4. [ Bertatap Muka ]

1688 Kata
Suara wanita menginterupsi agar ruangan hening. Tidak sedikit bagi mereka langsung menatap ke arah podium serta menegakkan tubuhnya. Pemandu acara yang memegang mikrofon di sebelah tangan kanannya serta selembar kertas berukuran sedang yang bisa dipastikan susunan acara untuk hari ini, tampak begitu semringah. Tidak terlalu jelas apa yang membuat ia seperti itu, tidak seperti biasanya.   Puncaknya tepat pada saat seorang pria menuju podium semua orang yang berada di ruangan terkesiap melihat wajah maskulin berkisar memasuki umur tiga puluh-an dengan wajah dominan keras. Tubuhnya yang tinggi serta berbalut jas mahal menambah eksen mewah pada dirinya. Oh jangan lupakan mata tajam yang sekarang sedang memandangi seluruh ruangan. Seakan membuat semua yang ada di ruangan menahan nafas akibat tatapan intimidasinya.   "Selamat pagi.” Suara bariton rendah terdengar sangat seksi bagi siapa saja yang mendengar.   Demi Tuhan, Lea tak menampik perkataan Jenny kemarin tentang rektornya yang tampan. Bahkan bagi Lea deskripsi tentang rektornya sangat kurang. Seharusnya Jenny menambahkan kata seksi dan panas. Agak berlebihan memang tapi itu kenyataannya. Meskipun sekarang jarak antara ia dan rektornya agak jauh, tapi tetap saja ia bisa melihat wajah pria itu. Sedangkan Jenny dan yang lainnya hanya membulatkan mata. "Lea, dewa yunani ternyata bukan mitos belaka.” Perkataan Jenny tak lepas dari pandangannya. "Ya, dia tampan dan mmm ... muda,” balas Lea.   Tiba-tiba tubuhnya merasa tersengat listrik dengan tegangan kecil saat matanya menangkap mata sang rektor yang sedang memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Lea hanya memandang sekelilingnya, ia merasa kalau tatapan itu bukan untuk dirinya melainkan seseorang yang dekat dengannya. Meskipun demikian, tubuh Lea menjadi lemas serta panas dan keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya. Aku harus ke ruang kesehatan setelah ini, badanku terasa tak enak. Batin Lea menghela nafas sambil menyenderkan tubuhnya serta memejamkan mata.   "Kau lihat, rektor tadi menatap ke arahku,” ucap seseorang beberapa kursi di belakang Lea.   "Kurasa dia menatapku, Mia,” sergah temannya tak mau kalah.   Mendengar celoteh dua perempuan itu Lea yakin memang bukan dirinya yang dipandang. Ia tak mau menjadi percaya diri dulu.   "Ada apa Lea, apakah pria yang sedang berdiri di atas podium itu tidak sesuai khayalanmu?” bisik Edward di telinga kanan Lea.   "Tidak Ed, aku hanya lelah kurasa badanku sedang tidak baik,” balas Lea masih memejamkan matanya.   "Selesai acara ini aku dan Jenny akan mengantarkanmu ke ruang kesehatan, benar 'kan Sugar?" Edward meminta persetujuan Jenny. Sedangkan yang ditanya tidak menjawab melainkan matanya hanya fokus ke depan.   "Jadi kau lebih tertarik pada rektor itu, Sayang?” bisik Edward dengan nada mengancam.   "Oh tidak jangan salah paham aku hanya penasaran saja,” jawab Jenny dengan wajah menggoda.   "Terserah!”    *    Pria itu memandang ke penjuru ruangan tepat di sana titik di mana seorang wanita duduk di barisan tengah sedang memandang ke arahnya seperti mahasiswa yang lain. Matanya yang tajam bertabrakan dengan hazel coklat terang milik wanita tersebut.   Jangan ragukan retina matanya, bahkan ia dapat melihat berkilo meter dengan jelas. Pria ini berbeda dengan pria kebanyakan, yang hanya dapat melihat jelas hanya jarak beberapa meter.   "Selamat pagi,” ucapnya membuka pidato pada hari ini. Tetapi matanya tak lepas dari mangsa-nya.   Seakan diperhatikan dengan intens, belum sampai sepuluh detik gadis itu menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya. Aktivitas itu tidak luput dari pandangannya. Ia tahu bahwa wanita sedang dipandanginya merasa lemas dan panas. Itu pertanda awal mula mereka bertemu sambil saling menatap.   I got You, again. Seringainya culas tanpa ada yang tahu arti dari tatapan itu. Di sisi lain tergelapnya bersorak seakan mendapat apa yang diinginkannya tercapai. Bahkan tidak mau tahu nasib yang akan menimpa mangsanya.   *   "Aku tidak pernah menduga Mr. Nickholas se-seksi itu jauh dari apa ekspektasi yang ada di dalam otakku.” Jenny berbicara tanpa menghiraukan Ed dan Lea disamping-nya.   "Tapi Ed, meskipun ia tampan dan berwibawa aku masih terlalu cinta padamu,” gagasnya bergelayut mesra pada tubuh Ed.  Jenny benar, Lea mengakui itu bahwa rektornya memiliki jiwa wibawa yang tinggi seolah olah pria itu dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin.   "Oh, aku rasa itu pernyataan, Sugar. Bahwa kau tak akan berpaling dariku,” ucap Ed merangkul bahu kekasihnya.   "Tidak akan, Sayang. Mr. Dermon hanya ujian bagiku untuk setia padamu,” jawabnya disertai tawa. Sedangkan Lea yang mendengar ucapan mereka hanya bisa tersenyum kecut. Dulu ia dan Hans bisa lebih romantis daripada pasangan ini.  Dulu ia dan Hans merasa kalau dunia ini hanya ada mereka berdua. Tapi itu dulu sebelum Hans menyakitinya dan menghancurkan hati bagian terdalam. Sesampainya di depan ruang kesehatan Jenny dan Ed langsung pamit pada Lea untuk mengikuti kelas masing-masing.   Lea sudah diperiksa dan diberikan obat oleh petugas yang berjaga di sana. Sedikit demam dan istirahat yang cukup untuk mengurangi lemas pada tubuhnya, petugas tadi mengisyaratkan.  Ia tidak tahu mengapa ia bisa sakit secara tiba-tiba, sedangkan pagi tadi ia merasa baik-baik saja. Atau karena ia tidak jadi sarapan pagi tadi karena pada saat di meja makan kedua-nenek sihir itu yang selalu mengajaknya bertengkar, membuat ulah. Dan ia tidak bernafsu lagi untuk melanjutkan makan.   Aku akan membalas perbuatan kalian berdua, Nenek Sihir. Jika aku sakit memang karena ulah  kalian.  Seakan ada yang mengusiknya saat tidur. Lea membuka matanya, jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.45pm. Berarti ia sudah tidur hampir dua jam. Tetapi ia merasa hanya beberapa menit saja memejamkan mata. Tubuhnya merasa lebih sehat sekarang, tidak lemas seperti tadi. Ia pun menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.  Diperhatikannya seluruh ruangan, petugas yang berjaga tidak ada di tempatnya. Hanya ada seo ... tunggu matanya beralih titik sebelah kanannya di mana seorang pria sedang menatapnya lekat duduk di pinggir ranjang menghadap dirinya. Hanya dua ranjang memisahkan keduanya.   Ia mencoba mengingat siapa pria ini seperti tidak asing. Setelah melihat manik mata itu ia tersadar, itu rektor nya. Rektor kampusnya dengan tatapan intimidasi. “S—sir,” gugup Lea saat menyapa rektornya. Jika ia tidak memandang kesopanan juga tingkah laku ia tidak mau berhadapan dengan pria ini. Ia tidak mau terintimidasi, ia tak suka itu. Tak menjawab sapaan Lea. Nick membuka sepatu hitamnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang ia duduki tadi. Lengan kanannya menutupi wajahnya dan mulai memejamkan mata.   Lea yang melihat itu hanya mendengus pelan, merasa keadaannya sudah membaik ia segera mengambil tas di kasurnya dan turun dari ranjang. Tak lupa memakai flatshoes biru tua yang tergeletak di bawah kolong.  "Mau ke mana kau?" Baru hendak melangkah, suara pelan menginterupsi Lea. Dilihat lagi rektornya masih memejamkan mata. Apakah ia salah dengar? Rektor ini berbicara kepada siapa? Apakah dengan orang lain, tapi di ruangan ini hanya ada mereka berdua.   Seakan tak mendengar ucapan rektor. Lea melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. "Apakah kau tuli, ha? Aku bilang kau mau pergi ke mana?" Ada nada marah tersirat di kata katanya. Lea menghentikan langkahnya yang kebetulan sudah berada dekat ranjang sang rektor.   Ia tahu bahwa ia tadi tidak salah dengar, kalau pria ini bertanya padanya.   “A—aku ada kelas, Sir."  "Apa kau sudah sehat? Tidurlah kembali di sampingku!" perintah Nick masih memejamkan matanya.  "Ha?" Lea jelas menatap ranjang itu, ranjang yang ditiduri oleh badan kekar. Bahkan ranjang itu hanya menyisakan sedikit ruang di sisinya. Lea melihat tubuh pria itu kaku dengan rahang yang ditumbuhi janggut itu mengeras.   "Maksudku ranjang di samping kiriku.” “Tapi—" "Aku memerintahmu, bukan memberikan penawaran padamu, Nona.” Belum, bahkan Lea belum menyelesaikan kalimatnya.   Dengan ragu-ragu Lea naik ke atas ranjang sambil melepas flatshoes nya. Direbahkannya berbaring, jantungnya bahkan hampir keluar karena tidak bisa berdetak dengan pelan. Ia tidak tahu apa artinya, karena berdekatan dengan Nick sebagai pria atau karena berhadapan rektor kampusnya yang disegani. Yang pasti saat ini ia ingin menenggelamkan dirinya sendiri agar ia tak bertemu. "Berbaliklah menghadapku!” ucap Nick yang ternyata sudah menghadap Lea dengan tangan kiri menopang kepalanya.  "Jadi siapa namamu, Nona?"  "Florine Leanith Warner, Sir,” balas Lea menghadap ke arah Nick menatap manik biru laut terang di hadapannya. Sekarang ia bisa melihat dengan sangat jelas warna mata Nick, seakan ada kupu-kupu di dalam perutnya yang beterbangan sewaktu menatap hazel itu.   "Kau mengambil fakultas apa, Miss. Warner?"  "Psikolog." Lea tak tahan lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah tubuh Nick.   Seakan sudah mendapat informasi yang dibutuhkan. Nick membalikkan lagi tubuhnya yang sekarang menjadi posisi semula. Telentang dengan lengan kanan menutupi wajahnya.   Ternyata Lea salah untuk mengalihkan pandangannya. Tubuh Nick tak kalah menarik dengan wajahnya. Tubuh yang terbalut dengan kemeja panjang putih gading tetapi di kedua tangannya sudah di gulung hingga siku. Jas yang tadi dipakainya diletakkan begitu saja di nakas samping kanannya.   Mata Lea beralih melihat kaki panjang rektornya, kaki yang terbalut celana bahan abu-abu tua serta kaus kaki yang menghiasi telapaknya. Kaki itu kaki kanan yang menindih kaki kiri dan itu semua tak luput dari perhatiannya seolah yang dilakukan pria ini sekecil apa pun tetap terlihat sempurna. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan mahakarya yang memuaskan mata sebegitu indahnya? "Tidurlah. Ku tahu tubuhmu masih lemas dan jangan memandangku seolah serigala yang mendapatkan mangsa.” Bariton itu mengagetkan lamunan Lea.   Lea pun tersadar akan perbuatan nya. Ia merasa tak sopan dengan aksi terang-terangannya menatap tubuh di depannya. "Maaf," ucap Lea pelan tapi masih terdengar jelas. Lea malu, sungguh malu. Jika bisa ia ingin sekarang juga mengubur tubuhnya hidup-hidup di bawah tanah.   Berniat kembali tidur membelakangi rektornya karena ingin menutupi wajahnya yang sudah memerah. Lagi-lagi kata pria itu membuatnya tak berkutik.   "Jangan mencoba membelakangiku. Aku tak suka itu.” Lea merutuki pria ini, pria yang baru beberapa menit bertatap muka langsung padanya sekarang sudah bisa membuatnya bergerak tak bebas. Membuatnya tak bisa berkutik atas kehendaknya sendiri.   Lea pun mau tak mau menuruti.   Sudah beberapa menit Lea mencari posisi yang enak tapi tetap saja semua merasa ada yang janggal. Padahal penghangat ruangan ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa merasakan udara dingin seperti di luar. Seharusnya ia nyaman dengan suhu ini. Merasa pasrah, akhirnya Lea menghadap ke arah Nick yang terlihat sudah tertidur. Terbukti dari nafasnya yang berembus teratur.   Cukup lama memandangi wajah tampan itu, perlahan lahan akhirnya matanya tertutup dan lelap di bawah alam sadarnya.   Nick bukannya tidak tahu kalau sedari tadi Lea gelisah mencari posisi yang enak untuk terlelap. Ia hanya ingin menormalkan tubuhnya yang lemas. Di saat pertama kali matanya menatap mata Lea seakan sesuatu dalam tubuhnya menyentak ingin keluar, darah yang mengalir di dalam tubuhnya juga bergejolak bagaikan air yang dipanaskan. Suhu tubuhnya tiba-tiba naik beberapa derajat entah ia juga tidak tahu penyebabnya. Itulah yang dirasakan Lea, demam dan lemas seolah Nick berbagi rasa melalui tatapan mata. Dilihatnya Lea yang sudah terlelap menghadap ke arahnya dengan kedua tangan memeluk tubuhnya. Nick turun dari ranjang menuju pintu dikuncinya pintu itu dari dalam agar orang lain tidak bisa masuk sesuka hati. Ia dan Lea butuh waktu. Waktu untuk mendekatkan diri dan menyesuaikan satu sama lain.     Segera Nick mendorong ranjang yang tadi di tempatinya merapat dengan ranjang Lea tanpa menimbulkan bunyi dan decit sedikit pun. Tidak ada pembatas, tidak ada ruang. Benar-benar rapat bersisian di samping Lea.   Dengan cepat Nick membaringkan tubuhnya menghadap Lea. Mengamati wajah polos itu dengan saksama. Seakan tidak puas, ia pun mengambil bantal yang dipakai Lea dan menggantikannya dengan lengan kokoh kirinya. Merengkuh pinggang itu dengan tangan kanan serta kedua kakinya membelit kaki Lea. Tidak dibiarkan bergerak sedikit pun.   Diciumnya rambut Lea lamat dan dalam yang menurutnya aroma vanila dan mawar menguar dari dalam tubuhnya. Seperti sebuah kehangatan dan kenyamanan, Lea lebih menenggelamkan kepalanya pada d**a Nick secara tak sadar. Nick yang merasakan pergerakan itu hanya menarik sedikit sudut bibirnya dan mempererat pelukannya pada Lea.   "Aku tahu kau takdirku. Tapi dunia kita berbeda Miss. Warner.” Sesekali mengecup kening Lea.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN