5. [ Menolak ]

1474 Kata
Seorang wanita berambut coklat tua sedang memperhatikan taman bunga yang cukup luas dari arah balkon kamarnya. Taman bunga mawar merah juga hitam, mempertegas keadaan di sekitarnya. Taman bunga yang sekarang sedang disirami oleh beberapa orang pembantu. Seakan mempunyai daya tarik sendiri untuk diperhatikan.   Jari jarinya mencengkeram erat tiang pagar besi balkonnya yang setinggi pinggang. Matanya tajam menyalang menatap ke depan. Seakan ingin mencabik siapa saja yang mendekatinya.   "Kau membuatku marah, Nick!" desisnya dibarengi geraman, membuat siapa pun yang mendengar pasti lebih baik menghindar. Tapi tidak dengan pria paruh baya yang mendekatinya.  "Ada masalah dengan kekasihmu, Sayang?" ucapnya menyenderkan tubuhnya di dinding memperhatikan sosok wanita yang hatinya terlihat tidak sedang keadaan baik.   Wanita itu pun membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang berani mendekatinya. "Nick. Akhirnya menemukan takdirnya, Dad.” Tatapan itu yang tadinya tajam menjadi sedih. Ia tidak mau ditinggalkan Nick. Ia sangat mencintai kekasihnya itu.   "Sudah seharusnya seperti itu kan.” Ayah wanita itu memeluknya. Memberikan kekuatan pada putrinya yang sedang dilanda kesedihan.   "Kau juga akan menemukan takdirmu. Kau hanya perlu bersabar.”  "Tidak, Dad! Aku hanya ingin Nick! Hanya dia yang akan menjadi takdirku tidak ada yang lain!” kukuh wanita itu melepaskan pelukan ayahnya. "Lagi pula takdir Nick bukan seperti kita, Dad!" seringai wanita itu sambil membalik tubuhnya menghadap ke arah taman bunga.  "Apa maksudmu?" Sekarang ayah wanita itu yang dikejutkan dengan perkataan putrinya.   "Kaum rendah yang lemah tapi mencoba untuk menguasai dunia. Kaum yang penuh dengan kemunafikan. Kaum yang paling jahat di muka bumi,” ucapnya seringan bulu tanpa beban seolah memang benar apa yang dikatakannya.   "Kau bercanda, Sayang?" Christopher mencoba meyakinkan putrinya dengan apa yang didengarnya tadi. Bagaimana bisa Nick memiliki takdir seorang manusia.  "Tidak, Dad. Tapi aku yakin Nick akan menolak takdirnya itu, mengingat ia mempunyai masa lalu yang kelam.” Seringai iblis muncul di kedua bibirnya. Ia suka itu, di mana Nick akan menolak takdirnya dan akan kembali ke pelukannya seorang. Ia tertawa dalam hati.   "Ayah mohon padamu jangan lakukan apa pun, Noella. Jika tidak, kau sama saja menghancurkan hubungan antara kita dan mereka. Cukup Nick saja yang mengambil tindakan atas hidupnya. Jangan kau campuri urusan yang menyangkut masa depannya,” pinta Christopher pada Noella.   "Tidak akan, Daddy!" Senyum manis ditunjukkan untuk ayahnya. Meskipun mendengar jawaban anaknya, tapi hatinya tidak tenang. Ia takut Noella berbuat macam-macam menyangkut kesenangan hatinya. Noella termasuk mempunyai ambisi yang tinggi tak mau terkalahkan.   Jika kau tidak menuruti perintahku, aku yang akan menghalangimu lebih dulu, Nak. Walaupun itu cara yang menyakitkan sekalipun, kata Christopher dalam hati. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada Noella, apalagi menyangkut dengan Nick. Nickholas Andrew Dermon. Yang dikenal sebagai Sang Dewa Iblis.    ** Ia tak mengerti dengan hidupnya sekarang. Sudah lebih dari tiga minggu semenjak ia berbicara dengan pria itu. Seakan sekarang bagian sisi hatinya terasa kosong dan hampa. Ia tak tahu mengapa dan apa yang salah dengan dirinya. Ia juga merasa aneh pada kala itu, di mana pada saat ia bangun dari tidurnya di ruang kesehatan ia merasa sangat senang dan seakan beban dalam tubuhnya terangkat, tidak jelas apa penyebabnya. Ia sungguh tak mengerti. Ia juga sadar tak melihat rektornya lagi. Kasur yang sempat ditiduri rektornya pun sudah rapi. Mungkin pria itu sudah pergi karena ada kepentingan lainnya. Tapi setiap hari semakin berlalu perasaan senang dan tak ada beban itu tergantikan dengan rasa kosong dan hampa yang bertambah setiap harinya. Kadang ia sempat berpikir apakah rasa hampa ini karena dirinya yang tidak lagi dekat Hans. Hans yang dulu selalu disisinya tapi sekarang tidak. Apakah ini cara menyesuaikan diri tanpa adanya ketergantungan akan diri Hans.   Tapi sisi lain, Lea menampik hal itu. Ia merasa bahwa mata biru laut terang itulah yang sudah menghipnotisnya. Mata tajam dengan segala misteri yang terkandung di dalamnya. Ia tak bisa membacanya, seakan pria itu pintar dengan segala kondisi untuk menutupinya. Lea tak tahu pria itu suka atau tidak dengan dirinya. Suka dalam arti senang saat mereka bertemu, atau mungkin jengah saat mereka berdua yang saat itu sempat berbicara. Tapi itu baru awal pertemuan mereka. Tidak ada sikap tertarik pada Lea kecuali sikap otoriternya saat itu. Lea menepis segala sesuatu yang berhubungan dengan Mr. Dermon. Segala sesuatu yang saat ini memenuhi isi kepalanya.     **   Dengan senyum yang terukir di bibirnya, Lea membuka pintu kaca bertuliskan 'open' yang tergantung di dalamnya bunyi lonceng langsung terdengar. Suasana menyegarkan dan aroma khas memenuhi ruangan saat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam.   "Oh hai, Lea. Lama kau tidak kemari,” ucap seorang perempuan Asia yang kira-kira lima tahun di atas Lea. Ia pun menghampiri Lea dan meninggalkan sejenak tugasnya.   "Hai, Yola. Apa kabarmu? Kulihat kau semakin berisi sekarang.” Lea memperhatikan tubuh lawan bicaranya, seperti ada yang berbeda.   Yola pun meletakkan tangan kanan Lea di atas perutnya. "Enam minggu,” ucapnya dengan senyum semringah. Lea membulatkan matanya tak menyangka, ia merasa temannya baru kemarin menikah dan sekarang Yola sedang hamil.   "Oh, cepat sekali. Mengejar target, hm?" ledek Lea sambil mengelus perut rata Yola. Sedangkan wanita itu hanya bisa tersenyum atas celoteh temannya, juga sudah ia anggap sebagai adiknya.   "Bisa dikatakan seperti itu. Kevin ingin cepat mempunyai anak agar di rumah terasa ramai.”  "Sungguh mengesankan, kalau seperti itu kau tidak boleh lelah. Jika lelah kau bisa beristirahat bahkan libur. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan keponakan kecilku!” ancam Lea dibalas kikikan Yola. Ia tak menyangka ternyata adiknya ini posesif seperti suaminya.   "Kau seperti Kevin, Lea. Aku seperti mempunyai dua suami sekarang.”  "Oh, ayolah aku hanya mempunyai kalian sebagai keluargaku. Aku tidak mau terjadi apa pun dengan salah satu antara kalian.”  "Jadi kau menganggap Grace dan ibumu apa, Lea?" Bahkan sekarang Yola tertawa dengan kalimatnya sendiri.   "Kau tahu kan mereka nenek sihir yang menjelma menjadi ibu dan kakak tiriku,” sungut Lea.   "Hai, ramai sekali. Ada apa ini?" ucap seorang wanita paruh baya dengan kain di kepalanya.   "Bibi Angela, aku rindu sekali padamu.” Lea memeluk wanita itu.   Bibi Angela, seorang wanita paruh baya yang sudah mengabdi di toko bunga milik keluarga Lea. Dia adalah teman dari kedua orangtua Lea. Bibi Angela hidup sendiri, ia tak mempunyai sanak keluarga. Sebenarnya Bibi Angela dan kedua orangtua Lea 'lah yang mendirikan toko bunga ini. Tapi karena Bibi Angela tidak mempunyai anak maka dengan kesepakatan ia dan orangtua Lea, toko bunga ini akan menjadi milik Lea. Dengan syarat ia yang mengurusnya sampai maut memanggil.   Tapi takdir berkata lain, saudara serta ibu tiri Lea yang semena-mena dengan semua usaha ayahnya selama ini. Mereka menyalahgunakan kuasanya tapi Lea tidak diam saja, ia selalu mengawasi segala permasalahan yang ditimbulkan kedua nenek sihir itu. Pernah suatu hari perusahaan milik Lea hampir merosot karena ulah kakaknya yang selalu menghamburkan uang, membelikan ini itu tanpa pertimbangan hingga batas maksimum. Tak ada yang memberitahunya saat itu. Lea pun mencium ada yang aneh dengan gerak gerik kakaknya.   Hingga suatu hari Lea datang ke kantor untuk mencek data-data pengeluaran, ternyata pada tiga bulan terakhir perusahaan mengalami penurunan drastis penjualan harga pasar. Lea langsung memanggil manajer keuangannya, setelah ditelusuri manajer itu mempunyai hubungan khusus dengan Grace, kakaknya.   Yang Lea yakini lagi, Grace lah yang merayu sang manajer untuk mendapatkan uang. Karena Lea tahu Brave—sang manajer yang sudah beberapa tahun kerja di perusahaan Lea tidak pernah melakukan tindak korupsi. Maka dari itu, Lea memaafkan Brave dengan memberi surat peringatan serta sanksi mutasi menjadi staf. Dengan senang hati Brave menerima itu karena ia telah melakukan kesalahan. Ia masih bersyukur tidak dipecat karena kesalahan fatalnya.   "Kau mengapa senyum sendiri, Lea?" ucap Bibi Angela membuyarkan lamunannya.   "Ah, tidak bibi. Hanya ingat kejadian setengah tahun lalu.”  "Ah, sudah. Ayo kita bekerja lagi. Membicarakan dua nenek sihir itu tidak ada habisnya.” Bibi Angela menginterupsi agar menghentikan obrolan ini.   "Aku ke belakang dulu,” pamit Lea pada Bibi Angela dan Yola.     *    Suara lonceng terdengar menandakan ada pembeli yang datang. Lea yang sedang merangkai bunga menghentikan aktivitasnya. Matanya terbelalak saat mengetahui siapa yang akan menjadi calon pembeli bunganya. Rektornya.   Ia melihat ke seluruh ruangan tidak ada pegawainya sama sekali hanya ia seorang. Mau tidak mau Lea menghampiri Nick meskipun sekarang jantungnya berdetak tak normal. Hatinya yang tadinya hampa dan kosong perlahan lahan menguap entah ke mana saat matanya melihat wajah Nick.   "Tulip oranye yang artinya energi, hasrat, juga gairah,” ucap Lea tersenyum di samping Nick saat pria itu sedang memperhatikan deret bunga tulip. Nick menatap Lea. Sedetik kemudian ia memejamkan mata serta menghirup nafas dalam.   Lea melihat Nick dengan aneh. Seperti ada yang salah. Lea menghirup aroma tubuhnya sendiri, tidak ada yang aneh hanya aroma khas parfum miliknya.   "Kau tidak apa Mr. Dermon?" Lea bertanya saat mata itu terbuka. Ia sedikit terkejut saat melihat manik mata itu yang terlihat biru gelap bukan biru terang seperti saat mereka pertama kali bertemu. Atau karena efek cahaya dari ruangan ini.   "Tidak, aku tidak apa-apa. Apa kau bisa memberiku sebukat mawar hitam?" ucap Nick sambil melihat lihat bunga lainnya.   "Baik, mohon tunggu. Kebetulan aku tadi sedang merangkainya, sebentar lagi selesai.” Sebenarnya Lea bingung atas permintaan Nick. Mawar hitam, apakah ia sedang berduka cita atau dikhianati seseorang. Tidak mau ambil pusing, Lea dengan cepat merangkai bunga permintaan Nick.  "Ini, Sir.” Lea berjalan mendekati serta memberikan plastik transparan yang berisikan buket bunga pesanan Nick.   Nick yang diam saja tanpa membalas hanya menatap ke arah bunga cantik di depannya. Bunga Carnetion atau biasa disebut Bunga Anyelir.  Diambilnya beberapa batang dari tempatnya. "Berapa semua?"  Setelah menyebutkan nominal harga. Nick memberikan beberapa lembar uang kepada Lea. "Ini untukmu,” ucap Nick dingin memberikan Bunga Carnetion yang tadi ia ambil. Kemudian pergi berlalu.   Dada Lea seperti diremas tanpa tahu apa sebabnya ia mencari pegangan di sekelilingnya tapi tidak ada. Ia tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri akhirnya ia meluruh di ubin yang dingin. Beberapa bunga yang tadi diberikan Nick tak sengaja jatuh dari pegangannya. Menyisakan satu tangkai bunga dalam genggaman.   Tangan kirinya meremas dadanya. Rasanya sakit luar biasa. Lebih rasa sakit saat ia dikhianati Hans.  Ditatapnya Bunga Carnation putih bergaris merah muda di pinggir nya. "Dia menolakku, tapi mengapa?" lirih Lea bergumam, ia tak mengerti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN