajar. "Kamu melukai batinku, yang sampe sekarang juga lukanya belum pulih.Aku membenci laki-laki dan bertekad untuk tidak pernah menikah juga karena kamu Fajar!" bentak Jihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN