6. [ Nickholas Andrew Dermon ]

1687 Kata
Nickholas mencengkeram erat kemudi, matanya melalang tajam masih memandang ke depan. Ia secara tidak langsung telah menolak takdirnya, pendamping hidupnya. Gadis yang masih menundukkan kepala, sambil meremas bunga pemberian Nick.   Ia tahu gadis itu merasakan sakit yang luar biasa meski dirinya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Nick merasakan itu, bahkan ia lebih merasakan sakit yang dialami Lea. Hampir ingin mati rasanya.  Sialan kau, Nick! Sisi lain dirinya merutuki sikap bodoh atas perbuatannya selama ini.   "Maaf." Kepalanya disandarkan pada kemudi. Mencoba memejamkan mata. Ia masih mengingat mata coklat terang itu, dan senyuman indah tapi menggoda bagi Nick. Jangan lupakan juga mata bulat Lea yang berbinar saat melihat Nick tadi. Pertemuan yang ketiga, baginya. Nick tidak akan melupakan itu.   Nick bahkan tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri saat berhadapan langsung dengan Lea. Apalagi aroma tubuh perempuan itu, seakan candu. Nick tidak pernah menghirup aroma semacam itu ada yang berbeda dalam diri Lea dan Nick tahu itu. Nick tahu semuanya, apa arti Lea dan hubungan dengan dirinya. Apa arti hidupnya yang selama ini ia jalani, segalanya. Tapi pikirannya menepis hal itu, ia sekarang harus menghindari Lea. Pergi jauh dari hidupnya. Ia harus mencoba meskipun sekarang dalam diri Nick menghilang entah ke mana. Perasaannya seakan hambar dan jiwanya kosong. Nick pun mengarahkan kepalanya saat di lihat Lea dihampiri oleh beberapa pegawai toko dan mencoba membantu untuk berdiri.  Nick menghidupkan mesin Audi nya, dan bergegas pergi.  Pikirannya kacau, ia pun tidak tahu mengapa ia melakukan hal bodoh itu.  Tapi sekelebat ingatan muncul, mendominasi segala pikiran bodohnya.   Ingatan yang menyakitkan. Menguarkan segala amarah dalam tubuhnya, bersamaan dengan kekecewaan.  Tapi ia tahu Lea bukan gadis semacam itu, terlihat dari sorot mata polosnya.  Yang ia inginkan sekarang hanyalah menenangkan dirinya dan sosok lain di tubuhnya.   "Biar aku saja, Rome!" tegasnya saat mendapat panggilan seseorang.     *   Suara rintihan kesakitan bahkan ada yang berteriak menjerit meminta pertolongan terdengar saat Nick memasuki lorong bawah tanah. Bau anyir menyengat mendominasi di setiap ruang berteralis besi, ditambah udara pengap dan cahaya lampu yang temaram menambah kesan suram bagi orang yang pertama kali masuk ke dalam sana.   Nick membuka salah satu teralis besi menampakkan beberapa orang yang berada di ruangan. Tapi fokusnya pada seorang pria yang berdiri sambil menundukkan wajahnya serta kedua tangan dan kakinya dirantai dengan rantai besi besar ditambah pemberat bulat yang tidak kalah besarnya.   Tubuh telanjang dadanya penuh dengan cambukkan, juga luka sayatan memanjang menghiasi tubuh tegapnya.  Seakan mendengar suara teralis besi dibuka. Wajahnya didongakkan melihat siapa yang datang. Tapi ia tahu siapa yang datang, aura kematian semakin mendekatinya.  "Sang penguasa kegelapan akhirnya datang," ucapnya mengejek, senyum menyeringai menghiasi bibirnya.          Dilihat dari wajahnya, Nick tahu bahwa pria ini sudah mulai ketakutan dilihat dari matanya yang tidak mau menatap langsung mata Nick. "Dan kau?" Nick mencengkeram erat dagu pria ini, membuat si empunya meringis kecil.   "Sampah. Sampah yang tidak berguna. Rogue rendahan yang mencoba memasuki wilayahku dan menyerangnya, mencoba balas dendam karena pasangannya mati karena ulahnya sendiri, ha?" Nick mencengkeram erat rambut sebahu pria itu, hingga wajahnya mendongak lebih dekat dengan wajah Nick yang mendominasi.   "Kau seharusnya tahu. Kekasihmu lah yang merayuku bersikap jalang seper—“ "DIAM KAU ALPHA, TENGIK!" teriak pria itu tidak terima, tersulut emosinya mendengar sang kekasih dicap sebagai jalang.   "Kau berani berteriak di depanku dan menghinaku?" ucap Nick pura-pura terkejut dengan perkataan pria itu.   Sambil melepas cengkeraman pada rambutnya. Nick mundur dua langkah, ia ingin melihat jelas tubuh pria ini. Sedetik kemudian salah satu kakinya mendarat di tulang kering pria itu.  "ARRRGGGHH!"  "Jangan sekalipun berteriak di depanku atau kau tahu akibatnya!" Nick berbicara pelan tepat di telinga tawanannya. "Dan kau, siapkan kata-kata terakhir. Rome, bawakan kebutuhanku!" Pria itu terkesiap atas kata-kata sang penguasa, ia tak menyangka bahwa dirinya sendiri yang akan di eksekusi langsung oleh sang pemimpin.   Romeo yang mendengar perintah pemimpinnya langsung bertindak, ia pun memberikan pedang pada tuannya.  Nick memundurkan tubuhnya dan menerima pedang nan tajam yang diberikan Romeo.  Tangan kekar itu mengangkat senjatanya dan mengelus ujung mata pedang pada pipi kiri tawanannya. Menimbulkan aliran deras berwarna merah. Pria itu pun hanya bisa meringis menahan segala kesakitan yang bersarang di tubuhnya. Ia hanya bisa pasrah, detik-detik kematian sudah menunggunya. Mati dengan cara mengenaskan dengan pedang yang berada di genggaman sang Alpha.   "Cih! Alpha arogan yang berkuasa kau akan—“ Nick sudah melayangkan pedangnya ke udara.   "Merasakan sepertiku jika belahan jiwamu pergi darimu." Tepat pada saat kalimat terakhir dilayangkan kepala pria itu sudah menggelinding jatuh. Suasana semakin mencekam tidak ada yang berani bersuara.   Mereka semua terkesiap atas kata-kata terakhir pria itu. Mereka tidak menyangka sang tawanan bisa berkata seberani itu. Memberikan kata-kata telak untuk sang pemimpin. Nick memandangi, mata yang melotot serta wajah yang menampakkan raut kebencian. Nick merutuki segala ucapan pria yang tewas beberapa detik lalu. Menyumpahi segala ucapannya agar tidak terjadi.  "Tikus selokan!" Nick menjatuhkan pedang nya asal.   "Romeo!" teriak Nick, menyudahi aksi terkejut para bawahannya.   Romeo membawa baskom air jernih dan handuk bersih. Nick membersihkan kedua tangan dan wajahnya dengan tenang. Setelah selesai ia pergi dari ruangan pengap itu. "Bawa mayat si bodoh itu pada Zeke!" perintah Nick sebelum pergi, pada kedua penjaga ruangan ini.  "Baik, Alpha," balasnya berbarengan.   Zeke adalah peliharaan Alpha berupa ular. Tapi Zeke berbeda, ia adalah ular putih yang mempunyai tanduk hitam serta di ekornya mempunyai bulu-bulu beracun.  Zeke biasa menghisap darah hewan atau manusia sebagai makanannya, menghisap darah sampai habis hingga tertinggal kulit serta tulang mangsanya saja.   Mereka di ruangan tercengang atas aksi tenang pemimpinnya. Seolah tidak terjadi sesuatu, Nick pandai memanipulasi keadaan sekitar. Sehingga mereka terlalu takut untuk mengetahui perasaan tuannya. Tidak pernah sekalipun Nick mau ikut campur untuk mengeksekusi tawanannya. Ia menyerahkan pekerjaan yang menurutnya mudah itu pada seluruh penjaga bawah tanah. Karena ia tahu orang suruhannya tidak pernah mengecewakannya. Ia tidak mau membuang buang waktu berharganya juga mengotori seluruh tangannya dengan darah makhluk menjijikkan, pikirnya seperti itu.   Tapi berbeda hari ini, seakan ada gelora gairah dalam dirinya. Seperti vampir yang haus akan darah, Nick ingin sesekali memainkan pedangnya pada leher musuhnya. Menyaksikan penderitaan serta rintihan kesakitan meminta pertolongan. Ia ingin menikmati itu semua.  Sejenak segala imajinasinya hilang,  ia merasa tidak puas dalam hatinya setelah menebas kepala pria terkutuk itu.  Nick pikir setelah bermain dengan tawanannya jiwa dalam diri Nick akan kembali seperti semula, sebagai pemimpin yang kuat dan berkuasa. Tapi tidak, malah beban itu semakin berat. Ditambah ucapan pria terkutuk itu sudah memenuhi otaknya.   Merasakan sepertiku bila belahan jiwamu pergi darimu. Pergi darimu. Pergi. "Pergi dariku," lirih Nick tersenyum masam, mencengkeram erat rambutnya dengan kedua tangan. Merasa terpengkor atas ucapannya. Nick menyeringai sinis. "Tidak! Bukan dia yang pergi. Melainkan aku yang pergi darinya." Suara kekehannya menggema di ruangan kamarnya yang hening.   Nick berjalan ke arah ranjang dan menjatuhkan bokongnya di atas sana.   "Aku tidak membutuhkannya ada Noella disisiku." Senyum simpul terlukis di bibirnya. ia menemukan jalannya, seolah kebahagiaan di depan mata. Tapi jangan lupakan sorot mata itu, manik biru terang sayu menandakan kesedihan yang mendalam.     ***    "Sayang, bangun," usapan lembut di pipi Nick membangunkan dirinya dari tidur lelapnya.   Nick merasakan sentuhan itu juga di rambutnya. Tanpa membuka mata Nick tahu siapa yang berusaha membangunkannya. Diambilnya telapak tangan gadis  di hadapannya, dikecupnya berulang kali.   "Mengapa membangunkanku, Sayang?" Bukannya membuka mata Nick malah membenarkan posisinya. Kepalanya sekarang di cerukkah di depan perut gadis itu.   "Geli, Nick!" Tanpa mendengarkan sang gadis, Nick malah melingkarkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu. "Lepaskan!"  "Tidak, Sayang!" gumaman Nick masih terdengar di telinganya.   Lelah dengan sikap manja Nick akhirnya sang gadis menyenderkan punggungnya di pohon belakangnya. Tangannya tak berhenti mengusap rambut tebal Nick.   "Aku mencintaimu, Nick!"  "Aku pun begitu, Honey!" balasan Nick setelah mendengar pernyataan sang kekasih.    *** Mata tajam itu terbuka melalang tajam memandang ruangan gelapnya. Titik-titik peluh di dahinya menandakan seperti ia baru saja berlari berkilo kilo jauhnya. Ia merasa lelah dan haus. Otaknya masih terus berpikir atas apa yang baru saja terjadi.   Nick bangun dari tempat baringannya, membuka bajunya yang terasa basah oleh peluh. Ia merasakan kepalanya berdenyut nyeri.   "b******k!"  Dengan keadaan masih gelap Nick melihat sesuatu di atas meja yang terletak di seberang ranjang. Ia pun mendekati meja itu. Diambilnya bunga yang sedikit layu, bunga yang ia beli dari tempat toko bunga milik Lea.   Nick memperhatikan bunga itu, bunga yang berjumlah tujuh tangkai. Ia merasa heran mengapa Lea memberikan jumlah bunga tujuh, mengapa tidak sepuluh. Atau berapa pun. Beberapa detik kemudian Nick menarik kedua sudut bibirnya.   "Sial kau, Lea!" Nick tahu mengapa Lea memberikan tujuh tangkai bunga pesanan Nick.   Jumlah yang sama dengan tanggal di mana  Lea bertemu dengan Nick untuk pertama kali. Saat Nick datang ke kampus sebagai rektor. Nick semakin melebarkan senyumnya, ia tak menyangka Lea bisa semanis itu.   "Kau sangat manis, Sweetheart"   Tapi disisi lain Nick berpikir mengapa Lea menempatkan jumlah tujuh tangkai di bunga pesanannya. Bunga yang tak lain mawar hitam. Jika Lea ingin bersikap manis dengan dirinya seharusnya Lea memberikan bunga lain untuk dirinya bunga yang lebih romantis. Mawar merah misalnya. Atau jangan-jangan Lea secara tidak langsung mengungkapkan perasaan kecewanya terhadap pertemuan pertama mereka. Mengungkapnya perasaan kecewanya dengan bunga Mawar hitam pesanan Nick "Memang kau gadis sialan, Lea!" Nick melempar dengan keras buket bunga itu di atas meja. Ia merasa pikirannya dan jiwanya terguncang jika mengingat tentang Lea.   Nick bergegas memasuki Walk  in Closet untuk mengganti seluruh pakaiannya. Ia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, 1.47am. Pertengahan malam ternyata.   Keluar dari Walk in Closet dengan kaos hitam dan celana jeans, Nick langsung menuju nakas nya mengambil ponselnya tergeletak juga mendekati meja tempat beradanya buket mawar yang ia tadi lempar. Meninggalkan kamarnya dengan bergegas, di otaknya banyak asumsi tentang Lea. Entah itu baik atau buruk.   Yang ia harus fokus pikirkan sekarang ingin memberikan bunga di genggamannya kepada sang pemilik sesungguhnya.   Tanpa Nick tahu salah satu bunga di tangkai  genggamannya sudah berkurang. Satu di antara tujuh bunga mawar hitam itu telah patah dari tangkainya akibat hempasan kasar Nick. Bunga yang saat ini kelopaknya berserakan di meja.     *   Nick menghentikan Buggati nya di bawah pohon besar kemudian keluar memperlihatkan hamparan lapangan luas di depan matanya. Cuaca malam yang dingin seakan tidak mempengaruhi tubuhnya yang tertutup jaket kulit hitam.   Langkahnya mendekati hamparan tanah luas itu. Nick pelan-pelan melangkah ia tidak mau menginjak gundukan tanah di bawahnya. Ia harus menghormati, bahwa tidak hanya dirinya di sini.   Ia hampir mendekati tempat yang diinginkannya. Gundukan tanah juga penanda yang lumayan besar setinggi setengah meter. Seperti yang lainnya, salah satu dari jumlah ratusan gundukan menghiasi luasnya tanah lapang ini. Tempat peristirahatan terakhir untuk orang-orang yang pernah hidup.   "Apa kabar?" tanya Nick menatap gundukan tanah di depannya. Nick berjongkok di sisi kanan, mengusap pusara putih itu.   Tidak ada sahutan, yang ada hanya bunyi binatang malam yang keluar dari persembunyiannya. Sunyi, bahkan hanya angin yang kadang meniup dengan kencangnya.   "Kau tidak merindukanku, hm?" Seolah orang yang berbaring di dalam sana itu harus menjawab pertanyaannya. Nick meletakkan buket bunga Mawar hitam itu di atas gundukan tanah   "Untukmu. Maaf jika bertentangan dengan kesukaanmu. "Ku pikir sekarang kau lebih menyukai wawar hitam daripada mawar merah." Nick mengelus gundukan yang tertutup rumput itu.   Matanya menyiratkan kesedihan, kekecewaan juga kemarahan. Sunyi. Sepi.   "Aku selalu mendoakanmu semoga kau hancur di neraka dan tidak ada satu pun yang menolongmu!" Nick mengepalkan tangannya. Matanya memerah nyaris hitam. Ia harus mengendalikan dirinya, setidaknya jangan di sini.   Nick berdiri dari jongkoknya, memandang langit hitam tidak ada bintang atau bulan yang menghiasi. "Kuharap kau merasakan apa yang aku dan keluargaku rasakan, Sayang!"  Nick melangkah menjauhi pusara itu.     Cecilia Zera   Born On : 12 August 1987  Died : 25 August 2004 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN