MEH-BAB 16

1502 Kata
"Apa kau keberatan kalau kita makan sambil menonton?" "Tidak. Hanya saja aku tidak ingin melihatmu menangis si Jack yang berkorban untuk so Rose dalam film Titanic. Aku penasaran kapan kau akan bosan menonton film itu." Felix membawa makanan mereka ke ruang keluarga. Meletakkan makanan mereka di atas nakas, ia pun segera menyalakan televisi dan memutar film Titanic. Hazel hanya bisa tersenyum menyaksikan sikap manis suaminya itu. Meski Felix mengatakan ia tidak suka melihat Hazel menonton film tersebut untuk kesekian kalinya namun tetap saja pria itu lebih mengutamakan inginkan. Mengabulkan semua hal yang bisa membuat Hazel senang dan terhibur. "Apa yang menarik dari film yang menyedihkan ini," Felix mengambil posisi di samping Hazel. Dua minggu bersama, ini ke tujuh kalinya mereka menonton film tersebut. Tapi apa mau hendak dikata, Hazel jatuh cinta pada si tokoh pria. "Aku lebih menyukai kisah yang berakhir hapoy ending. Daripada berkorban demi kebahagiaan salah satunya, bukankah sebaiknya mencari solusi agar tetap bisa bertahan hidup satu sama lain," protes yang sama Felix layangkan setiap kali menonton Titanic. "Tenggelam atau menenggelamkan. Hanya ada pilihan itu, Felix. Dan Jack dengan cinta tulus yang ia miliki memilih untuk menyelamatkan hidup Rose. Tidak peduli jika nyawanya menjadi taruhan. Ia hanya ingin melihat Rose hidup dan melanjutkan hidupnya. Lihatlah, pengorbanannya tidak sia-sia. Rose yang ia cintai hidup dengan sangat panjang umur. Ia bahkan memiliki cucu-cucu yang sangat menggemaskan." "Aku hanya tidak mengerti konsepnya, kenapa harus ada akhir yang menyedihkan di salah satu pihak dan pada akhirnya si tokoh menyedihkan akan terlupakan begitu saja." Tanpa mereka sadari, mereka selalu membicarakan dan memperdebatkan hal yang sama setiap kali mereka menonton. Dan seperti biasa juga, Hazel akan menangisi kematian si Jack dan akan tertidur di dalam pelukan suaminya yang berusaha menenangkannya. _________ "Selamat Pagi, Sayang," Felix menghampirinya dan memberikan satu kecupan hangat di puncak kepala Hazel. "Selamat pagi, Felix." Hazel tersenyum cerah. "Masak apa hari ini?" Felix berbasa basi karena ia sudah melihat apa yang sedang digongseng Hazel di dalam bejana. "Nasi goreng seafood," sahut Hazel. "Wah, baunya enak sekali. Aku tidak sabar ingin mencicipinya," pujian yang selalu Hazel dengar setiap pagi. "Duduklah di tempatmu, makanan akan segera datang." Felix menurut, ia segera duduk manis di meja makan menanti sang istri menyajikan sarapan mereka. Tidak berapa lama, Hazel pun datang. "Makan dan habiskan lah" Hazel meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan suaminya dan satu untuk dirinya. "Selamat menikmati," seru Hazel dengan semangat. "Hm, enak." Puji Felix begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya. Hazel melotot kesal ke arahnya, karena wanita itu sendiri baru saja melepeh makanannya dari mulut. "Jangan dimakan!" Hazel berusaha menarik piring Felix namun pria itu berhasil mengelak. "Felix, itu asin. Aku kebanyakan memasukkan garam." Alasan Hazel membuang nasi goreng dalam mulutnya. "Ini enak, sungguh." "Pembohong! Kau akan sakit perut." "Ini masakanmu, aku menyukainya sungguh." ucap Felix dengan wajah meyakinkan. Hazel mendengkus. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memandangi Felix dengan wajah meringis menghabiskan nasi goreng buatannya. Pria itu benar-benar menghabiskannya tidak bersisa sama sekali. "Kapan kau akan berhenti menjadi dosen?" Felix mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Hazel. "Kau ingin aku berhenti jadi dosen di kampus?" Felix menyuarakan kebingungannya. Hazel mengangguk membenarkan. "Kenapa?" Tanya pria itu lagi dengan raut bingung. "Agar kau bisa berduaan dengan mantan kelasihmu itu?" ucapnya kesal dengan nada cemburu. Hazel segera menggelengkan kepala. Bukan seperti itu maksudnya. "Kau memiliki perusahaan untuk ditangani." Jelas Hazel. "Aku mendengar dari Amber bahwa kau memilih untuk menjadi dosen karena ingin dekat denganku. Bukankah sekarang kita sudah menjadi suami istri. Bukan hanya dekat, kini kita setiap hari bisa bertemu. Perusahaan terbengkalai karena kau membagi fokusmu." Amber mengatakan pada Hazel bahwa Dave kewalahan menangani perusahaan. Pria itu menjadi tidak ada waktu hanya sekedar untuk bertemu dengan kakaknya. "Tidak usah kau khawatirkan hal itu. Ada Daddy dan juga Dave yang mampu menangani semuanya. Dan Sayang, aku tidak suka melihat tatapan memuja yang diberikan para mahasiswi kepadamu. Ingin rasanya aku mencongkel bola mata mereka keluar," ucapnya jujur. "Kau cemburu?" goda Hazel sembari mengulum senyumnya. "Tentu saja!" Aku Felix. "Kenapa mesti cemburu. Bukankah aku istrimu. Abaikan saja hal yang membuatmu cemburu." "Aku tidak bisa! Kemarin aku kecolongan Valen, mantan kekasih sialanmu itu bahkan berani menggertakmu. Aku tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi jadi aku harus mengawasimu 24 jam lamanya." "Kau melihatnya?" Hazel menatap Felix tidak percaya. "Ya mungkin aku akan merontokkan giginya jika kau tidak menampar wajahnya," Felix menggeram kesal. "Jadi apa yang kau lakukan padanya?" Hazel tidak yakin Felix tidak melakukan apa-apa melihat raut wajah pria itu. "Aku hanya memberinya peringatan," jawabnya santai. Tentu saja Hazel tidak percaya dengan jawaban suaminya. "Peringatan seperti apa?" Hazel tidak percaya itu saja. Ia yakin lebih dari sekedar peringatan. Felix tersenyum mendengar pertanyaan Hazel yang terkesan sangat menuding. "Kau belajar cepat. Kau mulai mengenalku. Tentu saja aku menghajarnya, hanya saja tidak sampai membuat giginya rontok!" "Apa yang terjadi padanya?" "Apa kau mengkhawatirkannya?" Felix kembali merasa kesal. "Tidak, bukan seperti itu. Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu?" Hazel mengganti topik sebelum suasana meja makan tidak enak. "Ayo berangkat," Felix pun berdiri dari tempatnya. "Kau tidak menghabiskan sarapanmu. Apa masakannya tidak enak?" Tanya Hazel yang menyusul Felix yang sudah berjalan terlebih dahulu. "Kau menghilangkan selera makanku!" Hazel berlari memeluk Felix dari belakang. Pria itu pun tersenyum dan menghentikan langkahnya. Bagaimana bisa pelukan bisa senyaman ini. Felix membatin. "Bukankah sudah kukatakan jangan menyentuhku secara tiba-tiba begini, Sayang." "Aku tidak mengkhawatirkannya. Aku hanya takut jika terjadi sesuatu padanya, ia akan melapor dan kau akan dalam masalah. Aku hanya mengkhawatirkanmu." Senyum Felix semakin melebar. Ia mengusap tangan Hazel yang melingkar diperutnya lalu ia berbalik menatap istrinya itu. "Maaf," ucapnya dengan nada lembut serta tatapan mendayu. "Maaf sudah salah faham padamu," Felix menegaskan. "Kukira kau khawatir pada pria lain." "Ayo kita berangkat," Hazel menyatukan jemari mereka, Felix pun tertawa karena merasa bahagia. __________ "Jadi kau sungguh menikah dengan dosen tampan itu?" Keira bertanya begitu keduanya duduk di sebuah coffee shop yabg berseberangan dengan universitas mereka. Hazel mengangguk membenarkan. "Kau sungguh sudah menikah?" Meski sudah mendengarnya dari Felix tetap saja Keira merasa ia perlu memastikannya langsung dari mulut sahabatnya itu, dan mendengar jawaban Keira tetap saja ia terkejut. "Dengan dosen tampan itu. Mr. Grissham? Keira memperjelas dan Hazel kembali mengangguk. Seseorang menarik kursi di samping Hazel dan wanita itu sontak saja berdiri berniat untuk pergi, tapi Valen segera menahannya. "Aku masih tidak percaya kau menikah dengan dosen sialan itu, Hazel." "Apa otakmu sudah mulai tumpul? Aku sudah mengatakan jangan menggangguku lagi. Aku ini wanita bersuami dan perhatikan ucapanmu dosen sialan yang kau katakan itu adalah suamiku." Tegas Hazel dengan serius. "Dan pergi lah menjauh, aku tidak ingin suamiku melihat kau berdekatan denganku lagi. Aku tidak ingin dia cemburu dan salah paham," Hazel menatap Valen yang juga sedang menatapnya dengan tatapan terluka. "Kenapa kau kejam sekali, Hazel." Wajahnya memelas meminta dikasihani. Hazel mengerutkan dahinya, "Apa aku tidak salah mendengar?" ia balik bertanya "Aku akui aku salah. Tapi aku melakukannya karena aku tidak ingin mengotorimu dengan nafsuku. Karna kau sangat berarti buatku, Hazel. Tapi kenapa kau membalasku seperti ini. Kenapa kau harus menikah. Apa selama ini kau juga berselingkuh di belakangku? Selama ini kau dan dosen itu berhubungan secara diam-diam?" tuduhan Valen itu membuat Hazel tergelak. "Apa sekarang kau sedang berusaha menghibur dirimu sendiri dengan menuduhku atau kau terlalu banyak menonton drama. Tapi ya sudah lah anggap saja tudinganmu itu benar ,karena pada kenyataannya tidak akan merubah apa pun. Aku sudah menikah." ucapnya telak mematahkan harapan di hati pria itu. Hazel pun beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Valen dan Keira di sana. "Aku sungguh tidak percaya Hazel menikahi dosen tampan itu. Kenapa dia tidak mengundangku" Keira berdecak. Gadis itu menatap Valen dan pria itu tidak menanggapi ucapannya sama sekali. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Keira, Valen pun menggeleng. "Di sini sakit sekali," ucapnya pelan seraya menekan dadanya. Keira tergelak. "Pria b******k sepertimu bisa merasa sakit juga?" Sindir Kaira lalu berdiri dari tempatnya dan pergi meninggalkan VAlen yang sedang mengusap wajahnya dengan kasar. _______ "Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" Felix menatap Hazel yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Memangnya siapa lagi yang bisa masuk ke ruangannya seenaknya saja tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Valen menyebalkan!" Hazel menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Felic segera beranjak dari kursi, berjalan mendekati istrinya. "Memangnya apa yang dilakukannya?" Felix duduk di samping Hazel, menepuk dadanya agar istrinya itu bersandar di sana. Tanpa disuruh dua kali Hazel langsung membenamkan wajahnya di d**a suaminya. Pria itu pun membelai lembut rambut wanita kesayangannya itu. "Dia tetap saja tidak bisa menerima kenyataan jika aku sungguh sudah menikah," Hazel mulai bercerita. "Mungkin karena dia terlalu mencintaimu." "Kalau dia mencintaiku kenapa ia berselingkuh?" "Mungkin ia hanya bersenang-senang saja dengan wanita itu." "Kenapa kau membelanya?" Hazel mendongak. "Aku tidak membelanya, aku hanya menenangkanmu dengan memberimu pengertian." "Kau tidak cemburu." Felix terkekeh, "Yang benar saja tentu saja aku cemburu. Tapi sekarang aku tahu bahwa pria itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendekati istriku, karena istriku ini sangat mencintaiku." Felix menyentil hidung Hazel. "Aku tidak tahu kau mempunyai tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi." Mendengar ucapan Hazel, Felix tertawa. "Jadi kau tidak mencintaiku?" Felix mulai menggoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN