Jam weker di kamar berbunyi dengan nyaringnya. Hazel terbangun dari tidurnya, yang bisa dikatakan tidak nyenyak sama sekali. Ia melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan angka enam. Dengan segera Hazel beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi. Ia menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit di dalam sana. Seperti yang sudah ia putuskan, ia akan mulai aktif kembali ke kampus. Hidup harus berjalan. Ya, itulah yang ia tekankan di hatinya. Sean sudah berjanji akan mengantarnya. Hazel melihat pantulan dirinya di cermin untuk memastikan penampilannya apakah sudah rapi atau belum. Wajahnya terlihat muram, dan ia tidak bisa menyamarkannya dengan make up sekalipun. Lagi pula, ia bukan wanita yang ahli dalam mempermak wajahnya. Ia hanya tau foundation dan bedak tabur serta lipstik. "S

