Alarm berbunyi, Felix sontak terbangun dan mengulurkan tangan menggapai jam weker yang berada di atas nakas. Felix yang masih terlihat enggan untuk membuka mata, tiba-tiba mengingat bahwa ia sudah menikah. Ia pun segera memiringkan kepala yang sontak membuatnya terkejut bahagia. Wajah Hazel sedang menghadap ke arahnya dengan mulut yang sedikit menganga dan terlihat masih terlelap dalam tidurnya. Hazel terlihat begitu manis. Tidak ada iler yang membentuk pulau seperti yang ia katakan sebelumnya. Hanya saja memang terdengar sedikit dengkuran halus yang justru menurut Felix terdengar sangat merdu.
Felix tersenyum bahagia, pemandangan sosok Hazel di hadapannya adalah hal terindah selama hidupnya. Kini ia terpaku memandangi dan menatap dalam diam wajah istrinya. Astaga, ia benar-benar sudah menikah dengan gadis yang ia idam-idamkan selama ini, apalagi yang lebih membahagiakan dari kenyataan itu? Felix rasa tidak ada. Hazel adalah pusat kehidupan dan kebahagiaannnya.
Senyuman di wajahnya berubah menjadi kekehan kecil tatkala melihat tangan Hazel yang melingkar di lengannya, belum lagi kaki wanita itu yang mendarat sukses di atas perutnya, menjadikan tubuhnya guling hidup. Ke mana guling pembatas itu? Akh, Felix tidak mempunyi waktu untuk mencari tahunya. Ia sibuk dengan kebahagiaannya. Kulit Hazel yang menyentuh kulitnya memberi sensasi menyenangkan padanya. Sambutan pagi yang luar biasa, bukan?
Di tengah luapan kebahagiaan yang ia rasakan, secara mendadak mata Hazel terbuka sempurna. Sontak saja hal itu membuat Felix gelagapan.
Hazel yang nyawanya belum pulih seutuhnya, menatap tanpa dosa pada sosok pria tampan di hadapannya. Hazel mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. "Malaikat tampan?" gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur yang membuat Felix mengernyitkan dahinya. Felix semakin mengernyit tatkala tangan Hazel terulur untuk menyentuh wajahnya. "Hm, terasa nyata. Malaikat ada di kamarku," gumamnya dan kembali matanya terpejam rapat. Hazel kembali tidur.
Felix tergelak, "astaga! Ia sedang mengigau."
Felix memperbaiki posisinya, menopangkan kepalanya di salah satu tangannya. Ia memandangi wajah Hazel yang kembali terlelap dalam tidurnya. Pria itu tersenyum mendengar dengkuran halus dari mulut dan hidung Hazel.
Tidak tahan melihat wajah Hazel yang menggemaskan, tangan Felix terulur, menyentil hidung Hazel dengan lembut. Namun sentuhan lembutnya ternyata mampu membuat Hazel terusik, wanita itu menggeliat. Felix segera telentang, kembali ke posisi tidur dan menutup matanya pura-pura masih tertidur.
Secara perlahan, Hazel membuka matanya. Ia mengerjap berulang kali dan hampir saja berteriak begitu melihat seorang pria yang tertidur di sampingnya. Yang tidak kalah membuatnya histeris, tangan dan kakinya yang mendarat di tempat yang semestinya. Dasar tangan dan kaki yang nakal, tahu saja posisi parkir yang enak di mana.
Sama seperti yang dilakukan Felix beberapa menit yang lalu, Hazel juga memandangi wajah tampan Felix. Pria itu terlihat seperti pangeran tidur yang menunggu ciuman ajaib dari seorang putri cantik.
"Ternyata yang dia katakan benar. Dia terlihat seperti malaikat tampan saat sedang tertidur begini," Hazel menggeser posisinya semakin merapat dengan tubuh Felix. Kini ia membungkuk untuk melihat wajah Felix dari jarak yang lebih dekat.
"Dan bagimana bisa ia tidak memiliki pori-pori di wajahnya. Ahh, aku iri sekali dengan kesehatan kulitnya. Pasti ia sangat rajin melakukan perawatan mahal di wajahnya. Lihatlah, wajahnya bahkan lebih mulus dibandingkan dengan jalan tol." Hazel memuji dan bermonolog, tidak menyadari bahwa apa yang ia katakan itu, didengar oleh Felix dengan sangat jelas sekali. Ia hanya tidak menyadari jika pria yang ia pandangi itu memang sudah terbangun sejak dari tadi. Bahkan sekarang pria itu sedang susah payah menahan diri agar ia tidak melepaskan tawanya.
Hazel menurunkan tatapannya dari wajah mulus Felix. Melewati bibir suaminya untuk menghindari otak liarnya kembali beraksi. Berhasil, ia masih waras. Tapi sayang kewarasannya tidak bertahan lama begitu mata nakalnya berheti di perut kotak-kotak itu. Perut Felix adalah godaan terberat!
"Oh Tuhan, lindungi aku! Setan iblis menjauh dariku! Jangan menggodaku! Tapi perutnya memang sangat wow. Dan aku suka sekali!" Hazel memuji dan memuji lagi.
"Selain perutnya, d**a miliknya juga sangat bidang. Peluk-able sekali. Aku tidak percaya pria itu sunghmguh menikahiku." Percayalah Felix yang mendengarnya berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Ia melayang mendengar pujian demi pujian itu dan ingin mendengar lebih banyak lagi dan lagi.
"Bagaimana rasanya berada di dalam pelukannya? Pasti sangat nyaman sekali. Haruskah aku mencobanya?" Hazel masih saja bermonolog. Ia tersenyum geli melihat kelakuannya sendiri.
"Aduh Hazel! Kendalikan dirimu, Nak!" Hazel memukul kepalanya sendiri sebagai usaha yang ia lakukan untuk mengembalikan akal sehatnya yang mulai teracuni atas pemandangan indah di hadapannya.
"Oh Tuhan, bagaimana ini, jiwa mesumku meronta-ronta! Apakah aku harus memukul kepalaku lebih kuat lagi agar aku kembali waras?" Kedua tangannya memegang wajahnya sendiri.
"Apa jika aku menyentuhnya akan berdosa?" Hazel menggigit jari telunjuknya.
"Ah...menyentuh suami sendiri tidak akan mendapatkan dosa apapun!" Hazel benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, ia kalah dari kemesumannya. Tanpa bisa ia hentikan, kini jemarinya bergerak ke arah perut suaminya.
"Astaga, sekarang jantungku menggila tidak karuan. Tenang Hazel kendalikan dirimu. Dia suamimu dan kau hanya akan mencoleknya sedikit saja untuk menjawab rasa penasaranmu yang berlebihan." Hazel menyemangati kemesumannya sendiri. Rasa penasarannya sungguh membutuhkan jawaban secepatnya. Jarak antara jemari Hazel dengan kulit perut Felix semakin dekat. Ia pun semakin gugup dan khawatir Felix tiba-tiba bangun dan membuka matanya. Namun apa yang baru saja ia pikirkan, akhirnya terjadi juga.
"Akhhh!!" Hazel menjerit, spontan ia memundurkan tubuhnya menjauh dari Fekix, namun pria itu menahannya. Ya, ia terkejut karena tiba-tiba Felix memegang tangannya dan di detik berikutnya ia membuka matanya dan memandangi Hazel dengan tatapan geli.
"Kau sudah bangun? Sejak kapan?! Akkhhh! Kau membuatku malu. Kau berpura-pura tidur dan mendengar dengan semua yang kukatakan?" cecar Hazel dengan wajah merona menahan malu.
Felix terkiki geli lalu mendorong tubuh Hazel agar terlentang kembali. Posisinya sekarang ada di atas tubuh Hazel, ia mengunci pergerakan wanitanya itu.
"Apa yang kau lakukan!" hardik Hazel. Ia memalingkan wajahnya ke kiri, tidak tahan menerima cara Felix menatapnya.
"Katakan, ke mana tadi tanganmu hendak mendarat? Kau membuatku terkejut dengan pujian-pujianmu, Sayang."
Kata sayang itu lagi. Satu kata yang selalu membuat darahnya berdesir hebat. Entah kenapa cara Felix memanggilnya begitu sangat menggoda. Sesungguhnya Hazel sangat menyukai cara Felix memanggilnya.
"Aku hanya ingin menyentuhnya sedikit," cicitnya. Jawaba yang sangat jujur.
"Lihat aku," pinta Felix.
"Tidak."
Felix terkekeh, "kau malu?" Dan Hazel mengangguk dengan polosnya.
"Harusnya kau memintanya, tidak dengan mencuri seperti itu tadi." Felix sengaja menggodanya. Sungguh ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka jika Felix membiarkan Hazel menyentuhnya. Ia tidak yakin ia bisa menguasai dirinya. Hazel bisa habis ia terkam detik itu juga.
Brugh! Hazel mendorong tubuh Felix hingga jatuh ke lantai. Ia pun berdiri seraya berkacak pinggang.
"Astaga, tuduhan macam apa ini! Hanya karena aku ingin menyentuh roti sobekmu, kau langsung menudingku untuk mencuri?"
Felix menyadari penggunaan kalimatnya yang salah. Mengabaikan rasa sakit di bokongnya, ia pun berdiri, saling berhadapan dengan Hazel.
"Bukan begitu maksudku, Sayang." Felix berusaha menjelaskan.
"Aku hanya ingin menyentuhnya sedikit bukan untuk memakannya habis!" hardik Hazel dengan wajah kesal. Ia menghentakkan kaki lalu berbalik, berniat untuk ke toilet meredam kekesalannya.
Namun baru beberapa langkah, Felix sudah menarik tangannya, menghentikan langkah wanita itu dengan memeluknya dari belakang.
Seketika Hazel merasakan darahnya seakan tumpah dan mendidih.
"Aku minta maaf, Sayang. Penggunaan kalimatku yang salah." suara Felix yang terdengar langsung di telinga Hazel membuat bulu romanya merinding. Jantung Hazel seakan berhenti memompa.
Secara perlahan, ia memutar tubuh istrinya agar mereka kembali berhadapan. Hazel memalingkan wajahnya, menolak untuk menatap wajah Felix.
"Kemarikan tanganmu. Kau bisa menyentuhnya sebanyak yang kau mau." Felix menarik tangan Hazel dan meletakkan tangan mungil tersebut di atas perutnya. Hazel sontak menoleh dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Melupakan kemarahannya, ia pun menggerakkan jemarinya, mengusap perut berotot suaminya dengan senyum yang semakin mengembang di wajahnya. Ia tidak tahu peduli tindakannya itu justru sangat menyiksa Felix. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Berdoa dalam hati agar kewarasannya tetap pada tempatnya. Ayolah, ini masih pagi dan hormon pria lebih aktif saat itu juga.
Setelah satu menit berlalu, akhirnya Hazel melepaskan tangannya. Dan percayalah itu adalah satu menit terlama di dalam hidup seorang Felix Grissham.
"Aku mau mandi," pamit Hazel tanpa merasa berdosa. Melihat Hazel yang masuk ke dalam toilet, Felix pun mendesah panjang.