Lea menelungkupkan tubuhnya di kasur, tangannya mengusap matanya yang merah karena sejak tadi menangis.
Diambilnya bingkai foto di nakas dekatnya, memperlihatkan foto dirinya dan Hans saat berfoto di pantai menikmati liburan beberapa bulan lalu. Hans menekan kedua pipi Lea menggunakan satu tangan sehingga bibirnya mengerucutkan ke depan dan matanya melotot. Raut wajah Hans pun tampak menahan tawa sambil mencium pelipis Lea.
Air mata Lea mengalir membasahi kaca bingkai foto. Diambilnya foto itu dari dalam bingkai namun sedetik kemudian ia merobek kertas menjadi dua bagian empat bagian seterusnya hingga menyisakan kertas kecil-kecil tak berbentuk.
Ia masih sangat mencintai Hans tapi mengingat perlakuan Hans dan kebenarannya kemarin di luar batas ia mengambil jalan untuk berpisah. Walau ia tahu menata kembali hatinya pasti sangat sulit, terlebih Hans yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
***
Lea melangkahkan kakinya di depan pintu apartemen Hans sambil membawa kotak di kedua tangannya yang cukup besar. Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam di mana hari itu ia dan Hans merayakan hari jadinya yang ke satu tahun.
Ditekannya beberapa digit angka di samping pintu apartemen kekasihnya. Pintu apartemen pun dapat terbuka pertanda password yang di tekan sudah tepat. Dengan senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya Lea mengambil pemantik api di saku celana, dan menyalakan lilin bertuliskan 1st yang terpasang di atas kue tar.
Sebelumnya ia sudah mematikan lampu ruangan ini supaya menambah kesan romantis. Dan ia yakini lampu kamar tidur Hans juga mati karena Hans tidak bisa tidur dengan keadaan lampu menyala.
Di langkahkan kakinya lagi untuk memasuki apartemen. Setelah melihat pintu ruang tidur itu dahinya mengernyit. Apakah Hans belum tertidur? Mengapa lampunya masih menyala, terlihat dari bawah pintu segaris cahaya. Dibukanya pelan tapi pasti untuk memastikan kekasihnya.
Bak kancil yang sedang di incar harimau, muka Lea pucat pasi. Dilebarkan lagi pintu itu menampakkan seorang perempuan sedang menduduki tubuh Hans. Tubuh mereka sama sekali tidak dibalut dengan pakaian. Terlihat wajah Hans sedang menikmati irama yang dibuat perempuan diatasnya sambil mulutnya melumat b*******a.
Mendengar pintu ruangan kamarnya terbuka lebar, Hans menghentikan lumatannya tapi tidak dengan aktivitas perempuan itu. Berdiri sosok kekasihnya dengan wajah pucat pasi dengan mata berkaca kaca sambil membawa sebuah kotak.
Terkejut dengan perbuatannya yang diketahui Lea, Hans tidak sengaja menggigit keras b*******a Lory yang masih ada di mulutnya. Dan menyingkirkan dari atas tubuhnya dengan keras hingga Lory terbanting ke atas kasur.
"Aw, Hans it's hurt!" hardik Lory saat belum mengetahui apa yang sedang terjadi.
Hans mengambil celana yang tergeletak di lantai, dan dipakai buru-buru. Sesaat ia melihat ke arah pintu sudah tidak ada tubuh kekasihnya, hanya menyisakan kue yang hancur yang bertuliskan 'Happy Anniversary' dengan lilin yang sudah mati akibat terjatuh.
Dada Hans berdenyut nyeri saat ia ingat ini hari jadi hubungannya, dan Lea ingin memberikan kejutan untuknya tetapi sekarang melainkan Lea yang terkejut.
Dikejarnya Lea saat hendak membuka pintu. Dipeluk tubuh Lea dari belakang dengan erat, "Maafkan aku Lea. Aku tidak bisa mengontrol nafsuku," ucap Hans memosisikan kepalanya di atas kepala Lea sesekali mencium rambut kekasih yang telah disakitinya.
"Lepas! Kau menjijikkan Hans. Memelukku dengan aroma jalang itu masih melekat di tubuhmu!" sinis Lea dingin.
Seakan mendapat tamparan telak. Hans melepaskan pelukannya dan menggenggam erat pergelangan tangan Lea. Memutar tubuh kekasihnya, berhadapan dengannya.
"Maaf ... maafkan aku," lirih Hans menatap manik mata Lea. Tapi Lea enggan menatapnya kembali.
"Aku kecewa padamu!"
Lampu ruangan menyala seketika.
"Kau tahu Lea. Kekasihmu sudah beberapa kali tidur denganku dan itu artinya, kau tidak ada menariknya sama sekali sehingga Hans mudah saja tergoda."
Mata Lea menatap siluet yang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangannya di d**a. Rasa nyeri di d**a semakin menjadi saat ia menatap Lory dengan kemeja kebesaran Hans yang dipakai menutupi tubuh telanjangnya yang hanya mencapai setengah paha.
"Dan yang kau perlu tahu lagi Lea kebenarannya Hans hanya bermain main padamu saja. Dia hanya penasaran terhadapmu," sambungnya.
Lea menatap mata Hans dengan berkaca kaca, hatinya remuk saat Lory mengatakan seperti itu. Jadi selama ini Hans hanya penasaran dengannya.
"Hans ...," isak Lea, tak kuat menahan bulir air mata akhirnya jatuh juga.
Hans ingin memeluk tubuh kekasihnya itu, hatinya perih saat melihat Lea menangis di hadapannya. Ia bodoh. Memang bodoh. Lea mendorong d**a Hans menjauh saat tangan Hans ingin menggapai tubuhnya, yang ada Hans mundur selangkah ke belakang.
Hans memegang kepalanya yang sedikit berdenyut akibat sebelumnya ia minum alkohol cukup banyak.
"Dengarkan aku. Aku mencintaimu jangan dengarkan perkataan Lory, Sayang. Dia berbohong!" bantah Hans sambil memegang tangan Lea, namun ditepisnya.
"Hans, katakan saja yang jujur padanya. Kau bilang kau bosan dengan dia. Dia tidak--"
"LORY!" teriak Hans menghentikan ucapan Lory yang menurutnya tak penting. Tapi hanya semakin memperkeruh suasana.
"Sudah lah Han—“
"KUBILANG DIAM, JALANG!" teriak Hans menghampiri Lory sambil mencengkeram kedua bahunya erat. Lory hanya meringis merasakan bahunya panas dan sakit.
Tidak ingin adanya baku hantam Lea mendekati Hans dan menarik salah satu tangannya di pundak Lory, "Berhenti Hans, tidak ada gunanya. Perempuan murahan ini benar, kau mungkin tak mencintaiku," kata Lea tersenyum masam.
"Tidak ... tidak ... aku mencintaimu, Lea. Jangan dengarkan ucapan Medusa ini." Hans menatap sinis Lory, sedangkan Lory hanya memegangi bahunya yang masih terlihat sakit.
"Cukup! Kita akhiri saja hubungan kita, Hans. Aku tak ingin tersakiti olehmu lagi. Dan kau ...." Lea menunjuk wajah Lory dan maju selangkah, otomatis Hans bergerak ke belakang memberi jalan pada Lea.
PLAK!!!
Lea menampar pipi kiri Lory. Lory hanya membulatkan matanya. Seakan tersadar perbuatan musuhnya.
"Itu untuk kau. Perebut kekasih orang!"
PLAK!!!
Lagi. Dengan tamparan yang sama tapi pipi yang berbeda. Lory memegang kedua pipinya yang panas. Cairan merah keluar dari sudut bibirnya. Perih.
"Itu untuk kau, musuhku yang selalu mencari masalah padaku padahal aku tak pernah kenal kau sebelumnya dan aku tak tahu alasannya kau membenciku!” Lea menepuk-nepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu yang menempel. Dengan cepat ia keluar dari apartemen Hans. Hatinya remuk redam, tangannya panas.
"Aku menampar seseorang," ucapnya lirih sambil menatap kedua telapak tangannya. Ia tak menyangka akan berbuat kasar meskipun dengan musuhnya. Selama ini Lea termasuk orang yang pakar dalam mengatur emosinya. Tapi perkataan Lory tadi seakan membuat sisi dalam Lea keluar. Ia tidak dicintai Hans. Dan itu terasa menyakitkan.
Sedangkan Hans masih menatap terkejut atas perbuatan Lea pada Lory, ia tak menyangka Lea yang lemah lembut akan menjadi seperti singa bila ada yang mengusiknya. Lea nya yang selalu tersenyum. Tapi tadi seperti bukan kekasihnya, apalagi sampai menampar kedua pipi musuhnya. Hans tersenyum mengingat itu.
Hans menatap Lory sedikit meringis melihat pipinya, merah bahkan ada bekas telapak tangan Lea. Belum lagi darah yang mengalir di sudut bibirnya. Itu balasan untuk mulutnya yang selalu berkata tajam pada gadisnya.
"Pergilah, Lory," usir Hans dingin sambil menatap Lory penuh amarah.
"Tapi ... kita—“
"Pergilah sebelum kesabaranku habis. Apa kau ingin aku menjadi seperti kekasihku tadi?" ancam Hans tak segan-segan.
Merasa dipermalukan, Lory akhirnya kembali ke kamar tidur Hans untuk mengambil baju beserta barang-barangnya.
***
Ia memang baru sekali melihat Hans dan Lory seranjang. Tapi apakah perkataan Lory benar bahwa ia sering tidur bersama kekasihnya tepatnya mantan kekasihnya. Jadi selama ini Hans bermain dibelakangnya. Lea merasa dibodohi akan semua ini.
Dulu sewaktu ia dan Hans baru memulai hubungan kurang lebih dua bulan ia sempat melihat Hans berciuman dengan Lory. Tapi ia menepis hal itu, ia juga melihat bahwa Lory yang memaksa Hans melakukannya. Terbukti sewaktu sesi panas itu berakhir Hans mendorong tubuh Lory hingga hampir terjerembap.
Pada saat itu juga perasaan Lea belum mencintai Hans sedalam sekarang. Ia menganggap Hans hanya teman yang merangkap sebagai kekasih.
Karena ia tahu senior nya itu dikenal sebagai most wanted di kampusnya dan bagian dari kelompok yang beranggotakan orang kaya juga badboy. Pasti Hans hanya bermain main dengan adik kelas angkatannya yang baru masuk jenjang pendidikan tinggi.
Tapi mengingat Hans yang selalu mengincarnya dari sejak Lea masuk kuliah, tak henti hentinya hingga sering mengantarkannya pulang. Bahkan Lea pernah memberikan ultimatum pada Hans karena ia membenci pria itu yang selalu mengikuti dan mengganggunya.
Pada sekitar bulan ke enam Lea akhirnya luluh dengan pesona Hans ia bersikap baik sebagaimana Hans memperlakukannya. Hans tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan memulai hubungan dengan gadis incarannya.
Selama setahun mereka berhubungan Hans tak pernah berkata kasar dengan Lea. Hans menganggap Lea sebagai gadis pujaannya begitu juga dengan Lea. Tapi yang tidak Lea suka dari Hans, pria itu sering pergi bersama teman temannya ke klub.
Pernah suatu hari Lea menasihati Hans bahwa jangan terlalu sering pergi ke tempat itu lagi karena pria itu selalu mabuk. Lea tidak mau terjadi sesuatu buruk yang menimpa Hans. Tapi Hans selalu berkata, "Tidak apa-apa Sayang, aku bisa menjaga diriku dari wanita penggoda."
Tapi apa buktinya sekarang, Hans tergoda dengan Lory. Bayangkan Lory! Musuhnya. Orang yang tidak suka pada Lea, meski Lea tidak tahu apa alasannya.
Lea menghapus air matanya. Cukup sampai di sini aku tidak mau menangisi lelaki b******k yang sudah menghancurkan hatiku, batinnya.
**
Lea memasuki gedung auditorium bersama Jenny juga mahasiswa lainnya. Semua mahasiswa saling adu cepat supaya bisa melihat rektor kampus mereka dari dekat. Itu yang di dengar Lea dengan teman-teman lainnya bahwa rektor mereka akan memberikan sambutan serta kunjungannya untuk melihat kinerja dosen serta ketertiban murid kampus.
Tak mendapat bangku depan Lea dan Jenny mengambil tempat duduk bagian tengah namun di pinggir barisan. Lumayan jauh dari jangkauan untuk melihat rektor itu dengan jelas.
"Kalian tidak mengambil tempat duduk di depan?" tanya seseorang di belakang Lea dan Jenny. Lea dan Jenny menoleh mendapatkan kepala Edward mencondong ke depan tepat di tengah Jenny dan Lea.
"Ya, kau liat sendiri Ed bahkan tersisa satu bangku pun tidak,” jawab Jenny dengan nada kecewa, sepertinya dia juga penasaran dengan wajah rektor.
"Kau sama saja Jen dengan yang lain,” balas Edward di akhir kalimat dengan kekahan.
"Tidak, aku hanya penasaran. Ingat!"
"Terserah kau saja, Sugar." Kecupan di pipi kiri Jenny menghentikan perdebatan mereka. Jenny pun bersemu merah atas perbuatan Edward.
"Edward, banyak orang. Bagaimana kalau ada yang melihat." Jenny menutup kedua pipinya dengan telapak tangannya.
Lea dan Edward bahkan bergembira melihat sikap Jenny seperti itu. Edward berhasil membuat pacarnya tidak berkutik akibat ulahnya.