"Kita sungguh mempunyai anak?" Wajah Felix berbinar bahagia. Bagaimana tidak bahagia, ia mempunyai penerus dari wanita yang sangat berarti untuknya. Disaat ia bingung memikirkan cara untuk merebut hati Hazel kembali, Tuhan memberikan jawaban dengan segera. Menunjukkan putra mereka sebagai jawaban. Ia akan menjadikan putranya sebagai jembatan untuk menarik perhatian Hazel lagi. Katakan lah ia licik karena sudah memanfaatkan keadaan, tapi ia melakukannya demi kebahagiaan putra mereka. Ia yakin putra tampannya itu juga menginginkan keluarga yang lengkap. "Dengan berat hati harus kukatakan 'ya'." Alih-alih tersinggung dengan sika Hazel yang terlihat snagat enggan mengakui kebenaran itu, Felix justru tersenyum hangat, ia merasa bahagia dan bahkan ia maju, mendekat ke arah Hazel, bermaksud u

