9. Skenario Cinta

2278 Kata
Mereka bertiga pun duduk di di salah satu ruangan khusus yang ada di salah satu restoran tersebut. Fatih terus diam menunggu papa Asyila menyapa dirinya karena dia tidak berani menatap wajah papa Asyila yang sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam dan tidak berkedip sedikitpun. Asyila pun ikut tegang karena melihat sikap papanya pada Fatih. Dia khawatir kalau papanya tidak suka dengan Fatih. “ Pa.” Panggil Asyila yang ingin mencairkan suasana. “ Makanannya kan udah siap dari tadi, sebaiknya kita makan sekarang, nanti keburu dingin dan ngga enak.” Ajak Asyila dan papanya pun hanya membalas dengan anggukan. Setelah itu dirinya pun menikmati makanan tersebut. Asyila pun langsung beralih memandang Fatih yang masih diam. “ Mas.” Panggil Asyila “ Iya Syil, ini aku juga mau makan.” Jawab Fatih yang juga ikut menikmati makanannya. Tapi tetap saja, dia terlihat tidak nyaman karena saat makan pun papa Asyila masih menatapnya terus. Setelah mereka selesai makan, Asyila pun ingin membuat papa dan Fatih jauh lebih dekat dan nyaman. “ Mas, kamu tahu ngga aku terkejut banget saat kamu bilang kalau kamu sudah sampai di sini. Aku aja sampai ngga sempet ngasih tahu papa.” Balas Asyila. “ Iya Syil karena aku pikir kemarin bakalan butuhin beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaanku. Tapi karena banyak yang membantu jadi cepat selesai, dan aku bisa cepat datang kemari untuk bertemu dengan om.” Balas Fatih, namun papa Asyila masih diam dan menghela nafas. Melihat sikap papanya, membuat Asyila akhirnya membuka suara. “ Pa, udah dong pa. Jangan terus terusan ngliatin mas Fatih begitu. Papa buat dia ketakutan tahu, karena dari tadi wajah papa seperti ini.” Ucap Asyila. “ Memangnya apa yang salah dengan wajah papa, kan memang wajah papa dari dulu seperti ini.” Jawab papanya dengan begitu santai. “ Iya, tapi papa ngliat mas Fatihnya ngga seperti saat papa ngliat Syila. Pa, katanya papa bersedia buat ketemu sama mas Fatih. Tapi kenapa sekarang begini.” Ucap Asyila yang terlihat kecewa. “ Papa hanya belum terbiasa saja mendengar ada laki-laki lain menyebut kamu dengan calon isteri. Padahal baru kemarin papa merasakan kebahagiaan bisa bertemu dengan kamu. Tapi hari ini, kamu benar-benar memperkenalkan laki-laki pilihanmu ini pada papa.” Ungkap papa Asyila yang menatap Fatih itu bukan karena merah atau tidak suka. Dia lebih ke iri, karena Asyila sudah lebih lama dekat dengan calon suaminya di bandingkan dengan papanya sendiri. “ Pa, papa jangan bilang begitu. Asyila kan udah bilang ke papa. Walaupun nanti Asyila udah nikah, semua ngga akan membuat Asyila jauh dari papa kok. Iya kan mas.” “ Benar om, justru Fatih sangat bahagia karena Asyila akhirnya menemukan kebahagiaannya. Dia sudah sangat lama mengharap hal seperti ini om. Justru kehadiran om akan membuat kebahagiaan kita nanti jauh lebih besar.” Balas Fatih yang sudah mulai berani bicara, karena dia sudah tahu alasan kenapa papa Asyila bersikap seperti tadi. Dia pun mencoba memahami perasaan calon mertuanya itu. “ Apa kamu yakin, kalau kamu mencintai putri saya dengan tulus. Apa kamu benar-benar bisa membahagiakannya. Kalau memang kamu ragu sebaiknya kamu mundur, karena saya tidak ingin membuat putri saya terluka. Walaupun kami terpisah lama, tapi saya tidak akan pernah mentoleransi orang-orang yang sudah berani-berani menyakiti putri kesayangan saya.” Ucap papa Asyila dengan tegas, dia ingin mendengar langsung keseriusan Fatih pada Asyila. “ Mungkin om sudah mendengar dari Asyila tentang bagaimana kita bisa bersatu. Bisa mendapatkan dan membuka hati Asyila untuk saya itu bukan hal yang mudah om, dan sungguh membutuhkan perjuangan yang begitu lama dan penuh kesabaran. Tapi saya tetap paham, karena membahagiakan Asyila sangat berbeda dengan perjuangan saya untuk mendapatkannya. Namun hal itu bisa menjadi pengingat saya, jika kelak saya berbuat yang tidak baik pada Asyila. Karena menyakiti Asyila sama saja saya menghancurkan perjuangan saya om. Seberat apapun nanti, saya akan berusaha untuk bisa membahagiakan putri kesayangan om.” Jawab Fatih dengan tegas dan penuh keyakinan. Asyila lega dan terharu mendengar jawaban Fatih. “ Besar juga nyali kamu mengatakan hal itu di depan saya. Kamu benar, Asyila sudah mengatakan semuanya pada saya bagaimana kamu mendapatkannya. Tapi, setelah ini mungkin Asyila akan menjadi soroton banyak orang setelah publik tahu siapa Asyila ini. Apa kamu sanggup melindungi dirinya.” “ Insyaallah om, saya tahu setelah terungkapnya siapa Asyila ini akan banyak rintangan yang dia hadapi. Tapi, karena keyakinan dan keteguhan kita bersama. Maka saya dan Asyila yakin bisa melewatinya om.” “ Mendengar jawabanmu, kenapa kamu begitu yakin kalau saya mau menerimamu sebagai calon suami dari putri saya.” Tanya papa Asyila. “ Karena saya yakin, semua orang tua akan bahagia saat mereka melihat anak mereka bahagia. Karena saya dan Asyila sama-sama saling mencintai, jadi saya yakin om akan merestui hubungan kita. Karena Asyila bahagia bersama saya, dan begitu juga sebaliknya.” Jawaban Fatih membuat papa Asyila tertawa. Dengan penuh percaya diri laki-laki di depannya ini begitu yakin untuk menikahi putrinya. “ Tuh kan pa, apa kata Asyila. Mas Fatih laki-laki yang bisa di percaya kok. Dia ngga pernah mengecewakan Asyila pa. Jadi papa ngga perlu khawatir dengan kehidupan Asyila nanti setelah menikah, kita akan sama-sama bisa melewatinya kok. Apalagi ada papa sama mama yang selalu ada untuk Asyila.” Balas Asyila yang ikut meyakinkan papanya “ Tapi kamu harus tahu, perbikahan itu adalah awal bukan akhir dari sebuah hubungan Syil. Semuanya ngga mudah untuk di lewati, banyak hal tidak terduga yang akan menjadi percobaan pernikahan kalian. Jadi papa benar-benar ingin kamu mendapatkan laki-laki yang bertanggung jawab atas pilihannya, dan laki-laki yang bisa di percaya tidak akan meninggalkanmu apapun yang akan terjadinya nanti. Papa ngga mau kamu merasakan apa yang papa dan mama rasakan.” Balas papanya. “ Makasih ya pa, karena papa sudah begitu memikirkan kebahagiaan Asyila. Insyaallah, kami bisa kok pa. Allah kan selalu bersama dengan kami. Apalagi mas Fatih ini mengidolakan papa, pasti dia ngga akan berani menyakiti Asyila. Karena kalau menyakiti Asyila sama saja dia menyakiti idolanya.” Ujar Asyila. “ Memang apa yang kamu idolakan dari saya, saya nih bukan siapa-siapa. Apalagi setelah kamu tahu kisah saya, pasti kamu mundur kan mengidolakan saya.” Tanya papa Asyila. Fatih langsung menggeleng dengan cepat. “ Ngga kok om, sama sekali ngga. Justru setelah saya mendengar cerita dari Asyila saya jadi dapat pelajaran yang berharga. Melihat om begitu menyayangi Asyila seperti ini pun membuat saya yakin, kalau saya tidak salah mengidolakan seorang Adam Muzaki.” “ Tuh kan pa. Pasti papa bahagia banget kan. Dapat fans calon mantunya sendiri.” Ucapan Asyila pun membuat suasana yang terlihat tegang dan sedih berubah jadi gelak tawa. Mereka jadi benar-benar bisa mengobrol santai. Ketika Asyila pamit ke toilet, papa Asyila pun kembali memandang Fatih dan menggenggam tangan Fatih. “ Ada apa om.” Tanya Fatih yang terkejut dengan perlakuan papa Asyila ini. “ Om mohon, jangan sakiti putri om. Selama om ngga ada untuknya om yakin. Banyak orang yang menyakitinya, banyak hal yang menyakitkan yang dia lewati sendiri. Om sudah sangat merasa bersalah karena tidak ada di saat-saat dulu. Jadi sekarang, om ngga mau kembali merasa bersalah karena menyerahkan putri om satu-satunya pada laki-laki yang salah. Om harap kamu benar-benar bisa om percaya untuk terus membahagiakan Asyila. Dia begitu berharga untuk di sakiti nak.” Pinta papa Asyila yang memang belum sepenuhnya yakin untuk bisa merestui hubungan Asyila dengan Fatih. “ Om bisa pegang kata-kata saya. Jika kelak saya menyakiti Asyila. Om sendirilah yang akan menghukum saya. Karena saya mengingkari janji saya di hadapan Allah dan juga kalian orang tua yang sangat Asyila sayangi.” Balas Fatih yang terus meyakinkan papa Asyila kalau dirinya mampu di percaya. “ Om akan pegang kata-katamu. Karena om sendiri ngga main-main Fatih.” Balas papa Asyila. Fatih hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum penuh harapan dan keyakinan kalau kali ini dirinya akan pulang dengan restu dari papanya Asyila. *** Pernikahan Asyila yang sudah tinggal menghitung hari pun membuat papanya ikut sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan Asyila saat acara nanti. Ternyata saat Asyila kembali, papanya pun ingin ikut dengan Asyila. Dia ingin tahu dimana dan bagaimana Asyila hidup selama ini. Bukan hanya itu, papa Asyila tiba-tiba meminta pada mama Asyila untuk membiayai segala pernikahan Asyila. Dia ingin melakukan sesuatu untuk putrinya, karena mau bagaimanapun papa Asyila ingin bertanggung jawab pada putrinya sebelum tanggung jawab tersebut di limpahkan pada laki-laki yang akan menjadi suami Asyila. Awalnya Asyila keberatan, karena dia pun tidak ingin merepotkan papanya. Tapi mamanya pun memberitahu dan menasehati Asyila. Kalau, dia tahu Asyila ingin mandiri, dan tidak merepotkan kedua orang tuanya. Tapi Asyila pun harus tahu bagaimana perasaan papanya sekarang. Mama Asyila tidak ingin kembali melukai perasaan papa Asyila. Mungkin dengan melakukan semua ini bisa sedikit meringankan rasa bersalah karena tidak bisa ada di moment masa lalu Asyila. Mendengar penuturan mamanya, membuat Asyila setuju. Dan bahkan papanya pun ingin mengadakan pesta di Jakarta juga, dia pun ingin mengumumkan ke pulik tentang Asyila yang sebenarnya. Maka dari itu, walaupun di jauh dari putrinya papa Asyila sibuk mengurus acara putrinya yang akan di gelar di sini, bersama dirinya. Begitu bahagianya, dia sampai mengundang banyak sahabat dan rekan bisnisnya untuk datang ke acara pernikahan putrinya. “Assallamualaikum.” Salam seorang laki-laki yang masuk ke dalam rumah Adam dengan begitu buru-buru. Dia pun mencari sosok yang begitu ingin dia temui. Tapi ternyata, salamnya hanya di balas oleh seorang pembantu. “ Waalaikumsalam, mas.” “ Papa mana bi.” Tanyanya yang terlihat panik. “ Di ruang kerjanya mas.” Setelah mengetahui keberadaan papanya, laki-laki yang tidak lain adalah Gibran pun langsung menuju ruang kerja papanya. Tanpa mengetuk pintu, Gibran pun langsung masuk ke ruang kerja papanya. “ PAPA.” Panggilnya dengan keras. Adam yang sedang menelfon pun langsung memberi isyarat pada Gibran untuk diam. “ Ngga bisa pa, kita harus bicara sekarang, ini penting pa.” Ucap Gibran yang tidak peduli dengan isyarat tersebut. Tak lama kemudian, Adam pun langsung menutup telfonnya dan hanya geleng-geleng melihat sikap Gibran yang tidak seperti biasanya. “ Ada apa sih sama kamu, pulang-pulang langsung sikapnya begini. Tenang dulu, kamu ada masalah apa. Apa yang mau kami bicarakan dengan papa.” Tanya Adam yang terlihat begitu santai dan langsung duduk. Gibran pun langsung duduk di depan papanya. “ Pa, kenapa papa tiba-tiba seperti ini. Kenapa papa mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan Gibran tunggu. Apa harus secepat itu, sampai papa ngga bisa nunggu Gibran pulang dulu.” Tanya Gibran yang masih membuat papanya bingung. “ Tunggu deh, papa masih ngga paham dengan apa yang kamu bicarakan. Coba jelaskan pelan-pelan pada papa, sebenarnya apa yang kamu katakan ini.” Tanya Adam. “ Gibran membicarakan pernikahan yang sedang papa siapkan.” Jawab Gibran. “ Owh, jadi masalah pernikahan itu. Memangnya apa masalah kamu sih, kenapa juga papa harus nungguin kamu.” Tanya papanya. “ Ya Allah, kenapa papa berubah seperti ini sih. Baru juga sebulan lebih Gibran tinggal papa udah berubah seperti sekarang. Gibran bukannya ngga menyetujui pernikahan ini pa. Gibran hanya ingin papa pun juga menghargai adanya Gibran dong, Gibran ini anak papa. Dan kenapa harus wanita yang umurnya di bawah Gibran pa, kenapa.” Ucap Gibran pada papanya. “ Dari mana kamu tahu kalau umur dia itu di bawah kamu, hebat juga tebakan kamu.” Balas papanya. “ Gosip tentang pernikahan ini sudah menyebar luas kemana-kemana. Gimana Ginran tidak tahu. Bahkan kemesraan papa dengannya pun sudah terumbar di sosial media. Pa, Gibran ngga melarang papa mau berhubungan dengan siapapun. Tapi papa pun harus mempertimbangkan banyak hal juga pa. Apalagi papa ini banyak di kenal orang. Gibran ngga mau hanya karena masalah wanita, semua memojokkan papa seperti sekarang.” Ucapan Gibran semakin membuat Adam bingung. “ Sejak kapan papa menjalin hubungan dengan wanita muda. Ya Allah Gibran, mana ada wanita muda yang mau sama papa yang sudah tua seperti ini.” Balas papanya yang langsung tertawa. Melihat papanya yang mengira dirinya bercanda, Gibran pun langsung menunjukkan beberapa foto yang sudah tersebar luas di sosial media. “ Papa lihat ini, apa ini bukan papa. Apa ini bukan papa Gibran.” Ucapnya sambil menunjukkan foto tersebut. “ Wah, papa ngga menyangka kalau ternyata papa setenar itu ya. Sayang sekali papa ngga update di media.” “ Kenapa papa masih santai begini sih.” “ Gibran dengarkan papa baik-baik. Ngga ada yang perlu di khawatirkan tentang foto itu. Biarkan saja semua orang berspekulasi sendiri-sendiri. Jangan di ambil pusing.” “ Gimana Gibran ngga ambil pusing, semua orang sekarang sedang membicarakan pernikahan papa dengan wanita muda ini pa.” “ Dan kamu langsung percaya dengan berita tersebut.” “ Karena Gibran ngga mudah percaya makannya Gibran langsung konfirmasi pada papa langsung.” “ Dengarkan papa baik-baik nak, papa memang mengadakan acara pernikahan tapi bukan untuk papa. Papa ngga akan menikah Gibran, sudah cukup papa bercerai satu kali dan kehilangan mamamu. Ada banyak hal lain yang ingin papa lakukan.” “ Terus kalau bukan papa yang mau menikah, untuk apa papa menyiapkan acara pernikahan mewah ini.” Tanya Gibran “ Untuk anak papa.” Jawab papanya. “ Maksud papa Gibran. Pa ini bukan waktunya bercanda ya. Papa tahu sendiri kan, Gibran ngga punya cewek pa. Terus papa mau nikahin Gibran tiba-tiba begini. Pa, ini ngga lucu pa.” Ucap Gibran yang langsung terlihat panik. Melihat kepanikan Gibran membuat Adam tertawa. “ Papa juga tahu kamu itu ngga punya cewek. Nunggu kamu sampai mau menikah papa aja ngga tahu harus sampai kapan, mungkin kalau papa ngga ada baru kamu mau menikah.” “ Pa, jangan bicara sembarangan deh. Terus kalau bukan buat Gibran, papa buat acara sebesar itu untuk siapa pa.” “ Untuk anak papa nak.” “ Pa.” “ Papa sungguh-sungguh mengatakan ini. Untuk putri papa Azzahra Asyila Rahma, putri kandung papa.” Jawaban papanya membuat Gibran terbengong, karena baginya begitu mustahil mendengar papanya mengatakan putri kandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN