"Jadi kau mau meninggalkanku begitu saja hanya karena ja-lang syialan itu?" "Akh," Ariana memekik kesakitan. Dalam sekejap, tubuhnya sudah terpojok ke dinding. Tangan kekar Felix, mencekik lehernya dengan kuat. Ariana kesulitan dalam bernapas. Maniknya membola, sedangkan wajahnya sudah merah padam. Ariana berusaha melepaskan tangan Felix dari lehernya, memukul lengan pria itu namun tidak digubris. "Berhentilah menyebutnya dengan hinaan kotor itu. Aku tidak akan segan-segan untuk merobek mulutmu, Ariana. Kepalaku mau pecah dan aku hampir gila memikirkan apa yang sudah kuperbuat padanya dan kau malah berkicau tidak jelas, membuat suasana hatiku yang buruk semakin kacau. Jadi, sebelum hal buruk terjadi, pergilah, jangan muncul di hadapanku lagi!" Felix melepaskan cengkraman tangannya di

