10. Skenario Cinta

1755 Kata
Gibran benar-benar tidak percaya saat papanya mengatakan kalau dirinya memiliki seorang putri kandung. Dia sudah lebih dari dua puluh tahun tinggal bersama papanya, tapi tidak sekalipun dia tahu kalau papanya punya anak selain dirinya. “ Apa papa sedang bercanda.” Tanya Gibran “ Papa serius nak, papa benar-benar punya seorang putri.” Jawab papanya. “ Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini pa, kenapa papa baru mengatakannya sekarang setelah kita tinggal bersama selama puluhan tahun.” Ucap Gibran “ Karena papa pun baru tahu, papa baru tahu kalau ternyata papa punya anak kandung.” Balas papanya. “ Pa, papa kenapa mudah sekali percaya seperti ini, bisa saja orang itu menipu papa dengan mengaku sebagai anak kandung papa. Apa papa lupa sekarang sudah banyak sekali yang melakukan penipuan receh seperti itu pa.” Ujar Gibran yang masih tidak percaya. “ Papa percaya nak, tidak mungkin Ulya membohongi papa. Dan kalau kamu melihat putri papa, kamu pun akan langsung bilang kalau dia anak papa. Dia mirip papa, Gibran.” Ungkap papanya dengan penuh kebahagiaan menceritakan hal tersebut pada Gibran. “ ULYA ! Bukannya dia mantan isteri papa dulu.” Tebak Gibran saat papanya menyebut nama satu wanita. “ Kamu benar, Asyila anak papa dan Ulya.” Jawab papanya. “ Kalau memang papa punya anak darinya kenapa dia baru mengatakannya sekarang pa. Kenapa ngga dari dulu sebelum papa dan dia bercerai.” Tanya Gibran yang masih belum paham dengan situasi saat ini. “ Dia punya alasan kenapa dia menyembunyikan Asyila dari papa nak. Awalnya papa pun tidak bisa menerima alasannya, karena bagi papa hal itu tetap salah. Papa berhak tahu tentang lahirnya Asyila. Mau apapun alasan dia, harusnya dia tidak menyembunyikan Asyila pada papa. Tapi semua ini sudah terjadi, mau di selali seperti apapun ngga ada gunanya. Papa dan Asyila pun sekarang sedang sama-sama mencoba menerima keadaan yang membuat kita baru di pertemukan sekarang nak. Papa begitu bahagia karena bisa betemu dengan puti papa.” Balas papanya. “ Apa alasan mantan isteri papa menyembuyikan putri papa itu karena mama.” Tanya Gibran yang memang tahu cerita bagaimana papa dan mamanya bersatu. Dia tahu alasan papanya dan mantan isterinya bercerai. Mendengar pertanyaan Gibran membuat papanya diam. “ Gibran ngga menyangka, kalau hal ini akan membuat papa jauh dari anak papa selama bertahun-tahun.” Ucapnya yang merasa bersalah atas apa yang pernah terjadi di masa lalu. Mau bagaimanapun dirinya dan mamanya pun menjadi penyebab bercerainya papanya dan mantan isterinya. “ Jangan bicara seperti itu nak, kamu ngga salah apapun. Semua itu adalah pilihan jalan hidup kita masing-masing.” “ Tapi tetap saja pa, kalau mama dan Gibran ngga hadir dalam kehidupan papa waktu itu. Pasti papa dan mantan isteri papa masih bersama. Dan papa bisa hidup bahagia bersama dengan putri kandung papa.” “ Stop mengatakan hal konyol itu Gibran. Papa ngga pernah menyesal menikah dengan mamamu dan membesarkanmu. Papa sangat menyayangi kalian. Urusan papa dan mantan isteri papa berbeda hal dengan kalian. Papa memang kecewa dengan pilihan mantan isteri papa karena menyembunyikan Asyila dari papa. Tapi sekarang papa bahagia karena papa punya seorang putra dan seorang putri.” Jawab papanya yang mencoba menghilangakan ketidaknyamanan dalam hati putranya. “ Makasih pa, Gibran benar-benar terima kasih karena papa jadi papa Gibran.” Balasnya. Dan papanya pun langsung menepuk pundak Gibran. “ Oh ya, gimana sama kerjasamamu. Apa berhasil.” Tanya papanya. Dan Gibaran hanya membalas dengan anggukan dan senyuman yang menandakan kalau lagi-lagi dia bisa berhasil. “ Wah, lama-lama papa bisa tersaingi kalau kamu terus bisa berkembang seperti ini.” “ Apaan sih pa, jalur bisnis kita aja berbeda jauh. Gimana papa dan Gibran bisa bersaing. Papa sendiri yang selalu mengatakan kalau jangan pernah takut gagal, karena beribu-ribu kegagalan adalah salah satu jalan untukmu meraih kesuksesan. Dan Gibran selalu menerapkan itu dalam pikiran Gibran. Maka Gibran ngga akan pernah takut gagal, karena Gibran yakin awal kegagalan itu akan membuat Gibran menuju kesuksesan.” “ Papa benar-benar bangga padamu, ngga salah lima tahu lalu papa membiarkan kamu melepaskan jabatanmu di perusahaan. Dan sekarang, papa bisa melihat sendiri keberhasilanmu ini.” Balas papanya yang merasa bangga dengan prestasi yang di raih Gibran dalam merintis usahanya. “ Jangan keseringan memuji pa, lama-lama perut Gibran mules.” Jawabnya yang langsung bangkit dari duduknya untuk keluar dari ruang kerja papanya. “ Kamu mau kemana Gibran.” “ Mau istirahat, karena gosip ngga bermutu itu buat Gibran ngga bisa istirahat selama berhari-hari.” Jawabnya yang terus melangkah keluar dari ruangan papanya. “ Besok kamu mau kan temenin papa ke Surabaya untuk datang ke pernikahan putri papa. Papa ingin memperkenalkan kamu ke dia.” Teriak papanya yang mencoba mengajak Gibran untuk menemaninya ke acara pernikahan Asyila. “ Liat nanti aja pa.” Teriak Gibran. Mendengar jawaban Gibran membuat papanya hanya geleng-geleng kepala. Dia pun khawatir melihat Gibran yang masih begitu santai di umurnya yang sudah mendekati kepala tiga. “ Kalau kamu ngga mau nemenin papa, berarti kamu setuju buat di kenalkan dengan putri rekan papa.” Ucap papanya yang ternyata berhasil menghentikan langkah Gibran yang sedang menaiki tangga. “ Gibran akan temenin papa ke acara pernikahan anak papa.” Jawab Gibran dengan helaan nafas, karena dia yakin kalau ancaman papanya kali ini terlihat tidak main-main. Dan papanya hanya tersenyum mendengar jawaban Gibran, karena itu artinya dia menolak lagi untuk di kenalkan dengan wanita pilihan dirinya. “ Ok, kamu ngga bisa Tarik ucapanmu.” Ucap papanya dan Gibran hanya tersenyum sinis karena renca licik papanya itu. *** Malam ini, Asyila  dan teman-temannya pun berkumpul di rumahnya. Mereka ingin merayakan masa lajang Asyila sebelum menjadi isteri seseorang. Dan teman-temannya pun telah memberikan kejutan untuknya. Namun saat dirinya sedang asyik bersama teman-temannya, dia melihat mamanya dari kejauhan menghapus air mata yang keluar dari matanya. Asyila pun takut mamanya kenapa-napa, jadi dia pun langsung menghampiri mamanya yang sedang menuju kamarnya. “ Ma.” Panggil Asyila yang menyusul mamanya masuk ke kamar. “ Sayang, kenapa kamu kesini. Ada apa Syil, apa ada yang sesuatu yang kurang di acara kamu sama temen-temenmu.” Tanya mamanya yang terkejut Asyila mengikuti dirinya ke dalam kamar. “ Ngga ada kok ma, temen-temen Asyila seneng banget. Semuanya menikmati pestanya.” “ Alhamdulillah, terus kenapa kamu malah kesini. Kasihan dong temen-temen kamu.” Tanya mamanya. “ Apa mama baik-baik saja.” Tanya Asyila yang duduk di ranjangnya. “ Memangnya kenapa sayang, mama baik-baik saja kok sayang.” Jawab mamanya. “ Pasti mama kecapean ya, gara-gara ngurusin pernikahan Asyila. Maaf ya ma.” Ucap Asyila. “ Sayang, mama baik-baik aja kok. Mama bahagia nak, mama sangat bahagia ngurusin pernikahan kamu.” Ujar sang mama yang tidak ingin membuat putrinya khawatir. “ Terus tadi kenapa mama nangis. Apa mama sakit.” Tanya Asyila. “ Sayang mama tadi nangis karena mama bahagia nak, mama bahagia dan ngga pernah menyangka kalau ternyata anak mama sebentar lagi akan menjadi seorang isteri. Padahal dulu anak mama masih kecil dan sekarang sudah menjadi gadis cantik seperti ini.” Balas mamanya dengan mata yang berkaca-kaca. Asyila pun langsung memeluk mamanya. “ Mama buat Asyila semakin berat buat ninggalin mama. Jangan seperti ini dong ma.” Ungkap Asyila yang langsung menangis. “ Sayang, kamu ngga boleh bicara seperti itu. Kamu akhirnya menemukan kebahagiaan yang utuh sayang, kamu sudah bertemu papa dan sekarang kamu sudah menemukan laki-laki yang tepat dan mencintaimu dengan tulus. Sekali lagi mama minta maaf, karena sudah sempat berbohong padamu nak. Mama….” “ Ma, jangan bicara seperti itu. Asyila udah sepenuhnya maafin mama. Asyila ikhlas kok ma. Asyila benar-benar bahagia karena mama dan papa orang tua Asyila yang begitu hebat.” Balas Asyila yang meyakinkan mamanya kalau dirinya sudah menerima dengan ikhlas apa yang telah terjadi dalam hidupnya ini. “ Makasih sayang, mama pun selalu bersyukur karena kamu yang jadi anak mama. Kamu begitu sabar, kuat menghadapi masalah kita sama-sama.” Balas mamanya. “ Iya ma, Asyila pun bahagia karena akhirnya impian Asyila bisa terwujud, dan itu semua berkat mama yang akhirnya mengatakan semuanya. Papa yang akan menikahkan Asyila.” “ Alhamdulillah sayang, mama pun bersyukur karena papamu bisa menerimamu dengan mudah. Ketakutan mama selama ini memang ngga beralasan. Oh ya, kapan papamu datang nak.” “ Besok ma, tadi Asyila udah telfon papa.” “ Semoga aja, ngga ada kendala dalam perjalanannya.” Ucap mamanya, namun ada hal lain yang dia pikirkan sekarang. “ Syil.” “ Iya ma.” “ Apa kamu baik-baik saja dan sudah siap saat papa mengumumkan tentang kamu nanti saat acara di Jakarta.” Tanya mamanya yang khawatir kalau Asyila belum siap untuk di perkenalkan sebagai putri Adam Muzaki. “ Insyaallah ma, Asyila siap kok. Asyila juga ngga mau mematahkan atau mengecewakan papa yang begitu bahagia. Asyila mencoba memahami keinginan papa kok ma. Selama mama dan papa bersama dengan Asyila, maka Asyila akan baik-baik saja ma.” Balas Asyila. “ Alhamdulillah, kalau memang kamu sudah siap. Mama hanya takut kamu ngga nyaman kalau sampai banyak yang membicarakan dirimu nanti. Apalagi papamu itu bukanlah orang biasa.” “Asyila udah mulai terbiasa kok ma, mama aja di sini bukan orang biasa. Asyila pun sudah pernah merasakannya. Jadi hal ini bukanlah sesuatu hal yang baru buat Asyila.” Balasnya meyakinkan mamanya. “ Syukurlah, terus gimana sama persiapan Fatih. Apa kamu sudah menghubunginya.” Tanya mamanya. “ Tadi pagi sih mas Fatih bilang kalau semuanya sudah siap ma. Tapi sampai malam ini dia belum menghubungi Asyila lagi ma.” Ucapnya yang terlihat sedih. “ Ya ampun Asyila, baru juga malam ini. Bahkan besok pagi mama akan menyita ponsel kamu. Biar kamu ngga bisa terus terusan berhubungan sama Fatih. Kamu harus sabar, hanya satu hari lagi nanti kamu akan sah menjadi isterinya. Biarkan rindu itu mengalir dengan indah di hari pernikahan kamu nanti sayang.” Ledek mamanya. “ Ih mama, jangan ngledek deh.” “ Benaran sayang, rasanya pasti akan berbeda kalau kita akan ketemu dia di hari pernikahan.” “ Apa mama juga merasakan hal yang seperti itu saat dulu menikah sama papa.” Tanya Asyila yang membuat mamanya terdiam, melihat reaksi mamanya membuat Asyila tambah penasaran. “ Kok mama diam sih.” “ Mama diam karena mama lupa sayang.” “ Ngga mungkin mama melupakan hari bersejarah dalam hidup mama, atau jangan-jangan mama malu ya karena Asyila mengingatkan hari bahagia mama dulu.” “ Sayang, kamu udah berani ya ngledek mama.” “ Asyila ngga ngledek ma, jangan bilang kalau sampai detik ini mama belum bisa melupakan papa. Jangan-jangan mama waktu itu bohongin Asyila ya.” Pertanyaan Asyila membuat mamanya langsung mengeryitkan dahinya, dia tidak menyangka kalau putrinya akan berpikir hal seperti itu dan mengira kalau dirinya masih memiliki perasaan pada mantan suaminya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN